CATATAN SI BOB #46: Nasib Adalah Kesunyian Masing-masing
Lewat kumpulan puisi Rumah dalam Tas, Kamal Arusatu mengingatkan kita untuk berani membawa "rumah" itu dalam dada, sepanjang sunyi nasib, ke mana pun bergerak.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
21 Oktober 2026
BandungBergerak – Banyak orang menyangka kebersamaan bisa menghapus isolasi. Namun dalam puisi “Pemberian Tahu” yang ditulis 1946 lalu, Chairil Anwar mengingatkan kita pada sebuah kenyataan getir: “Bukan maksudku berbagi nasib / nasib adalah kesunyian masing-masing.”
Nasib memang bukan sesuatu yang bisa dibagi seperti sekerat roti. Nasib, menyerupai ruang privat, di mana tiap individu berdiri, telanjang, menatap suratan hidupnya. Benang merah kesunyian nasib inilah yang secara subtil mengikat seluruh perjalanan hidup dan karya Kamal Arusatu.
Ingatan saya melayang ke Taman Parterre, 15 tahun silam, pada sebuah siang di acara orientasi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Di tengah riuh kegiatan itu, Kamal hadir tanpa gerik senioritas. Ia justru ikut duduk melingkar bersama saya dan mahasiswa baru lainnya. Merokok dan berbagi kopi. Ia tuangkan juga sedikit pengalaman dan hasratnya terhadap puisi.
Di balik kehangatan itu, yang baru saya sadari sekarang, ada ketekunan mandiri yang ia kelola. Sebentuk kerja puisi yang menepatkan pengalaman tubuh dan batin sebagai sumber kata-kata. Sebuah jarak halus yang kini terekam dalam buku puisinya, Rumah dalam Tas (Rumah Koclak Press, 2026).
Baca Juga: CATATAN SI BOB #43: Formulir Puisi
CATATAN SI BOB #44: Haiku Acep Zamzam Noor, Sebuah Latihan Memerhatikan
CATATAN SI BOB #45: Puisi Menunda Api
Gerbong Memoar
Di dalam gerbong kereta api Cibatu yang berderak, selepas lomba baca puisi di Tasikmalaya, kami perlahan memaknai kesunyian nasib itu bersama kepulan asap kretek. Dari bordes, kami tatap kegelapan Priangan yang merentang di celah lawang. Obrolan pun mengalir, tentang perpuisian dan nasib kere yang mengintai penyair di negeri ini. Kamal mengisap rokoknya, lalu berkata, “Menulis puisi memang jalan sunyi.” Setidaknya itu yang saya ingat. Dari bordes kereta, benih gagasan untuk mengemas keresahan ke dalam tas perjalanan sebenarnya mulai bertunas.
Bagi mahasiswa yang kerap memindahkan tidur dari satu kos ke ruang sempit lain, kesunyian nasib itu berawal dari kerapuhan tempat tinggal. Dalam puisi "Rumah dalam Tas" (halaman 2), Kamal membayangkan malapetaka: kamar terbakar, sumur penuh lumpur, dan seluruh kampung halaman tenggelam. Namun dari puing-puing itu, ia tak meratap. Ia memilih melangkah dan mendirikan rumah dalam perjalanan: rumah tanpa meja, tanpa kursi dan televisi. Fondasinya cuma dua: "tumpukkan buku dan gundukkan baju", dengan "tanpa pengantar dan daftar pustaka". Sebuah tas, sebuah simbol eksistensial. Ketika kepemilikan fisik roboh, ketiadaan bukan bentuk kekalahan, tetapi rumah yang jujur dan merdeka dari akumulasi materi.
Ada kejujuran diksi, kejernihan seorang manusia kampung yang menatap perkotaan tanpa hilang kepekaan. Dalam puisi "Hijrah Rumah-rumah" (halaman 13), Kamal tak memaksakan akrobatik bahasa dan metafora. Ia membiarkan perabotan mengambil alih drama kesepian manusia. Daun-daun berguguran dari pintu, pintu mengucapkan perpisahan pada jendela yang memecahkan kacanya sendiri, dan lemari-lemari bergerak mencari baju yang benangnya melepaskan diri dari jahitan. Rumah tak lagi papan primer, melainkan ruang yang ikut bermigrasi bersama luka penghuninya. Dan di ujung puisi, sebaris kesadaran menancap dingin: rumah-rumah itu akan hijrah dan pulang padamu, sementara kau sendiri akan pergi selamanya.
Lalu, sebuah teater terjadi. Layar televisi menyala, dan Kamal ada di sana. Ia berdiri di bawah lampu sorot panggung komika, memegang mikrofon, melontarkan kelakar, memicu humor publik. Saya dan kawan-kawan ASAS sering nobar di sekre, tertawa, tapi juga tertegun. Di balik punchline yang kocak, tersirat kritik terhadap kekakuan iklim sastra dan kebobrokan sistem pendidikan. Panggung komedi bagi Kamal, bukan pengkhianatan atau pelarian. Komedi adalah cara lain menertawakan absurditas ketika kalimat-kalimat formal kerap gagal mengetuk pintu nalar.
Saya teringat Nenden Lilis, dosen sastra favorit kami. Dalam perkuliahannya, ia mengatakan bahwa kematangan penyair tak diukur dari sekadar bertukang kata-kata demi mengesankan pembaca. Kalimat kampus itu terngiang lagi ketika saya membaca "Kepada Bayangan" (halaman 22). Kamal menggambarkan perjalanan menuju barat dengan kematangan stilistiknya, "tempat matahari memberat / dan segala cahaya bersujud khidmat / menegakkan rakaat-rakaat". Namun perenungan itu mendadak terbentur kesadaran eksistensial tatkala ia dicegat persimpangan, "dikutuk dan dilaknat kesepian". Bayangan, dalam puisi ini, adalah prasyarat hadirnya masa depan. Tanpa berani menekuri masa silam dan kelam kesepian, manusia tak kan tiba pada versi terbaiknya.
Kedalaman itu berlanjut dalam "Adalah Mu", puisi yang Kamal tulis 4 tahun setelahnya. Dengan hemat, hampir tanpa ornamen, ia menyentuh ranah kepasrahan yang pekat. “jika ini perjalanan, ke arah manapun perjalanan genggamlah erat tangan... jika ini kepulangan, darimana pun kepulangan rentangkanlah pelukan.” Larik-larik itu tegas, tanpa kesan moralis atau melankolis. Tak penting lagi apakah hidup sebuah petualangan atau kepulangan. Ketika dunia dihayati sebagai manifestasi Yang Ilahi, asal-usul dan tujuan melebur menjadi satu. Bahasa puisi di sini berhenti bersolek, ia pasrah dalam keheningan yang tuntas.
Namun Kamal tak membiarkan dirinya mengapung di awan-awan teologi. Dalam "Di Negeri Viral" (halaman 54), ia kembali menyeret puisinya ke arena banal: layar ponsel pintar kita. Ia memotret zaman, di mana status media sosial dipahat menjadi bait-bait religius, dan ritual hampa spiritualitas. Siapa pun bisa menjadi nabi atau rasul, tak peduli asal-usul, selama memiliki followers banyak dan taat. Harapan manusia modern yang cemas digantikan keriuhan algoritma. Kamal mencatat kiamat kecil kebudayaan ini dengan nada dingin: sebuah masyarakat yang menyembah citra sekaligus kecolongan dirinya.
Kritik sosial Kamal mencapai puncak dalam puisi "Derita Apalagi yang Akan Kau Tanamkan?" (halaman 59). Ditujukan "kepada mantan Raja Konoha", puisi ini memadukan jeritan warga kelas bawah dengan satire media sosial. Kamal merentang daftar luka riil kita: Kendeng, Dago Elos, Rempang, Morowali. Di saat rakyat harus antre elpiji, pertalite, BPJS, hingga antre melamar kerja, para elite justru bertindak sewenang-wenang dan memamerkan kemewahan. Teriakan jujur "elu punya kuasa, elu ga harus antri / TAI!" hingga kemarahan atas KTP elektronik yang terus difotokopi, bukanlah bentuk estetik, tetapi bahasa perlawanan yang muak basa-basi politik.
Sikap Kepenyairan
Membaca puisi-puisi dalam Rumah dalam Tas menghadirkan rasa ironi halus tentang posisi dan sikap seorang penyair. Di satu sisi, Kamal meraih panggung populer, tepuk tangan penonton, dan sorot lampu panggung komedi. Namun di sisi lain, saat membentangkan lembaran buku setebal 61 halaman ini, puisi-puisinya justru karib dengan kemiskinan, bau keringat, dan ketidakadilan yang menimpa orang-orang kalah. Popularitasnya tak membuat ia berjarak dari tanah becek. Keputusannya menasbihkan diri sebagai "Ketua DPP Dulur Nganggur" menjadi cermin ironis: ia menolak dirinya menjadi alat dari mesin kapitalisme yang mengukur nilai manusia dari produktivitas ekonomi dan status sosial.
Latar belakang Kamal Arusatu, yang dikenal sebagai Kamal Ocon dan pernah menembus finalis SUCI 6 Kompas TV, menjadikannya sosok unik dalam peta literasi kita. Sejak berkuliah di UPI, ia tak cuma menulis puisi, tapi juga mengasah skenario film pendek dan sketsa komedi di komunitas Standupindo Bandung. Wawasan literasi membuat humor-humornya tidak dangkal. Dunia komedi memberinya kepekaan ritme wicara dan kelincahan menangkap absurditas keseharian, sementara dunia puisi memberinya keheningan untuk merenung di balik luka itu.
Barangkali, kita takkan menemukan rumah dengan dinding kokoh di dunia yang rapuh dan riuh ini. Namun lewat Rumah dalam Tas, Kamal mengingatkan kita untuk berani membawa "rumah" itu dalam dada, sepanjang sunyi nasib, ke mana pun bergerak. Sebab pada akhirnya, di antara keriuhan panggung dan jalan perjuangan yang panjang, nasib memang kesunyian kita masing-masing, dan rumah terbaik adalah keberanian kita untuk menghuninya.
15/10/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


