CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #104: Hilangnya Lapang Beko di Desa Cangkuang
Pembangunan memang menjadi tanda bahwa suatu daerah sedang berubah. Namun, perubahan tersebut sebaiknya tidak mengorbankan masyarakat kecil di sekitarnya.

Devita Siti
Siswa PPI 24 Rancaekek
9 Oktober 2026
BandungBergerak – Sekitar tahun 2017, saya masih berumur tujuh tahun. Saya sering sekali bermain di lapangan luas yang berada di dekat rumah. Lapangan itu kerap disebut oleh warga sebagai Lapang Beko. Entah apa alasan pasti di balik penamaan itu. Mungkin dulu pernah ada alat berat berjenis beko yang terparkir lama di sana sehingga nama itu melekat erat dalam ingatan masyarakat setempat. Lapangan tersebut terletak di wilayah Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Lokasinya hanya terpisahkan oleh aliran selokan yang tidak terlalu besar dari desa tempat tinggal saya, yaitu Desa Sukamulya. Meskipun begitu, setiap sore tempat itu menjadi ruang berkumpulnya anak-anak dari kedua desa.
Bagi kami, lapangan itu bukan hanya sekadar sebidang tanah kosong, akan tetapi menjadi ruang bertemu dan bermain bersama kawan-kawan. Lapangan itu sering kami jadikan tempat bermain kejar-kejaran, bermain sepak bola plastik, bermain badminton, mengejar layang-layang yang putus lalu terbawa angin. Selain itu, Lapang Beko juga sering dipakai sebagai pusat kegiatan warga, khususnya saat peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia saban bulan Agustus. Berbagai perlombaan antar RW digelar di sana, mulai dari turnamen futsal anak-anak, pertandingan futsal bapa-bapak, hingga ajang futsal ibu-ibu yang paling dinantikan. Bagi saya, lapangan itu adalah jantung interaksi sosial yang menyatukan warga Desa Sukamulya dengan Desa Cangkuang.
Suatu hari, ketika kami hendak bermain ke lapangan itu, kami mendengar kabar bahwa lapang itu sudah tidak bisa dipakai karena akan dibangun perumahan. Bukan hanya itu, sawah-sawah yang terhampar di sekitar Lapang Beko juga sudah dibeli oleh pemilik proyek. Tidak lama kemudian, di situ dibangun tembok yang tinggi sehingga kami tidak bisa bermain lagi di lapangan itu. Mulai saat itu, banyak kendaraan yang berlalu lalang membawa bahan material bangunan. Kami pun resah, ke mana lagi kami harus bermain.
Akhirnya, kami menemukan sebuah lahan kosong, tempatnya masih dekat dari Lapang Beko, yaitu di samping rumah warga, yang di sekitarnya masih terhampar persawahan. Tempat itu cukup untuk ruang bermain kami. Tapi kami tidak diberi waktu yang lama. Lagi-lagi, kami mendengar kabar bahwa lahan itu juga sudah dibeli untuk proyek perumahan. Akhirnya, kami terpaksa meninggalkan tempat itu, karena tidak berselang lama, mereka menancapkan beton yang tinggi untuk bangunan serupa seperti di Lapang Beko.
Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #101: Lampu Menyala, Rasa Aman Meredup di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #102: Jalan-jalan di Cicalengka yang Tak Pernah Sunyi
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #103: Berharap Hujan Cepat Turun di Rancaekek
Dampak Alih Fungsi Lahan
Dampak dari alih fungsi lahan ini ternyata tidak hanya berimbas pada hilangnya ruang bermain anak-anak. Masalah yang ditimbulkan jauh lebih banyak bahkan menyentuh ranah perekonomian serta kelangsungan hidup warga lokal. Untuk memahami situasi ini, saya lalu mencoba mencari informasi dari salah seorang warga di Desa Sukamulya.
Sebut saja namanya Pak Sura. Pak Sura menceritakan betapa besarnya perubahan struktur lingkungan dan ekonomi di Desa Sukamulya. Menurutnya, terjadi perubahan signifikan, terutama lahan yang hilang yang dulu merupakan area persawahan produktif. Area persawahan ini mampu membuat warga Desa Sukamulya menggantungkan hidup sebagai buruh tani. Pak Sura juga memperkirakan bahwa luas persawahan yang telah hilang tergerus proyek perumahan tersebut mencapai 30 hektare.
Hilangnya puluhan hektare sawah secara otomatis menghancurkan mata pencaharian utama para buruh tani yang tidak memiliki lahan sendiri. “Ketika lahan itu dibangun menjadi perumahan, dampak yang paling terasa adalah hilangnya pekerjaan para buruh tani. Sekarang, warga yang dulunya punya kegiatan rutin seperti ngarit (mencari rumput), nandur (menanam padi), macul (mencangkul), dan aktivitas pertanian lainnya, sebagian besar menjadi pengangguran,” kata Pak Sura.
Efek lain dari hilangnya persawahan ini juga berdampak kepada sektor usaha penunjang pertanian di sekitarnya. Pak Sura menambahkan, saking banyaknya sawah yang hilang, tempat penggilingan padi di sekitar Sukamulya terpaksa ditutup karena sudah tidak ada lagi petani yang datang untuk menggiling hasil panen padi menjadi beras. Sawah dan kebun yang dulunya menjadi benteng ketahanan pangan dan sumber rezeki warga Sukamulya kini telah berubah menjadi hamparan tanah rata berdebu yang tertutup bangunan rumah-rumah baru dan tembok kokoh yang menjulang. Pemandangan hijau yang menyegarkan mata serta kehangatan suasana pedesaan kini tinggal kenangan yang perlahan memudar.
Tak hanya menambah jumlah pengangguran, dibangunnya perumahan itu tentu mengganggu kenyamanan warga sekitar. Suara bising kendaraan berat yang berlalu lalang dan debu yang semakin banyak memasuki rumah menjadi keluhan warga, hingga sempat terjadi aksi demonstrasi pada pihak pengembang perumahan.
Sementara itu, muncul kekhawatiran besar terkait ancaman bencana lingkungan di masa depan. Posisi tanah perumahan yang diuruk lebih tinggi daripada rumah-rumah warga asli, dikhawatirkan dapat memicu banjir saat musim hujan tiba. Warga khawatir genangan air dari kawasan perumahan yang lebih tinggi akan mengalir deras dan merendam permukiman mereka.
Bahkan warga khawatir apabila musim kemarau datang, potensi terjadinya krisis air bersih menjadi sebuah ancaman yang tidak bisa dihilangkan. Alih fungsi lahan serapan air menjadi kawasan tertutup semen dan aspal telah mengurangi pasokan air tanah secara drastis.
Meski begitu, di tengah berbagai dampaknya, tidak dapat dipungkiri bahwa dibangunnya perumahan baru itu juga membawa sudut pandang yang berbeda bagi sebagian pihak. Kehadiran kawasan pemukiman yang modern ini dianggap memberikan kesan kemajuan wilayah, serta menyemarakkan suasana desa. Muncul harapan dari Pak Sura sebagai warga Sukamulya agar ada solusi dan bantuan dari pemerintah maupun pengembang untuk membantu peralihan profesi warga dan juga mengatasi krisis air bersih.
Pembangunan memang menjadi tanda bahwa suatu daerah sedang berubah. Namun, perubahan tersebut sebaiknya tidak mengorbankan masyarakat kecil yang tinggal di sekitarnya. Pemerintah seharusnya lebih peka dalam mengamati ruang hidup warga lokal, karena imbasnya bisa berjangka panjang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


