SUDUT LAIN BANDUNG: Mengembalikan Nama Wisnoe Joedo ke Peta Ingatan Bandung
Mengapa nama Jalan dr. Wisnoe Joedo kemudian tidak lagi digunakan dan berganti menjadi Jalan Bukit Jarian?

Abah Omtris
Musisi balada Bandung
17 Oktober 2026
BandungBergerak – Ada banyak cara sebuah kota merawat sejarahnya. Museum, bangunan tua, monumen, arsip, dan nama jalan adalah beberapa di antaranya. Namun, nama yang tercantum pada sebuah papan jalan tidak selalu menjamin bahwa sosok di baliknya masih dikenal oleh warga. Sebaliknya, ketika nama itu berganti, ada kemungkinan sebagian ingatan tentang seseorang ikut memudar dari kehidupan kota.
Persoalan ingatan itulah yang terasa ketika membaca buku Joedo: Dua Generasi dalam Satu Pengabdian, karya dr. Sam Joedo dan dr. Wisnoe Joedo, dengan anak judul Dokter Pribumi dari Masa Pergerakan Nasional. Buku ini bukan sekadar catatan tentang perjalanan dua generasi dokter. Ia membuka kesempatan untuk menengok kembali pengabdian, lingkungan sosial, dan jejak sejarah yang pernah menjadi bagian dari perkembangan Bandung.
Di tengah kecenderungan kota merias wajahnya melalui pembangunan dan pembaruan citra, kisah dr. Wisnoe Joedo mengingatkan bahwa wajah Bandung juga dibentuk oleh orang-orang yang bekerja jauh dari gemerlap panggung. Mereka hadir melalui pengetahuan, pelayanan, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagian namanya mungkin masih dikenal, sebagian lainnya perlahan tersisih dari ingatan bersama.
Salah satu jejak penting dr. Wisnoe Joedo adalah pengabdiannya di Sanatorium Solsana Tjipaganti, di Ciumbuleuit sekarang, kawasan yang kini juga berdiri kampus Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Nama Tjipaganti pada sanatorium itu tidak boleh membuat kita keliru menempatkan lokasinya di kawasan Cipaganti yang dikenal sekarang.
Sanatorium yang didirikan pada 1935 tersebut menjadi bagian penting sejarah pelayanan kesehatan paru-paru di Bandung. Pada periode 1945–1955, dr. Wisnoe Joedo memimpin pelayanan di tempat itu, yang merawat penderita tuberkulosis. Jejak pengabdiannya menghubungkan riwayat seorang dokter dengan sejarah kesehatan masyarakat dan perkembangan kawasan Ciumbuleuit.
Tempat ini memiliki riwayat panjang dalam pelayanan terhadap penderita tuberkulosis. Dalam rentang 1945–1955, dr. Wisnoe Joedo memimpin sanatorium tersebut. Catatan ini menempatkannya dalam bagian penting sejarah pelayanan kesehatan di Bandung, ketika penyakit paru-paru menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius.
Akan tetapi, nilai sebuah biografi tidak hanya terletak pada jabatan atau daftar pencapaian tokohnya. Yang lebih penting ialah bagaimana riwayat hidup itu membantu pembaca memahami hubungan seseorang dengan zamannya.
Dalam kisah Wisnoe Joedo, Bandung bukan sekadar lokasi tempat ia bekerja dan menjalani kehidupan keluarga. Kota ini menjadi ruang tempat pengabdian profesional, pergaulan, dan kegiatan sosial bertaut. Rumah keluarga di Jalan Sumatera 27, misalnya, tercatat berkaitan dengan keberadaan kelompok musik Mara 27, yang kemudian memiliki hubungan dengan perkembangan Radio Mara. Rumah dengan demikian tidak hanya menjadi ruang domestik, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan kota.
Jejak semacam ini memperlihatkan bahwa sejarah Bandung tidak hanya dibentuk oleh keputusan pemerintah, bangunan besar, atau nama-nama yang kerap muncul dalam buku sejarah. Kota juga tumbuh melalui kehidupan sehari-hari orang-orang yang membuka ruang bagi pengetahuan, kesehatan, perjumpaan, dan kreativitas.
Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Merayakan Hari Tani Ketika Reforma Agraria Diuji oleh Kota
SUDUT LAIN BANDUNG: Tentara dan Masyarakat Sipil
SUDUT LAIN BANDUNG: Penggusuran Kios Buku Cihapit, di antara Kebanalan Bahasa dan Demokrasi
Ketika Nama Jalan Berubah
Dari riwayat tersebut, muncul satu pertanyaan yang dekat dengan kehidupan Bandung hari ini: mengapa nama Jalan dr. Wisnoe Joedo kemudian tidak lagi digunakan dan berganti menjadi Jalan Bukit Jarian?
Pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan pintu masuk untuk menelusuri kembali sejarah penamaan jalan di Bandung. Sejauh yang dapat ditelusuri dari informasi yang tersedia, alasan dan proses perubahan nama tersebut masih memerlukan penjelasan berdasarkan arsip serta dokumen resmi. Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan apa yang melatarbelakanginya.
Namun, justru di sinilah pentingnya persoalan tersebut dibicarakan. Nama jalan bukan sekadar petunjuk arah. Ia juga merupakan bentuk pengakuan publik terhadap tempat, peristiwa, atau seseorang yang dianggap memiliki arti bagi kehidupan bersama. Ketika nama seorang tokoh diganti, masyarakat patut mengetahui pertimbangan yang mendasarinya, terutama jika tokoh tersebut memiliki jejak pengabdian yang dapat ditelusuri.
Nama Bukit Jarian sendiri mungkin memiliki riwayat geografis atau lokal yang perlu diperiksa lebih jauh. Makna sebuah kata dalam bahasa Sunda tidak serta-merta menjelaskan asal-usul nama tempat tertentu. Karena itu, persoalannya bukan mempertentangkan satu nama dengan nama lainnya, apalagi merendahkan toponimi lokal, melainkan memastikan bahwa keputusan penamaan jalan mempertimbangkan sejarah secara cermat dan terbuka.
Di sisi lain, perubahan nama tersebut memberi alasan untuk bertanya apakah pengabdian dr. Wisnoe Joedo masih memperoleh tempat yang layak dalam ingatan kota. Jika dahulu namanya pernah diabadikan sebagai nama jalan, apa yang dapat dilakukan agar jejaknya tidak berhenti sebagai catatan dalam buku keluarga atau tulisan sejarah?
Pertanyaan itu semakin relevan ketika menengok jejak Sanatorium Solsana yang kini dikenal melalui nama Rumah Sakit Paru dr. H.A. Rotinsulu. Riwayat lembaga kesehatan tentu memiliki tahapan, kebijakan, dan tokoh-tokoh lain yang perlu dihormati pula. Mengakui peran Wisnoe Joedo tidak berarti meniadakan jasa dr. H.A. Rotinsulu. Sebaliknya, sejarah yang utuh semestinya memberi tempat kepada setiap tokoh sesuai kontribusinya.
Bandung kerap dibicarakan melalui wajah arsitektur, ruang publik, kawasan bersejarah, dan berbagai upaya memperbarui citra kota. Semua itu penting. Namun, merias wajah Bandung semestinya tidak berhenti pada apa yang terlihat. Kota juga perlu mengenali kontur sejarah yang membentuknya.
Apa artinya mempertahankan bangunan bersejarah jika kisah orang-orang yang pernah menghidupkannya tidak lagi dikenal? Apa artinya membangun identitas kota jika ingatan tentang pengabdian warganya dibiarkan menghilang tanpa penjelasan?
Buku Joedo: Dua Generasi dalam Satu Pengabdian memberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Salah satu hal yang menarik dari catatan sumbernya ialah upaya membedakan dokumen administratif, pemberitaan, publikasi medis, catatan keluarga, dan kisah lisan yang masih memerlukan pembuktian. Sikap semacam ini penting dalam penulisan sejarah: penghormatan kepada tokoh tidak perlu dibangun melalui kisah yang dibesar-besarkan, tetapi melalui penelusuran yang teliti dan kesediaan mengakui batas-batas bukti.
Atas dasar itu, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan serta perangkat daerah terkait di Kota Bandung dapat mengambil peran lebih jauh. Penelusuran arsip penamaan jalan, pemeriksaan peta lama, pengumpulan dokumen sejarah, dan dialog dengan keluarga maupun pemerhati sejarah dapat menjadi langkah awal untuk memperjelas riwayat Jalan dr. Wisnoe Joedo.
Hasil penelusuran tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah kota untuk mengembalikan nama Jalan Wisnoe Joedo atau mengabadikannya pada ruas jalan lain yang sesuai. Pilihan itu tentu perlu melalui kajian sejarah, pertimbangan toponimi, dan prosedur penamaan yang berlaku. Yang terpenting, usulan tersebut dibicarakan secara terbuka dan berlandaskan bukti, bukan sekadar dorongan nostalgia.
Menghidupkan kembali nama Wisnoe Joedo bukan berarti menolak perubahan. Kota memang bergerak, dan nama tempat dapat berubah mengikuti kebutuhan serta pertimbangan tertentu. Namun, perubahan seharusnya tidak membuat sejarah kehilangan kesempatan untuk menjelaskan dirinya sendiri. Kota yang matang bukan kota yang membekukan masa lalu, melainkan kota yang mampu mempertemukan pembaruan dengan penghargaan terhadap jejak yang telah membentuknya.
Nama yang Layak Dikenali Kembali
Pada akhirnya, Joedo: Dua Generasi dalam Satu Pengabdian mengajak pembaca melihat kembali arti pengabdian melalui perjalanan dua generasi dokter. Kisahnya juga membuka ruang untuk membicarakan tanggung jawab yang lebih luas: bagaimana sebuah kota memperlakukan ingatannya sendiri.
Dr. Wisnoe Joedo tidak perlu ditempatkan sebagai sosok tanpa cela untuk diakui sumbangsihnya. Cukup dengan menelusuri rekam jejaknya secara jernih, masyarakat dapat menilai arti pengabdiannya bagi sejarah kesehatan dan kehidupan sosial Bandung. Dari sana, gagasan untuk mengembalikan namanya ke peta kota memperoleh landasan yang patut dipertimbangkan.
Sebab, nama jalan bukan hanya deretan huruf pada papan penunjuk arah. Ia dapat menjadi pengingat bahwa sebuah kota pernah dibentuk oleh orang-orang yang bekerja, melayani, dan meninggalkan jejak bagi generasi sesudahnya.
Bandung tentu berhak memperbarui wajahnya. Namun, dalam setiap pembaruan, ada baiknya kota menengok kembali kontur sejarahnya. Jangan sampai wajah baru yang hendak ditampilkan justru membuat kita lupa kepada orang-orang yang turut membentuknya.
Mengembalikan nama Jalan Wisnoe Joedo–atau mengabadikannya kembali pada ruas jalan yang layak–bukan semata-mata soal mengganti papan nama. Lebih dari itu, ia merupakan kesempatan bagi Bandung untuk memperlihatkan bahwa pengabdian tidak harus berakhir sebagai catatan yang tersimpan di rak buku.
Sebab, kota yang menghargai sejarah bukan hanya kota yang pandai mengenang masa lalu, melainkan juga kota yang bersedia memberi tempat bagi ingatan itu untuk tetap hidup.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


