• Kolom
  • CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #97: Denyut Pasar Selasa Rancaekek

CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #97: Denyut Pasar Selasa Rancaekek

Sebagai salah satu pembeli yang selalu menantikan Pasar Selasa, saya menikmati betul suasana keramaian ini. Para pedagang kecil berjuang menafkahi keluarga.

Bilqis Aulia Sholihah

Siswi PPI 24 Rancaekek

Pasar Selasa di Jalan Linggar-Sukamulya, Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Foto: Bilqis Aulia Sholihah)

6 Maret 2026


BandungBergerak - Setiap Selasa sore, ruas Jalan Linggar–Sukamulya berubah wajah. Kerumunan orang memadati sepanjang jalan, menelusuri deretan lapak yang menawarkan beragam barang—dari kuliner hingga pakaian, dari cita rasa pedas hingga minuman dingin. Riuh tawar-menawar dan lalu-lalang pembeli membuat suasana tampak semrawut, namun justru di situlah denyut kehidupan pasar terasa. Bagi warga dan para pedagang, tempat ini dikenal dengan dua sebutan yang sama akrabnya: Pasar Tumpah dan Pasar Kaget.

Pasar Tumpah mengacu pada konsep pasar yang hadir secara bergantian di berbagai daerah. Sementara, Pasar Kaget merujuk pada sifatnya yang tiba-tiba hadir, mengejutkan dan dinantikan masyarakat. Ada juga istilah lain, yakni Pasar Selasa.

Di Rancaekek, pasar tumpah ini hadir setiap Selasa sore. Letaknya, berada di perbatasan antara Desa Linggar dan Desa Sukamulya. Waktunya tidak lama. Dari pukul 15.00 hingga 18.00. Namun pasar ini menjadi pusat keramaian yang menghidupkan suasana sore hari. Orang berlalu-lalang di situ, tetapi tidak menghalangi orang yang berkendara.

Ikatan Para Pedagang

Pasar Selasa bukan sekadar kumpulan lapak dagangan; komunitas ini terbentuk begitu kuat. Menurut keterangan Abah Hadi (65 tahun), seorang pedagang kolor senior, hubungan antarpedagang di sana terjalin erat. Mereka tidak hanya berjualan, melainkan juga saling mendukung seakan menjadi keluarga kedua. Kehangatan ini terkumpul dalam organisasi-organisasi internal para pedagang, yaitu Dulur Salapak, Sauyunan, dan Pasundan.

Lembaga ini menjadi tulang punggung yang menjamin kelancaran dan kekompakan pasar. Dulur Salapak, misalnya, diketuai oleh sekelompok pedagang seperti Pak Uloh, 50 tahun, penjual pakaian, Pak E, 50 tahun, penjual aksesoris, Pak Amir, 45 tahun, penjual sendal, dan Pak Agus, 45 tahun, penjual aksesoris. Di sisi lain, Sauyunan dipimpin oleh Pak Deni, 60 tahun, penjual daster, sementara lembaga Pasundan diketuai oleh Pak Egi, 45 tahun, penjual awug. Abah Hadi sendiri merupakan anggota dari Dulur Salapak.

Keberadaan lembaga ini, lengkap dengan ketua bersama anggotanya, bukan sekadar formalitas. Mereka bergotong-royong saling membantu, mengayomi, serta bekerja sama demi kelancaran digelarnya pasar tersebut. Abah Hadi sendiri menuturkan bahwa terdapat beberapa pedagang yang sepertinya dengan sengaja tidak bergabung dalam kelompok lembaga ini. Meskipun begitu, masuknya mereka dalam lembaga ini sangat memudahkan proses usaha. Para pedagang semakin semangat dalam berusaha karena ada rekan-rekan seperjuangan yang sama-sama saling mendukung deengan interaksi yang hangat.

Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #95: Hari-hari yang Dikerjakan, Hak-hak Buruh yang Ditangguhkan
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #96: Berjilid-jilid Kasus Pencurian di Cicalengka

Jajanan Ikonik

Saat matahari mulai condong ke barat, Pasar Selasa pun mulai padat dengan riuhnya antara pedagang, pelanggan, dan pengendara. Dalam waktu tiga jam yang singkat ini, pasar ini dipenuhi oleh beragam rupa barang dan kuliner. Mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga, sampai perhiasaan, turut meramaikan suasana. Namun, ada satu jenis dagangan yang paling dominan dan dinantikan pembeli, yaitu kuliner.

Pasar ini adalah surga bagi pencinta makanan. Berbagai jenis jajanan, makanan, dan minuman ditempatkan di setiap sudut. Dua jenis makanan yang paling ikonik dan selalu ramai adalah sosis bakar dan awug, makanan tradisional yang memiliki rasa manis dan gurih. Keduanya telah menjadi ciri khas dari Pasar Selasa, yang sering kali menjadi alasan utama para pelanggan berbondong-bondong datang. Meskipun barang-barang lain dijual, minat pembeli memang lebih banyak tertuju pada dagangan kuliner.

Sebagai salah satu pembeli yang selalu menantikan Pasar Selasa, saya menikmati betul suasana keramaian ini. Saya dan teman-teman dan juga masyarakat sekitar melihat pasar ini sebagai kesempatan untuk jajan dan jalan-jalan sore. "Hayu urang ka parsel" ucap teman saya yang tentu ajakan yang tidak bisa saya tolak.

Kehadiran pasar ini mampu mengisi dan memanjakan  perut dengan berbagai pilihan makanan lezat. Puncak keramaian, menurut Abah Hadi, biasanya terjadi sekitar pukul 17.00 sore, saat lokasi itu mencapai titik terpadatnya. Bahkan sebelum para pedagang mulai bersiap-siap membereskan dagangan, para pembeli kian berdesakan.

Pedagang dan Karang Taruna

Ada interaksi  yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Pasar Selasa, yaitu peran aktif Karang Taruna dari Desa Sukamulya. Setiap pedagang yang menjajakan barangnya di Pasar Selasa dimintai iuran sebesar 8.000 rupiah oleh Karang Taruna. Menurut Abah Hadi, hal tersebut merupakan wujud kerja sama yang wajar. Uang tersebut digunakan untuk membiayai upaya Karang Taruna dalam membersihkan dan membereskan sisa-sisa sampah sesudah Pasar itu digelar.

Hubungan ini harmonis saja. Abah Hadi menceritakan, apabila ada pedagang yang sepi dan hanya bisa membayar 5.000 rupiah, Karang Taruna akan bersikap toleran dan bisa memaklumi. Ini menunjukkan adanya saling pengertian dan gotong royong antara pedagang serta pemuda desa yang berperan penting dalam menjaga kebersihan tempat setelah pasar selesai.

Memang, iuran itu tidak menimbulkan protes. Bagi saya, uang 8.000 rupiah itu terlalu besar jika hanya digunakan untuk biaya kebersihan. Apalagi para pedagang di sana itu banyak. Bila dikumpulkan akan menjadi nominal yang besar. Seandainya bisa dikurangi, saya lebih memilih kurang dari 8.000 rupiah bahkan ditiadakan saja, karena para pedagang sedang berusaha dalam menafkahi keluarganya.

Sementara itu, bagi Abah Hadi, adanya Pasar tumpah ini dapat mewadahi para pedagang yang bukan berasal dari situ. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena berkat adanya pasar ini, ia dan rekan-rekannya tidak perlu lagi berkeliling jauh sambil menggendong tas berat berisikan bahan dagangan. Meski hadir selama tiga jam Pasar Sore selalu berarti bagi masyarakat, dan juga para pedagang yang mencari nafkah.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//