CATATAN SI BOB #29: Berbuka Puisi Bersama Boby
Buku puisi Stasiun Kajigaya karya Boby Anggara menyigi metafora tentang Jepang sebagai mangkuk besar yang menerima semua orang, semua nama, semua rasa.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
17 Februari 2026
BandungBergerak.id – Ramadan lalu, di sebuah kafe di Setiabudhi, setelah berbuka. Boby duduk di antara beberapa orang yang datang ke kelas penulisan puisi. Ia yang paling diam, sampai sesi tanya jawab dimulai dan tangannya naik.
"Sejauh mana puisi itu efektif dan bertenaga?"
Pertanyaan yang bukan seorang pemula. Bukan "bagaimana memulai" atau "dari mana mencari ide", melainkan "sejauh mana efektif", seperti seseorang yang mengukur kekuatan beton sebelum membangun jembatan. Saya tak tahu waktu itu Boby baru pulang dari Jepang, beberapa tahun sebagai juru masak restoran, mengepel lantai, tersenyum di acara nomikai, pesta kantor yang tak ia suka, dan tertawa pada lelucon yang tak sepenuhnya ia mengerti.
Januari 2026, terbit Stasiun Kajigaya, buku puisi Boby Anggara dari Langgam Pustaka. Di halaman 20, ia menulis tentang champon, sup mi khas Nagasaki. "Pulau ini mengambang di mangkuk," tulisnya, dan di kulkas ada tauge, kamaboko, daging, kubis: semuanya datang dari jauh, dari Myanmar, Kanto, Nepal, Indonesia. "Zo dari Myanmar, isobe dari Kanto, gurung dari Nepal, dan boby dari Indonesia."
Metafora bagus. Jepang sebagai mangkuk besar yang menerima semua orang, semua nama, semua rasa. Tapi Boby agaknya lupa, atau memilih lupa, bahwa Boby dalam kenyataannya bukan bumbu dapur yang bisa dicampurkan sesuka hati. Mereka manusia, dan di Jepang ada kata khusus untuk mereka: gaijin, orang luar.
Di halaman lain, Boby menulis: "Tidak ada revolusi malam ini." Ia bicara tentang Frankfurt School, tentang leberwurst yang dipanggang, tentang Horkheimer yang pindah ke Jenewa, tentang Marx yang ramalannya tak kunjung wujud. Lalu ia tutup dengan kalimat: "Esok, aku akan buatkan eintopf, semur campuran apa saja yang ada di dapur."
Lagi-lagi dapur. Dan lagi-lagi Boby memakai kata-kata asing, nomikai, leberwurst, eintopf, yang sesungguhnya punya padanan dalam bahasa Indonesia, tapi entah kenapa ia pilih yang asing. Seperti seseorang yang mengenakan dasi di acara santai, bukan karena perlu, tapi karena merasa dengan begitu ia tampak lebih penting.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #26: Apatico Pukul Sebelas Malam
CATATAN SI BOB #27: Balada Ashley
CATATAN SI BOB #28: Tanam Tuai
Kapital Budaya
Bourdieu pernah bicara tentang apa yang disebutnya "kapital budaya". Bahwa dalam dunia sastra ada hierarki tak tertulis: ada bahasa yang dianggap lebih "sastrawi", Perancis, Inggris, Jerman, dan ada nama-nama yang memberi prestise begitu disebut: Adorno, Horkheimer, Miyazawa Kenji. Penyair dari pinggiran, negara-negara ASEAN, seolah mesti "meminjam" kapital semacam itu kalau ingin diakui di panggung lebih luas.
Boby tak lugu. Ia, barangkali, paham permainan ini. Maka ia pun menulis nomikai, leberwurst, eintopf, bukan semata-mata karena takjub, melainkan karena kata-kata asing itu memberi bobot pada suara yang ia sendiri belum yakin cukup berat.
Tapi di sisi lain, dan inilah yang menarik, Boby juga menulis tentang seorang nenek buyut yang diculik tentara Jepang, dimasukkan ianfu, rumah pelacuran tentara. Sekaligus ia menulis tentang Masuzu, gadis anime berambut perak yang "mengasuhnya waktu SMP, memberinya susu". Dalam satu dada: cinta dan dendam. Dalam satu napas: penjajah dan ibu. Aneh memang. Tapi mungkin begitulah nasib pekerja imigran, yang menggemakan “Indonesia Raya” dalam hati sambil terkagum pada elok tata kota luar negeri.
Saya teringat apa yang ditulis Goenawan Mohamad tentang Niti Praja, kitab kuno yang dikutip Raffles dalam bukunya tentang Jawa. Raffles kagum pada ajaran moral di sana: raja yang baik harus melindungi rakyat, keadilan harus mengalir seperti sungai pegunungan. "Bagi seorang liberal seperti Raffles," tulis Goenawan, "apa yang tercantum dalam Niti Praja tentulah menggugah hatinya. Namun Niti Praja bagaimanapun hanya manuskrip. Hanya ajaran moral. Jika raja dan para bupati tak mematuhinya, seperti yang ternyata terjadi di dalam sejarah, apa daya?"
Boby juga mengutip hal-hal indah: champon yang beragam, Miyazawa Kenji yang kampung halamannya di Iwate. "Habis dari Sendai," tulisnya, "aku ingin mampir ke Iwate dulu." Tapi Boby bukan Miyazawa Kenji, dan Iwate bukan kampung halamannya. Metafora champon tetaplah metafora, sementara realitasnya adalah sendi-sendi wajah yang ngilu bekas terpaksa senyum, dan suara di kepala yang bilang "kau yang paling mirip orang jepang" sambil menunjuk untuk mengepel lantai.
Champon
Malam Ramadan itu, kita berbuka puisi bersama. Berbuka puasa, berbuka pertanyaan. Boby pulang dengan pertanyaannya yang belum terjawab, dan setengah tahun kemudian ia menerbitkan buku ini, puisi-puisi yang masih mencari bentuk, yang masih meminjam, yang mungkin akan terus meminjam.
Apakah ini salah? Tidak juga. Apakah ini perlu? Mungkin.
Pascale Casanova, mengatakan bahwa dunia sastra punya "meridian Greenwich" sendiri: ada pusat (Paris, London, New York) dan ada pinggiran. Penyair dari pinggiran harus "menerjemahkan" dirinya agar bisa masuk "republik sastra dunia". Dan Boby sedang menerjemahkan dirinya, dengan segala keganjilan yang menyertainya.
Yang saya tak bisa jawab adalah: efektif untuk siapa? Pembaca di Indonesia yang mungkin bingung dengan leberwurst dan eintopf? Atau juri hadiah sastra internasional yang mencari "suara dari pinggiran" tapi dengan kapital budaya yang mereka kenali?
Saya tak tahu. Yang saya tahu: tak ada yang pasti bagi orang seperti Boby, orang yang hidup di mangkuk, bukan sebagai tamu, bukan sebagai tuan, tapi sebagai bumbu yang dicampurkan dengan bumbu lain. Suatu keadaan yang, entah kebetulan atau bukan, cukup cocok dengan zaman ini. Zaman migrasi. Zaman champon.
14/02/2026
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

