CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #99: Ketika Arak-arakan Hari Kemerdekaan Menjadi Amukan di Cicalengka
Para jagoan mabuk justru datang ketika warga sedang merayakan kemerdekaan, lalu menjadikan kegembiraan sebagai kegaduhan.

Andrian Maldini Yudha
Pegiat di Rumah Baca Kali Atas, Cicalengka
21 Agustus 2026
BandungBergerak – Cicalengka memiliki tradisi yang menyimpan nilai historis kuat dalam cara masyarakat mengekspresikan kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap 17 Agustus tiba, jalan-jalan di berbagai sudut wilayah ini berubah menjadi ruang perayaan. Masyarakat menggelar karnaval atau, yang lebih akrab di telinga warga, arak-arakan. Iring-iringan dari berbagai kampung bergerak membawa kreativitas masing-masing, sekaligus menghadirkan kembali semangat kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.
Setiap desa mempersiapkan arak-arakan dengan antusias. Ada anyaman bambu yang dibentuk menyerupai tank baja, perahu, kereta api, hingga berbagai bentuk yang menggambarkan identitas kampung maupun nuansa kebangsaan. Semua tidak hadir secara tiba-tiba. Ada persiapan, tenaga, gagasan, peluh, biaya, dan kegembiraan yang telah dirawat jauh sebelum hari perayaan tiba.
Di balik setiap karya hias terdapat tangan-tangan warga yang bekerja bersama. Ada yang merancang bentuk, mengumpulkan bahan, menganyam bambu, menyusun ornamen, hingga memastikan setiap bagian siap dibawa ke jalan. Arak-arakan, dengan demikian, bukan sekadar benda yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Ia merupakan hasil dari kerja bersama yang mempertemukan banyak orang dalam sebuah tujuan yang sama: merayakan kemerdekaan dan menunjukkan kreativitas kampungnya.
Masyarakat pun berduyun-duyun menyaksikannya. Anak-anak, orang dewasa, hingga para orang tua tumpah ke jalan. Mereka datang dengan alasan yang mungkin berbeda, tetapi bertemu dalam kegembiraan yang sama. Untuk beberapa saat, kesibukan sehari-hari seperti diletakkan di tepi. Warga dapat bercengkerama, saling menyapa, dan menikmati sebuah tradisi yang membuat Cicalengka terasa begitu dekat dengan dirinya sendiri.
Barangkali, pada saat itulah Cicalengka menyerupai sebuah utopia kecil. Tidak ada Superman atau Spiderman yang perlu datang untuk menyelamatkan kota. Masyarakat sendiri yang menciptakan rasa aman itu melalui kebersamaan. Jalan menjadi tempat bertemu, kampung menjadi ruang berkarya, dan kemerdekaan dirayakan bukan hanya melalui upacara, tetapi melalui kegembiraan yang dibagi bersama.
Namun, semua kegembiraan itu pecah ketika para “jagoan” datang.
Langkah mereka sempoyongan, suara meninggi, dan tangan yang semestinya digunakan untuk menyapa justru melayang kepada orang lain. Mereka bukan Superman atau Spiderman yang datang membawa pertolongan, melainkan jagoan dadakan yang keberaniannya seolah mendapat tenaga tambahan dari tegukan minuman beralkohol. Alih-alih membawa ketenangan, mereka datang membawa keributan.
Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #96: Berjilid-jilid Kasus Pencurian di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #97: Denyut Pasar Selasa Rancaekek
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #98: Di Bawah Langit Cicalengka, Persib Menjadi Cerita
Ketika Jagoan Dadakan Membuat Rusuh
Apa yang seharusnya menjadi ruang kegembiraan justru berakhir menjadi ruang kegaduhan. Dengan cepat, video kericuhan itu pun beredar luas di media sosial, dalam sekejap menjangkau ruang publik yang lebih jauh dan membawa nama Cicalengka ke hadapan banyak mata. Peristiwa itu tentu menyisakan rasa getir, sebab yang tampak di hadapan publik bukan lagi semata kemeriahan sebuah tradisi, melainkan keributan yang ikut menyeret nama Cicalengka ke dalam percakapan yang tidak menyenangkan.
Yang berbuat mungkin hanya segelintir orang, tetapi ketika sebuah peristiwa direkam dan beredar luas, batas antara pelaku dan tempat kejadian menjadi kabur. Perilaku beberapa orang dapat dengan mudah disematkan pada nama sebuah wilayah. Mereka yang tidak terlibat pun akhirnya harus menanggung beban yang sama dan berhadapan dengan citra yang muncul dari sebuah keributan yang tidak mereka kehendaki.
Dalam video yang beredar, keributan tersebut terlihat terjadi di depan Kantor Kecamatan Cicalengka. Kericuhan itu diduga dipicu oleh konsumsi minuman keras yang membuat sebagian orang kehilangan kendali hingga berujung pada aksi kekerasan. Situasinya bahkan turut menyeret aparat yang berada di lokasi. Kapolsek dan Danramil Cicalengka dikabarkan ikut terkena imbas pemukulan ketika berupaya melerai kericuhan yang terjadi.
Perayaan yang semula riuh oleh sorak dan tawa perlahan berubah menjadi situasi yang membuat orang harus berpikir ulang untuk tetap bertahan di jalan. Ruang yang semula menjadi tempat bertemu berubah menjadi tempat yang harus dihindari. Orang-orang yang datang untuk menikmati perayaan justru dihadapkan pada sesuatu yang sama sekali tidak mereka harapkan.
Karena itu, kericuhan tersebut membawa akibat yang lebih jauh. Seluruh rangkaian kegiatan arak-arakan harus dihentikan karena situasi tidak lagi kondusif. Beberapa desa dan kampung terpaksa balik kanan sebelum sempat sampai atau melewati Kantor Kecamatan Cicalengka. Karya-karya warga yang semula bergerak membawa kemeriahan akhirnya harus berbalik arah, membawa pulang sesuatu yang semestinya tidak ikut dalam perjalanan ialah, kekecewaan.
Di balik setiap karya hiasan terdapat waktu yang telah disisihkan, pikiran yang dicurahkan, tenaga yang dikerahkan, dan peluh yang dijatuhkan. Ada warga yang mungkin telah berhari-hari mengerjakan anyaman, merancang bentuk, menyusun ornamen, hingga memastikan setiap bagian tampil sebaik mungkin ketika tiba di hadapan penonton.
Mereka tidak sekadar membuat sebuah karya hias untuk berjalan di jalan raya. Mereka sedang membuat sesuatu yang dapat dibanggakan atas nama kampungnya. Karena itu, ketika perjalanan harus berhenti sebelum mencapai tujuan, yang hilang bukan sekadar kesempatan untuk mengikuti arak-arakan. Ada kebanggaan yang belum sempat dipertontonkan, ada karya yang belum sempat mendapatkan nilai dan apresiasi, dan ada kegembiraan yang harus ditelan kembali sebelum waktunya. Peluh yang semestinya bermuara pada kebanggaan justru berakhir menjadi kekecewaan.
Cicalengka tentu tidak membutuhkan Superman atau Spiderman dadakan untuk datang menyelamatkan keadaan. Sebelum keributan terjadi, masyarakat telah mampu menciptakan ruang yang aman dengan caranya sendiri. Mereka berkumpul, bercengkerama, menjaga anak-anak, menikmati arak-arakan, dan merayakan kemerdekaan tanpa membutuhkan seorang pahlawan super untuk mengatur semuanya.
Tetapi, yang muncul adalah jagoan-jagoan dadakan yang keberaniannya seolah mendapat tenaga tambahan dari tegukan minuman yang memabukkan. Mereka berjalan sempoyongan, suara meninggi, tangan kehilangan kendali. Jika Superman datang untuk menyelamatkan, mereka datang justru ketika keadaan baik-baik saja lalu membuatnya menjadi kacau. Jika Batman hadir sebagai penjaga ketika malam membutuhkan perlindungan, para jagoan ini malah menjadikan jalan yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan sebagai arena untuk mempertontonkan kekerasan.
Apa yang Dilakukan Jagoan Mabuk di Cicalengka?
Pada akhirnya, yang paling getir dari kericuhan itu bukan hanya pukulan atau arak-arakan yang terhenti, melainkan kenyataan bahwa kegembiraan yang dibangun begitu lama dapat runtuh dalam waktu yang begitu singkat. Di balik setiap hiasan ada tangan yang bekerja, di balik setiap iring-iringan ada warga yang menunggu, dan di balik setiap sorak ada harapan sederhana untuk merayakan kemerdekaan bersama. Namun, semuanya harus pulang lebih cepat karena segelintir orang memilih menjadikan jalan sebagai arena keberanian yang keliru.
Di situlah ironi para “jagoan” itu terasa. Mereka datang tanpa jubah merah seperti Superman, tanpa topeng hitam seperti Batman, tetapi bertingkah seolah-olah jalanan adalah milik mereka sendiri. Bedanya, Batman datang ketika kota membutuhkan penjagaan, Superman hadir ketika manusia membutuhkan pertolongan. Para jagoan mabuk justru datang ketika warga sedang merayakan kemerdekaan, lalu menjadikan kegembiraan sebagai kegaduhan. Jika pahlawan super menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan, mereka menggunakan keberanian semunya untuk melukai.
Sebab kemerdekaan bukanlah izin untuk melakukan apa saja tanpa batas. Ia adalah kesempatan untuk merayakan kebebasan tanpa merampas kebebasan orang lain. Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari menjadi “jagoan” sesungguhnya: bukan siapa yang paling kuat memukul, melainkan siapa yang cukup kuat untuk tidak memukul. Bukan siapa yang paling gaduh di tengah kerumunan, melainkan siapa yang mampu membuat orang lain merasa aman.
Pada akhirnya, yang perlu diselamatkan bukan hanya ketertiban arak-arakan, tetapi juga tradisi yang telah lama menjadi bagian dari ingatan Cicalengka. Karena itu, kemeriahan perlu dijaga bersama: warga saling mengingatkan, penyelenggara memperkuat pengawasan, aparat hadir sebelum kericuhan terjadi, dan mereka yang datang membawa mabuk maupun kekerasan tidak diberi ruang untuk mengubah perayaan menjadi ancaman. Sebab sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena terus diulang setiap tahun, melainkan karena ada orang-orang yang bersedia merawatnya dengan kesadaran, ketegasan, dan rasa memiliki. Barangkali, jika suatu hari arak-arakan kembali memenuhi jalan, yang perlu hadir bukanlah lebih banyak jagoan, melainkan lebih banyak orang yang bersedia menjaga agar tawa tetap menjadi tawa, jalan tetap menjadi jalan, dan kemerdekaan tetap menjadi perayaan yang pulang membawa kenangan, bukan kekecewaan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


