• Kolom
  • CATATAN SI BOB #32: Mario adalah Sisifus dengan Gitar

CATATAN SI BOB #32: Mario adalah Sisifus dengan Gitar

Mario lolos seleksi PPPK setelah mengajar dua dekade sebagai guru honorer. Tapi, ia hanya satu item dalam daftar panjang yang bisa dicoret karena efisiensi anggaran.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Ilustrasi guru. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

29 April 2026


BandungBergerak – Camus menulis tentang Sisifus: manusia yang dihukum mendorong batu ke puncak, selamanya, dan batu itu selalu menggelinding kembali. Tapi Camus tak mengasihani Sisifus. Ia minta kita membayangkannya bahagia. Sebab dalam kesadaran akan absurditas itu, ada sesuatu yang tak bisa dirampas: batunya adalah miliknya.

Mario adalah Sisifus dengan gitar.

Bertahun-tahun ia mengajar di sekolah negeri yang rapuh. Ia guru honorer, kata yang di negeri ini sudah jadi eufemisme untuk sesuatu yang lebih jujur bila disebut apa adanya: tenaga yang dipakai tanpa benar-benar diakui. Rata-rata gaji mereka, kata survei yang terbit dua tahun lalu, di bawah dua juta rupiah. Seperlima, bahkan di bawah lima ratus ribu. Bukan angka: itu jam tidur yang terpotong, itu makan siang yang dilewati, itu anak yang tak bisa diajak ke dokter karena bulan ini bayaran belum cair. Dan cair pun, jumlahnya tak berubah sejak lama.

Tapi di malam hari, Mario membuka gitar. Menuliskan syair dari pengalaman dan harapan. Sambil menyisihkan sebagian upah yang sudah tipis untuk menyewa studio rekaman beberapa jam dalam sebulan. Bukan karena percaya akan terkenal. Tapi karena tanpa itu, ada bagian dari dirinya yang mati lebih awal. Batu itu, lagunya, suaranya sendiri di mikrofon, itulah yang ia dorong ke atas, setiap hari, meski tahu esok ia akan mulai lagi dari bawah.

Kemudian datang kabar: namanya lolos seleksi PPPK. Selembar kertas dengan nomor registrasi dan tanda tangan pejabat. Bagi orang lain mungkin biasa, tapi bagi Mario itu tak cuma kepastian gaji. Itulah pengakuan. Bahwa kerja bertahun-tahun itu dihitung. Bahwa ia bukan hantu yang cuma mengisi absensi negara. Untuk pertama kali, ia bisa membayangkan masa depan tanpa sesak napas.

Tapi di negeri yang senang berjanji, kepastian selalu datang bersama syarat yang tak ditulis. Dana transfer ke daerah dipangkas: puluhan triliun dalam satu instruksi presiden, demi kata yang selalu terdengar masuk akal dari kejauhan. Efisiensi. Di saat bersamaan, Badan Gizi Nasional mendapat alokasi Rp71 triliun, dan sebagian besarnya, lebih dari setengahnya, resmi dihitung sebagai anggaran pendidikan. Konstitusi mewajibkan dua puluh persen APBN untuk pendidikan.

Tapi ketika makan siang sudah dihitung sebagai mendidik, angka dua puluh persen itu tinggal ilusi tipografi. Kalkulasi koalisi masyarakat sipil menyebut porsi riil pendidikan dalam APBN 2026 hanya 14,2 persen: jauh di bawah amanat yang sudah tertulis di konstitusi sejak tujuh dekade lalu. Sementara ribuan pengelola program makan itu justru diangkat jadi ASN, lebih cepat dari guru honorer mana pun yang telah mengajar dua dekade. Ini bukan soal kemampuan. Ini soal siapa yang dianggap layak.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #29: Berbuka Puisi Bersama Boby
CATATAN SI BOB #30: Musisi MBG
CATATAN SI BOB #31: Siluman dan Pasien

Kepastian adalah Kemewahan

Ribuan guru PPPK di pelbagai provinsi pun mulai mendengar kabar yang terasa serupa simalakama. Pengangkatan Mario bukan lagi peristiwa yang sungguh-sungguh. Hanya satu item dalam daftar panjang yang bisa dicoret bila anggaran tak mencukupi.

Ada yang lebih menyakitkan dari penolakan keras: pengakuan yang ditarik kembali. Seperti tangan yang diulurkan lalu ditarik tepat ketika jarimu hampir menyentuhnya. Bukan kekerasan. Hanya kemanisan yang kemudian menguap.

Yang paling miris dari kisah Mario bukan ancaman itu. Yang paling menyedihkan justru karena ia tak terkejut. Ia telah belajar, di negeri ini, kepastian adalah kemewahan, dan mimpi adalah sesuatu yang harus dilakukan sembunyi-sembunyi: di sela jam mengajar, di antara tagihan yang tak pernah selesai, di sudut malam yang senyapnya tak benar-benar senyap.

Mungkin Mario akan terus memainkan gitarnya. Atau mungkin ia memudar, setelah menghela napas panjang di depan layar ponsel, membaca berita tentang nasib yang sebenarnya sudah ia tebak. Camus mengakhiri esainya dengan kalimat yang terasa terlalu cerah untuk keadaan seperti ini: bahwa kita harus membayangkan Sisifus bahagia.

Tapi barangkali Camus benar, meski dengan cara yang lebih pahit dari yang ia maksudkan. Mario tidak membutuhkan negara untuk bahagia. Ia sudah lama belajar hidup tanpanya. Lagunya, yang terus ia dorong ke atas itu, tetap miliknya. Dan tidak ada instruksi presiden yang bisa mengambilnya.

Setidaknya, hari ini.

28/04/2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//