• Kolom
  • CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #96: Berjilid-jilid Kasus Pencurian di Cicalengka

CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #96: Berjilid-jilid Kasus Pencurian di Cicalengka

Ketika pencurian terjadi, banyak warga justru memilih melaporkannya ke ruang media sosial ketimbang ke aparat setempat.

Andrian Maldini Yudha

Pegiat di Rumah Baca Kali Atas, Cicalengka

Suasana Alun-alun atau Pusat Kota Cicalengka. (Foto: Andrian Maldini Yudha

16 Februari 2026


BandungBergerak.id – Di Cicalengka, siang dan malam kerap kehilangan batas. Pencurian datang tanpa mengenal waktu–seperti tamu yang tak pernah diundang, tetapi terus kembali. Dari pekan ke pekan, kisah kehilangan bertambah, membentuk rangkaian peristiwa yang terasa seperti jilid-jilid cerita kelam yang belum menemukan penutupnya.

Sepeda motor raib saat pemiliknya lengah. Telepon genggam hilang dari genggaman. Peristiwanya berbeda, namun polanya serupa: cepat, senyap, dan meninggalkan cemas. Melalui akun Instagram lokal @igcicalengka_, warga hampir saban pekan disuguhi kabar semacam ini. Informasi itu terhimpun menjadi satu potret tentang kota yang terus bergerak, tetapi perlahan diuji rasa amannya.

Pencurian di Cicalengka tak lagi hadir sebagai kejadian tunggal yang berdiri sendiri. Ia menjelma rangkaian yang saling bersambung–seperti halaman demi halaman yang terus ditambahkan tanpa jeda. Setiap kasus menjadi penanda bahwa ada kegelisahan yang belum terselesaikan, dan ada rasa waswas yang kian akrab dalam keseharian warga.

Ironisnya, ketika pencurian terjadi, banyak warga justru memilih melaporkannya ke ruang media sosial ketimbang ke aparat setempat. Melalui @igcicalengka_, kisah kehilangan dititipkan, lengkap dengan harapan sederhana namun getir: semoga kendaraan yang raib bisa kembali ditemukan. Viralnya unggahan menjadi tumpuan; solidaritas warga dijadikan sandaran–siapa tahu ada yang melihat, mengenali, lalu berani menghentikan.

Dalam situasi seperti ini, media sosial tak lagi sekadar etalase informasi. Ia menjelma ruang pengaduan, tempat harapan disemai ketika jalur formal terasa jauh dan sunyi.

Di titik ini, pencurian tak lagi semata perkara hilangnya barang, melainkan juga hilangnya rasa aman yang perlahan tergerus. Warga mulai menimbang langkah dengan lebih waswas. Memarkir kendaraan tak lagi sekadar soal ruang, melainkan soal risiko. Ada kewaspadaan yang tumbuh diam-diam, menyusup ke rutinitas harian. Kota yang semula terasa ramah, pelan-pelan menciptakan jarak–antara warga dan ruang publiknya sendiri.

Rangkaian peristiwa ini menimbulkan pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kisah kehilangan terus berulang, seolah tak pernah benar-benar disudahi? Apa yang membuatnya menjelma jilid demi jilid tanpa jeda yang menenangkan?

Di sinilah persoalan pencurian di Cicalengka tak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa insidental. Ia menuntut pembacaan yang lebih jujur dan menyeluruh–tentang pengawasan yang longgar, sistem keamanan yang rapuh, kepercayaan warga yang terkikis, serta peran otoritas yang semestinya hadir namun kerap terasa samar.

Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #93: Hujan yang Membawa Banjir di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #94: Di Balik Uang Parkir Dua Ribu Rupiah di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #95: Hari-hari yang Dikerjakan, Hak-hak Buruh yang Ditangguhkan

Jilid-jilid Kehilangan

Penulis melakukan wawancara personal dengan pengelola akun Instagram @igcicalengka_. Dari perbincangan itu, terungkap pola yang kian mengkhawatirkan. Menjelang bulan Ramadan, menurutnya, kasus pencurian hampir selalu meningkat–seolah telah menjadi keniscayaan. Selain itu, hampir setiap pekan, selalu ada warga yang menghubungi mereka, menitipkan kisah kehilangan dengan nada yang nyaris seragam.

Laporan datang silih berganti: sepeda motor yang raib saat terparkir, hingga peristiwa yang lebih getir ketika maling menyelinap masuk rumah dan membawa pergi telepon genggam. Cerita-cerita itu tak sekadar menjadi konten, melainkan jejak kecemasan kolektif warga yang mencari tempat untuk didengar, ketika rasa aman tak lagi mudah ditemukan.

Kekecewaan warga perlahan menumpuk, mengendap seperti debu yang tak pernah benar-benar disapu. Kasus pencurian telah menjelma kabar langganan–hadir hampir setiap pekan, berulang dengan wajah berbeda, namun luka yang sama. Dalam pengulangan itulah, kegelisahan tumbuh menjadi pertanyaan yang tak kunjung terjawab: ke mana aparat setempat dan para pemangku kebijakan yang seharusnya menjaga rasa aman?

Pengawasan yang longgar dan sistem keamanan yang rapuh membuat ruang-ruang publik terasa mudah ditembus. Jalanan, gang sempit, hingga halaman rumah perlahan kehilangan fungsi perlindungannya. Ketika sistem tak bekerja sebagaimana mestinya, rasa aman pun tak lagi berakar kuat. Di titik ini, pencurian bukan semata soal kelalaian individu, melainkan cermin dari mekanisme pengamanan yang belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan warga. Yang berkuasa hadir dalam aturan, tetapi absen dalam rasa.

Pertanyaan lain pun mengemuka: mengapa warga justru memilih menitipkan nasibnya pada unggahan media sosial?

Barangkali karena di sanalah mereka merasa diawasi, meski hanya oleh mata sesama warga. Media sosial menjelma lampu isyarat darurat; bukan solusi ideal, tetapi satu-satunya yang menyala ketika jalur formal terasa gelap dan berbelit. Di ruang digital itu, kepercayaan yang semestinya ditanamkan pada sistem keamanan resmi justru berpindah tangan–diserahkan pada solidaritas kolektif yang tumbuh dari kegelisahan yang sama.

Dalam keadaan seperti ini, warga sejatinya tak sedang mencari sensasi atau popularitas. Mereka sedang mencari kehadiran: tanda bahwa ada yang berjaga, ada yang peduli, dan ada yang bersedia bertindak. Sebab ketika pengawasan melemah, sistem keamanan rapuh, dan kepercayaan tak lagi berumah pada otoritas, harapan pun terpaksa berpindah alamat–dari kantor-kantor resmi menuju layar gawai, dari laporan formal menuju unggahan yang berharap didengar.

Sementara itu, jilid-jilid kehilangan terus bertambah. Menunggu seseorang yang bersedia menghentikan ceritanya–bukan dengan janji, melainkan dengan aksi.

Antara Harapan dan Kewaspadaan

Pada akhirnya, pencurian di Cicalengka bukan sekadar peristiwa kriminal yang tercatat sebagai statistik. Ia menjelma pengalaman kolektif–dirasakan bersama, dipikul bergantian, dan diwariskan dari satu cerita ke cerita lain. Setiap kehilangan menambah lapisan baru pada ingatan warga, membentuk kesadaran bahwa rasa aman bukan lagi sesuatu yang bisa diterima begitu saja, melainkan harus terus dijaga dengan kewaspadaan yang melelahkan.

Di kota ini, malam tak lagi sepenuhnya menjadi ruang istirahat. Ia berubah menjadi waktu berjaga, ketika suara kecil di kejauhan bisa memantik cemas, dan bayangan yang lewat memancing prasangka. Siang pun tak sepenuhnya lega; parkir kendaraan menjadi perhitungan, langkah kaki di ruang publik disertai pandangan yang tak pernah benar-benar lepas. Rasa aman pun menyusut pelan-pelan.

Yang paling getir dari semua ini adalah pergeseran tempat bergantung. Ketika kehilangan terjadi, warga tak serta-merta menoleh pada sistem yang semestinya hadir menjaga. Mereka justru mencari cahaya di tempat lain–pada unggahan, pada komentar, pada mata sesama warga yang barangkali masih mau saling memperhatikan. Media sosial menjadi ruang darurat, menampung keresahan yang tak menemukan pintu di jalur resmi.

Dalam situasi demikian, kepercayaan mengalami nasib yang serupa dengan rasa aman: tergerus perlahan. Bukan karena warga enggan percaya, melainkan karena sistem kerap hadir tanpa kehadiran yang benar-benar terasa. Aturan ada, aparat disebut, tetapi penjagaan kerap hanya terasa sebagai konsep, bukan pengalaman nyata dalam keseharian.

Cicalengka pun hidup dalam jeda yang panjang–antara harapan dan kewaspadaan. Warganya terus bergerak, bekerja, dan saling menyapa, namun di balik itu tersimpan kesadaran baru: bahwa keamanan tak lagi otomatis. Di sinilah pencurian menjadi lebih dari sekadar kehilangan barang; ia adalah tanda bahwa ada jarak yang perlu dijembatani, ada kepercayaan yang perlu dipulihkan.

Selama jarak itu dibiarkan menganga, jilid-jilid kehilangan akan terus ditulis. Bukan oleh satu tangan, melainkan oleh banyak peristiwa kecil yang berulang. Dan warga, sekali lagi, hanya bisa berharap: semoga suatu hari ada yang benar-benar hadir untuk menutup ceritanya–bukan dengan unggahan, bukan dengan janji, bukan hanya sekedar perkataan, melainkan dengan penjagaan yang sungguh-sungguh dirasakan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//