• Kolom
  • CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #103: Berharap Hujan Cepat Turun di Rancaekek

CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #103: Berharap Hujan Cepat Turun di Rancaekek

Penanganan krisis air tidak seharusnya berhenti setelah hujan turun atau bantuan tangki datang.

Khailisa Dwi

Siswa PPI 24 Rancaekek

Seorang warga Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek sedang memindahkan air sumur ke dalam galon. (Foto: Khailisa Dwi)

28 September 2026


BandungBergerak – Di pengujung musim kemarau ini, saya menemukan gambaran nyata tentang sulitnya mendapatkan air bersih di Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Dua orang ibu rumah tangga terlihat sedang mengangkut air dari sebuah sumur yang baru dibangun kembali karena persediaan air di rumah mereka mulai mengering. Di samping mereka, terdapat delapan galon yang telah terisi air berwarna kekuningan. Pemandangan tersebut membuat saya menyadari bahwa kekeringan di Linggar bukan sekadar tentang musim kemarau dan sumur yang mengering. Bagi sebagian warga, persoalannya adalah bagaimana mendapatkan air yang cukup dan layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Naufal Arkam, warga Linggar yang berprofesi sebagai guru sosiologi dan juga lulusan Studi Pembangunan ITB menuturkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir lingkungan di Linggar mulai terasa sangat kering dan berdebu. Kondisi ini terutama terjadi sejak bulan Juli 2026 silam. Tentu saja ini berdampak pada sumber kebutuhan warga, di antaranya pasokan air bersih. Sumur di beberapa rumah warga bahkan mengering atau airnya berubah warna menjadi kekuningan.

Ena, 55 tahun, warga Bojong Kalong, Desa Linggar, misalnya sudah merasakan kesulitan mendapatkan air bersih sejak Juli sehingga mengganggu berbagai aktivitas sehari-hari seperti mandi dan memasak. Ia bahkan harus mengurangi kegiatan mencuci. Ia merasa lelah lantaran krisis air bersih banyak menguras fisik. Apalagi di rumah Ena mesti menjaga ibunya sendirian.

Di titik ini, krisis air tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi persoalan sosial. Beban yang muncul bukan hanya berupa berkurangnya air, tetapi juga waktu, tenaga, dan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mendapatkannya. Bagi warga yang tidak memiliki sumber air sendiri, keadaan tersebut tentu menjadi lebih berat. Pengalaman Ena memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan pada akhirnya dapat masuk langsung ke dalam kehidupan rumah tangga.

Baca Juga: CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #100: Ketika Cicalengka Belum Siap Merayakan Dirinya
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #101: Lampu Menyala, Rasa Aman Meredup di Cicalengka
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #102: Jalan-jalan di Cicalengka yang Tak Pernah Sunyi

Air Tanah yang Diperebutkan

Krisis air bersih di Linggar tidak dapat dilepaskan dari ketergantungan masyarakat terhadap sumber air tanah. Naufal menjelaskan bahwa infrastruktur PDAM belum sampai ke daerah Linggar, sehingga masyarakat hanya mengandalkan air tanah atau air sumur sebagai sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Masalahnya, persoalan air di Linggar bukan saja mengenai jumlah air, namun juga soal kualitasnya. Naufal menambahkan bahwa pada kondisi tertentu air sumur tidak selalu benar-benar habis, tetapi dapat berubah menjadi kekuningan. Dalam hal ini, air yang dipompa dari dalam tanah dapat berubah warna setelah terkena udara selama beberapa waktu. Kondisi ini membuat warga tidak dapat menggunakan seluruh air yang tersedia untuk semua kebutuhan, terutama untuk dikonsumsi. Artinya, ada air belum berarti memiliki air yang benar-benar layak digunakan.

Wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air juga tidak hanya berada di satu titik. Menurut Naufal, beberapa daerah di Desa Linggar seperti Babakan Cereme, Jambu Leutik, dan Bojong Kalong pernah mengalami kondisi sumur yang mengering atau air yang berubah warna. Sementara itu, kawasan Cikijing menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena letaknya berdekatan dengan kawasan industri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat keparahan persoalan air bersih dapat berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Tidak hanya itu, kondisi tersebut menjadi semakin rumit karena Linggar juga mengalami perubahan lingkungan. Daerah yang sebelumnya memiliki sawah, pepohonan, dan lahan yang berfungsi sebagai daerah resapan air kini semakin banyak berubah menjadi kawasan permukiman. Perubahan itu dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air hujan sebagai cadangan air tanah. "Pada saat yang sama, semakin banyak permukiman berarti semakin besar pula kebutuhan air untuk rumah tangga," tutur Naufal.

Selain faktor penggunaan air tanah, kondisi cuaca juga ikut memperparah keadaan. Rancaekek cenderung menjadi salah satu wilayah yang lebih lambat menerima hujan dibandingkan daerah lain. Hal Itu, bagi Naufal, yang menyebabkan kenapa daerah Linggar lebih kering daripada yang lain sehingga membuat masyarakat harus menghadapi periode kering lebih lama sebelum mendapatkan kembali cadangan air dari hujan.

Bertahan dengan Cara yang Ada

Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat sebenarnya telah melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air. Ketika air di rumah habis, Ena harus meminta air kepada tetangga yang sumurnya masih memiliki persediaan. Warga juga saling membantu ketika masih memiliki sumber air yang dapat digunakan bersama. Namun, cara tersebut tetap memiliki keterbatasan karena bergantung pada kondisi sumur masing-masing warga.

Untuk kebutuhan memasak, Ena dan warga lainnya biasanya membeli air galon. Sementara untuk air yang berasal dari sumur, warga harus menyaringnya terlebih dahulu. Ena mengatakan bahwa air yang sangat kuning perlu disaring hingga beberapa kali menggunakan kain sebelum digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa kekurangan air bersih bukan hanya membuat warga kesulitan memperoleh air, tetapi juga menambah pekerjaan yang harus dilakukan sebelum air tersebut dapat dimanfaatkan.

Masyarakat Linggar sebenarnya tidak sepenuhnya dibiarkan menghadapi persoalan ini. Ada bentuk solidaritas antarwarga ketika seseorang masih memiliki air di sumurnya dan warga yang mengalami kekeringan dapat meminta bantuan. Menurut Ena, warga telah menerima bantuan air bersih sebanyak tiga kali melalui tangki air. “Ada bantuan dari Pak Dewan tiga kali pake tangki diisi pake galon atau apa aja yang bisa diisi”, ungkap Ena.

Namun, bantuan tangki pada dasarnya merupakan solusi jangka pendek. Air yang datang hari ini akan habis seketika, sedangkan persoalan yang menyebabkan warga membutuhkan air tersebut masih ada. Begitu pula dengan mengandalkan sumur tetangga. Cara ini dapat membantu ketika hanya beberapa rumah yang kekurangan air, tetapi akan menjadi sulit jika seluruh wilayah mengalami kondisi yang sama.

Di tengah berbagai cara yang dilakukan untuk bertahan, warga berharap kondisi tersebut segera berakhir. Bagi Ena, turunnya hujan menjadi hal yang paling dinantikan karena hujan dapat mengurangi kesulitannya dalam mendapatkan air.

Penanganan krisis air tidak seharusnya berhenti setelah hujan turun atau bantuan tangki datang. Jika sumber air tanah terus digunakan tanpa pengelolaan yang baik dan daerah resapan semakin berkurang, masyarakat berpotensi kembali menghadapi masalah yang sama pada musim kemarau berikutnya. Inilah celah terbesar dalam penanganan krisis air di Linggar: masyarakat sudah memiliki cara untuk bertahan, tetapi belum tentu memiliki sistem yang membuat mereka lebih siap menghadapi kekeringan berikutnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//