CATATAN SI BOB #37: Beser di Bandara
Hamzah Muhammad bukan penyair pertama yang memilih bahasa jalanan. Dan dari pilihan itulah muncul kekuatan yang jarang ditemukan dalam puisi hari ini.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
15 Juli 2026
BandungBergerak – Pagi itu, di sebuah bandara, Hamzah Muhammad gemetar. Bukan karena gugup naik pesawat, meskipun ia mengaku jarang terbang dan tubuhnya "terlalu orang darat", tapi karena dingin dan kebelet pipis. Ia mengenakan kaos bootleg Sonic Youth, gambarnya The Upstairs. Ia hendak terbang ke Bali memenuhi undangan Ubud Writers & Readers Festival. Dan di antara semua yang bisa ia tulis tentang momen bergengsi itu, tentang perjalanan, tentang pengakuan, tentang seorang penyair yang bersayap cakrawala, yang ia pilih untuk dituliskan adalah toilet.
Dan justru karena keganjilan pilihan itu, ada sesuatu yang serius di baliknya.
Afrizal Malna, dalam epilog Seberapa Indie (Warning Books, 2025), menulis bahwa puisi Indonesia modern telah lama terpisah dari budaya lisan, dan sekaligus terasing dari bahasa ibu, bahwa puisi terlanjur didefinisikan berbasis bahasa Indonesia baku yang jauh dari cara bahasa sungguh-sungguh hidup di mulut penuturnya. Eksperimen seperti yang dilakukan Hamzah, kata Afrizal, adalah "agenda hari esok sastra Indonesia”. Hari esok itu rupanya sudah tiba, dicetak oleh Ngaguwar Pub di Bandung pada Januari 2026, dengan judul yang hampir terasa seperti tantangan: Pesan Orang Tua Saat Nyebokin Tai dan Kebelet Pipis.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #34: Carpe Diem
CATATAN SI BOB #35: Ritual Sebelum Gelap
CATATAN SI BOB #36: Whisky Religi
Bahasa Jalanan
Hamzah bukan penyair pertama yang memilih bahasa jalanan. Bukowski melakukannya dari Los Angeles, dengan cerita bartender, kucing, dan mesin ketik yang tak bisa diam. Puisinya, kata para pengkaji, membuat teks puisi menghilang dan menjadi speech: berbicara spontan seperti kepada seorang teman minum. Tapi Bukowski menulis dari kegelapan, dari amarah dan alkohol dan marginalitas yang seolah tak punya jalan lain. Hamzah berbeda. Ia dari Rawamangun, mengelola kolektif seni Atelir Ceremai sejak 2019, merintis komunitas Puisi on the Spot sejak 2020, dan setiap hari, katanya di profilnya, "berbuku”. Yang urakan dalam dirinya adalah pilihan, bukan pelarian.
Dan dari pilihan itulah muncul kekuatan yang jarang ditemukan dalam puisi hari ini.
Baca pesan orang tua, puisi yang judulnya menjadi bagian dari tajuk buku ini. Dimulai dari kenangan tentang ibu yang berpesan: ambil yang baik, buang yang buruk. Pesan itu terdengar seperti yang tercetak di buku agenda siswa SD. Tapi Hamzah tidak membiarkannya tinggal di sana. Ia turunkan ke kehidupannya sekarang: tidak salat, lemas, "dimabok bosan”, dunia terasa monokrom. Kemudian, tanpa resolusi, tanpa pencerahan, ia hanya menulis: teringat nyokap, gue mau jadi bocah / yang nggak ngerti banyak hal / nggak masalah. Puisi itu tidak berakhir, hanya berhenti, seperti pikiran yang tidak selesai tapi sudah cukup.
Wislawa Szymborska, yang mendapat Nobel tahun 1996 atas "puisi yang dengan ketepatan ironis membiarkan konteks historis dan biologis tampak dalam serpihan realitas manusia”, membangun puisi dari momen sehari-hari yang kemudian membentur sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menulis tentang kucing di apartemen pemiliknya yang telah mati. Ia menulis tentang orang-orang di jembatan dalam foto lama. Detail kecil, lalu tiba-tiba, sesuatu yang menggetarkan. Hamzah seolah melakukan sesuatu yang sebangun, dengan cara yang berbeda: ia tidak mengangkat detail kecil ke tataran simbolik. Ia membiarkan detail itu tetap kecil, dan justru dari situ sesuatu bergeser ke situasi yang lebih maknawi dan manusiawi. Situasi masyarakat bertahan hidup hari ini.
Dalam saat waktu rasanya mau lu puter kembali, tapi mustahil, ia bercerita tentang hari ketika mengetik puisi dadakan di Cikini, dua puluhan orang datang membawa patah hati, broken home, mimpi tertunda, cinta yang dirahasiakan. Kemudian, setelah koper mesin tiknya terkunci, masuk pesan WhatsApp: ayah sahabatnya, Ibhe, yang namanya separuh diambil dari nama bapaknya, Asmarabahri, yang membuatnya jadi penulis sejak kecil, telah wafat. Hamzah tidak melukiskan tangis. Tidak ada hujan telenovela atau langit petaka. Hanya kalimat diulang dua kali, di judul dan di akhir, seperti lonceng yang dipukul untuk menandai sesuatu yang tak bisa diselesaikan: saat waktu rasanya mau lu puter kembali, tapi mustahil.
Pengulangan itu bukan retorika. Tapi barangkali mekanisme duka yang sesungguhnya.
Lalu ada puisi yang paling mengejutkan dalam buku ini: nggak usah ngimpi jadi polisi, atau tentara. Hamzah berbicara kepada anaknya, Timur, tentang negara yang ia sebut berantakan, penguasa lepas tangan, korupsi tanpa henti. Tapi tidak ada heroisme di sini. Tidak ada ajakan berdiri di barisan. Responnya adalah: yaudah, kita beresin sama-sama / gue mulai dari nyari nafkah, ngurus rumah / dan ngejagain anak. Itu bukan kekalahan. Itu sejenis kedewasaan yang lebih langka dari keberanian: kesadaran bahwa perubahan dimulai bukan dari mimbar, tetapi dari meja makan, dari anak yang diasuh dengan baik, dari rumah yang diurus dengan jujur.
Inilah yang membedakan Hamzah dari banyak puisi protes generasinya, yang lebih keras dan berisik. Puisinya tidak berdiri di panggung atau di antara kepalan tangan dan asap bakar ban. Ia bertanggung jawab di rumah dan berorasi lewat tindakan seorang ayah.
Tentu ada yang bisa dipertanyakan. Apakah bahasa yang sedemikian dekat dengan percakapan sehari-hari, tanpa lapis metafora, tanpa konstruksi citraan, masih bisa disebut puisi dalam tradisi yang selama ini kita kenal?
Pertanyaan itu sendiri menyimpan asumsi. Memang ada standar tunggal tentang apa yang "layak" menjadi puisi. Sutardji Calzoum Bachri pernah membebaskan kata dari beban makna. Afrizal Malna pernah menjadikan benda-benda urban sebagai arsitektur citraan pelik. Hamzah melangkah ke arah yang berbeda: ia mengembalikan puisi ke cara manusia sungguh-sungguh berbicara, dalam bahasa yang benar-benar berbunyi. Apakah itu lebih rendah atau lebih tinggi dari sebelumnya? Itu kiranya pertanyaan yang salah tempat.
Berkah Gurauan
Buku ini disebarkan dengan hak cipta diserahkan kepada Allah, boleh dibajak, boleh didistribusikan, demi keberkahan dan ilmu pengetahuan. Pernyataan itu mungkin terdengar serupa gurauan, tapi ada keyakinan yang ajeg di dalamnya: kata-kata memang bukan barang yang perlu dipagari untuk tetap punya nilai. Hamzah menulis untuk beredar. Dan puisinya memang beredar, dari Cikini ke Ubud, dari celah Rawamangun ke benak-benak pembaca yang bingung. Dari WhatsApp ke buku tipis yang dicetak di Bandung.
Dan di antara semua yang bisa dikatakan tentang buku kumpulan ini, mungkin yang paling jujur adalah ini: ada orang-orang yang membacanya lalu merasa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, puisi sedang berbicara kepada mereka, bukan kepada gengsi tentang mereka. Seperti ketika kali pertama kita masuk bandara, boarding dan terpesona pada kaca besar dan pesawat melandai, lalu mengabaikan hal yang subtansial: adakah toilet di sana?
25/06/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


