• Kolom
  • CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #102: Jalan-jalan di Cicalengka yang Tak Pernah Sunyi

CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #102: Jalan-jalan di Cicalengka yang Tak Pernah Sunyi

Infrastruktur yang menopang pergerakan belum sepenuhnya tumbuh mengimbangi kecepatan perkembangan Cicalengka. Kemacetan perlahan menjadi bagian dari wajah kota.

Andrian Maldini Yudha

Pegiat di Rumah Baca Kali Atas, Cicalengka

Kemacetan di Jalan Raya Cicalengka-Majalaya. (Foto: Andrian Maldini Yudha)

24 September 2026


BandungBergerak – Sebelum fajar menyingsing, Cicalengka telah lebih dahulu bising oleh deru kendaraan yang berlalu-lalang. Ketika langit masih menyimpan sisa gelap, jalan-jalan perlahan dipenuhi roda yang bergerak, membawa orang-orang menuju tujuan dan kesibukan masing-masing.

Di setiap sudut kota, di ruas-ruas jalan yang membelah Cicalengka, tampak betapa padatnya pergerakan kendaraan. Jalan seolah tak pernah benar-benar memberi jeda: ada buruh yang pulang-pergi menuju pabrik, anak sekolah yang bergegas mengejar waktu, atau pedagang yang mengayuh langkah menuju tempat mencari nafkah.

Dengan ritme demikian, kesibukan Cicalengka bukanlah sesuatu yang hadir tanpa alasan. Ia tumbuh dari denyut kehidupan yang terus bergerak: pabrik-pabrik industri yang berjejer, permukiman penduduk yang semakin padat, serta jalan-jalan yang setiap hari menjadi tempat bertemunya berbagai aktivitas manusia. Jalan pun menjadi urat nadi yang tak pernah berhenti berdenyut, membawa manusia dan segala kesibukannya dari satu tempat ke tempat lain.

Dari denyut yang terus bergerak itu, tumbuh pula wajah Cicalengka sebagai salah satu kecamatan di kawasan Bandung Timur yang terus menapaki jalan kemajuan. Kesibukan yang berulang dari hari ke hari menjadi tanda bahwa wilayah ini tidak sedang diam; ia tumbuh, berkembang, dan perlahan menjelma ruang kehidupan yang semakin dinamis.

Namun, di balik gegap gempita perkembangan Cicalengka, pertumbuhan menyisakan satu pertanyaan yang tak mudah disisihkan. Ketika manusia dan kendaraan bergerak semakin ramai, jalan-jalan justru kerap kehilangan kelancarannya. Arus yang seharusnya mengalir berubah menjadi barisan yang saling menunggu. Di sanalah kemacetan perlahan menjadi bagian dari wajah kota.

Bukan ayam jantan yang berkokok di pagi hari, melainkan suara peluit juru parkir dan polisi yang menjadi alarm bagi kota ini. Peluit berbunyi, kendaraan melaju; peluit terdiam, arus pun ikut tertahan. Pada deru mesin dan langkah manusia yang tergesa, bunyi kecil itu seperti tangan tak kasatmata yang mengatur irama roda, memberi tanda kapan perjalanan harus bergerak dan kapan mesti menunggu. Begitulah pagi di Cicalengka: kota yang terus tumbuh, tetapi sebagian keteraturan jalannya masih harus dijaga oleh tiupan peluit yang menggema.

Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #99: Ketika Arak-arakan Hari Kemerdekaan Menjadi Amukan di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #100: Ketika Cicalengka Belum Siap Merayakan Dirinya
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #101: Lampu Menyala, Rasa Aman Meredup di Cicalengka

Kota Terus Bergerak, Jalan Terus Tersendat

Di Cicalengka, terdapat sejumlah ruas jalan yang menjadi tumpuan bagi kesibukan keseharian kota. Jalan Cicalengka–Majalaya, Jalan Raya Alun-alun Cicalengka, dan Jalan Raya Barat Cicalengka (Warung Peteuy) menjadi jalur yang setiap hari dilalui warga untuk menjalankan berbagai aktivitasnya.

Setiap pagi, pertemuan berbagai arus itu nyaris selalu berujung pada antrean kendaraan yang mengular. Jalan yang semestinya menjadi ruang bagi perjalanan terutama pada pagi hari berubah menjadi arena penantian.

Salah satunya terjadi di Jalan Raya Cicalengka–Majalaya, tepatnya di sekitar Kampung Babakan DKA. Ruas jalan yang menghubungkan Cicalengka dengan Majalaya ini sebenarnya membentang lurus, tetapi perjalanannya terhenti ketika berhadapan dengan jalur kereta api dan palang pintu di depan Stasiun Cicalengka. Ketika palang turun, roda-roda yang datang dari kedua arah harus menunggu hingga lintasan kembali terbuka.

Begitu pula Jalan Raya Alun-alun Cicalengka. Perempatan yang berada di jantung kota itu setiap pagi kembali dipadati kendaraan. Mobilitas warga yang tinggi bertemu dalam jalan yang sama, membuat berbagai arus saling berhadapan dan perjalanan tidak selalu dapat berlangsung sebagaimana mestinya.

Sementara di Jalan Raya Barat Cicalengka, atau yang lebih dikenal sebagai Warung Peteuy, terdapat pertigaan yang menjadi simpul pergerakan kendaraan dari berbagai arah. Kendaraan-kendaraan besar industri hilir-mudik membawa kepentingan operasionalnya dari satu tempat ke tempat lainnya. Arus yang datang dan pergi dari pabrik itu turut menambah kepadatan pada salah satu titik pergerakan penting di Cicalengka.

Oleh karena itu, setiap pagi kita dapat menjumpai petugas polisi maupun juru parkir informal yang dengan tiupan peluitnya berupaya mengatur lalu-lalang kendaraan di sejumlah ruas jalan penting di Cicalengka. Satu tiupan memberi tanda untuk bergerak, tiupan berikutnya meminta kendaraan berhenti. Dalam hitungan detik, arus kendaraan mengikuti bunyi yang datang dari tepian jalan.

Di Cicalengka, peluit bukan lagi sekadar bunyi yang menyela riuh di pagi hari. Ia telah menjadi tanda yang mengatur perjalanan: kapan roda bergerak, kapan ia harus menunggu. Di tengah kota yang terus tumbuh dengan mobilitas yang semakin padat, keteraturan lalu lintas masih begitu dekat dengan suara peluit—sementara perangkat pengatur arus seperti lampu lalu lintas belum menjadi bagian dari jalan-jalan tersebut.

Tak selalu efektif, tata kelola lalu lintas yang berlangsung di Cicalengka pun tidak selalu mampu mengurai kepadatan yang terjadi. Berdasarkan pengamatan, keberadaan petugas polisi maupun juru parkir informal yang mengandalkan tiupan peluit belum sepenuhnya membuat arus kendaraan berjalan tertib. Pada saat antrean mulai memanjang, masih ada pengendara yang tidak sabar menunggu giliran, mengambil celah di antara kendaraan lain, atau menerobos arus tanpa memberi ruang bagi pengguna jalan dari arah berlawanan.

Barangkali di situlah persoalannya menjadi lebih panjang daripada sekadar kemacetan. Ketika sebuah kota terus bergerak dan jumlah kendaraan semakin memenuhi ruas-ruas jalannya, keteraturan tidak cukup hanya ditopang oleh suara peluit dari tepian jalan. Peluit memang dapat memberi aba-aba, tetapi ia memiliki batas: ia hanya berbunyi ketika ada seseorang yang meniupnya, dan berhenti ketika orang itu menurunkannya. Sementara jalan terus digunakan, kendaraan terus datang, dan kesibukan kota tidak pernah benar-benar mengenal jeda.

Cicalengka Terus Tumbuh, Pengaturan Jalan Belum Tumbuh

Cicalengka sedang tumbuh menjadi wilayah yang semakin sibuk. Pabrik-pabrik terus bekerja, permukiman semakin padat, kendaraan datang dan pergi, sementara jalan-jalannya menjadi tempat bertemunya begitu banyak kepentingan. Kesibukan itu adalah tanda kehidupan yang bergerak. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada sesuatu yang semestinya berjalan beriringan: tata kelola lalu lintas yang mampu menjaga agar mobilitas yang semakin tinggi tetap berada dalam keteraturan.

Persoalannya terasa setiap pagi, ketika kendaraan dari berbagai arah bertemu di simpang-simpang yang sama. Di sekitar Alun-alun Cicalengka, misalnya, pertemuan arus kendaraan berlangsung dalam kepadatan yang harus diurai melalui aba-aba petugas. Di Jalan Raya Barat Cicalengka, kendaraan dari kawasan industri turut bertemu dengan arus kendaraan lainnya, sementara di Jalan Cicalengka–Majalaya, perjalanan kembali tertahan ketika palang pintu kereta api turun. Dalam keadaan demikian, lampu lalu lintas atau APILL, manajemen simpang, serta rekayasa lalu lintas semestinya bukan sekadar istilah teknis, melainkan bagian dari upaya mengatur arus pada titik-titik yang terus mengalami kepadatan.

Sebab kemacetan tidak cukup diselesaikan dengan menempatkan petugas ketika antrean sudah mengular. Pengaturan simpang perlu dirancang berdasarkan arah dan volume kendaraan, sementara rekayasa lalu lintas dapat digunakan untuk mengatur pola pergerakan pada ruas yang terbebani. Aktivitas parkir dan kendaraan yang berhenti di tepi jalan pun perlu dikelola agar kapasitas jalan tidak semakin berkurang. Ketika persoalan yang sama terus berulang, yang patut dipertanyakan bukan hanya mengapa pengendara tidak sabar, tetapi mengapa titik yang sama belum menemukan pola pengaturan yang mampu mengurai kepadatan secara efektif.

Pengendara yang menerobos antrean, mengambil celah, atau memaksakan diri masuk ke arus kendaraan lain tentu tetap bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, apabila kemacetan terus mengular, keributan antarpengendara berulang, bahkan tabrakan terjadi pada ruang lalu lintas yang sama, persoalannya tidak lagi cukup dikembalikan kepada kesalahan individu. Setiap kecelakaan tentu memiliki sebab yang harus diperiksa secara spesifik, tetapi apabila berbagai persoalan tersebut terus hadir sebagai pola, maka kita patut melihatnya sebagai tanda adanya kegagalan struktural dan sistemik dalam tata kelola lalu lintas. Ada perbedaan antara menyalahkan orang yang kehilangan kesabaran dengan mempertanyakan mengapa sebuah sistem membuat kesabaran itu terus-menerus diuji.

Cicalengka telah tumbuh, tetapi perangkat yang menopang pergerakannya belum sepenuhnya tumbuh dengan kecepatan yang sama. Kota boleh semakin ramai, tetapi keteraturan tidak seharusnya terus bergantung pada peluit yang berbunyi dari tepian jalan. Sebab di balik antrean yang mengular ada waktu yang terbuang, di balik keributan ada kesabaran yang terkikis, dan di balik kecelakaan ada keselamatan yang semestinya dijaga sejak awal. Mungkin sudah waktunya Cicalengka tidak hanya memperbesar denyut kehidupannya, tetapi juga membangun tata lalu lintas yang mampu menjaga agar denyut itu tetap mengalir.

 

***

* Tulisan kolom CATATAN DARI BANDUNG TIMUR merupakan bagian dari kolaborasi BandungBergerak.id dan Lingkar Literasi Cicalengka. Simak tulisan-tulisan lain Andrian Maldini Yudha atau artikel-artikel lain tentang Cicalengka.

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//