CATATAN SI BOB #33: Hikayat Ikan Remora
Asep Ardian lewat kisah Oni Jouska si ikan remora, tak sedang menyusun sebuah kisah politis. Ia hanya sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang purba.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
17 Juni 2026
BandungBergerak – Di daerah lautan kaya batu karang bernama Sanurlaya, kesepakatan tak tertulis mengikat makhluk-makhluk bawah air. Di sana hidup Pak Dary, seekor pari manta yang besar, tua, dan mulai rabun. Di pipih dan lebar punggungnya, lebih dari tiga puluh ikan remora menempel. Mereka tinggal, beranak pinak, melekat sebagai kehidupan yang "bermalas-malasan". Bagi ikan-ikan kecil itu, punggung Pak Dary adalah sebuah kepatuhan yang nyaman: sejenis jaminan keselamatan yang membuat mereka tak perlu letih berenang. Menempel telah bersalin makna menjadi sebuah karier.
Kita tak tahu pasti, apa yang bergetar di kepala seorang anak muda di sudut Baleendah, Kabupaten Bandung, ketika ia menuliskan baris-baris tersebut. Di sela kepul asap panas minyak, potongan tahu, dan aroma gurih adonan, Asep Ardian barangkali tak sedang menyusun sebuah kisah politis. Namun, justru lewat tokoh Oni Jouska, ia seakan meletakkan alegori yang dingin tepat di hidung ekosistem kebudayaan kita hari ini.
Sastra kita hari ini, kerap beroperasi tak ubahnya punggung Pak Dary yang lebar dan rabun itu. Di sana ada institusi mapan, galeri sejuk, jurnal-jurnal teoretis dengan daftar istilah asing, serta riungan intim kaum akademisi. Untuk bertahan, didengar, dan “dianggap”, seseorang mestilah punya piringan isap di kepala, yang siap dilekatkan pada lambung-lambung pemerintah, institusi atau dewan sirkel, sebagai modal mendapat remah-remah validasi.
Dalam sejarah kebudayaan kita, struktur "pari manta" ini bukan hal baru. Kita ingat bagaimana pasca-1965, bentang sastra didominasi koridor-koridor bertenaga besar yang menentukan siapa boleh terbit dan siapa dihapuskan. Di era modern, struktur itu bermutasi menjadi festival-festival megah di destinasi wisata eksotis, residensi penulis di luar negeri yang didanai yayasan asing, atau dana hibah penciptaan yang bersyarat rumit. Semuanya menjelma mata uang privilese yang baru. Panggung-panggung itu, sadar atau tak, sering bertindak sebagai kurator paspor kebudayaan.
Lalu, sebuah novel kecil lahir dari luar seluruh infrastruktur privilese itu. Ditulis secara otodidak di jeda melayani pembeli, tiba-tiba Oni Jouska menyelinap ke jajaran Shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Tatanan yang kaku itu seketika terinterupsi oleh sebentuk keganjilan.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #30: Musisi MBG
CATATAN SI BOB #31: Siluman dan Pasien
CATATAN SI BOB #32: Mario adalah Sisifus dengan Gitar
Segumpal Daging Kecil
Teks Asep tak datang dengan amarah berbusa-busa atau tinjuan merah menyala, untuk meruntuhkan menara gading. Kekuatannya justru pada kepolosan yang menolak dramatisasi. Tokoh utamanya, Oni, digambarkan sebagai makhluk kesepian. Segumpal daging kecil yang cemas. Sejak paragraf pertama, ia langsung menyapa pembaca dengan nada yang intim dan sunyi:
“Halo, manusia, namaku Oni, Oni Jouska. Aku adalah seekor ikan remora. Kalian manusia ketika berkenalan, apa saling memperkenalkan jenis juga? Hm... aku rasa tidak. Bukan apa, soalnya kami para ikan tentulah harus berkenalan satu sama lain dengan saling mengingat jenisnya.”
Oni menyadari ada sekat-sekat identitas yang tebal sejak ia lahir. Sedari kecil ia tak punya banyak teman dari jenis ikan karena mereka "terkadang jahat dan terlalu banyak mengomel".
Di tengah samudra yang kian pekat oleh kiriman limbah manusia, Oni menghabiskan masa kecil dengan menyapa benda-benda mati yang hanyut. “Halo, hei temenku yang berkilau, aku Oni,” katanya polos pada sekeping sampah plastik. Bagi Oni kecil, sampah-sampah yang melayang menyerupai ubur-ubur itu adalah "teman yang sering mendengarkanku bicara tanpa merendahkan. Ya, mereka adalah teman yang baik ketika aku masih anak-anak.”
Dialog itu terasa menggetarkan. Ada tragedi yang akut ketika sesosok makhluk hidup hanya bisa menemukan kehangatan komunikasi dari limbah kaku yang kelak menghancurkan ruang hidupnya. Namun Oni menambahkan dengan getir: “Akan tetapi teman-teman sampah itu kini sudah jadi musuh ketika tahu bahwa mereka itu jahat. Ya harus dimaklum, rasa kesepian terkadang membuat seekor ikan menjadi tak rasional, termasuk aku.”
Mungkin, sirkel sastra kita yang elitis menderita penyakit yang sama dengan manusia-manusia pembuang sampah tersebut. Mereka senang mendiskusikan alienasi, kemiskinan, atau kerusakan ekologis dari sesi studi yang steril atau terang ruang festival, mengubah penderitaan menjadi komoditas estetika yang eksotis dan rapi. Jarak yang aman membuat mereka bisa berteori tanpa pernah menyentuh lumpur.
Sementara bagi Asep, marginalitas dan kerusakan lingkungan bukanlah tema yang dipilih dari katalog tren: itu adalah banjir tahunan yang menggenangi selokan pasar, debu jalanan, dan realitas ekonomi informal yang ia hirup setiap hari di Bandung Selatan. Ketika ia menulis tentang "benda-benda yang berbentuk bening melayang seperti ubur-ubur, serpihan-serpihan mengilat seperti ikan kecil... benda-benda itulah yang membuat bencana besar di lautan terjadi," ia tak sedang merangkai metafora rumit. Ia sedang mencatat apa yang menyumbat saluran air di depan matanya.
Dalam salah satu bagian yang krusial, Oni Jouska bertemu Tuan Salik, seekor hiu Greenland tua yang lamban, matanya abu sayu, dan mulutnya menganga tanpa taring. Kepada Oni yang meratapi nasib dan bentuk fisiknya yang ganjil, hiu yang hidup lebih dari dua ratus tahun itu berbisik:
“Bentuk ikan yang macam-macam, batu karang yang keras, bahkan kepalaku yang cacat, pasti mempunyai alasan kenapa diciptakan demikian. Dan jika kamu ragu tentang perkataanku, percayalah, itu perkataan hiu greenland yang telah lama hidup lebih dari 200 tahun. Kau harus benar-benar percaya kepadanya.”
Barangkali di situ intinya. "Kecacatan" posisi Asep, yang berada di luar silsilah genealogis sastrawan ideal yang berpendidikan tinggi, telah menjadi area pembebasan yang sunyi. Ia tak memiliki piringan isap yang pas untuk menempel pada hierarki kekuasaan sastra, ia tak punya beban untuk menyenangkan siapa pun. Ia tak berutang budi pada teori, koloni, atau sirkel mana pun. Ia bebas melihat laut dari batas yang paling bawah, merawat "kecacatan" sebagai bagian dari martabatnya.
Kegembiraan Kaum Ikan
Di akhir, sebuah pembalikan kekuasaan terjadi secara magis di sore yang mulai gelap, sebuah momen yang terasa seperti sebuah karnaval kebudayaan yang terbalik:
“Pada sore hari itu, aku merasa menjadi remora terkeren di lautan. Bayangkan, ribuan hiu dari berbagai jenis mengikuti perintahku. Mereka yang terkenal ganas dan egois, tetapi bisa menurut kepadaku, tentunya itu bukan karena diriku sendiri, tetapi karena Tuan Salik, dan hiu-hiu itu begitu mempunyai rasa hormat yang tinggi kepadanya.”
Di dunia nyata, "hiu-hiu" kritikus, redaktur, dan akademisi sastra yang sibuk di sirkelnya, terpaksa menunduk, membuka, dan membaca lembar demi lembar novel karya anak muda Bandung Selatan ini. Namun, sebuah kisah yang gigih dan otentik, tak pernah berakhir dengan sorak sorai kemenangan yang naif. Di balik suasana kaum ikan yang berenang dengan riang, paragraf berikutnya langsung meredam kegembiraan itu dengan kenyataan yang berat:
“Hari makin gelap, kawasan itu telah bersih, semuanya selesai. Sampah-sampah, telah menumpuk banyak di pinggir pantai di sebelah barat. Jumlah sampah yang kami bawa lebih banyak dua kali lipat dari kawasan yang aku kerjakan bersama Kapten Pandji.” Sampah itu tak benar-benar lenyap; ia hanya pindah tempat, menumpuk di pesisir barat, menunggu kembali terseret ombak. Hari kian remang, dan samudra tetaplah sebuah ruang yang terancam.
Asep Ardian tak menampar sirkel sastra mana pun; ia hanya sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang purba. Bahwa di samudra waktu, segala privilese; panggung festival, dana hibah, dewan kesenian, dan sirkel arus utama; adalah hal yang fana. Karya sastra yang menjadi tak selalu lahir dari seberapa pandai kita menempel pada kekuasaan, atau seberapa fasih kita mencari selamat di bawah perut penguasa. Tetapi dari seberapa berani kita merawat kesunyian di balik gerobak masing-masing, berenang tanpa pelindung, dan terus berbicara, bahkan ketika sekitar kita perlahan-lahan menjelma gunungan plastik yang menyesakkan.
10/06/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


