KABANDANG LEMBANG #5: Menyusuri Sumber Mata Air Pancuran Tujuh Kampung Andir
Lokasi mata air yang cukup tersembunyi menjadi tujuan perjalanan kami, mata air Pancuran Tujuh. Sumber mata air yang mengalir melalui banyak pancuran di bawahnya.
Ernawatie Sutarna
Ibu rumah tangga, peminat sejarah, anggota sejumlah komunitas sejarah di Bandung.
30 Oktober 2026
BandungBergerak – Penelusuran jejak mata air di Kampung Andir ini rupanya menyimpan banyak kejutan. Setelah memetakan mata air di lereng Bukit Pangjebolan, ingatan saya tertuju kembali pada penuturan Pak Ego, salah satu narasumber kami yang cukup memahami sejarah lokal di kampung ini. Beliau sempat memberitahu satu fakta unik tentang adanya dua tempat berbeda yang lokasinya relatif dekat, yang menyandang nama serupa, yaitu Mata Air Pancuran Tujuh. Satu terletak di RW 7 Kampung Babakan, dan satu lagi di wilayah RW 14. Rasa penasaran tentang keberadaan mata air ini memicu langkah saya untuk kembali ke lapangan dan mencari tahu tentang keberadaannya.
Pada Sabtu pagi, 24 Oktober 2026, penelusuran mata air dan pengumpulan dokumentasi terbaru Mata Air Pancuran Tujuh di RW 14 pun dimulai. Saya memilih lokasi Mata Air Pancuran Tujuh di RW 14 , karena relatif lebih dekat, dan saya sudah pernah mencoba melalui rute tersebut saat saya berlari pagi sekitar empat tahun yang lalu. Ditemani oleh Ibu, saya mulai menikmati keheningan pagi di antara rapatnya pemukiman warga. Suasana perkampungan, perlahan berganti dengan jalan setapak semen yang asri. Di sisi kiri jalan, terhampar aneka tanaman yang dirawat apik oleh warga, tampak pula satu dua rumah di antaranya. Sementara di sisi kanan, suara gemericik air terdengar dari aliran sungai kecil yang cukup dalam, seolah menjadi penunjuk arah yang menemani langkah kami menuju lokasi mata air yang kami cari.
Perjalanan kami berlanjut saat jalan setapak yang berlapis semen berakhir, dan kami menemukan jalan setapak tanah yang dibatasi rerumputan liar. Penampakan alam yang ditemui di sini cukup kontras. Di sisi kiri kami dibatasi oleh lereng bukit yang kokoh dengan tanaman-tanaman kayu, semak perdu, dan mungkin ada juga kebun milik warga, bukit yang membatasi kampung dengan Jalan Raya Lembang di atas sana. Sementara di sisi kanan, banyak ditemukan lahan perkebunan warga. Di latar belakang kebun-kebun itu, di sebelah timur, lereng Bukit Pangjebolan tegak berdiri dengan vegetasi pepohonan besar yang masih cukup rapat. Rimbunnya tanaman di kedua sisi ini, menjaga suhu udara tetap sejuk, dan mempertahankan karakteristik alami pedesaan yang asri dan nyaman.
Di sepanjang rute tanah tersebut, banyak hal kecil yang menarik perhatian. Aneka bunga liar tampak tumbuh subur, mulai dari bunga matahari yang berwarna cerah, dandelion, hingga bunga perdu putih yang mirip daisy. Lahan di sekitarnya juga banyak dimanfaatkan secara produktif oleh warga lokal untuk menanam berbagai tanaman pangan, seperti tomat, labu siam, dan tanaman singkong. Menyusuri jalur hijau yang sejuk ini memberikan sensasi seperti melakukan perjalanan hiking di alam bebas. Untuk saya, ini menjadi sebuah alternatif rekreasi yang terjangkau, namun menyuguhkan pemandangan hijau dan kesegaran udara pagi yang melimpah.
Jalur tanah yang kami lalui ini cukup dinamis, sesekali menanjak, tapi kami pun menemukan banyak jalan menurun serta kelokan. Suasana dan karakteristik medan seperti ini memperkuat kesan petualangan dan hiking di alam bebas. Beruntung saya dan Ibu memutuskan untuk mengenakan sepatu yang nyaman alih-alih sandal jepit. Hal ini ternyata membantu menjaga mood kami, serta membuat perjalanan di atas tanah yang tidak rata menjadi lebih aman. Di tengah perjalanan, kami sempat berpapasan dan bertegur sapa dengan warga yang hendak melakukan aktivitas harian mereka di kebun. Keberadaan aktivitas ini menunjukkan adanya pemanfaatan lahan yang bernilai ekonomi.
Baca Juga: KABANDANG LEMBANG #2: Trek Lari Pagi Favorit dari Rumah ke Lapangan Sinapeul
KABANDANG LEMBANG #3: Melarung Trauma Sejarah Masa Lalu di Lapangan Sinapeul
KABANDANG LEMBANG #4: Mata Air yang Tak Pernah Kering di Kampung Andir
Mata Air Pancuran Tujuh
Sebelum sampai di titik tujuan, kami juga menemukan satu kolam yang permukaannya sudah tertutup oleh hamparan tanaman eceng gondok. Kondisinya tidak terawat, mungkin karena sudah lama tidak digunakan oleh pemiliknya. Setelah kolam itu, kami melewati satu kolam pemancingan. Tidak jauh setelah melewati pemancingan itu, kami melewati satu jalan menanjak, dan akhirnya kami menemukan lokasi mata air yang cukup tersembunyi yang menjadi tujuan perjalanan kami pagi ini, Mata Air Pancuran Tujuh.
Ternyata yang saya curigai sebagai reruntuhan bangunan empat tahun lalu itu adalah lokasi mata air yang sekarang saya cari. Ada beberapa petak ruang kecil tanpa atap yang berisi pancuran-pancuran dari pipa besi yang disumbat dengan plastik kemasan. Air mengalir dari sela sumbatan plastik itu. Jernih. Dengan sedikit memanjat, saya berhasil melihat apa yang berada di balik dinding yang berada di bagian atas pancuran-pancuran itu. Ternyata di sanalah kolam sumber mata air yang mengalir melalui banyak pancuran di bawahnya. Kolam tersebut banyak ditumbuhi tanaman air, tapi airnya bersih dan jernih. Menurut informasi yang kami dapatkan dari Pak Ego dan beberapa warga lainnya, Pancuran Tujuh ini sering digunakan warga untuk mencuci, khususnya mencuci pakaian. Tapi saat kami tiba di lokasi, suasana pancuran masih sepi, tidak tampak seorang pun di sana. Selain bilik-bilik berpancuran, ada pula satu bangunan berupa bak tertutup yang dilengkapi pipa-pipa paralon yang cukup besar. Sayang, kami belum mengetahui fungsi pipa-pipa tersebut. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan pulang, kami beruntung bertemu dan dapat berbincang dengan seorang warga yang sedang berjalan dengan membawa cucian menuju sumber mata air tersebut. Ibu Eulis (58 tahun), merupakan salah satu warga yang hingga saat ini masih aktif memanfaatkan langsung air bersih dari Pancuran Tujuh untuk keperluan sehari-hari. Saat ditanya mengenai seberapa besar manfaat yang ia rasakan, kalimatnya dipenuhi ungkapan rasa syukur.
“Bermanfaat pisan, Alhamdulillah bersyukur pisan. Seueur pisan mangpaatna, komo waktos harita kemarau mah. Milari cai teh nya ti dinya, [Sangat bermanfaat, Alhamdulillah, sangat bersyukur. Sangat banyak manfaatnya, apalagi saat kemarau, mengambil air (untuk keperluan rumah tangga) dari sana],” ujarnya.
Dari perbincangan tersebut menggambarkan bahwa sejumlah mata air di Kampung Andir bukan hanya menjadi kenampakan alam semata, melainkan menjadi salah satu faktor yang menjaga kelangsungan hidup warga di lingkungan mata air tersebut hingga hari ini.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


