• Kolom
  • CATATAN SI BOB #31: Siluman dan Pasien

CATATAN SI BOB #31: Siluman dan Pasien

Godot tidak datang bukan karena ia jahat, melainkan karena ia tidak pernah benar-benar berencana datang.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Laku, dalam konteks musik hari ini, sering kali dimaknai sebagai viral, disukai massa, atau menghasilkan keuntungan finansial. (Ilustrasi: Arctic Pinangsia Paramban/BandungBergerak)

15 April 2026


BandungBergerak – Dalam Waiting for Godot, Beckett membangun seluruh dramanya di atas satu kekosongan: seseorang yang dijanjikan akan datang, namun tidak pernah tiba. Vladimir dan Estragon menunggu, berdebat, mengulur waktu, dan Godot tidak datang. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kabar. Hanya absen yang bisu, yang justru menjadi tokoh paling berat dalam seluruh pertunjukan.

Beckett, tentu saja, sedang berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih besar dari pentas. Dan siapa pun yang pernah bekerja dalam komunitas atau kolektif, yang menunggu dan bertumpu pada seseorang, janji berproses sampai akhir, namun akhirnya mangkir, akan mengenali perasaan itu dengan cara yang lebih sederhana dan menyakitkan: bukan eksistensial, hanya ditinggalkan.

Saya ingin bicara tentang ketidakhadiran. Bukan ketidakhadiran dalam arti metafisik, bukan tentang Tuhan yang diam atau sejarah yang bungkam, melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat: ketidakhadiran seseorang yang sudah berjanji untuk ada. Di ruang latihan yang lampunya menyala sampai larut. Di panggung yang setengah jadi. Di grup pesan yang penuh tanda tanya dan nama yang tidak membalas.

Komunitas seni; terutama yang kecil, yang tidak punya budget, yang berjalan dengan keyakinan lebih dari dengan uang; mengenal dua sosok yang kehadirannya justru paling terasa lewat ketiadaan mereka. Yang pertama adalah Pasien: ia yang tiba-tiba sakit ketika tanggung jawab sedang mencapai puncaknya. Yang kedua adalah Siluman: ia yang menghilang tanpa kata, seperti uap, tepat ketika pekerjaan yang ia janjikan harus dikerjakan.

Saya tidak ingin terburu-buru mengutuk. Dan yang ingin saya tunjukkan adalah sebuah pola, bukan sebuah dosa. Pola berulang dengan presisi yang hampir artistik: penyakit yang datang sehari sebelum pentas, telepon yang tidak terjawab tepat ketika lampu panggung seharusnya sudah menyala, pesan terakhir yang berbunyi "tenang, aku handle" yang ternyata bukan awal dari ketenangan, melainkan awal dari kepanikan.

Tubuh manusia memang bisa sakit kapan saja. Tapi ada penyakit yang seperti sudah membaca rundown acara, dan tahu persis di baris mana harus datang.

Mengapa pola ini begitu teguh? Barangkali karena komunitas non-profit menawarkan sesuatu yang menggoda: rasa terlibat tanpa risiko penuh. Tidak ada kontrak. Tidak ada sanksi. Tidak ada yang benar-benar akan memecatmu. Maka yang tersisa hanyalah niat. Dan niat, seperti yang kita semua tahu, adalah benda yang sangat mudah berubah bentuk ketika bertemu dengan kenyataan. Niat hadir di rapat berubah menjadi "aku ikut lewat rekaman saja." Niat mengurus sound system berubah menjadi "kayaknya ada yang lebih ngerti deh." Niat tampil di panggung berubah menjadi demam yang datang dengan waktu yang terlalu tepat untuk disebut kebetulan.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #28: Tanam Tuai
CATATAN SI BOB #29: Berbuka Puisi Bersama Boby
CATATAN SI BOB #30: Musisi MBG

Pasien dan Siluman

Banyak yang masuk ke komunitas seni dengan membawa portofolio sebagai tujuan, bukan proses. Mereka ingin nama mereka tercantum di poster, ingin bisa menyebut kelak, "Ya, saya pernah terlibat dalam pertunjukan itu." Tapi keterlibatan yang sesungguhnya; yang kotor, yang membosankan, yang penuh negosiasi dan kompromi dan menunggu; itu bukan bagian dari rencana mereka. Ada semacam ekonomi yang bekerja di sini: ekonomi citra, di mana seseorang mengambil keuntungan simbolis dari sebuah kerja yang tidak sepenuhnya ia tanggung. Bukan pencurian yang kasar. Lebih seperti titip nama di bingkai foto tanpa ikut memaku dindingnya.

Dan inilah yang paling menyedihkan dari Pasien dan Siluman: mereka hadir di sana ketika ada sesuatu yang bisa dipamerkan, ketika foto-foto akan diambil, ketika nama-nama akan disebut dari atas panggung. Mereka hadir di dalam portofolio meski tidak hadir di dalam proses. Komitmen bukan hal yang datang sebelum tindakan, melainkan hal yang lahir dari tindakan itu sendiri. Seseorang tidak berkomitmen dengan berkata iya. Ia berkomitmen dengan datang, berulang-ulang, bahkan ketika malas, bahkan ketika lelah, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Yang paling terluka bukan suasana hati. Yang paling terluka adalah kepercayaan. Dan kepercayaan, berbeda dengan tembok yang runtuh karena gempa, biasanya hancur karena retakan-retakan kecil yang dibiarkan. Setiap kali seseorang tidak hadir dan tidak disapa tentang ketidakhadirannya, setiap kali Siluman kembali seolah tidak ada yang terjadi dan disambut hangat begitu saja, komunitas itu sedang mengajari dirinya sendiri bahwa tidak apa-apa untuk tidak bisa dipegang. Dan perlahan, tanpa surat keputusan, tanpa rapat penutupan, komunitas itu berubah menjadi kumpulan orang yang tidak lagi percaya satu sama lain.

Di akhir Waiting for Godot, Vladimir dan Estragon memutuskan untuk pergi, tapi mereka tidak bergerak. Mungkin itulah nasib komunitas yang terlalu lama menanggung Pasien dan Siluman: ingin bergerak maju, tapi kelelahan oleh penantian yang berulang.

Godot tidak datang bukan karena ia jahat, melainkan karena ia tidak pernah benar-benar berencana datang. Ia hanya belum belajar bahwa janji yang diucapkan di dalam komunitas bukan basa-basi sosial. Ia adalah fondasi. Dan fondasi yang retak tidak roboh sekaligus, tapi amblas perlahan, diam-diam, sampai suatu malam seseorang berdiri di atas panggung dan menyadari bahwa separuh dari orang yang seharusnya ada di sana, adalah hantu.

10/04/2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//