CATATAN SI BOB #45: Puisi Menunda Api
Kumpulan puisi Magma karya Ratna Ayu Budhiarti mengingatkan bahwa kata-kata dan tindakan akan memiliki bobot jika lahir dari ketenangan batin yang diendapkan.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
13 Oktober 2026
BandungBergerak – Ada yang melelahkan dari cara berinteraksi di lini masa hari ini: sebentuk overthinking riuh di tengah budaya serba cepat. Di media sosial, kecemasan dan kemarahan kerap terlontar seperti petasan, bising beberapa detik, dipanen potongan klip, memburu respons instan lalu lenyap secepat abu tertiup. Setiap luka sosial penuh serapah tergesa. Tak ada ruang berpikir ulang, apalagi upaya pengeraman. Dalam situasi itu, puisi-puisi Ratna Ayu Budhiarti dalam bukunya Magma (Gambang, 2017) seakan menawarkan cara lain berkompromi dengan diri. Sebuah wilayah di mana gelisah ditapis kembali menjadi empati.
Dalam lembar testimoni, Kurnia Effendi menuliskan bahwa sebelum puisi terlahir ke dunia, telah lebih dulu ada dalam batin penyairnya. Ratna Ayu Budhiarti, tulisnya, menyimpan seluruh kandungan magma itu di arus bawah sadar, lalu membiarkannya meletup sebagai refleksi atas peristiwa. Magma di sini beroperasi mirip ketidaksadaran kolektif: sebuah reservoir dorongan emosional dan trauma laten yang mengalami sublimasi sebelum menyentuh ambang kesadaran. Magma bukan sekadar lahar panas, melainkan energi bumi yang sabar menahan diri di bawah tekanan batu-jematu berat.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #42: Kisah Peta Naga
CATATAN SI BOB #43: Formulir Puisi
CATATAN SI BOB #44: Haiku Acep Zamzam Noor, Sebuah Latihan Memerhatikan
Batas Ego
Ratna, seperti pejalan yang menolak ketergesaan. Menulis, baginya, ikhtiar memendam gejolak, merawatnya di perut sunyi, lalu perlahan melahirkannya sebagai puisi. Dalam puisi “Kamar” (halaman 33), ia berbisik tentang keajaiban yang tak lelah dipinta: “Menelusuri lorong waktu / melepaskan helai demi helai yang menutup / seluruh tubuh rindu.” Di hadapan gejolak ego yang memicu perang batin, ia tak memilih bertarung dengan senjata atau seruan nyaring. Melalui lensa puitika introspektif, Ratna menyerahkan diri pada kerapuhan. Ia paham, keintiman estetis justru lahir ketika batas-batas ego diluruhkan dan penyerahan dimulai.
Sebab keintiman kerap butuh ruang menahan diri. Dalam “Menunda Peluk” (halaman 25), dua orang duduk berhadapan mengunyah pizza dan tawa miris, sementara rindu mematung menjadi secangkir kopi. Mengapa sebuah pelukan justru akan lebih terasa ketika ditunda? Saya teringat Barthes, yang dalam Fragments d’un discours amoureux menggambarkan betapa hasrat mencapai puncak paling puitis tatkala menangguhkan diri di ambang penantian. Di zaman yang menuntut segalanya mesti tuntas seketika, di mana rindu harus terbalas dan amarah lekas terlampias, menunda jadi laku istimewa. Membiarkan rasa mengeram agar tak tercurah begitu saja dan dangkal.
Pengendapan itu membuat bahasa Ratna tak perlu bersolek dengan kerumitan yang intimidatif. Seperti momen ketika ia mendekati yang Ilahi dalam puisi “Memilih Menu” (halaman 58). Ia tak menggunakan ungkapan teologi berat dan berjarak. Ia mengumpamakannya dengan melangkah ke restoran remang, mengamati Sang Peracik Hidup dari sudut, lalu menatap daftar kebahagiaan, amalan kecil, dan dosa di atas meja. Yang sakral dan yang profan melebur tanpa batas kaku.
Namun, keheningan yang khusyuk macam itu selalu terancam oleh dinamika hidup. Peristiwa itu terangkum dalam puisi “Pohon Tua di Halaman” (halaman 59). Di halaman rumah, pohon tua menjelma saksi bisu keluarga kecil yang bertumbuh, dan pelan-pelan kehabisan hari bersama. Dulu ada denting piring, nasi hangat, dan teri jabrig di atas tikar botram. Kini, perjumpaan-perjumpaan itu jarang, tergerus waktu yang meluncur tanpa ampun. Ratna tak sedang menulis gulana nostalgia. Ia memotret bagaimana ruang domestik pun bisa terasing oleh hidup itu sendiri.
Keterasingan itu mencapai puncak ketika tubuh sepenuhnya disedot rutinitas urban. Dalam puisi “Tubuh yang Sibuk” (halaman 60), tersaji ironi potret diri: tubuh yang mondar-mandir memberi seminar, membaca makalah, berselancar dengan gawai, dan melintasi lini masa media sosial demi media sosial. Saya teringat sosok flaneur Walter Benjamin: manusia modern yang berkeliaran di kota, namun terasing dari diri sendiri. Ketika tubuh eksis di ruang publik, Ratna justru melontarkan pertanyaan yang menyengat: di mana hati menyepi? Semakin kita terkoneksi, semakin kita kehilangan waktu memeluk diri sendiri.
Dan ketika hati tak lagi memiliki ruang menyepi, tak jarang kekerasan lekas mengambil peran. Dalam puisi “Bhinneka Tunggal Ika” (halaman 67), Ratna tak latah menyampaikan orasi politik; ia hanya mengusap dada melihat bagaimana tanah air yang dulu sejarah tumpah darah, kini hanya sebatas serapah: keadaan di mana bernapas serasa melakukan kesalahan. Keriuhan yang tak diendapkan dalam batin, akhirnya berbuah sikap saling curiga dan mudah mengecam. Dari ruang pribadi yang sibuk, kecemasan itu meluber menjadi keretakan sosial di ruang publik.
Bahkan dalam luka sosial yang lebih besar, seperti tragedi dalam puisi “Dari Danau Lumpur Lapindo” (halaman 75), Ratna memilih nada dasar yang sama: meratap, bukan mengutuk. Ketika matematika bisnis pengusaha menggeser ratusan nyawa dan menenggelamkan desa, jiwa-jiwa terendam itu berseru dari balik lumpur bahwa utang dan rumah musnah bukan lagi urusan di sisi Tuhan. Ada kepasrahan yang menyayat di sini. Kritik Ratna terhadap ketidakadilan sosial tak dimuntahkan dengan retorika garang, melainkan dari larik-larik keharuan menatap masyarakat yang terus dikorbankan kalkulasi angka.
Endap Batin
Puisi-puisi Ratna dalam buku ini saling bertaut, membentuk satu sikap kepenyairan. Ia tak berniat membangun mitos besar, tak bercita-cita mengubah dunia lewat slogan, dan tak tergoda estetika megah. Kekuatannya justru tersirat dalam keberaniannya untuk tetap jujur dan bersahaja. Dari ruang kamar sunyi, meja makan keluarga, hingga danau lumpur yang membenamkan desa, Ratna konsisten menggunakan bisikan nurani. Puisi, baginya, rumah berlindung dari gelombang penyederhanaan zaman: tempat manusia bisa kembali merasakan kerapuhannya tanpa perlu malu.
Bagi generasi hari ini yang letih oleh standar pencapaian, krisis identitas, dan tekanan untuk tampil sempurna di lini masa, sikap pasrah dan menunda yang ditawarkan Magma menjadi sangat relevan. Anak-anak muda yang dibesarkan dalam budaya serba instan sering lupa, tak semua luka bisa segera disembuhkan, tak semua kecemasan mesti dipamerkan menjadi tontonan. Ada keberanian dalam laku diam, duduk sejenak, dan mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja.
Menunda api bukanlah memadamkan rasa, melainkan memberi ruang bagi pengeraman yang dingin, menyiratkan keberanian untuk menyimpan panas dalam batin. Kumpulan puisi Magma karya Ratna Ayu Budhiarti, sekali lagi, mengingatkan kita pada sesuatu terlupa: kata-kata dan tindakan akan memiliki bobot jika lahir dari ketenangan batin yang diendapkan. Menjaga agar api kemanusiaan tak lekas padam menjadi abu sia-sia.
12/10/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


