• Kolom
  • CATATAN SI BOB #30: Musisi MBG

CATATAN SI BOB #30: Musisi MBG

Sistem itu selalu tahu, dengan presisi yang hampir jahat, berapa harga seseorang di momen ketika ia paling kelelahan. Seperti tawaran pada Torres bekerja di SPPG.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Ilustrasi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

3 Maret 2026


BandungBergerak.id – Malam itu Torres kelihatan lelah. Kami baru saja menepi dari panggung yang sama: sebuah event komunitas, cahaya seadanya, penonton yang berdiri dan tak banyak. Ia memegang cangkir kopinya lama sekali sebelum bicara. Lalu katanya, pelan, bahwa ada tawaran yang ia pertimbangkan. Bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gaji tetap. Ia tak menyebutnya sebagai keputusan. Ia menyebutnya sebagai kemungkinan. Tapi dari cara ia menghindari mata saya, saya tahu kemungkinan itu sudah hampir pasti.

Yang aneh bukan keputusannya. Yang aneh adalah rasa bersalahnya.

Torres bukan sembarang musisi yang menyerah karena tidak berbakat. Lagunya adalah punk rock: lirik yang tak pernah menurunkan tensinya bahkan ketika memilih versi akustik, seperti pisau yang tetap tajam meski sarungnya diganti beludru. Ia pernah menulis lagu tentang aparat yang memukul buruh, tentang gedung DPR yang jendelanya tidak pernah menghadap ke jalan, tentang janji-janji yang lahir dari mulut yang sama dengan mulut yang menyuruh aparat menculik demonstran itu. Lagu-lagunya bukan puisi yang mengeluh, tapi tuduhan yang menyalang.

Dan kini ia mengurus logistik makan siang anak-anak sekolah.

Ada yang ingin saya tanyakan waktu itu, tapi tidak saya tanyakan: apakah ia tahu dari mana uang program itu berasal. Bahwa anggaran pendidikan, yang seharusnya untuk buku, untuk atap sekolah yang bocor, untuk guru yang sudah lama menunggu pengangkatan, sebagian besar dialirkan ke sini, ke program yang fotonya selalu rapi, foto yang selalu ada pejabat tersenyum dan siswa-siswa keracunan, foto yang selalu hangat meski makanannya basi. Tapi saya tidak tanya. Mungkin karena saya tahu jawabannya tak kan mengubah apa pun. Atau mungkin karena saya sendiri tak cukup berani untuk memulai percakapan yang ujungnya sudah saya bayangkan: Torres menatap kopinya, diam, lalu berkata bahwa ia tahu, tapi ia tetap butuh makan.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #27: Balada Ashley
CATATAN SI BOB #28: Tanam Tuai
CATATAN SI BOB #29: Berbuka Puisi Bersama Boby

Ifan Seventeen, ketika dilantik menjadi Direktur Utama PT Produksi Film Negara bulan Maret lalu, berkata bahwa ia memilih mengabdi. Yovie Widianto kini duduk di kursi komisaris Pupuk Indonesia. Giring, bekas vokalis ternama, jadi komisaris di anak usaha Garuda. Mereka menggunakan kata yang mirip-mirip: pengabdian, panggilan, kesempatan berkontribusi. Kata-kata itu tidak bohong sepenuhnya. Tapi mereka juga tak jujur sepenuhnya, karena tak ada yang menyebut angka gajinya, tak ada yang menyebut bahwa kursi itu kosong justru karena orang yang berkompeten tak mau mengisinya. Negara memerlukan wajah-wajah yang dikenal publik untuk menghangatkan lembaga-lembaga yang bermasalah adalah negara yang sudah kehabisan argumen. Maka beralih ke estetika.

Torres tidak seterkenal mereka. Tidak ada kursi komisaris yang menunggunya. Yang menantinya hanya formulir, seragam, dan gaji yang cukup membayar kontrakan tanpa menghitung sisa bulan. Perbedaan antara Torres dan Ifan bukan pada nilainya sebagai manusia. Perbedaannya adalah pada harga yang ditawarkan sistem kepadanya, dan pada kenyataan bahwa sistem itu selalu tahu, dengan presisi yang hampir jahat, berapa harga seseorang di momen ketika ia paling kelelahan.

Di sinilah letak kecerdikan pemerintahan yang bobrok: ia tidak melarang perlawanan. Ia cukup membuatnya tidak terjangkau. Punk rock boleh ada, panggung komunitas boleh menyala, lirik tentang gedung DPR boleh dinyanyikan, selama penyanyi dan penontonnya sama-sama tahu bahwa esok pagi mereka tetap harus mencari cara membayar sewa. Kontrol terbaik bukan sensor. Kontrol terbaik adalah kelelahan yang datang tepat waktu, seperti tawaran kepada Torres malam itu, ketika lirik-lirik perlawanannya sudah terasa berat di mulutnya sendiri.

Saya tak tahu apa yang kini dimainkan Torres di waktu senggang. Mungkin masih punk. Mungkin akustik. Mungkin tak ada sama sekali, karena ada jenis kelelahan yang tak hilang setelah tidur, yang menempel di jari-jari dan membuat senar gitar terasa seperti benda dari kehidupan orang lain. Yang saya tahu: malam itu, sebelum kami berpisah, ia berkata, "Toh aku masih bisa nulis lagu." Kalimat itu terdengar seperti keyakinan. Tapi lebih mirip permohonan kepada dirinya sendiri, agar ia percaya bahwa yang ia lepaskan bukan sesuatu yang tak bisa kembali.

Tapi saya tidak yakin sesuatu yang pergi dengan cara seperti itu bisa kembali. Dan pemerintahan yang membuatnya pergi, saya kira, tidak peduli.

26/02/2026

 

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//