CATATAN SI BOB #42: Kisah Peta Naga
Ahmad Faisal Imron dalam buku Alis Sritimu bercerita tentang tubuh kekasih sebagai lanskap sebuah peta, disketsa ulang di setiap puisi dengan wajah berbeda-beda.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
15 September 2026
BandungBergerak – Di tepi peta-peta lama, pada wilayah yang belum terjamah kapal mana pun, para kartografer abad pertengahan sering menuliskan satu peringatan: hic sunt dracones, atau di sini ada naga. Bukan karena mereka pernah menyaksikannya. Justru karena tak ada yang bisa disaksikan di sana. Salah satu globe tertua yang tersisa dari awal abad keenam belas, yang disimpan di New York, bahkan mengukir kalimat itu di pesisir timur Asia: kepastian yang ditawarkan sang pembuat peta untuk tanah yang belum pernah diinjaknya.
Begitulah cara kerja pengetahuan yang mentok: ketika verifikasi berhenti, imajinasi mengambil alih kemudi. Ruang kosong itu lalu diisi dengan yang paling ekstrem terbayangkan: monster laut, surga yang hilang, neraka di ujung dunia, keajaiban. Sebuah peta, dengan begitu, bukan cuma alat penunjuk arah. Ia juga pengakuan diam-diam tentang di mana pengetahuan manusia berhenti, yang lalu disamarkan rapi sebagai kepastian geografis.
Saya kira "Alis Sritimu," kumpulan puisi Ahmad Faisal Imron (Trabadur, Bandung, 2025), bekerja dengan logika serupa. Hanya saja yang digambarnya bukan benua, melainkan satu tubuh, tubuh kekasih, yang disketsa ulang di setiap puisi dengan wajah berbeda-beda. Sebab pembicaranya sendiri tak sepenuhnya menguasai wilayah yang sedang ia coba pahami itu. Dan seperti sang kartografer lama, tiap kali tersendat, ia tak lantas berhenti menulis. Ia justru mengisi kekosongan itu dengan citra paling ekstrem yang sanggup dijangkau benaknya: bukit purba, neraka, kamar putih keabadian, kelelawar yang terpenjara.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #39: Membaca Antologi Patah Hati
CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya
CATATAN SI BOB #41: Konser Pejalan
Landmark Tubuh
Kekuatan pertama buku ini ada pada landmark kecil-kecil yang ia gambar sebelum sampai wilayah ekstrem itu. Ahmad Faisal Imron (AFI) jarang membiarkan cinta melayang sebagai konsep. Ia selalu menambatkannya pada benda yang bisa disentuh, seperti merah leci bibirmu, dua gelas lemon-tequila yang harus disiapkan sebelum berciuman, sekeranjang cinta, dua pisin keripik ubi di atas meja palet. Ini kerja kartografer yang baik: tak menggambar "daratan luas" sebagai keterangan, ia menandai setiap sungai, setiap bukit kecil, setiap pohon rujukan, agar peta bisa dipakai, bukan sekadar dipandang. Rindu, di tangan AFI, selalu berbau, berasa, dan punya suhu.
Tapi landmark itu cuma pembuka jalan menuju wilayah yang lebih berbahaya: tubuh sebagai lanskap, bukan sekadar detail. Di puisi Cibutak Selepas Istiwa, tubuh kekasih disebut “bukit purba”, metafora menenangkan, memberi kesan abadi. Tapi beberapa baris kemudian, tubuh yang sama disebut “neraka”. Saya jadi teringat catatan Joaquin Rocha. Penjelajah Kolombia itu membandingkan rimba Amerika Latin dengan Dewi Durga: kecantikannya agung, tapi khianat. Tentu penyair tidak plinplan, namun begitulah agaknya cara kerja hasrat terhadap sesuatu yang tak dimiliki penuh: menampung dua nilai yang berlawanan sekaligus.
Kekuatan berikutnya ada pada kesabaran menata waktu. AFI tak buru-buru menutup puisi cintanya dalam momen beku. Ia memberi tanggal kisahnya, seperti musim semi kedua, musim semi ketiga, malam kedelapan tanpa bulan, istiwa: titik kulminasi matahari, yang dalam kosakata falak sekaligus teologis menandai awal condongnya ke arah tenggelam. Sebuah peta yang baik bukan potret sesaat, melainkan catatan kontur yang bergeser dari satu survei ke survei, dan lewat penanda itu, AFI memberi pembacanya bukan gambar yang diam, tetapi erosi yang bisa diikuti pelan-pelan, sehingga jatuhnya bukit purba menjadi neraka terasa sebagai akibat yang tak dipaksakan.
Ada pula keberanian bentuk dalam Apakah Kita akan Semanis Fana. Puisi itu ditulis satu paragraf prosa tanpa jeda, satu kalimat panjang yang menahan diri untuk tak berhenti, terus menambah klausa demi klausa: seandainya kita permen, kita bertemu di saku jaket pengemis, kita ditakdirkan jadi pengemis pula, kita saling dikunyah. Pikiran obsesif memang bekerja seperti itu, berputar, menunda titik, enggan berhenti, terus memaknai. Jarang penyair berani menahan-panjangkan napas kalimatnya tanpa hilang kendali. Kalimat itu baru berhenti tepat ketika kata “fana” menutupnya. Ketika bentuk dan makna bertemu di titik yang sama.
Selain pada bentuk, keberaniannya tampak pula pada keputusan untuk tak membiarkan ketegangan itu diselesaikan dengan aman. Di ujung puisi Ajari Aku, Kekasih…, setelah permintaan-permintaan lembut untuk diajari berciuman, penyair tiba-tiba berharap menjadi satu-satunya lelaki yang bisa membangkitkan gairahmu untuk bunuh diri. Sementara dalam puisi Alis Sritimu, ia menyebut dirinya “kelelawar yang terpenjara”, dan cintanya sendiri disebut “gergaji pada penjara besi kemurungan”. Banyak puisi cinta hanya berhenti di kata rindu atau patah yang kelabu, tetapi AFI mampu mendorongnya sampai ke kata “bunuh diri”. Keputusan itu, betapa pun riskannya, adalah sikap penyair yang menolak eros sebatas dekorasi.
Ada satu wilayah lagi yang layak disinggung. Peta tubuh macam ini tak lagi cuma milik penyair. Di layar ponsel hari ini, tubuh-tubuh juga dipetakan setiap hari lewat aplikasi kencan: difoto, diberi keterangan, dijelajahi, ditemukan, diusap ke kiri ke kanan. Bedanya, peta-peta digital itu tak lama. Ia berpindah secepat jari bergerak, tak sempat menunggu satu musim semi berganti. Puisi-puisi AFI, dengan caranya yang nyaris berlebihan, justru melakukan hal yang makin jarang dilakukan orang muda hari ini: berhenti cukup lama di satu tubuh, satu wilayah, sampai wilayah itu sungguh-sungguh dikenal, dengan segala akibatnya, termasuk paling gelap sekalipun.
Setelah Jelajah
Kartografer-kartografer lama itu, begitu kapal-kapal akhirnya berlayar sampai ke wilayah yang dulu ditandai naga, biasanya menemukan bukan monster, melainkan pantai, penduduk, kehidupan biasa. Puisi-puisi AFI tidak dimaksudkan sampai ke tahap itu. “Bukit purba” tak pernah jadi tanah berpijak; “neraka” hanya disebut namanya, tak dijelaskan rupanya. Kelelawar dalam Alis Sritimu tetap terpenjara sampai baris terakhir, dan penyair memilih menetap di wilayah yang belum terverifikasi, bukan menunggu pembuktian datang.
Di situlah kejujurannya teruji. Sketsa lama dengan tanda bahayanya tetap disimpan orang bukan karena tepat, tetapi karena menunjukkan seberapa jauh imajinasi berani mendahului pengetahuan. Ia menaruh titik paling genting pada hasrat yang diinginkannya, pada cinta yang disebutnya sendiri “gergaji pada penjara besi kemurungan”, dan tak menutupnya dengan penyelesaian aman, seperti obat rindu atau pelukan yang ajaib.
Dari seluruh tubuh yang coba dipetakannya, yang dipilihnya jadi judul justru bagian paling kecil: sepasang alis, dibentuk menyerupai sayap sriti. Seolah setelah segala keberanian menjelajah wilayah gelap, satu-satunya yang cukup dikenalnya untuk diklaim sebagai nama buku hanyalah garis tipis itu. Barangkali begitu cara terbaik mengakhiri penjelajahan: bukan dengan menaklukkan segalanya, tetapi mengakui bahwa yang sungguh dikenal, pada akhirnya, cuma sepotong garis kecil di atas mata.
09/11/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


