CATATAN SI BOB #41: Konser Pejalan
Yang membedakan Konser Pejalan dari sekadar "konser bertema lingkungan", bukan temanya, tetapi siapa yang dipanggilnya naik ke panggung.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
3 September 2026
BandungBergerak – "Kami menjebak orang-orang." Kalimat itu diucapkan Kidung Saujana malam itu, di Komuji, ketika saya bertanya kenapa forum bicara soal alam yang rusak dinamai konser. Kata "diskusi" saja, katanya, tak akan membuat siapa pun mau datang. Kata "konser" dipasang sebagai umpan. Ia menjawabnya tanpa jeda, seolah sudah lama menunggu ditanya begitu.
Kalau kalimat itu keluar dari mulut promotor besar, kita akan menyebutnya manipulasi. Menjual satu hal untuk mengantarkan hal lain yang tak diminta pembelinya, persis yang terjadi tiap kali sebuah brand menempelkan kata "kesadaran lingkungan" pada konser yang sesungguhnya mengutamakan keuntungan pihak penyelenggara dan mengganggu alam itu sendiri. Bedanya, kita percaya Kidung tak mengambil apa pun dari orang yang datang selain waktu mereka.
Tapi bukankah niat baik, tak dengan sendirinya membersihkan tipu daya? Menjebak tetap menjebak, siapa pun yang memasangnya, bukan?
Baca Juga: CATATAN SI BOB #38: Ternyata Buku Puisi Bisa Sejelas ini
CATATAN SI BOB #39: Membaca Antologi Patah Hati
CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya
Nusalayaran
Nusalayaran didirikan 15 September 2016 oleh lima orang, salah satunya Kidung Saujana, bermarkas di Bandung, dengan "Alam, Cinta dan Manusia" sebagai semboyan, lahir dari sebuah ekspedisi bernama Swarnadwipa yang menyeberangi Sumatera. Mereka menyebut diri rumah kolektif, bukan organisasi atau yayasan, sebab rumah tak seperti organisasi yang mudah dibubarkan begitu dana habis. Rumah cuma bisa tutup pintunya untuk sementara, dan orang-orangnya tetap harus dicari ke mana mereka pergi.
Konser Pejalan, anak kandung dari rumah itu, mula-mula bukan konser, melainkan pembajakan. Bandar Lampung, 2016: mereka menyusup ke sebuah dies natalis mapala, naik panggung, ikut bernyanyi, lalu membuka diskusi begitu musik reda, tanpa diminta siapa pun. Diulang di Palembang, Pagar Alam, Lahat, Jambi, selalu menumpang panggung orang lain. Sampai akhirnya di Batam, Januari 2017, masih di tengah Ekspedisi Swarnadwipa yang sama, mereka berhenti membajak dan berdiri sendiri. Nama itu lahir dari kelelahan kaki di jalan yang belum selesai, bukan dari rapat pemasaran.
Yang membedakan Konser Pejalan dari sekadar "konser bertema lingkungan", bukan temanya, tetapi siapa yang dipanggilnya naik ke panggung. Kidung tak mencari musisi ramai penonton. Ia justru mencari yang paling dekat dengan kegelisahan yang sama, dari pulau berbeda, kadang dari negara berbeda: orang-orang yang di kota asalnya sendiri mungkin cuma tampil untuk segelintir pendengar seumur hidup bermusik mereka, tapi kebetulan tahu persis apa artinya menyaksikan hutan di kampungnya digunduli.
Oleh sebab itu, musik di panggung Konser Pejalan, bukan sekadar hiburan di sela atau sebelum diskusi mulai. Musik berperan sebagai kesaksian, ditulis oleh orang yang benar-benar berdiri di tempat kejadian, benar-benar mengalami. Berbeda dari festival-festival besar yang mengundang "duta lingkungan" yang belum tentu pernah menginjak kawasan yang mereka bicarakan.
Yang diselundupkan ke telinga penonton lewat panggung semacam itu, pada akhirnya, adalah sebuah danau bernama Ciharus, di Cagar Alam Kamojang. Danau itu sumber air Citarum dan Cimanuk, dua sungai yang menghidupi Bandung Selatan. Lima belas tahun jalur motor trail menggerusnya: satu jalur saja menghasilkan sembilan ribu meter kubik sedimen tanah yang berakhir di dasarnya, dan ada empat belas jalur seperti itu. Seratus sepuluh sekat bambu dipasang pada 2017 untuk menahan lajunya.
Sekat bambu tak dirancang menahan buldoser. Sempat ada wacana menurunkan status cagar alam itu jadi taman wisata, perubahan yang akan membuka jalan bagi motor trail kembali, wisata massal, tambang panas bumi dengan alat berat. Sembilan puluh lembaga membentuk aliansi menolaknya: Walhi Jabar, Nusalayaran, Gunung Institut, Profauna, Bale Rancage, Saung Awi, dan yang lain. Di sinilah pertanyaan yang tak enak harus diajukan: sebuah konser kecil, sekali setahun, di kota yang berbeda-beda, melawan wacana kebijakan yang didorong kepentingan tambang dan pariwisata.
Hal itu memang pertarungan yang timpang sejak mula. Kidung bilang capaian mereka sederhana, sekadar memantik. Saya percaya ia jujur. Tapi kejujuran itu belum menjawab: apakah kesadaran yang dipantik di tenda kemah pernah sampai ke meja tempat keputusan status sebuah cagar alam diambil, atau cuma menguatkan yang sudah kuat, tanpa pernah menjangkau yang sebenarnya perlu diyakinkan.
Kidung Saujana
Saya kenal Kidung sejak 2020 tanpa benar-benar kenal, saya cuma pengisi acara di Konser Layaran, Lembang, diajak seorang teman, tanpa tahu siapa yang berdiri di baliknya. Baru 2024 kami benar-benar berkenalan, sesama musisi, dan dari situ berkembang jadi kerja kolektif: membangun Kedai Dermaga bersama-sama, bukan sebagai penyelenggara acara lingkungan, hanya sebagai dua orang yang sama-sama ingin punya tempat untuk berkarya dan berkumpul.
Saya tak pernah ikut turun ke Ciharus, tak pernah jadi bagian dari sembilan puluh lembaga yang menandatangani penolakan itu. Yang saya tahu soal danau itu, saya tahu dari cerita Kidung sendiri, dari hasil membaca dan riset-riset pendek di internet. Itu jarak yang harus saya akui: saya bisa menulis tentang perjuangannya, tapi saya bukan salah satu yang berjuang di dalamnya. Yang saya ikut bangun cuma sebuah kedai kecil, dan kedai itu pun sudah tutup.
Kedai Dermaga, nama baru untuk Kedai Layaran yang sempat tutup, lalu dibuka kembali dengan komunitas-komunitas baru termasuk saya. Usaha komunitas, kata orang-orang di dalamnya, memang begitu: lebih sering rugi daripada untung, karena keputusan diambil berdasarkan siapa lapar, bukan hitungan dagang. Saya tak tahu persis berapa besar kerugiannya. Yang saya tahu kami bubar, tak sedikit teman yang merasa kehilangan, baik dari lingkaran seniman maupun aktivis.
Bandingkan dengan ekonomi yang mengelilingi konser-konser besar hari ini. April lalu, seorang perempuan bernama Kia menyiapkan empat perangkat sekaligus untuk berburu tiket konser di Jakarta, semuanya gagal, dan ia membeli dari calo dengan harga hampir dua kali lipat dari Rp3,79 juta resminya. Kedai Dermaga tutup karena orang-orang di dalamnya memilih memberi makan teman daripada mengejar untung. Pasar tiket konser besar tumbuh subur dengan logika sebaliknya. Saya tak tahu prinsip mana yang lebih sanggup bertahan lama di dunia ini, dan saya curiga jawabannya bukan yang saya harap.
September 2026 ini Konser Pejalan digelar lagi di dataran tinggi Dago, Bandung Barat, membawa umpan yang sama. Kidung ikut menjebak, dengan cara yang saya kagumi tapi tak sepenuhnya saya jalani sendiri. Saya cuma kebetulan ada di dekatnya cukup lama untuk tahu triknya, tanpa pernah benar-benar jadi bagian dari apa yang dipertaruhkannya. Barangkali itulah bedanya antara menulis tentang sebuah perjuangan, dengan ikut menanggung akibat jika perjuangan itu kalah.
30/08/2026
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


