CATATAN SI BOB #36: Whisky Religi
Buku puisi Fiu, Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan (2026), tidak berpura-pura jadi puisi. Ia mengungkap sesuatu yang sudah lama kita ketahui, tapi enggan diucapkan.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
7 Juli 2026
BandungBergerak – Di layar gawai, seorang lelaki berjenggot panjang dan rapi, menyeka air mata sambil bicara tentang ikhlas. Tiga puluh detik kemudian video itu selesai, lalu terputar lagi dari awal, karena jempol yang menonton belum bergeser. Video itu sengaja diulang, sampai si pemilik gawai, ikut menyeka air mata. Lalu ia mulai membayangkan dosa, membayangkan seberapa mungkinkah ia mencapai gerbang surga.
Fiu, dalam buku puisi keduanya, Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan (Langgam Pustaka, 2026) menaruh adegan ini ke dalam sebuah gelas. Aku ingin minum whisky religi, tulisnya, lalu memberi komposisinya seperti label pada botol: ceramah viral seratus miligram, kepatuhan delapan puluh, air celupan seratus dua puluh, akhlak buatan delapan puluh gram. Ada peringatan kecil di bagian bawah, seperti pada kotak obat yang dijual bebas: dosis berlebih tidak menjamin cepat bertemu Tuhan (“Aku Ingin Minum”, 2025).
Puisi ini tidak berpura-pura jadi puisi, tetapi sebuah label. Dan dengan begitu, puisi itu mengungkap sesuatu yang sudah lama kita ketahui tapi enggan diucapkan: bahwa iman, hari-hari ini, datang dengan dosis, dengan kemasan, dengan efek samping yang dicetak di bagian yang jarang terbaca.
Guy Debord, setahun sebelum mahasiswa turun ke jalan pada 1968, menuliskan tentang sebuah dunia yang berpindah dari mengada menjadi mempunyai, dan dari mempunyai menjadi tampak. Ceramah yang diedit rapi, ditambah musik sedih, kadang menegangkan, tepat sebelum tangis pecah, disebar sampai berjuta tayang, bukan lagi dakwah. Tapi pertunjukan tentang dakwah. Dan yang menontonnya bukan lagi jamaah. Ia penonton, sama seperti menyaksikan iklan, dengan air mata dan keinsafan yang, seringnya, sama cepat menguapnya.
Habis itu jempol bergeser lagi. Kadang menjadi antitesis.
Ada satu puisi lain dalam buku ini yang, sepintas, tak ada hubungan dengan whisky religi. Tentang rindu yang tersimpan di sebuah video, diputar ulang, tempat keabadian berputar beberapa detik (“Video”, 2025) tulis Fiu, sebelum kita "diulang dan mengulang". Walter Benjamin, tahun-tahun sebelum ia berhenti di kota kecil di perbatasan Spanyol dan tak melanjutkan perjalanannya, sempat menulis tentang aura yang hilang setiap sebuah karya digandakan tanpa henti. Yang direproduksi tak lagi punya kehadiran, hanya tampilan.
Rindu yang diarsipkan dalam video bukan lagi rindu. Ia rekaman rindu. Dan ceramah yang diputarulang berjuta kali, bukan lagi tuntunan. Ia rekaman tuntunan. Fiu menaruh keduanya di bagian buku yang berbeda, seolah keduanya dua persoalan berbeda, padahal satu penyakit yang sama: bahwa apa pun yang diulang cukup sering, pada akhirnya, kehilangan kehadirannya sendiri, dan kita lupa membedakan mana yang asli, mana yang gema.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #33: Hikayat Ikan Remora
CATATAN SI BOB #34: Carpe Diem
CATATAN SI BOB #35: Ritual Sebelum Gelap
Kejahilan yang Tajam
Fiu tak berhenti di gelas dan video saja, dan justru di sinilah kejahilannya yang tajam mulai nampak bekerja. Ia membayangkan bisa mencicil masa depannya dengan skema “pinjol” yang marak hari ini: bagaimana jika masa depanku bayar dengan pay later, biarlah cicilan seribu tahun satu harinya aku bayar (“Nine to Five”, 2024). Kejahilan itu diperkuat dengan kehadiran frasa metaforik sehari seshopee. Ia mencomot salah satu nama platform belanja yang kini paling digandrungi, untuk menjelaskan ia berdiri di mana dan mewakili siapa.
David Graeber, dalam riwayatnya tentang utang, menunjukkan di sejumlah bahasa purba, kata untuk dosa dan utang berasal dari akar yang sama: catatan yang suatu hari harus dilunasi, entah kepada dewa entah kepada tetangga. Fiu, tanpa perlu tahu itu, sampai pada pengetahuan yang sama lewat aplikasi belanja: membayar cicilan dan menebus dosa memakai bahasa yang sama, dan mungkin, kesenangan yang sama pula. Kesenangan menunda, yang dijaga tetap hidup oleh siapa pun yang diuntungkan darinya, entah bank entah rumah ibadah.
Yang mengerikan dari sistem macam ini bukan tipuannya. Yang mengerikan justru cara kerjanya yang menyiratkan bahwa kita tahu sedang ditipu, tapi tetap ikut, sebab pilihan lain lebih menakutkan daripada tipuan itu sendiri.
Fiu seolah tahu siapa yang paling gampang percaya pada label semacam itu. Kita perlu kebohongan, tulisnya, misteri yang murah itu, karena kita miskin tak mampu memberi barang selembar kasih (“Miskin”, 2024). Pengakuan ini jarang berani diucapkan, sebab menabrak moral yang biasa kita pegang: kejujuran selalu lebih mulia dari kebohongan. Tapi bagi yang tak sanggup membeli kedamaian asli, kebohongan bukan pilihan yang lebih rendah. Kebohongan adalah satu-satunya barang yang masih terjangkau.
Keserbasedikitan ini menjalar pula ke puisi yang katanya bicara cinta, bukan kritik sosial: tempat seseorang menunda pulang seperti menunda servis motor, lalu bertahan di kamar tanpa AC enam belas derajat, dingin yang palsu itu tapi aman azza, kita sudah terbiasa kan (“Tiket Pulang”, 2024). Ruang yang disetel dingin itu, gambaran yang tepat untuk sesuatu yang lebih luas, bahwa yang dirindukan sesungguhnya; angin pantai, embun gunung, kebebasan yang tak bisa di-remote; sudah lama diganti tiruan yang diatur angkanya. Lalu diam-diam kita sepakat mencukupinya.
Salah satu sosok dalam buku ini yang tampak belum kena “jangkitan itu” adalah anak kecil. Dulu aku benci menjadi bocil (“Kekanak-kanakan”, 2024) tulis Fiu, sebelum mengaku bocah tak perlu portofolio untuk jadi ahli kelereng, berteman tanpa ideologi, bermain tanpa politik. Tapi kalimat itu dibuka dengan penyesalan, bukan kerinduan yang bersih. Kemerdekaan yang sekarang dicari mati-matian dulu justru dianggapnya nasib sial. Begitu agaknya cara penjara bekerja: baru terasa penjara setelah pintu benar terkunci, dan orang yang di dalamnya, waktu pintu itu masih terbuka, malah mengeluh kenapa tak ada tembok.
Lorem Ipsum
Barangkali karena itu buku ini dinamai Menyimpan Lorem Ipsum Kenyataan. Lorem ipsum, bagi yang pernah bekerja dengan rancangan halaman, adalah teks isian sementara, dipasang sambil menunggu konten sungguhan datang. Tapi karena tenggat yang mepet, atau kemalasan yang wajar, teks isian itu yang sering kali akhirnya tayang, dan orang membacanya seolah itu memang isinya, bertahun-tahun, tanpa ada yang sempat menggantinya dengan yang asli.
Whisky religi, barangkali, cuma satu botol dari isian semacam itu. Video yang diputar ulang itu satu botol yang lain, dengan label berbeda tapi kandungan yang sama: kehadiran yang ditunda, terus-menerus, sampai kita lupa sedang menunggu apa. Fiu tak menawarkan penawar. Ia cuma menaruh botol itu di meja, membacakan labelnya dan membiarkan kita yang menuang sendiri: sambil tahu persis, kini, apa yang sedang kita minum.
05/07/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


