• Kolom
  • CATATAN SI BOB #35: Ritual Sebelum Gelap

CATATAN SI BOB #35: Ritual Sebelum Gelap

Cerpen Jein Oktaviany, "Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?" memperlihatkan apa yang tidak kita miliki dan betapa mahalnya sesuatu yang sedang kita sia-siakan.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Menulis bertolak dari pengalaman membaca. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

30 Juni 2026


BandungBergerak – Kita adalah generasi paling banyak merekam, namun boleh jadi yang sedikit mengingat. Laporan Digital 2026: Indonesia mencatat rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial, salah satu angka tertinggi di dunia. Survei Jakpat Desember 2024 menemukan 63 persen Gen Z lebih memilih menggulir layar di waktu luang dibanding aktivitas lain. Bukan membaca. Bukan berbincang. Menggulir. Dan setiap guliran membawa kilasan informasi yang terlalu cepat untuk singgah. Yang tersisa bukan kenangan, hanya bekas.

Sebuah penelitian dari jurnal Paedagogy (Christian & Budiarto, 2024) menemukan korelasi negatif antara durasi penggunaan TikTok dan kemampuan mempertahankan perhatian pada pengguna muda Indonesia. Semakin lama menggulir, semakin pendek kemampuan untuk tinggal. Hampir separuh responden merasa video berdurasi lebih dari semenit sudah adalah tekanan. Ini bukan kebiasaan yang mudah diubah dengan niat. Ini perubahan cara otak belajar untuk memperhatikan, dan jika perhatian yang mendalam sudah sulit, ingatan pun perlahan lumpuh.

Dalam fenomena inilah cerpen Jein Oktaviany, "Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?". Cerpen yang menjadi pilar dalam buku kumpulan cerpen pertamanya ini, yang diterbitkan Langgam Pustaka November 2025, terasa seperti teguran halus. Jein tak menulis tentang generasi muda atau perangai media sosial. Ia justru menulis tentang romantisisme sejoli tua, yang setia berkasih-kasih dengan saling mengingatkan. Namun dalam jarak itulah cerpen ini bekerja: memperlihatkan apa yang tidak kita miliki dan betapa mahalnya sesuatu yang sedang kita sia-siakan.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #32: Mario adalah Sisifus dengan Gitar
CATATAN SI BOB #33: Hikayat Ikan Remora
CATATAN SI BOB #34: Carpe Diem

Yang Langka

Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?”, sekali lagi, bukan cerita tentang teknologi atau hiruk-pikuk modernitas. Tak ada satu pun kata yang berkait dengan layar atau algoritma. Tak satu pun nama tempat yang tengah viral dikutipnya. Sebaliknya, cerpen ini berkisah dalam lanskap sunyi-sejuk, sebuah rumah tua di pinggiran kota, di mana ada beranda dan sepasang kursi goyang menghadap senja, yang menurut tokohnya, mirip kartu pos. Di situ duduk sejoli tua, memulai cakap lewat tanya, sebentuk ritual mereka sederhana: “Apa yang kau lupakan hari ini?” tanya Wanita Tua. Dan Pria Tua selalu menjawab dengan hal yang sama: “Saya selalu lupa banyak hal setiap hari. Tapi saya belum melupakan engkau.”

Cerpen ini, sebagian besar, berisi percakapan kedua tokoh. Alur dibuat mengalir dan jernih sepanjang 7 halaman. Tidak timbul tragedi. Tak ada tahapan menuju klimaks atau konflik yang meledak-ledak. Cerpen ini, seolah tak menjelaskan apa-apa, tapi justru perlahan membuat gelisah pembaca.

Dalam percakapannya, Pria Tua lupa kapan kali pertama mereka berpegangan tangan, apakah saat demonstrasi atau saat bermain musik Bach bersama. Ia tidak ingat. Tapi ia masih ingat perasaan hangat ketika menjabat tangan itu. Wanita Tua pun lupa isi surat cinta pertama yang diterimanya. Tapi ia ingat bahwa surat itu sangat indah, meski memakai kutipan Pramoedya dan dialog dari film Darah dan Doa. Detail-detail itu tentu bukan hiasan. Ini cara Jein menunjukkan bahwa ingatan yang bertahan bukan selalu yang paling akurat, melainkan yang paling dirasakan. Dan perasaan itu hanya tumbuh dari waktu yang sungguh-sungguh dihabiskan bersama seseorang.

Sesuatu yang semakin langka hari ini.

Laporan Ipsos Generations 2024 mencatat, Gen Z cenderung memilih berinteraksi online daripada tatap muka, namun pada saat yang sama mereka kerap menghadapi kesepian yang nyata. Filosof Byung-Chul Han sudah lama melihat ini: dalam jejaring sosial, katanya, fungsi “teman” terutama adalah untuk meningkatkan narsisme, memberi perhatian pada ego yang dipamerkan seperti komoditas. Bukan hubungan yang tumbuh dari waktu dan kehadiran. Transaksi visibilitas. Kita hadir di mana-mana dan tidak benar-benar ada di mana pun.

Adegan paling menggerakkan dalam cerpen ini adalah ketika keduanya mulai menyambung tulisan yang pernah dibuat bersama, yang terlupakan judulnya. Satu-satunya tulisan yang pernah mereka goreskan berdua. Mereka mengucapkannya bergantian, saling mengisi kekosongan yang lain: “Perasaan aneh akan datang menghantuimu. Dan kita hamburkan segala yang telah terpatri.. Kita menemukan secercah cahaya kecil berisi nostalgia … yang hangat. Sebuah sejarah dan masa … perasaan bahagia itu. Lalu …” Dan di sana mereka terhenti. Kata-kata berikutnya mangkir.

Mereka saling tatap, mulut terbuka, tapi memori tak ada. Dalam adegan yang membeku itu, pembaca pun seakan turut dilibatkan. Mengira-ngira penggalan apa yang pantas untuk menyambung. Pembaca telah diajak masuk ke dalam cerita, ke tengah adegan yang dihadirkan. Betapa intim proses mengingatnya itu. Dua orang yang telah lupa banyak hal, tapi masih tahu cara mengingat bersama.

Jein tak menghakimi. Inilah kekuatan terbesarnya. Ia tidak menggurui, tidak memasang cermin di depan wajah pembaca sambil berteriak. Ia hanya memperlihatkan pasangan tua yang tak punya apa-apa selain waktu dan perhatian satu sama lain, lalu membiarkan pembaca tergetar, merasakan sendiri apa yang sebenarnya patut dirindukan. Kedalaman macam ini sulit dibangun di era ketika algoritma terus menawarkan yang baru, yang lebih menggoda, yang lebih mudah. Untuk tetap tinggal, sungguh-sungguh tinggal, menjadi semacam perlawanan yang sulit.

Pertanyaan terakhir cerpen ini adalah yang paling mengejutkan. Ketika ingatan telah benar-benar pudar, ketika malam sudah turun dan burung-burung kembali ke sarangnya, keduanya saling menatap dalam gelap dan bertanya bersamaan: “Engkau siapa?”

Ada yang akan membaca ini sebagai tragedi tentang dua orang yang kehilangan satu sama lain di ujung usia. Tapi ada tafsir lain yang tak kalah sah: bahwa pertanyaan itu adalah tanda cinta yang tak pernah berhenti ingin mengenal. Bahwa setelah puluhan tahun, seseorang yang paling kita kenal masih bisa tampak seperti misteri yang indah. Jein, barangkali, membiarkan kedua tafsir itu hadir sekaligus, dan itulah tanda penulis yang telah melampaui sekadar bercerita.

Antara Kita

Puisi, tulis Goenawan Mohamad suatu kali, adalah “persentuhan antara kita dan kita.” Bukan penjelasan. Bukan instruksi. Persentuhan. Cerpen Jein bekerja persis seperti itu. Ia tidak mengajarkan apa-apa secara langsung. Ia hanya duduk di sebelah kita, seperti Pria Tua di kursi goyang itu, dan diam-diam bertanya: sudahkah kamu benar-benar hadir, hari ini, bagi seseorang?

Besok dan besoknya lagi, Pria Tua dan Wanita Tua akan kembali ke kursi goyang mereka. Ritual itu berulang bukan karena ingatan mereka akan pulih, mereka tahu tidak akan. Tapi karena usaha mengingat itu sendiri yang berharga. Karena duduk bersama seseorang sampai hari gelap, itu bukan waktu yang terbuang. Itu adalah cara kita mengatakan: kamu cukup penting untuk kuberikan perhatian yang penuh, paling lambat dan nyata.

Di zaman ketika perhatian adalah komoditas yang paling diperebutkan, memilih untuk duduk dan bertanya, “Apa yang kau lupakan hari ini?”–mungkin adalah salah satu perbuatan paling waras yang masih bisa kita lakukan.

24/06/2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//