• Kolom
  • PAYUNG HITAM #81: Dari Taman Cikapayang ke Taman Film, Mengembalikan Sepak Bola Kepada Semua

PAYUNG HITAM #81: Dari Taman Cikapayang ke Taman Film, Mengembalikan Sepak Bola Kepada Semua

Kami ingin mengingat kembali bahwa sepak bola tumbuh melalui pertemuan, kegembiraan bersama, dan hubungan sosial yang tidak selalu membutuhkan transaksi.

Chan

Buruh Pariwisata

Di lapangan-lapangan informal, batas sosial cenderung mencair. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

23 Oktober 2026


BandungBergerak – Menonton Persib tidak harus selalu berarti membeli tiket, memesan tempat, atau mengeluarkan uang hanya untuk bisa berkumpul. Orang cukup datang, mencari tempat, lalu duduk bersama orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal, tetapi memiliki kecintaan yang sama terhadap klub kebanggaannya. Sepak bola menjadi alasan untuk berkumpul, sementara ruang publik menyediakan tempat bagi pertemuan itu untuk berlangsung. Semangat tersebut menjadi salah satu alasan kami (Badaksinga Movement) kembali menginisiasi kegiatan nonton bareng (nobar) Persib di Taman Film, Bandung. Berangkat dari semangat Return to the Roots, kami ingin mengingat kembali bahwa sepak bola tumbuh melalui pertemuan, kegembiraan bersama, dan hubungan sosial yang tidak selalu membutuhkan transaksi. Bagi kami, semangat ini bukan sekadar ajakan untuk bernostalgia, melainkan upaya merawat kemungkinan agar sepak bola tetap menjadi pengalaman bersama yang dapat dinikmati tanpa tiket masuk.

Sebelumnya, kami berkumpul di Taman Cikapayang. Namun, setelah tenda kepolisian didirikan dan menempati area yang biasa kami gunakan, ruang untuk berkumpul menjadi terbatas. Kami pun memindahkan kegiatan ke Taman Film. Perpindahan ini bukan hanya soal mencari tempat baru. Ada persoalan yang lebih mendasar di baliknya: bagaimana ruang publik dikelola, dan sejauh mana penggunaan ruang oleh suatu institusi dapat memengaruhi akses masyarakat terhadap tempat yang seharusnya dapat digunakan bersama? Keberadaan aparat di ruang publik tentu tidak dengan sendirinya menjadi persoalan. Namun, ketika penggunaan ruang oleh suatu institusi membuat kegiatan warga kehilangan tempat, kita patut mempertanyakan bagaimana kepentingan masyarakat ditempatkan dalam pengelolaannya. Ruang publik semestinya tidak hanya dipahami sebagai lahan yang bisa ditempati dan diatur, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Taman bukan sekadar ruang kosong di antara bangunan kota. Ia menjadi berarti ketika orang dapat menggunakannya untuk bertemu, beristirahat, berbincang, bermain, atau menyelenggarakan kegiatan bersama. Ketika kesempatan itu menyempit, yang dipertaruhkan bukan hanya lokasi sebuah kegiatan, melainkan juga kesempatan masyarakat untuk mengambil bagian dalam kehidupan kotanya sendiri. Berpindah ke Taman Film memungkinkan kegiatan kami tetap berlangsung. Namun, perpindahan tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan di Taman Cikapayang. Pertanyaan tentang akses, pengelolaan, dan keberpihakan terhadap kebutuhan warga tetap perlu diajukan.

Taman Film dikenal sebagai ruang publik yang berkaitan dengan kegiatan menonton dan berkumpul. Namun, ketika fasilitas layar yang dahulu menjadi salah satu daya tariknya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, muncul pertanyaan: apakah fungsi sebuah ruang publik ikut berhenti ketika salah satu fasilitasnya tidak lagi berjalan? Bagi kami, fungsi sebuah taman tidak semestinya hanya bergantung pada fasilitas yang tersedia. Ruang publik juga hidup melalui orang-orang yang menggunakannya. Pertemuan, percakapan, kegiatan bersama, dan hubungan sosial yang terbentuk di dalamnya merupakan bagian dari fungsi ruang tersebut. Melalui nobar Persib, kami mencoba memanfaatkan ruang yang tersedia untuk kegiatan bersama. Pertandingan menjadi alasan orang-orang datang, tetapi pengalaman yang terbentuk tidak berhenti pada layar. Ada yang bertemu kembali dengan kawan lama, ada yang berkenalan dengan orang baru, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati pertandingan bersama orang-orang di sekitarnya.

Guy Debord dalam  Tesis-Tesis tentang Revolusi Kebudayaan Mengingatkan kita bahwa Kebudayaan tidak cukup dipahami sebagai karya yang dipajang atau hiburan yang dikonsumsi. Ia juga berkaitan dengan bagaimana manusia membentuk dan menjalani kehidupan sehari-hari. Gagasan tersebut bukan berarti setiap kegiatan harus disebut radikal atau revolusioner. Pertanyaannya adalah apakah orang-orang yang datang hanya ditempatkan sebagai penonton, atau memiliki kesempatan untuk ikut membentuk suasana dan pengalaman yang tercipta. Ketika nobar menjadi ruang untuk bertemu, berbagi cerita, mendengarkan musik, dan membangun hubungan di luar pertandingan, kegiatan itu mulai memiliki arti lebih luas daripada sekadar menonton sepak bola.

Baca Juga: PAYUNG HITAM #78: Dari Bandung Darurat Begal Menuju Darurat Moral, Ketika Kebencian menjadi Spektakel
PAYUNG HITAM #79: Mengingat Kembali Sebuah Tulisan tentang Kesetaraan, Patriarki, dan Beban Menjadi Laki-laki
PAYUNG HITAM #80: Khayalan Utopis tentang Gigs, Uang, dan Ruang yang Bisa Kita Miliki

Sepak Bola Jangan Berhenti Menjadi Barang untuk Dikonsumsi

Hari ini, sepak bola telah menjadi bagian dari industri hiburan yang besar. Pertandingan disiarkan melalui berbagai layanan, dikelilingi sponsor dan iklan, serta hadir dalam beragam bentuk penjualan dan konsumsi. Perkembangan tersebut tidak berarti bahwa semua unsur komersial dalam sepak bola harus ditolak. Namun, kita tetap perlu bertanya: apakah kesempatan menikmati sepak bola bersama semakin bergantung pada kemampuan untuk membayar?

Dalam The Society of the Spectacle, Guy Debord menjelaskan bahwa tontonan bukan sekadar kumpulan gambar atau tayangan, melainkan hubungan sosial antarmanusia yang dimediasi oleh citra. Kritik ini membantu kita melihat bahwa pengalaman menonton sepak bola tidak hanya berkaitan dengan apa yang ditampilkan di layar, tetapi juga dengan bagaimana orang-orang berhubungan satu sama lain di sekitarnya. Ketika menikmati pertandingan harus selalu disertai pengeluaran tertentu, sebagian orang dapat menghadapi hambatan untuk ikut serta. Pengalaman yang seharusnya bisa dibagikan berisiko berubah menjadi sesuatu yang hanya mudah diakses oleh mereka yang mampu membayar. Karena itu, nobar gratis menjadi salah satu cara untuk membuka akses yang lebih luas. Dalam kegiatan “Badak Singa Movement”, orang tidak perlu membeli tiket masuk atau paket makanan dan minuman untuk bisa bergabung. Kami ingin agar kesempatan berkumpul tidak ditentukan oleh kewajiban bertransaksi. Sepak bola dapat menjadi alasan untuk bertemu, bukan semata-mata produk yang harus dibeli untuk dinikmati. Meski begitu, kami tidak menganggap bahwa kegiatan gratis dengan sendirinya telah menghapus komersialisasi sepak bola. Nobar tetap berlangsung di tengah sistem yang jauh lebih besar daripada kegiatan kami. Yang dapat kami lakukan adalah membangun alternatif dalam lingkup yang kami punya: membuka kegiatan bagi siapa saja, mengurangi hambatan ekonomi, dan memberi ruang bagi orang-orang untuk menikmati pertandingan bersama. Bagi kami, hal itu merupakan upaya kecil yang layak terus dilakukan.

Semangat No Class, No Border bukan berarti kami menganggap bahwa perbedaan kelas sosial dan berbagai batas dalam masyarakat bisa hilang begitu saja hanya karena orang berkumpul di satu tempat. Kami memahami bahwa setiap orang datang dengan latar belakang, pekerjaan, penghasilan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Namun, dalam kegiatan nobar, mereka memiliki kesempatan untuk berada di ruang yang sama dan menikmati pertandingan tanpa harus menunjukkan kemampuan ekonomi atau status sosial tertentu. Prinsip ini perlu diwujudkan melalui cara kegiatan dijalankan. Ruang yang terbuka tidak cukup hanya disebut terbuka; orang harus benar-benar memiliki kesempatan untuk datang dan berpartisipasi. Tidak adanya tiket masuk dan kewajiban membeli konsumsi merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesempatan tersebut. Pada saat yang sama, kami tidak ingin menjadikan ruang ini sebagai milik kelompok kami sendiri. Taman Film tetap merupakan ruang publik yang juga digunakan warga lain. Karena itu, kegiatan bersama harus mempertimbangkan kenyamanan dan hak orang-orang di sekitar. Bagi kami, kebersamaan bukan hanya tentang siapa yang berada di dalam lingkaran pertemanan. Ia juga menyangkut bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda, memberi ruang bagi orang lain, dan memastikan kegiatan yang kita bangun tidak justru menutup akses bagi pengguna ruang publik lainnya.

No Class, No Border bukan pernyataan bahwa semua batas telah hilang. Ia merupakan prinsip yang terus perlu diuji melalui tindakan: siapa yang bisa datang, siapa yang merasa diterima, dan bagaimana ruang bersama digunakan tanpa menciptakan batas baru.

Situationist International (SI) mengkritik kehidupan masyarakat yang menempatkan manusia dalam posisi sebagai penonton pasif–orang yang lebih banyak menyaksikan pengalaman yang disediakan daripada ikut menentukan bagaimana kehidupannya dijalani. Kritik ini mengajak kita memikirkan kembali hubungan antara kebudayaan dan kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan nobar, kami melihat kemungkinan untuk memperluas pengalaman menonton menjadi pertemuan sosial. Orang-orang tidak hanya datang untuk melihat pertandingan, tetapi juga dapat berbincang, bertukar cerita, mendengarkan musik, dan menghabiskan waktu bersama setelah pertandingan selesai. Kehadiran DJ atau selector setelah pertandingan, misalnya, dapat menjadi bagian dari pertemuan yang berlanjut di luar sembilan puluh menit permainan. Sepak bola menjadi titik awal, sedangkan hubungan sosial yang terbentuk memberi alasan untuk tetap tinggal dan berinteraksi. Namun, kami tidak menganggap bahwa setiap kegiatan musik atau keramaian otomatis menjadi sesuatu yang radikal. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan itu dibentuk, apakah orang-orang memiliki kesempatan untuk terlibat, dan apakah ruang tersebut benar-benar memberi tempat bagi pengalaman bersama. Dalam membaca gagasan SI membantu kita melihat bahwa kehidupan sehari-hari tidak harus selalu dijalani sebagai rangkaian aktivitas yang telah ditentukan. Ada kemungkinan untuk membangun cara berkumpul yang berbeda, bahkan melalui kegiatan sederhana seperti menonton pertandingan bersama. Kemungkinan itu patut dirawat, bukan karena nobar dapat menyelesaikan semua persoalan, melainkan karena ruang untuk bertemu dan melakukan sesuatu bersama semakin penting ketika banyak pengalaman sehari-hari berubah menjadi urusan konsumsi.

Mengembalikan Sepak Bola Kepada Semua

Ruang publik tidak akan tetap terbuka dan nyaman hanya karena tidak ada tiket masuk. Ia juga membutuhkan tanggung jawab dari orang-orang yang menggunakannya. Karena itu, kami berupaya menjaga kebersihan setelah kegiatan berlangsung dan membuka donasi kolektif bagi para penonton yang hadir untuk ikut berkontribusi secara sukarela. Parkir yang dikelola warga setempat juga menjadi bagian dari aktivitas di sekitar lokasi. Pengelolaannya perlu memperhatikan kejelasan informasi bagi pengunjung serta hubungan yang baik dengan warga di sekitar taman.

Bagi kami, merawat ruang publik berarti memahami bahwa taman bukan hanya tempat untuk memenuhi kebutuhan kegiatan sendiri. Ada warga yang tinggal di sekitarnya, orang-orang yang menggunakan taman untuk keperluan lain, dan kepentingan bersama yang perlu dihormati. Menghidupkan ruang publik bukan berarti bebas menggunakannya tanpa memikirkan orang lain. Justru, keterbukaan harus berjalan bersama tanggung jawab. Ruang yang digunakan bersama perlu dirawat bersama pula. Prinsip ini juga menjadi pengingat bagi kami sendiri. Jika kami ingin ruang publik tetap terbuka bagi kegiatan masyarakat, kami perlu memastikan kegiatan yang kami bangun tidak menjadi alasan bagi orang lain kehilangan kesempatan untuk menggunakan ruang yang sama.

Dari Taman Cikapayang ke Taman Film, perjalanan ini memperlihatkan bahwa persoalan ruang publik bukan hanya tentang lokasi, fasilitas, atau siapa yang sedang menempatinya. Persoalannya juga menyangkut kesempatan masyarakat untuk berkumpul, menjalankan kegiatan, dan ikut menentukan bagaimana ruang kota digunakan. Bagi BadakSinga Movement, nobar Persib merupakan salah satu cara untuk merawat kesempatan tersebut. Kami ingin sepak bola tetap menjadi alasan bagi orang-orang untuk bertemu tanpa harus selalu dibatasi oleh kewajiban konsumsi. Kami juga ingin ruang publik tetap menjadi tempat untuk membangun hubungan sosial, bukan sekadar ruang kosong yang menunggu diisi oleh kepentingan tertentu.

Gagasan Guy Debord dan Situationist International memberi kita sudut pandang untuk memahami bahwa perubahan tidak cukup berhenti pada kritik atau slogan. Ia juga perlu terlihat dalam praktik sehari-hari: bagaimana kita menggunakan ruang, mengatur kegiatan, memperlakukan orang lain, dan menciptakan pengalaman bersama. Tentu saja, satu kegiatan nobar tidak akan menyelesaikan persoalan komersialisasi sepak bola atau menjawab seluruh persoalan pengelolaan ruang publik. Kami juga tidak menganggap kegiatan ini sebagai revolusi yang sudah selesai. Namun, selama masih ada kemungkinan untuk membuat ruang pertemuan yang lebih terbuka, kemungkinan itu layak dicoba dan dikembangkan bersama.

Kami ingin sepak bola kembali menjadi alasan untuk berkumpul. Kami ingin ruang publik dapat digunakan tanpa harus selalu tunduk pada kepentingan yang membatasi masyarakat. Dan kami ingin kebersamaan tidak berhenti sebagai gambar orang-orang yang menonton pertandingan, tetapi hadir sebagai pengalaman nyata yang dibentuk oleh orang-orang itu sendiri. Ruang publik bukan milik satu institusi, satu kepentingan, atau satu kolektif. Ia harus terus diperjuangkan agar dapat digunakan, dihidupi, dan dirawat bersama.

Sepak bola seharusnya menjadi pengalaman yang dapat dibagikan kepada semua, bukan sekadar komoditas untuk dikonsumsi.

 

***

*Tulisan kolom PAYUNG HITAM merupakan bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak dan Aksi Kamisan Bandung

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//