• Kolom
  • KABANDANG LEMBANG #4: Mata Air yang Tak Pernah Kering di Kampung Andir

KABANDANG LEMBANG #4: Mata Air yang Tak Pernah Kering di Kampung Andir

Kampung Andir, Lembang, memiliki jaringan sumber air yang tersebar dan masih diandalkan. Dari mata air di lereng Bukit Pangjebolan hingga Pancuran Tujuh.

Ernawatie Sutarna

Ibu rumah tangga, peminat sejarah, anggota sejumlah komunitas sejarah di Bandung.

Air yang mengalir dari keran dalam gubuk. (Foto: Ernawatie Sutarna)

20 Oktober 2026


BandungBergerak – Toponimi, ilmu yang mempelajari asal-usul suatu tempat, menjadi salah satu bukti bahwa leluhur kita selalu membaca alam sebelum menamai sebuah peradaban. Di tanah Pasundan ini, kita sudah sangat akrab dengan nama daerah yang mengandung unsur rona bumi, atau kenampakan alam. Seperti Ciburial yang artinya mata air yang  ngaburial, keluar dari tanah dengan deras, Kiaracondong karena adanya tanaman kiara atau beringin yang tumbuh miring (condong), atau Cihampelas yang diyakini dari banyaknya pohon hampelas di lokasi tersebut.

Nama Kampung Andir, Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pun memantik pertanyaan dalam diri saya. Kata andir yang dalam ingatan kolektif urang Sunda sering dikaitkan dengan mata air atau cinyusu, membuat saya mencari  informasi terkait keberadaan mata air, yang mungkin ada di kawasan kampung ini. Dan melalui penuturan beberapa warga asli yang saya wawancarai, sumber air itu akhirnya terpetakan di lereng Bukit Pangjebolan, sebuah kawasan perbukitan yang berdiri kokoh di sebelah timur Kampung Andir.

Pagi itu, Selasa, 6 Oktober 2026, saat matahari baru saja meninggi, kami memulai langkah menuju titik yang ditunjukkan warga. Berbekal informasi yang diperoleh sebelumnya, saya yang ditemani ibu menyusuri jalan kampung. Di sepanjang perjalanan, suasana hangat khas pedesaan langsung menyambut kami, tampak hamparan kebun sayuran hijau, serta kolam pemancingan yang tampak tenang, memantulkan bayangan langit,  menuju jalan beton menanjak, yang saat itu sebagian ruasnya tengah diperbaiki oleh sekelompok bapak warga setempat yang sedang bergotong royong dengan penuh semangat.

Jalan menanjak menuju mata air di lereng Bukit Pangjebolan. (Foto: Ernawatie Sutarna)
Jalan menanjak menuju mata air di lereng Bukit Pangjebolan. (Foto: Ernawatie Sutarna)

Setelah menyapa mereka, kami melanjutkan menyusuri jalan, yang kemudian berganti menjadi deretan anak tangga berkelok ke kiri, yang menuju ke arah lokasi pemakaman warga. Jalan menanjak itu tak menyurutkan semangat kami. Bahkan, ibu saya yang kini berusia 76 tahun sudah berjalan jauh mendahului saya yang masih sibuk mengambil gambar dengan kamera gawai. Di sepanjang tanjakan ini tampak kebun  pisang, rimbunnya rumpun bambu yang tertiup angin, pohon kawung, serta beberapa tanaman keras seperti spathodea atau kecrutan/cerelet dan pepohonan lain yang cukup rapat dan kokoh menjaga lereng bukit dari erosi.

Ketika anak tangga sudah habis, kami berbelok ke kanan menuruti jalan tanah setapak yang mendatar menuju gubuk bambu sederhana yang dimaksud. Di dalam gubuk itu terdapat sebuah keran. Saat dicoba dibuka, air langsung mengalir dalam kondisi jernih dan segar. Rasa penasaran membuat saya berjalan ke arah belakang gubuk yang posisinya agak lebih tinggi. Di sanalah tempat bernaungnya sang mata air.

Saung bambu di dekat  mata air,  terdapat keran untuk  mengalirnya air mata air. (Foto: Ernawatie Sutarna)
Saung bambu di dekat mata air, terdapat keran untuk mengalirnya air mata air. (Foto: Ernawatie Sutarna)

Menurut penuturan Pak Ego (69 tahun), salah seorang warga setempat, mata air ini sejatinya berbentuk rembesan alami yang keluar langsung dari dinding lereng bukit. Air yang merembes jernih itu kemudian dialirkan ke dalam sebuah kolam penampungan. Hal itu selaras dengan pengertian kata “andir” yang disampaikan pada akun Instagram Bapenda Kota Bandung yang memberikan pengertian bahwa andir adalah mata air/sumber air alami (bersinonim dengan cinyusu atau seke), yang biasanya terletak di kaki lereng, tebing dengan vegetasi lebat, atau di bawah pohon besar. Guna menjaga kebersihan dan mengantisipasi masuknya material kotoran, warga setempat melakukan pengamanan dengan menutup rapat permukaan kolam penampungan itu–sebuah tindakan penuh hormat untuk menjaga kesucian dan kesegaran sang cinyusu.

Baca Juga: KABANDANG LEMBANG #1: Menjadi Warga Baru Kampung Andir
KABANDANG LEMBANG #2: Trek Lari Pagi Favorit dari Rumah ke Lapangan Sinapeul
KABANDANG LEMBANG #3: Melarung Trauma Sejarah Masa Lalu di Lapangan Sinapeul

Mata Air yang Tak Pernah Kering

Beruntung, kekhawatiran akan kekeringan terbantahkan. Hingga  hari ini, mata air tersebut tak pernah kering dan tetap mengalirkan air bersih yang masih dan terus diandalkan oleh warga kampung sebagai salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Tak hanya mata air,  beberapa sumur yang dibangun kemudian, juga menjadi sumber air yang digunakan para penduduk Kampung Andir. Dan,  mata air  ini tetap dihormati sebagai penjaga sejarah masa lalu desa, juga menjadi urat nadi kehidupan.

Pencarian saya tidak berhenti di lereng Bukit Pangjebolan. Berdasarkan penuturan Pak Ego dan beberapa warga lainnya, terungkap bahwa Kampung Andir memiliki jaringan sumber air yang tersebar dan masih diandalkan. Di wilayah RW 07 atau daerah Babakan, warga memanfaatkan Pancuran Tujuh untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Menariknya, nama yang sama juga disematkan pada sebuah mata air di wilayah RW 14, yang juga dikenal sebagai Pancuran Tujuh. Keberadaan dua tempat bernama sama di RW yang berbeda ini seolah menegaskan betapa melekatnya simbol "pancuran tujuh" dalam pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar.

Kolam/bak penampungan di belakang gubuk. (Foto: Ernawatie Sutarna)
Kolam/bak penampungan di belakang gubuk. (Foto: Ernawatie Sutarna)

Dari arah mata air di lereng Bukit Pangjebolan  itu, saya melemparkan pandangan jauh ke arah kampung di dasar lembah. Pemandangannya sungguh memikat hati. Di bawah sana, rumah-rumah warga tampak mulai memadat, bersanding kontras dengan lereng di sebelah barat yang dihiasi jalan menanjak menuju Jalan Raya Lembang. Menyaksikan lanskap itu dari ketinggian rasanya begitu menyejukkan hati.

Pada akhirnya, penelusuran ini berujung pada satu kesimpulan: keberadaan jaringan mata air yang tersebar di kampung ini menunjukkan keselarasan dengan identitas nama yang diberikan, Kampung Andir. Fakta geografis serta penuturan lisan dari warga memperkuat istilah andir atau cinyusu yang sesuai dengan realitas alam yang ada. Selama mata air di lereng bukit dan pancuran-pancuran itu masih ada dan mengalir jernih, selama itu pula Kampung Andir akan menyandang namanya, menjaga harmoni antara alam dan sejarah.

Perjalanan hari ini tidak sekadar menjawab rasa penasaran saya tentang toponimi sebuah nama. Lebih dari itu, hal-hal lain yang saya dapatkan dari narasumber tentang Kampung Andir justru kian menumbuhkan keinginan kuat di dalam diri saya untuk terus menggali kisah-kisah lain yang masih tersembunyi, kisah-kisah berharga yang saya yakini akan sangat menarik untuk diungkap ke permukaan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//