• Kolom
  • CATATAN SI BOB #38: Ternyata Buku Puisi Bisa Sejelas ini

CATATAN SI BOB #38: Ternyata Buku Puisi Bisa Sejelas ini

Ada sesuatu yang mengganjal setelah halaman terakhir buku puisi Cermin (2026) karya Abdurrahman ditutup, ganjalan itu datang dari judulnya sendiri.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Sampul buku puisi Cermin karya Abdurrahman. (Foto: Bob Anwar)

21 Juli 2026


BandungBergerak – Saya tak pernah bertemu Abdurrahman, dan sampai sekarang pun saya tak yakin siapa dia sebenarnya. Ia menemukan saya lewat Instagram: memfollow, lalu mengirim pesan langsung, memperkenalkan diri sebagai penulis yang baru merilis buku puisi, dan meminta saya mengulasnya. Saya buka akunnya: tak ada swafoto, tak ada keterangan umur, tak ada jejak biografis yang biasa menyertai. Hanya unggahan, gambar-gambar bertuliskan larik-larik puisi, yang belakangan saya ketahui, sama dengan yang termuat dalam bukunya.

Saya berikan alamat. Dua minggu kemudian, sebuah paket tipis tiba: Cermin, terbit Mei 2026 dari Bukunesia, sebuah penerbit di Sleman, Yogyakarta. Saya baca dalam sekali duduk, bukan karena terpukau, tapi karena memang bisa. Kata-katanya biasa saja. Terlalu jelas, pikir saya di awal, dengan nada yang mendekati kecewa daripada kagum. Tapi ada sesuatu yang mengganjal setelah halaman terakhir ditutup, dan ganjalan itu datang dari judulnya sendiri.

Sebab cermin, pada akhirnya, tak pernah salah. Benda itu hanya memantulkan siapa yang berdiri di hadapannya. Dan yang berdiri di hadapan saya, ternyata, adalah kebiasaan lama: anggapan bahwa puisi biasanya berat untuk sah disebut dalam, bahwa penulis yang baru mulai berpuisi selalu haus akan metafora dan teknik yang rumit. Dan Cermin tak meminta saya menyukainya. Ia memaksa saya bertanya kepada diri sendiri, dari mana anggapan itu datang.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #35: Ritual Sebelum Gelap
CATATAN SI BOB #36: Whisky Religi
CATATAN SI BOB #37: Beser di Bandara

Mitos Puisi

Pertanyaan itu punya jawaban yang lebih tua dari media sosial. Dalam wayang, ketika para ksatria bicara dalam bahasa krama yang berlapis dan penuh sindiran, Semar, yang penjelmaan Sang Hyang Ismaya, bicara ngoko, polos, seperti orang tua kepada anaknya. Kemuliaan Semar, dalam kosmologi itu, justru lahir dari kesediaannya mengabdi, bukan dari kefasihannya berbahasa langit. Puisi-puisi dalam Cermin, seperti "Kesadaran," bekerja dengan logika serupa: tak menyamar jadi rumit, tapi tetap tahu di mana harus berhenti.

“Kenali diri, / Kendali diri / Agar paham... / Dasar apa yang menyambut, / Ketika jatuh." ("Kesadaran", halaman 5)

Tapi sastra Indonesia sudah lama bertengkar soal itu. Pertengkaran yang jauh lebih dari sekadar selera. Ketika Sutardji Calzoum Bachri menulis kredonya pada 1973, ia menegaskan bahwa menulis puisi baginya berarti membebaskan kata dari beban makna, membiarkannya jadi bunyi dan sihir yang tak bisa ditagih kejelasannya. Jika Chairil Anwar menegaskan puisi sebagai dunia yang menjadi, Sutardji berusaha menyajikan dunia yang tak dikenal.

Abdurrahman jelas berdiri di kubu Chairil. Tapi berdiri di kubu itu tak otomatis membuatnya setara dengannya, sebab kejelasan Chairil adalah kejelasan yang lahir dari kepadatan, sementara sebagian puisi-puisi dalam Cermin, seperti "Kondensasi," membangun citraan awan dan hujan dengan cukup elok, lalu buru-buru menutupnya dengan pertanyaan retoris, seakan penyair tak percaya pembacanya akan sampai sendiri.

"Yang terjadi malah bencana… / Memangnya kita tahu, / Doa siapa yang sedang dijawab?" ("Kondensasi", halaman 31)

Ketergesaan itu pula membuat buku ini rentan terhadap tuduhan yang pernah dialamatkan kepada penyair Instagram macam Rupi Kaur, yang jutaan pengikutnya tak menghalangi kritikus Rebecca Watts menuduhnya mengabaikan keterampilan teknis yang selama ini mencirikan puisi. Akan tetapi ada pembelaan, yang lebih tua dan lebih berat, dari sekadar membela insta-poetry. Susan Sontag pernah menyebut interpretasi sebagai balas dendam kecerdasan terhadap seni, bahwa semakin sebuah karya menuntut pembaca membongkarnya lapis demi lapis, semakin ia menjauhkan pembaca dari pengalaman langsung yang jadi alasan karya itu diciptakan.

Dari sudut itu, kejelasan bukan aib yang harus dimaafkan. Kejelasan, bahkan bisa dibaca sebagai penolakan terhadap kebiasaan sastra yang gemar mempersulit diri demi terlihat serius.

Yang paling meyakinkan saya bahwa Abdurrahman punya insting, bukan sekadar keterbatasan, adalah dalam puisi "Asa", di mana harapan digambarkan sebagai benda dalam kantong, bisa penuh, bisa kosong, bisa habis dimakan waktu, sementara penyair berterima kasih kepada “kesempatan” sambil menitip salam untuk “penyesalan” yang sengaja tak dibawa pulang.

Personifikasi tersebut terasa bekerja justru karena tak berusaha jadi filosofis. Cara kerja yang, dalam skala jauh lebih matang, juga dipakai Sapardi Djoko Damono dalam "aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, baris dari puisi Aku Ingin yang termuat dalam Hujan Bulan Juni, yang membiarkan metafora kayu-jadi-abu berdiri tanpa penjelasan susulan.

"Mohon maaf dia tidak jadi aku bawa / Kantongku sudah penuh dengan harapan." ("Asa", halaman 12)

Di luar sastra, ada alasan mendesak mengapa buku setipis ini pantas dibaca sekarang, bukan nanti. Skor literasi membaca Indonesia dalam PISA 2022 mencapai 359 poin, lebih rendah bahkan dari capaian tahun 2000. Skor terendah sepanjang keikutsertaan Indonesia dalam studi itu. Di tengah bangsa yang hilang kesabaran pada teks, puisi-puisi yang berani telanjang bukanlah kemunduran. Tapi serupa ambang pintu, bagi seseorang yang mem-follow lalu mengirim pesan kepada orang asing di internet karena tak tahu cara untuk didengar, dan bagi pembaca yang, seperti saya sebelum paket itu tiba, mengira puisi harus berat untuk layak dibaca sampai selesai.

Soal Kekurangan

Maka biarlah saya jujur soal kekurangannya, karena buku ini sendiri jujur soal keterbatasan dalam prolognya. Cermin belum konsisten berani menahan diri. Sebagian puisinya, puisi berjudul "Jenuh," misalnya, terburu-buru menyimpulkan diri sebelum pembaca sempat menemukannya sendiri, seolah penyairnya masih setengah percaya, setengah ragu, bahwa kejelasan saja sudah cukup. Teknik yang dipakainya sederhana, kadang terlalu sederhana untuk menahan beban gagasan yang sebenarnya ingin ia sampaikan.

"Ya, kita beruntung / Itu yang dia inginkan / Kita beruntung terus menerus…" ("Jenuh", halaman 41)

Tapi kelebihannya juga nyata, dan tak kalah jujur. Ada pula beberapa puisi yang membuktikan penyair ini sanggup lebih jauh dari sekadar menjelaskan diri dan ada satu hal yang tak bisa direbut siapa pun darinya: keberaniannya untuk menulis dan lugas. Saya masih tak tahu siapa Abdurrahman sebenarnya. Tapi saya kira sekarang tahu satu hal: buku setipis ini, dengan segala kekurangannya, berhasil membuat saya bercermin lebih dulu sebelum sempat menghakiminya. Dan barangkali itulah yang paling ia inginkan sejak awal.

 

14/07/2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//