• Pemerintah
  • Data Pengangkutan Limbah Medis Covid-19 di Kota Bandung 2020

Data Pengangkutan Limbah Medis Covid-19 di Kota Bandung 2020

Hanya dalam enam pekan, lebih dari 2 ton limbah medis Covid-19 diangkut dari puluhan puskesmas dan rumah isolasi mandiri di Kota Bandung.

Penulis Geril Dwira8 April 2021


BandungBergerak.idMeski pasien pertama Covid-19 sudah ditemukan sejak 17 Maret 2020, Pemerintah Kota Bandung tidak secara khusus mengukur dan memanen data sampah medis Covid-19, yang termasuk limbah B3 (bahan berbahaya beracun) infeksius, hingga enam bulan berikutnya. Baru pada pertengahan Oktober 2020, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung memulai inisiatif itu.

Menggandeng PT. Jasa Medivest, DLKH Kota Bandung menggulirkan program pengangkutan limbah medis Covid-19 yang bersumber dari Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan rumah-rumah yang dijadikan tempat isolasi mandiri (Isoman) pasien Covid-19. Total ada 86 kali pengangkutan yang dilakukan selama enam pekan, mulai 20 Oktober 2020 hingga 4 Desember 2020.

Dari 80 puskesmas di Bandung, baru 61 di antaranya yang terlayani program pengangkutan ini. Volume limbah medis Covid-19 yang terangkut sebanyak 2 ton, atau tepatnya 2.038,46 kilogram.

Puskesmas Ibrahim Adjie, dalam satu kali pengangkutan, menjadi puskesmas penyumbang limbah medis Covid-19 dalam volume terbesar, yakni 207,76 kilogram. Puskesmas Garuda, dalam lima kali pengangkutan, ada di urutan kedua dengan volume limbah medis Covid-19 100,46 kilogram.

Untuk pasien isolasi mandiri, sebanyak 19 orang di 12 kecamatan terlayani program pengangkutan ini dengan total volume limbah medis Covid-19 sebanyak 140,8 kilogram.

Limbah medis Covid-19 di Puskesmas berupa alat pelindung diri (APD) petugas kesehatan seperti hazmat, sarung tangan, dan masker, serta limbah medis lain yang timbul setelah melakukan tes Covid-19 berupa alat tes cepat (rapid test) dan tes usap (swab test) bekas pakai. Sementara itu, limbah medis pasien isolasi mandiri yang diangkut berupa bekas masker, sarung tangan, tisu, dan bekas makanan pasien.  

Editor: Redaksi

COMMENTS