CATATAN SI BOB #47: Kapuk yang Berterbangan
Dua dekade lalu Putu Fajar Arcana menulis cerpen Pernikahan Wardani dalam Bunga Jepun. Mengingatkan kita pada realitas pahit yang dihadapi perempuan di masa kini.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
27 Oktober 2026
BandungBergerak – Virginia Woolf dalam A Room of One's Own menulis dengan dingin: tanpa uang dan kamar sendiri, kedaulatan seorang perempuan hanyalah fiksi. Tesis itu terasa karib di sini. Di negeri yang gemar memuji keagungan tradisi, perempuan kerap disanjung dalam nyanyian dan wejangan. Namun, sanjungan menguap tatkala perkara bergeser ke hal-hal konkret: siapa yang memegang sertifikat tanah, siapa menguasai akun bank, dan siapa yang menentukan nasib. Kemandirian ekonomi bukan jargon, tetapi batas paling riil antara menjadi “yang berdaulat” atau “yang gampang” dibuang ketika tak lagi dibutuhkan.
Saban tahun, Komnas Perempuan menyodorkan angka muram. CATAHU 2025 mencatat lebih dari 370 ribu kasus kekerasan, tertinggi dalam sedekade, dengan ranah domestik dan pemerasan ekonomi. Di selasar pengadilan, perempuan antre dengan wajah letih. Mereka bukan malas. Nama mereka memang tak pernah ada di dalam akta kepemilikan. Terlebih hari ini, pemerasan itu makin canggih dan tak kasat mata: KTP dan biometrik istri yang dicuri untuk jeratan pinjol, penguasaan akses rekening perbankan digital, hingga jebakan cicilan yang ditumpukkan ke pundak atas nama kepatuhan. Hukum berdiri di sana, kaku dan berdebu, lalu mendadak tuli.
Deretan angka itu menemukan wajah manusianya dalam “Pernikahan Wardani”, salah satu cerpen Putu Fajar Arcana dalam Bunga Jepun (Buku Kompas, 2003). Putu tak menghadirkan Bali untuk brosur pelancong. Ia mencatat tragedi sunyi: bagaimana tatanan adat, pengerukan modal, dan dominasi lelaki bekerja melucuti seorang perempuan sampai tak bersisa. Cerita ini ditulis dua dekade lalu, namun desis penindasannya masih terasa seperti berita buruk di lini masa ponsel kita pagi ini.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #44: Haiku Acep Zamzam Noor, Sebuah Latihan Memerhatikan
CATATAN SI BOB #45: Puisi Menunda Api
CATATAN SI BOB #46: Nasib Adalah Kesunyian Masing-masing
Pelupuk Kelam
Cerita dibuka di tepi jalan raya Denpasar. Perabotan rumah tangga dilempar keluar, kasur robek, dan kapuk beterbangan dihantam angin kendaraan: alegori visual tentang ruang privat yang dihancurkan di tengah publik. Di sana ada polisi berdiri "mengamankan situasi". Sebuah ironi. Aparat hadir bukan melindungi yang lemah, melainkan memberi stempel yuridis bagi lelaki yang memegang surat kepemilikan. Wardani tak sanggup melawan. Suaminya minggat. Ketika bertemu Kurnia di swalayan, mata Wardani sudah cekung oleh bayang-bayang hitam.
Di meja Kafe Jukung, cerita terkuak. Wardani diikat pernikahan nyentana, pranata adat Bali ketika perempuan melamar lelaki agar hak waris tak jatuh ke tangan orang luar. Dalam ritual, Wardani diangkat menjadi purusa, secara spiritual dijadikan "lelaki". Di sinilah kecurangan tradisi terjadi: status purusa diberikan hanya sewaktu keluarga butuh menyelamatkan harta, namun hak atas keputusan material tetap dirampas lelaki yang masuk ke rumah. Beratha, suaminya yang dosen sekaligus penjudi sabung ayam (matajen), balik nama seluruh sertifikat tanah dan bisnis keluarga. Ketika harta ludes dan orang tua meninggal, Wardani diusir seperti gelandangan.
Di sini Putu meletakkan gugatan terhadap kekerasan semantik. Nasib Wardani seakan berdialog dengan Sanikem dalam Bumi Manusia: gadis yang dipaksa tunduk demi status sosial, lalu ketika menjadi Nyai Ontosoroh, kedaulatannya dipereteli hukum kolonial. Status purusa pada Wardani nyatanya ilusi linguistik: permainan simbolik yang memberi mahkota spiritual palsu untuk menutupi kenyataan bahwa hak ekonominya sedang dikuras. Tradisi tanpa akal sehat berubah menjadi berhala yang memangsa penganutnya. Wardani tahu ia korban, tetapi doktrin "kehormatan keluarga adalah segalanya" telah mengunci mulutnya sejak dalam pikiran.
Putu tak menulis dengan nada merengek. Ia menyampaikan kepedihan sistemik ini lewat kalimat tenang, jernih, dan hemat. Kata purusa, pradana, hingga daerah carik hadir bukan sebagai etnisitas yang genit, melainkan kosakata dari jerat sosial. Kesedihan terasa mencekat karena disajikan di balik detail bersahaja wajah Wardani: kantung mata menghitam dan polesan tipis lipstik merah bata, yang menjadi benteng pertahanan eksistensial sekaligus usaha terakhir merawat sisa martabat di hadapan dunia yang merendahkannya.
Secara tersirat, cerpen ini menelanjangi persetubuhan feodalisme adat dan kapitalisme predatori. Orang tua Wardani mengira aturan kuno bisa mengamankan harta. Mereka lupa, di zaman modern, tradisi gampang ditunggangi demi keuntungan pribadi. Beratha memanfaatkan segalanya: gelar akademisi, kekerasan preman pariwisata, hingga kebiasaan judi. Dengan culas, ia menguras aset keluarga istri. Wardani yang terdidik dan pernah bekerja di bank tetap dilucuti haknya. Kepintaran perempuan tak cukup untuk menjadikannya subjek mandiri, selama namanya tak berdiri sendiri di atas kertas kepemilikan.
Sebab itu “Pernikahan Wardani” tak pernah membeku seperti fosil. Apa yang ditulis Putu dua dekade lalu berulang hari ini dalam performa yang lebih mutakhir: perampasan aset berbasis aplikasi, pencurian identitas digital oleh pasangan (doxxing/scamming finansial domestik), hingga eksploitasi ekonomi yang dibungkus ilusi kesetaraan di era gig economy. Modusnya bergeser ke layar kaca, tetapi logika dasarnya tetap sama: perampasan kedaulatan ekonomi perempuan yang dilegitimasi kontrol psikologis dan dominasi pasangan. Realitas sosial kita ternyata belum beranjak.
Hak Bertahan
Di Lumintang, di antara deretan gubuk persawahan, cerita menemukan ujungnya yang paling dingin: Wardani, perempuan terdidik yang pernah memegang status purusa, kini duduk dengan mata sembab menanti antrean tamu. Kebanggaan runtuh ketika seluruh penopang hidupnya lenyap. Catatan Komnas Perempuan menyodorkan kenyataan yang serupa: mayoritas kekerasan finansial berakhir manakala perempuan dilucuti dari ruang ekonomi, lalu dibiarkan sengsara begitu retak rumah tangganya.
Cerpen “Pernikahan Wardani” tentu tak ditulis untuk sekadar memupuk iba pembaca atau mengenalkan tradisi semata, tetapi lebih jauh dari itu, menyingkap bagaimana kedaulatan manusia bekerja dan dihancurkan. Cerpen ini kembali mengingatkan kita pada sebuah realitas pahit negeri ini. Tanpa penguasaan atas hidup sendiri, setinggi apa pun pendidikan dan status kita, akan selalu mudah robek dan hancur layaknya kapuk yang beterbangan, di tangan kekuasaan yang gemar menggelar ritual dan keharmonisan semu.
23/10/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


