CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #101: Lampu Menyala, Rasa Aman Meredup di Cicalengka
Belakangan, malam di Cicalengka seperti meminta lebih banyak kewaspadaan. Kabar tentang begal mengusik ketenteraman warga.

Andrian Maldini Yudha
Pegiat di Rumah Baca Kali Atas, Cicalengka
2 September 2026
BandungBergerak – Di Cicalengka, gelap kini bukan satu-satunya yang datang bersama malam. Lampu-lampu jalan yang berjejer di berbagai sudut pun seolah tak lagi cukup menerangi langkah orang-orang yang berlalu-lalang. Cahaya memang masih menyala, tetapi rasa aman perlahan meredup di antara terang yang ada. Alih-alih memberikan ketenangan bagi mereka yang hendak pulang menuju rumah, malam di Cicalengka justru terasa diselimuti gusar dan cemas. Jalan yang semestinya mengantar seseorang kembali kepada keluarga kini terasa seperti ruang yang menyimpan tanya: akankah mereka sampai dengan selamat?
Ada seorang ayah yang berjuang mencari nafkah demi anak dan istrinya, ada pedagang pasar yang harus menyiapkan barang dagangannya sejak tengah malam untuk dijual, dan ada pula seorang aparat keamanan yang berjaga di bawah lampu pos wajib lapor 1 × 24 jam. Mereka adalah bagian dari denyut kehidupan Cicalengka ketika sebagian besar orang telah terlelap. Bagi mereka, malam bukan sekadar pergantian waktu, melainkan bagian dari kehidupan dan arena nafkah yang harus diperjuangkan.
Namun, belakangan, malam hari di Cicalengka seperti meminta lebih banyak kewaspadaan.
Kabar mengenai begal dalam beberapa hari terakhir mulai mengusik ketenteraman warga. Jalan-jalan yang dahulu dilalui tanpa banyak pertimbangan kini menyimpan keraguan di setiap persimpangan. Waktu pulang mulai diperhitungkan, rute dipilih dengan lebih hati-hati, sementara suara kendaraan yang tiba-tiba melintas dari belakang dapat membuat kepala menoleh dan tubuh seketika bersiap. Barangkali, sesuatu yang berubah bukan hanya jalan pada malam hari, melainkan juga cara warga memandang dan memaknai malam itu sendiri.
Padahal, malam merupakan bagian dari hukum alam yang tak dapat dihindari. Ia datang setelah siang dan berlalu untuk memberi tempat kepada fajar. Begitu pula kehidupan manusia. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dagangan yang harus diantar, tanggung jawab yang harus ditunaikan, dan keluarga yang menunggu kembali di rumah.
Mereka tidak sedang mencari keberanian untuk menantang bahaya. Mereka hanya sedang menjalani kehidupan sebagaimana mestinya: bekerja ketika harus bekerja, mencari nafkah ketika harus mencari nafkah, dan pulang ketika pekerjaan telah usai.
Di sinilah persoalan begal menjadi lebih dari sekadar perkara kriminalitas. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar dalam kehidupan sebuah kota: hak warga untuk merasa aman ketika menjalani aktivitasnya. Sebab, kota tidak cukup hanya dipasangi lampu jalan yang terang. Kota juga harus mampu menghadirkan keyakinan bahwa seseorang dapat melintasinya dan kembali ke rumah tanpa membawa ketakutan. Lampu boleh menyala sepanjang malam, tetapi jika warga masih menggenggam cemas sepanjang perjalanan, barangkali ada sesuatu yang belum benar-benar terang.
Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #98: Di Bawah Langit Cicalengka, Persib Menjadi Cerita
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #99: Ketika Arak-arakan Hari Kemerdekaan Menjadi Amukan di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #100: Ketika Cicalengka Belum Siap Merayakan Dirinya
Ketika Kewaspadaan Menjadi Bekal Perjalanan
Sebut saja Asti Nurhasanah, @astinurhh, seorang warga Cicalengka yang melalui akun Instagramnya membagikan kisah tentang kejadian yang dialami suaminya, Lufti Cahya Martina, ketika hendak pulang ke rumah setelah bekerja sejak siang.
Pada penulis, Asti menceritakan bahwa suaminya hampir menjadi korban pembegalan sekitar pukul 22.15 WIB. Malam itu, Lufti melintasi Jalan Baron di wilayah Cicalengka Timur. Ia hanya hendak pulang setelah seharian bekerja, menempuh jalan yang mungkin telah begitu akrab dengan roda motornya.
Namun, dua orang yang mengendarai sepeda motor Honda Beat berwarna hitam perlahan menguntitnya dari belakang. Jaket dan masker yang mereka kenakan menutupi sebagian wajah, membuat keduanya sulit dikenali.
Tak lama kemudian, terdengar suara dari arah belakang motor Beat Hitam itu.
“A tulung, A, tulung.”
Suara itu terdengar seperti permintaan pertolongan biasa. Tanpa menyimpan prasangka, Lufti pun menepi. Ia berhenti karena mengira memang orang tersebut sedang membutuhkan bantuan.
Namun, ketika perjalanan tepat hingga Jalan Raya Kaca-kaca, tak jauh dari Kantor Desa Cicalengka Wetan, suasana mulai berubah. Jalan semakin sepi dan penerangan terbatas. Lufti mulai merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Ia diarahkan menuju jalan yang lebih lengang. Di titik itu, niat baik yang semula sederhana mulai berhadapan dengan rasa curiga dan waspada.
Untungnya, sejak maraknya kabar pembegalan di Cicalengka, Lufti memang telah menyiapkan sebuah golok di dalam bagasi motornya. Menurut penuturan Asti, benda itu disimpan sebagai bentuk berjaga-jaga atas kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Dan malam itu, kemungkinan tersebut menemukan alasannya.
Ketika salah seorang pelaku mendekat dan mengeluarkan senjata tajam, Lufti lekas membuka bagasi. Golok yang tersimpan di sana kemudian berada di tangannya. Situasi berubah dalam sekejap. Suara yang sebelumnya meminta pertolongan berganti menjadi nuansa mencekam nan penuh ancaman.
Melihat Lufti telah bersiap, kedua orang tersebut memilih melarikan diri. Lufti kemudian mengejar mereka dengan sepeda motor hingga kawasan Bundaran Warung Lahang. Jarak antara mereka sempat begitu dekat. Ia bahkan hampir menendang sepeda motor yang ditumpangi keduanya, tetapi tendangan itu meleset.
Kedua orang tersebut kemudian berbalik. Senjata tajam kembali diayunkan ke arah Lufti. Ia berusaha menepis serangan itu hingga hanya mengenai jaket yang dikenakannya. Tubuhnya sempat terseok dan keseimbangannya goyah. Lufti masih berusaha mengejar hingga arah Nagreg, tetapi kedua orang tersebut akhirnya berhasil meloloskan diri.
Agar Pulang Tak Lagi Bimbang
Kisah Lufti memperlihatkan bagaimana rasa aman dapat bergeser dari sesuatu yang semestinya hadir menjadi sesuatu yang harus diusahakan sendiri. Warga yang hanya hendak pulang akhirnya perlu membaca gerak kendaraan di belakang, mencermati jalan yang mulai lengang, memilih rute dengan lebih hati-hati, bahkan menyimpan kemungkinan buruk di dalam kepala sebelum benar-benar sampai di rumah.
Pulang yang dahulu sederhana kini membutuhkan kewaspadaan.
Namun, Lufti bukan seorang jagoan yang sengaja keluar malam untuk memburu begal. Ia tidak sedang mencari musuh, apalagi mengejar kepahlawanan, tidak mengharapkan untuk memboyong hadiah dari Gubernur dalam sayembara menumpas kejahatan. Tidak ada medali yang menunggu, tidak ada panggung yang disiapkan di jalanan. Ia hanya seorang warga yang hendak pulang setelah bekerja, dan berkumpul kembali bersama keluarga.
Justru di situlah getirnya.
Ketika seseorang harus menyiapkan keberanian hanya untuk melewati jalan menuju rumah, barangkali ada sesuatu yang perlu dibenahi lebih jauh daripada sekadar meminta warga agar berhati-hati. Waspada memang perlu, tetapi rasa aman tidak semestinya menjadi tanggung jawab warga seorang diri.
Ada pengawasan yang mesti bekerja sebelum kejadian, laporan yang perlu ditanggapi sebelum berkembang menjadi kecemasan, tidak tertumpuk di meja 1 X 24 jam, serta penerangan dan pemantauan yang membuat jalan tidak mudah berubah menjadi ruang bagi kejahatan. Keamanan tidak selalu harus hadir melalui sirene dan seragam. Kadang-kadang, ia cukup terasa dari jalan yang terpantau, dan respons yang datang cepat sebelum peristiwa dan fenomena merebak ramai ke mana-mana.
Masyarakat pun memiliki peran. Saling mengingatkan, memilih jalan yang lebih aman, tidak mengabaikan tanda-tanda bahaya, dan segera melaporkan kejadian mencurigakan merupakan bentuk kepedulian yang sederhana. Namun, kehati-hatian warga semestinya menjadi pagar tambahan, bukan benteng utama.
Warga boleh waspada, tetapi tidak semestinya hidup dalam kecemasan. Sebab jalan raya bukan milik begal. Malam hari pun bukan milik mereka yang menjadikannya ruang untuk merampas rasa aman orang lain. Jalan adalah ruang bersama. Di sana ada mereka yang berangkat bekerja, mereka yang baru pulang, pedagang yang mengejar rezeki, dan orang-orang yang hanya ingin tiba di rumah setelah menjalani hari yang panjang.
Mereka semua berhak atas perjalanan yang sama: perjalanan yang aman menuju tempat pulang. Cicalengka tidak membutuhkan Batman atau Superman untuk turun menyelamatkan kota. Yang dibutuhkan Cicalengka jauh lebih sederhana: sebuah jalan yang membuat orang berani melintas, sebuah malam yang tidak membuat orang takut pulang, dan sebuah kota yang memungkinkan warganya bekerja hingga larut tanpa merasa sedang mempertaruhkan keselamatan.
***
*Tulisan kolom CATATAN DARI BANDUNG TIMUR merupakan bagian dari kolaborasi BandungBergerak.id dan Lingkar Literasi Cicalengka. Simak tulisan-tulisan lain Andrian Maldini Yudha atau artikel-artikel lain tentang Cicalengka.


