• Kolom
  • CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #100: Ketika Cicalengka Belum Siap Merayakan Dirinya

CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #100: Ketika Cicalengka Belum Siap Merayakan Dirinya

Ketika ruang perayaan saat karnaval Hari Kemerdekaan dibuka lebar-lebar, kita justru menyaksikan sebuah kegagalan kolektif dalam menafsirkan identitas daerah.

Nurul Maria Sisilia

pegiat literasi di Rumah Baca Kali Atas yang tergabung dalam komunitas Lingkar Literasi Cicalengka, bisa dihubungi di [email protected]

Sampah besar bekas karnaval kemerdekaan teronggok dan berserakan di pinggir jalan hingga menutupi gerbang masuk sebuah rumah. (Foto: Nurul Maria Sisilia)

21 Agustus 2026


BandungBergerak – Sekira pukul sebelas siang, 17 Agustus 2026, arakan karnaval kemerdekaan di Cicalengka yang awalnya riuh oleh musik tradisional, tarian, dan warna-warni kostum mendadak berubah menjadi panggung kekacauan. Dalam karnaval kemerdekaan tersebut, setiap desa seharusnya menampilkan berbagai kreativitas untuk dinilai oleh para pimpinan kecamatan di depan kantor Kecamatan Cicalengka. Namun nahas, keributan tiba-tiba terjadi ketika rombongan karnaval dari Desa Tenjolaya hendak melintas di podium itu untuk mendapatkan penilaian. Keributan konon dipicu karena adanya perselisihan kecil antarpeserta karnaval yang berujung perkelahian.

Kapolsek Cicalengka Kompol Ade Rahmat, Danramil Cicalengka Kapten Inf Sumarna Chaerul, dan Camat Cicalengka Cucu Hidayat turun dari podium untuk mengamankan dan melerai keributan. Namun, situasi justru semakin memanas. Mereka justru turut menjadi sasaran empuk pemukulan oleh peserta karnaval yang bertikai. Bukannya surut, peserta karnaval yang terindikasi kuat sedang berada di bawah pengaruh minuman keras justru keras menyerang. Pukulan melayang, pejabat dan aparat keamanan terluka, dan pesta rakyat berubah menjadi arena pengeroyokan yang kacau.

Insiden dramatis ini sesungguhnya tidak bisa dipandang sebagai sekadar gangguan ketertiban semata. Ada hal terkait identitas, kreativitas, dan keamanan. Lebih dari itu, karnaval kemerdekaan di Cicalengka  adalah cermin retak yang menyingkap wajah sosial dan budaya Cicalengka hari ini.

Tangkapan layar video kericuhan saat arak-arakan karnaval Hari Kemerdekaan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, 17 Agustus 2026. (Foto Sumber: Instagram @pikiranrakyat)
Tangkapan layar video kericuhan saat arak-arakan karnaval Hari Kemerdekaan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, 17 Agustus 2026. (Foto Sumber: Instagram @pikiranrakyat)

Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #97: Denyut Pasar Selasa Rancaekek
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #98: Di Bawah Langit Cicalengka, Persib Menjadi Cerita
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #99: Ketika Arak-arakan Hari Kemerdekaan Menjadi Amukan di Cicalengka

Cicalengka yang Belum Bangga dengan Dirinya dan Bayang-bayang Miras

Pada 17 Agustus 2022, saya pernah menuliskan kegelisahan mengenai karakter ahistoris masyarakat Cicalengka di laman Bandung Bergerak. Saya merespons polemik warga yang mempertanyakan isu ketiadaan karnaval tahun itu. Kala itu, terdapat gelombang desakan dari warga agar pawai kembali digelar. Karena kerasnya desakan warga, karnaval di tahun itu akhirnya digelar. Berkaca pada kejadian tahun 2022 itu, hal tersebut seolah menjadi sebuah ironi sekaligus tamparan. Kini, ketika ruang perayaan dibuka lebar-lebar, kita justru menyaksikan sebuah kegagalan kolektif dalam menafsirkan identitas daerah.

Karnaval kemerdekaan secara umum seharusnya menjadi panggung unjuk kabisa atau unjuk kemampuan serta potensi daerah–sebuah wadah agar tiap desa menampilkan representasi terbaik berupa potensi, keunggulan, dan kebanggaan lokalnya. Namun, yang terjadi di karnaval kemerdekaan di Cicalengka 2026 ini justru menampilkan hal sebaliknya. Yang dominan terpampang di depan mata justru aroma minuman keras, adu jotos serta keributan, dan sampah yang pecah berserakan.

Jika hal ini yang terus berulang, jangan-jangan inilah gambaran nyata dari karakter sosial yang sedang tumbuh dan tertanam di Cicalengka. Padahal jika kita telaah kembali lebih jauh, Cicalengka bukanlah wilayah tanpa warisan sejarah dan budaya yang kaya. Wilayah ini menyimpan kekayaan alam, lanskap sejarah yang panjang, hingga modal sosial-budaya yang melimpah. Potensi sumber daya alam yang subur dan melimpah misalnya, terbentang sepanjang Tanjungwangi – sebuah daerah yang juga sempat menjadi pusat perkebunan teh, kopi, dan kina di masa kolonial. Lalu, potensi sumber daya manusia. Cicalengka telah melahirkan tokoh yang berpengaruh bahkan sejak zaman prakemerdekaan. Dewi Sartika yang sempat singgah di Cicalengka adalah contoh terbaik betapa Cicalengka sejak dulu telah dilimpahi sosok yang potensial. Dalam konteks sosial dan budaya, Cicalengka pun tak pernah berhenti berinovasi. Di bidang kesenian tradisional dan industri kreatif, warga Cicalengka terutama anak mudanya memiliki keunggulan dalam menggagas kebaruan.

Pertanyaannya kemudian menjadi begitu menohok: mengapa keunggulan-keunggulan itu gagal menggema di panggung akbar serupa karnaval kemerdekaan? Apakah warganya sendiri sudah tak lagi kenal dan bangga pada potensinya? Ataukah, secara mendasar, Cicalengka memang belum siap untuk merayakan dirinya sendiri?

Di balik kericuhan tersebut, ada pemicu nyata yang tidak bisa ditutup-tutupi: minuman keras dan obat terlarang. Fakta bahwa pejabat tinggi Cicalengka sebagai pihak yang memegang otoritas keamanan dan pemerintahan wilayah–turut terluka di tengah kekacauan menegaskan betapa pengaruh alkohol telah mengikis akal sehat, kontrol diri, serta batas rasa hormat warga terhadap ruang publik. Selain itu, pukulan tersebut dapat pula kita maknai secara simbolis sebagai “pukulan” pada pejabat dan aparat Cicalengka terkait pemberantasan peredaran minuman keras yang nyatanya belum dilakukan sepenuh hati.

Kenyataan pahit ini menyingkap kembali luka lama yang selama ini dibiarkan di Cicalengka. Keberadaan miras nyatanya masih menjadi ancaman laten yang sangat meresahkan. Penanganannya oleh otoritas terkait terkesan masih setengah hati. Pemberantasannya seolah seperti pola “pemadam kebakaran”, baru berbenah ketika korban berjatuhan dan kerusuhan memuncak.

Masyarakat tentu belum lupa pada tragedi minuman keras di Cicalengka tahun 2018. Saat itu, sekira 47 warga Cicalengka meregang nyawa akibat mengonsumsi miras oplosan. Kejadian yang menggegerkan itu ditutup dengan penemuan sebuah bunker miras yang menampung miras-miras racikan ilegal. Delapan tahun telah berlalu sejak peristiwa kelam itu, namun karnaval 2026 ibarat menjadi pengingat bahwa bayang-bayang insiden tersebut belum benar-benar pergi. Miras rupanya masih beredar bebas di warung-warung tersembunyi dan berkamuflase, merayap masuk ke sela-sela euforia anak-anak muda, dan akhirnya meledak menunjukkan diri di tengah perayaan kemerdekaan bangsa.

Poster-poster protes bertebaran di Jalan Cikopo, juga di Jalan Dewi Sartika, Cicalengka, Kabupaten Bandung, menjelang perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2022. (Foto: Nurul Maria Sisilia)
Poster-poster protes bertebaran di Jalan Cikopo, juga di Jalan Dewi Sartika, Cicalengka, Kabupaten Bandung, menjelang perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2022. (Foto: Nurul Maria Sisilia)

Cicalengka Harus Berbenah

Karnaval memang telah usai. Jalanan yang mendadak menjadi area pembuangan sampah raksasa telah tuntas dibersihkan. Lalu, para perusuh yang terlibat adu jotos di bawah pengaruh miras pun kini sedang menjalani proses hukum. Namun, agaknya semua akan jadi angin segar yang berembus sementara jika Cicalengka tidak berani berbenah secara mendasar. Jika keberanian untuk berbenah itu tidak muncul, maka kita hanya sedang menunggu waktu untuk mengulang pola tragedi yang sama di tahun-tahun berikutnya. Artinya, Cicalengka perlu membenahi penegakan hukum atas miras yang menjadi sumber insiden tahun ini. Razia dan penertiban miras semestinya digalakkan lebih intensif. Selain itu, pembenahan karakter generasi muda dan warganya juga perlu dibenahi. Kesadaran dan kebanggaan lokal seharusnya menjadi pemantik terciptanya kreativitas berkarya dalam karnaval juga penguat rasa kebersamaan. Hal ini bukan berbalik menjadi ajang ricuh dan pembenaran untuk mengotori jalanan Cicalengka, menyulapnya  serupa sisa kerusuhan.

Secara teknis, baiknya karnaval tidak dulu digelar tahun depan guna melakukan evaluasi menyeluruh. Razia miras, teknis pengamanan dan penertiban massa, alur karnaval, pengetatan sanksi bagi pelanggar, hingga penertiban sampah besar pascakegiatan perlu menjadi bahan pertimbangan serius jika hendak mengadakan karnaval. Sangat disayangkan jika daerah yang dalam sejarahnya pernah dibentuk oleh semangat literasi, kebudayaan, dan pemikiran besar para perintisnya, kini justru terdegradasi menjadi atraksi para pemabuk dan parade yang kacau-balau. Sesungguhnya, semua potensi Cicalengka baik alam, manusia, sejarah, hingga budaya terlalu berharga untuk ditukarkan dengan euforia murah yang merusak.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//