PAYUNG HITAM #80: Khayalan Utopis tentang Gigs, Uang, dan Ruang yang Bisa Kita Miliki
Kita mengkritik masyarakat konsumsi, tetapi pada akhirnya mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar mendapatkan akses yang lebih mudah.

Chan
Buruh Pariwisata
27 Agustus 2026
BandungBergerak – Saya sering membayangkan bagaimana jadinya sebuah gigs jika uang tidak selalu menjadi syarat pertama untuk bisa hadir.
Bukan karena saya anti terhadap biaya produksi, bukan pula karena saya menganggap musisi, sound engineer, atau orang-orang yang bekerja di balik sebuah acara tidak perlu dibayar. Justru sebaliknya, saya tahu sebuah gigs membutuhkan tenaga, waktu, peralatan, transportasi, tempat, dan biaya yang nyata.
Tetapi saya juga pernah berada di posisi ketika ingin datang ke sebuah gigs, ingin bertemu kawan-kawan, ingin menonton langsung band yang saya sukai, tetapi uang di dompet tidak cukup dan pada akhirnya saya hanya bisa melihat dokumentasinya dari jauh.
Dari pengalaman kecil itu, muncul sebuah pertanyaan dari saya dan kawan-kawan unacceptable tentang bagaimana jika akses terhadap gigs tidak selalu ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk membeli tiket?
Saya dan kawan-kawan membayangkan sebuah gigs di mana tiket bisa digantikan dengan membawa sekantong beras, buku, pakaian layak pakai, makanan kucing atau mainan bekas yang sudah tidak digunakan untuk kemudian disalurkan kepada anak-anak yatim piatu atau mereka yang membutuhkan.
Bukan berarti semua gigs harus seperti itu.
Ini hanya sebuah percobaan dalam kepala saya dan kawan-kawan unacceptable tentang bagaimana musik dan pertemuan bisa menghasilkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar dua jam suara keras dan transaksi tiket. Sebab di setiap gigs kerap kali kita sering menemukan slogan: “NO TICKET, NO SHOW.” Atau bahkan “NO TICKET, BOOTS ON YOUR FACE.”
Saya memahami semangat di baliknya. Sebuah gigs membutuhkan biaya. Band harus dibayar (tergantung kesepakatan dan kondisi masing-masing band), sound harus disewa atau dirawat, transportasi harus ditanggung, Tempat harus dibayar, orang-orang yang bekerja di balik acara juga perlu dihargai.
Tetapi saya rasa kita juga perlu bertanya: “Apakah seseorang yang tidak mampu membeli tiket otomatis tidak memiliki tempat di dalam kultur ini?”
Baca Juga: PAYUNG HITAM #77: Pesta Babi dan Kritik Terhadap Paradigma Pembangunan di Papua
PAYUNG HITAM #78: Dari Bandung Darurat Begal Menuju Darurat Moral, Ketika Kebencian menjadi Spektakel
PAYUNG HITAM #79: Mengingat Kembali Sebuah Tulisan tentang Kesetaraan, Patriarki, dan Beban Menjadi Laki-laki
Ironi
Guy Debord menjelaskan bahwa spectacle bukan sekadar kumpulan gambar, pertunjukan, atau sesuatu yang kita lihat. Spectacle adalah sebuah hubungan sosial yang dimediasi oleh representasi.
Dalam konteks gigs, di sinilah sebuah ironi mungkin muncul. Kita berkumpul untuk melawan keterasingan, tetapi pertemuan itu sendiri dapat berubah menjadi komoditas.
Kita meneriakkan kebebasan, tetapi akses terhadap ruang tersebut memiliki harga di pintu masuk. Kita mengkritik masyarakat konsumsi, tetapi pada akhirnya mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar mendapatkan akses yang lebih mudah terhadap ruang yang sering kali kita bayangkan sebagai ruang bersama.
Dan ironi itu menjadi semakin menarik ketika slogan “NO TICKET, BOOTS ON YOUR FACE” atau “NO TICKET, NO SHOW” terdengar seperti bahasa perlawanan, tetapi pada kondisi tertentu justru dapat menghasilkan mekanisme eksklusi yang tidak jauh berbeda dari apa yang sebenarnya kita kritik.
Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa membayar tiket = kapitalisme dan masuk gratis = revolusi.
Apakah sesederhana itu? Saya rasa tidak.
Masalahnya justru terletak pada bagaimana hubungan sosial terbentuk di sekitar sebuah pertunjukan, bagaimana orang ditempatkan sebagai penonton, konsumen, penyelenggara, atau pekerja, dan bagaimana uang kemudian menjadi salah satu mediator utama dalam hubungan tersebut.
Lalu apa yang bisa dilakukan jika spectacle sudah telanjur menjadi bagian dari gigs?
Di sinilah saya, dan kawan-kawan di unacceptable tertarik pada gagasan detournement. Bukan sekadar menghancurkan spectacle dari luar, tetapi mengambil bentuk, bahasa, atau mekanisme yang sudah ada, kemudian membajaknya, membalik konteksnya, dan memberinya fungsi serta makna yang berbeda.
Kalau tiket sudah menjadi bagian dari mekanisme gigs, mungkin kita bisa membajak konsep tiket itu sendiri. Tiket tidak lagi hanya menjadi bukti bahwa seseorang telah membayar. Tiket bisa menjadi sekantong beras, tiket bisa menjadi buku, tiket bisa menjadi pakaian layak pakai, tiket bisa menjadi mainan, dan mungkin tiket bisa menjadi makanan kucing.
Dengan begitu, harga masuk tidak hanya dihitung dalam rupiah, tetapi dapat berubah menjadi bentuk kontribusi yang kembali kepada komunitas. Dan kalau pertunjukan sudah telanjur menjadi spectacle, mungkin spectacle itu sendiri bisa dibajak.
Gunakan panggung untuk membicarakan penggusuran. Gunakan merchandise untuk membiayai ruang bersama. Gunakan gigs untuk mengumpulkan buku. Gunakan kerumunan untuk membangun jaringan. Gunakan musik bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai alasan untuk menciptakan sesuatu yang tetap hidup setelah amplifier dimatikan.
Kemudian ada persoalan lain tentang ruang. Di sekitar kita terdapat ruang kosong, bangunan terbengkalai, gudang yang tidak digunakan, atau tempat-tempat yang kehilangan fungsi sosialnya.
Saya membayangkan sebuah ruang yang dibangun dan dirawat secara kolektif. Bukan venue komersial yang semata-mata mengejar keuntungan, tetapi ruang otonom untuk musik, diskusi, perpustakaan, zine, dapur bersama, workshop, ruang latihan, dan berbagai aktivitas lain yang lahir dari kebutuhan komunitas.
Tentu saja menggunakan atau mengokupasi ruang kosong bukan sesuatu yang sederhana. Ada persoalan hukum, keamanan, kepemilikan, kondisi bangunan, dan berbagai konsekuensi lain yang harus dipikirkan, melihat kondisi di Indonesia.
Tetapi setidaknya kita bisa mulai bertanya: “Mengapa kita terus-menerus membayar untuk ruang yang tidak pernah benar-benar kita miliki?”
Pertanyaan itu kemudian membawa saya pada persoalan yang lebih kecil, yaitu tongkrongan.
Kadang kita mengumpulkan uang secara kolektif untuk sesuatu yang habis dalam satu malam atau satu hari.
Tidak ada yang salah dengan itu. Bersantai, minum, berbincang, dan bersenang-senang bersama juga merupakan bagian dari menghilangkan stres dari kehidupan atau pekerjaan yang membosankan.
Tetapi bagaimana jika sesekali uang kolektif tersebut dialihkan untuk membeli sesuatu yang bisa digunakan bersama?
Bulan ini satu mikrofon, bulan berikutnya kabel, kemudian mixer, kemudian amplifier dan drum. Sedikit demi sedikit kita membangun sound sendiri. Uang yang biasanya habis dalam satu malam atau satu hari berubah menjadi peralatan yang bisa digunakan berkali-kali. Konsumsi menjadi infrastruktur.
Mungkin suatu hari kita tidak perlu lagi membayar mahal untuk memulai sebuah acara karena sebagian kebutuhan sudah kita miliki sendiri. Mungkin sebuah gigs tidak perlu selalu menjadi produk yang harus dijual. Mungkin ia bisa menjadi ruang bertemu. Mungkin ia bisa menjadi ruang berbagi. Mungkin ia bisa menjadi tempat membangun jaringan. Dan mungkin ia bisa menjadi cara sederhana untuk membangun sesuatu yang otonom.
Utopia
Saya tahu semua ini terdengar terlalu romantis, terlalu idealis bagi orang yang sering membicarakan tentang berpikir realistis, bahkan mungkin terdengar bodoh.
Karena pada kenyataannya sound tetap membutuhkan listrik, peralatan tetap membutuhkan biaya, musisi dan pekerja acara tetap perlu dibayar. Ruang tetap memiliki persoalan hukum dan material.
Saya tidak mempunyai jawaban sempurna untuk semua itu dan saya tidak sedang menawarkan sebuah manifesto yang harus diikuti semua orang.
Ini hanya khayalan utopis saya, sebuah khayalan tentang bagaimana jika gigs tidak berhenti sebagai spectacle yang kita konsumsi selama satu malam atau satu hari.
Bagaimana jika setelah musik selesai, masih ada sesuatu yang tertinggal?
Beras atau sembako di dapur seseorang. Makanan kucing untuk diberikan kepada kucing liar. Buku di tangan orang lain. Pakaian yang kembali digunakan. Mainan yang menemukan pemilik baru. Peralatan sound yang bisa dipakai lagi minggu depan.
Sebuah ruang yang perlahan hidup. Dan sekelompok orang yang mulai menyadari bahwa mungkin kita tidak harus selalu membeli apa yang sebenarnya bisa kita bangun bersama.
Barangkali utopia memang tidak pernah benar-benar selesai. Mungkin ia bahkan tidak pernah benar-benar ada.
Tetapi mungkin fungsi sebuah utopia bukan untuk segera diwujudkan secara sempurna. Mungkin ia hanya perlu menjadi alasan untuk mulai mencoba.
***
*Tulisan kolom PAYUNG HITAM merupakan bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak dan Aksi Kamisan Bandung


