• Kolom
  • CATATAN SI BOB #48: Sekolah Rajin Biar Jadi Botol

CATATAN SI BOB #48: Sekolah Rajin Biar Jadi Botol

Sajak Godi Suwarna bercerita tentang kekerasan struktural di sekolah dengan segala disiplin besi yang merayakan kepatuhan sebagai satu-satunya capaian belajar.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Sampul buku Sajak Dongeng Si Ujang karya Godi Suwarna. (Foto: Bob Anwar)

5 November 2026


BandungBergerak – Oedipus, dalam tragedi Sophokles, mencoblos mata sendiri bukan karena benci terang, tapi karena tak sanggup menanggung kenyataan bahwa ia bagian dari mesin takdir yang mempermainkan. Di ruang kelas kita hari ini, anak-anak muda tak perlu mengikuti laku Oedipus itu. Kurikulum sudah melakukannya, jauh lebih rapi: meratakan apa saja yang lancip, membungkam apa saja yang gaduh, hingga kepatuhan menjelma satu-satunya bahasa.

Sekolah telah merosot menjadi pabrik perakitan yang menuntut kepatuhan total. Di sinilah Paulo Freire menyinggungnya dengan model "pendidikan bank", ruang belajar yang hanya menimbun kebisuan dan memperlakukan kepala manusia sebagai celengan demi kalkulasi pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat paradoks dari mesin penjinak tersebut: di tengah jutaan angka pengangguran terbuka, kelompok terbesar justru berasal dari mereka yang sempat mengenyam bangku sekolah menengah.

Di balik pameran statistik kelulusan itu, sekolah terbukti hanya mencetak barisan tunakarya terdidik yang gagap membaca dunia. Namun Godi Suwarna tidak berhenti pada tesis sosiologis tersebut. Melalui “Sajak Si Ujang Lebet Sakola” dalam bukunya Sajak Dongeng Si Ujang (Rumah Baca Buku Sunda, 2011), ia menyusup ke lapis batin yang lebih purba: membongkar kekerasan struktural yang merangsek hingga ke ruang-ruang domestik.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #45: Puisi Menunda Api
CATATAN SI BOB #46: Nasib Adalah Kesunyian Masing-masing
CATATAN SI BOB #47: Kapuk yang Berterbangan

Kamar Bedah

Dalam sajak Godi, sekolah bukan gedung berkubah ilmu. Sekolah ibarat kamar bedah, tempat kekuasaan domestik dan negara berkolusi, mereduksi keutuhan subjek. Si Ujang, bocah yang hidup dalam kelimpahan warna pelangi dan dongeng binatang di awan, ditarik paksa ke lorong steril bernama kelas. Di sana, kebebasannya dicincang, diganti deretan angka dan aksara yang mendesing panas, mematahkan sayap satwa dalam batinnya sebelum sempat mengepak.

Dalam bait pembuka "Cocooan tos robih janten aksara, sareng angka, nu karaos ngagolak dina mastaka, ngahalangan jangjang Kuda, sareng Kuya, sareng Gajah", Godi menangkap bentuk kesadaran anak. Mainan; lambang dunia yang cair, asosiatif, dan merdeka; direbut paksa oleh tirani aksara. Kuda, kura-kura, dan gajah yang tadinya bebas melintasi langit imajinasi, dididihkan di dalam kepala hingga melepuh oleh tumpukan rumus dan hafalan. Aksara dan angka di dalam kelas bukanlah jembatan pembebasan, tetapi gembok yang mengunci pintu mimpi.

Kengerian itu merambah ruang privat ketika aktivitas domestik berpilin-padu dengan disiplin sekolah. Ketika si Ujang masih ingin berbincang dengan cicak dan mengajaknya main bola, sang kakak mengibas-ngibaskan pensil dengan ancaman: "Énjing sakola! Geura bobo!" Pensil dibebani teror psikologis yang luar biasa ketika si Ujang melihat benda itu berubah "saageung gegendir nu sok teras ngajelegur". Gegendir, gada penumbuk padi, adalah simbol yang brutal: kekerasan struktural sekolah menyusup ke kamar tidur melalui ancaman keluarga, menghantam mental tiap anak yang mencoba membangkang atau sekadar merenung di luar.

Waktu direnggut secara sistematis, mengubah denyut biologis anak-anak menjadi mekanisasi pabrik. Godi merumuskannya dalam metafora pencernaan yang menohok: "Unggal énjing, Ujang sarapan érloji tina roti nu katingal sapertos lémpéngan beusi." Sarapan jam tangan adalah alegori indoktrinasi temporal totaliter: anak-anak dicekoki disiplin jam pabrik sejak subuh, diajarkan bahwa hidup harus sinkron dengan lonceng yang menindas dan alarm yang merampas.

Alienasi itu mencapai puncaknya pada perampasan identitas diri yang radikal: "iraha mastaka Ujang kedah janten taar Papap, kedah janten damis Mamah, kedah janten waos Aa, kedah janten ilat Tétéh." Si Ujang tak sedang belajar untuk mengenali dirinya. Ia justru dipahat menjadi kolase kecemasan kolektif keluarganya. Kepalanya adalah dahi ayahnya, pipinya adalah pipi ibunya, giginya adalah gigi kakaknya, dan lidahnya adalah lidah saudara perempuannya. Otonomi nalar dan eksistensialnya direnggut, menyisakan dirinya sebagai wadah kosong bagi proyeksi ambisi orang dewasa.

Lalu proses pelarutan diri itu diakhiri situasi tak terduga, ketika si Ujang diibaratkan seperti "gulali nu seuneuna tarik teuing ngaberengseng" yang kemudian "lééh, teras leyur". Di situ sajak Sunda kontemporer ini menjelma perlawanan politik-kebudayaan. Godi membuktikan bahwa kritik paling tajam terhadap modernitas birokratis justru lahir dari kesadaran lokal yang menolak tunduk pada bahasa teknokratik pusat. Bahasa daerah di sini bukan romantisisme pedesaan yang cengeng, tetapi benteng perlindungan terakhir bagi nurani manusia.

Namun tragedi itu tak berhenti di balik bilik kelas atau larik-larik sajak. Hal tersebut menjelma ironi statistik di luar pagar sekolah: ledakan pengangguran terdidik. Angka ketenagakerjaan konsisten memperlihatkan bagaimana sistem pendidikan kita memproduksi barisan pekerja yang asing dari daya cipta, lalu dilempar ke pasar kerja yang menuntut keluwesan dan ketajaman intuisi.

Ijazah pada akhirnya berfungsi sekadar lisensi kepatuhan. Sekolah terbiasa melatih kedisiplinan administratif; menghafal aturan, merespons bel, mengisi daftar hadir; tetapi gagal membekali akal budi untuk membaca perubahan ekonomi yang bergerak cepat. Akibatnya, alih-alih menjadi subjek yang mandiri, para lulusan itu malah tumbuh sebagai angkatan kerja yang kaku secara mental, takut mengambil risiko, dan gagap menghadapi ketidakpastian.

Mereka terperangkap lingkaran setan alienasi struktural. Mereka menolak kembali ke akar-akar produktif lokal karena dianggap tidak "sepadan" dengan ijazah mereka, sementara di sektor formal, industri modern menolak kehadiran mereka karena dianggap tak punya kapasitas kognitif yang lentur di luar kepatuhan administratif. Sekolah, dengan segala disiplin besi dan lonceng pabriknya, hanya memproduksi generasi yang terasing dua kali: asing dari diri di dalam kelas dan asing dari lingkungan di tengah masyarakat.

Sulam Silabus

Maka, perbaikan tak pernah terletak pada pergantian menteri atau tambal sulam silabus, melainkan dekonstruksi radikal atas makna sekolah itu sendiri: mengembalikannya dari pabrik pencetak penganggur dan buruh patuh menjadi persemaian manusia yang merdeka berpikir. Kurikulum harus dibebaskan dari target administratif dan ruang-ruang belajar wajib dikembalikan sebagai tempat akal budi bernapas.

Sebab, di sinilah letak tegangan yang dibongkar oleh “Sajak Si Ujang Lebet Sakola”. Sekolah berjalan tanpa pernah mau menoleh ke belakang, membiarkan mainan dirampas angka, dan merayakan kepatuhan sebagai satu-satunya capaian belajar. Akhirnya, yang muncul dari pintu gerbang kelulusan bukanlah subjek yang berdaulat, melainkan angkatan yang rapi sesuai kebutuhan pasar, dilabeli patuh, serta sedia layaknya botol-botol kosong yang siap diisi apa saja oleh kekuasaan.

05/11/2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//