CATATAN SI BOB #34: Carpe Diem
Buku puisi ketiga Willy Fahmy Agiska, Seperti Orang Mati yang Hidup, menemukan jangkar kontekstualnya. Ia mendata apa saja yang tersisa setelah dihantam rutinitas ke

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
23 Juni 2026
BandungBergerak – Di lembar pertama buku puisi itu, sebuah pesan ditulis dengan sebatang pulpen: Carpe Diem. Goresan personal, frasa rahasia yang sengaja dititipkan ketika saya membeli buku itu langsung dari tangannya. Seketika terketuk ingatan masa kuliah: kilasan tentang ruang kuliah sastra di UPI Bandung, malam di Terminal Ledeng yang ramai perdebatan estetik, dan keyakinan naif sebuah angkatan yang mengira kata-kata mampu menunda kepunahan. Namun hari ini, ketika frasa itu hadir sebagai sapaan karib, suaranya tak serenyah pekik kebebasan anak-anak New England dalam Dead Poets Society. Frasa itu mengalami pergeseran: dari undangan merayakan hidup, menjadi sejenis tawaran yang defensif di hadapan kelelahan urban.
Ada sejarah panjang tentang bagaimana carpe diem itu sampai. Jauh John Keating meloncat ke atas meja kelas, penyair Romawi Horatius menuliskannya dalam Odes. Kata carpe berakar pada metafora hortikultura, berarti memetik, memanen, atau mengumpulkan buah sebelum membusuk. Horatius sedang bicara keterbatasan, tentang esok yang tak pasti, dan anjuran menikmati apa yang tersisa. Namun kapitalisme modern dan kultur gig-economy hari ini telah mendistorsi laku yang sabar itu menjadi merebut yang agresif: sebentuk kepanikan massal yang dibungkus tagar produktivitas tanpa henti.
Potret kecemasan ini bukan lagi fiksi atau metafora sosiologis yang jauh, tetapi angka-angka riil yang menjepit leher generasi hari ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jutaan anak muda usia produktif masuk dalam kategori Not in Education, Employment, or Training (NEET). Mereka putus sekolah, terlempar dari pasar kerja resmi yang digantikan sistem kontrak rentan. Di bawah bayang-bayang status tanpa jaminan, waktu luang mereka habis terbakar kecemasan atas harga pokok yang melonjak dan mimpi memiliki rumah yang mustahil. Fenomena inilah yang melahirkan keletihan psikologis masif, sebuah situasi di mana bertahan hidup menjadi satu-satunya agenda.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #31: Siluman dan Pasien
CATATAN SI BOB #32: Mario adalah Sisifus dengan Gitar
CATATAN SI BOB #33: Hikayat Ikan Remora
Jangkar Kontekstual
Di sini buku puisi ketiga Willy Fahmy Agiska, Seperti Orang Mati yang Hidup, menemukan jangkar kontekstualnya. Willy melihat bahwa anak muda hari ini tidak sedang sibuk memetik mawar-mawar benderang seperti puisi Robert Herrick. Mereka dikepung keharusan untuk berfungsi sebagai sekadar angka dalam statistik angkatan kerja. Dalam puisinya yang berjudul Tutup, penyair menulis sebuah instruksi yang pedih: masukkan / selera humormu / ke toples // lakban, lakban / lihat, seberapa tahan / dunia menahan dirinya / tidak menyingkirkan. Dunia modern tak punya cukup waktu untuk menoleransi ketidakteraturan manusiawi. Kita disuruh membekukan kegembiraan agar masuk ke dalam cetakan cetak-biru korporasi.
Maka, heroisme generasi hari ini tidak lagi diukur dari seberapa besar mereka mengguncang sejarah, melainkan dari kemampuan mengelola kewarasan harian. Dalam sajak Bangun, pembebasan itu tampil dalam tingkah yang minimalis dan organik: keluar dari tali / dan simpul diri sendiri // sekarang / waktunya minum segelas air / lalu pergi ke toilet. Menghadapi hari adalah kerja biologi yang mutlak. Menarik bagaimana cara Willy menutup puisinya mungkin perlu rutin olahraga / untuk menerima masa tua / tanpa kecewa. Di tengah tren kesehatan mental yang komodifikatif, menerima kenyataan fisik yang menua diatasi bukan dengan refleksi teologis, tetapi dengan mekanisasi tubuh demi menunda kerusakan.
Hubungan interpersonal pun tak luput dari stilisasi yang ringkas dan steril. Dalam puisi Sabun, sebuah perpisahan diselesaikan dengan laku antiseptik, tidak lagi diratapi dengan air mata romantik. untuk memisah / jabat kemarin / dari teman, / misalkan, tulisnya. Manusia modern terbiasa menghapus tautan emosional dengan sekali bilas, sebuah cerminan dari relasi sosial yang gampang digantikan dalam ekosistem digital. Namun, sajak itu mendadak menikam ketika sabun yang sama disebut sebagai sabun yang sama / sewaktu bersih-bersih / mayatmu. Jarak antara kehangatan ruang temu dan keheningan kamar mati ternyata hanya dibatasi oleh selembar dinding yang tipis.
Dalam perangai kota yang serba cepat, jeda untuk sekadar refleksi pun minggat. Hari Minggu, yang semula diimajinasikan ruang milik seutuhnya, dalam puisi Manifest digambarkan telah dijarah. Kita melihat potret anak muda yang berjalan dengan mengepal banyak sindiran / di saku celana dalam-dalam, berhadapan dengan matahari kopong yang setia menontonmu / dipatok di jalan dan pertanyaan kenapa kawat dan paku / lebih tajam dari kata-kata / adalah pertanyaan. Kebahagiaan menjadi ujud artifisial, komoditas yang diprint / dari semua kerja lari-babi kita. Di tengah realitas industri yang keras, kata-kata dan kritik sering tampil layu, hilang daya untuk mengubah keadaan.
Kota besar, pada akhirnya, melepaskan pesona puitisnya dan menjelma sebagai sirkuit efisiensi. kota-kota mengedip / bukan untuk membikin tanda, tulis Willy dalam puisi Tanpa. Dan kalimat berikutnya merupakan kritik telak bagi kita yang dibesarkan tradisi pencarian makna: manusia baiknya mengalir saja / lewat, tak perlu kedalaman. Kedalaman pikiran atau perasaan telah menjelma barang mewah yang mengganggu kelancaran arus metropolitan. Ekosistem urban menuntut manusia bergerak konstan, superfisial, tanpa beban ingatan. Siapa pun yang mencoba berhenti untuk merenung di tengah lalu lintas modern akan dianggap anomali, lalu ditabrak laju mesin.
Dokumen Kecil
Puisi-puisi Willy, dalam buku terbitan Penerbit Velodrom ini, tidak sedang menawarkan pamflet ideologi yang muluk. Puisi-puisi Willy ini lebih menyerupai catatan yang tertinggal di kursi belakang angkutan kota atau gerbong komuter akhir: tidak datang dengan teriakan kemarahan yang demonstratif, tetapi dengan bisik perih di antara kesepian algoritma dan deru mesin kota.
Menjadi "orang mati yang hidup" bukan kepasrahan nihilistik, tetapi tawaran dari sebuah generasi yang tahu bahwa mereka sedang dikikis kepalsuan sistem, namun menolak sepenuhnya menjadi robot. Lewat puisi-puisinya, Willy tidak mengajak kita berpidato menantang kurikulum kehidupan, seperti murid-murid John Keating yang penuh gairah. Justru ia memilih menghadapi kedangkalan zaman dengan ketekunan seorang juru sita, mendata apa saja yang tersisa setelah dihantam rutinitas kerja.
Di tengah dunia yang massal dan serba seragam, goresan tinta yang khusus dituliskan untuk saya itu seolah menegaskan bahwa hubungan manusiawi belum sepenuhnya habis. Pesan itu seakan berbisik dari balik halaman, bahwa memetik hari tidak melulu membutuhkan panggung besar atau kepahlawanan teatrikal; ia bisa berupa laku-laku sunyi yang luput perhatian publik, namun krusial untuk menjaga sisa kemanusiaan kita agar tidak sepenuhnya menguap.
19/06/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


