Jurnalis Perempuan di Pusaran Pandemi Covid-19

Jurnalis perempuan rentan mengalami gangguan kesehatan mental, terlebih di masa pandemi. Tidak perlu takut atau malu untuk sedini mungkin mencari pertolongan ahli.

Jurnalis sedang melakukan tugas wawancara seorang narasumber, masih di tengah pandemi Covid-19. Dibandingkan laki-laki, jurnalis perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental. (Foto: dokumentasi pribadi Syarifah Vidaa Fatimah)

Penulis Yuli Saputra10 Oktober 2021


BandungBergerak.idKasus pertama Covid-19 ditemukan di Indonesia, ketika Maret 2020 baru tiba di hari kedua.  Sembilan hari kemudian, organisasi kesehatan dunia, WHO mengumumkan virus Corona sebagai pandemi global.  Menyusul pengumuman itu, Pemerintah menetapkan Indonesia dalam status bencana nasional nonalam Covid-19.  Sejak itu, kehidupan kami, rakyat Indonesia, setidaknya saya, berubah.

Penetapan status tersebut diikuti dengan sekolah secara daring, bekerja di rumah, serta penutupan pusat keramaian dan tempat wisata.  Kebijakan itu tentu saja berdampak pada kehidupan semua orang.  Pun, mengubah ritme harian yang sudah bertahun-tahun dijalani keluarga saya secara permanen.  Anak-anak pergi sekolah, suami ngantor, dan saya akan berkutat dengan tugas domestik dan/atau pekerjaan sebagai jurnalis lepas di media asing, atau malah menikmati “me time”.  Namun, pandemi menjungkirbalikkan semuanya.

Saya mendukung penuh penutupan sekolah, di tengah kekhawatiran penularan virus SAR Cov2.  Tidak ada alasan untuk menentangnya.  Demi keselamatan dan kesehatan anak-anak, apapun dilakukan, apapun konsekuensinya, termasuk kehilangan waktu bekerja dan bebenah.  Pagi hingga siang hari, malah bisa sampai sore hari, diisi dengan aktivitas mendampingi anak sekolah online dengan segala kegagapannya.  

Namun, urusan rumah tangga dan pekerjaan, tidak hilang begitu saja.  Tetap mesti dikerjakan.  Kadang kala, saya merasa kewalahan, apalagi tugas jurnalis sangat erat dengan tenggat waktu.  Beban saya yang telah ganda, sebagai ibu rumah tangga merangkap jurnalis, makin berlipat-lipat.

Bicara soal profesi jurnalis, situasi pandemi juga mengekang gerak kami, para kuli tinta –sebutan yang entah masih relevan atau tidak dengan kondisi media saat ini- dalam meliput.  Mendadak semua jumpa pers dilakukan secara daring. Kalaupun ada yang digelar secara luring, kami harus membekali diri dengan APD (alat pelindung diri) dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, meski untuk urusan jaga jarak sulit dilakukan saat wawancara doorstop

Saya sendiri lebih memilih wawancara daring atau melalui sambungan telepon, ketimbang hadir di lokasi.  Namun, ada kalanya, cara itu tidak cukup, sehingga saya harus hadir di lokasi, seperti meliput aksi demonstrasi, mewawancarai narasumber yang tidak bisa dijangkau via telepon, atau membuat video.

Pergi liputan yang dulu dilakukan dengan penuh semangat dan kegembiraan sebab saya menyukai pekerjaan ini, kini dibayangi kecemasan tertular Covid-19 dan kemudian membawa virus itu ke rumah.  Saking takutnya, saya tidak mau membuka masker sama sekali selama liputan.  Jika liputan dilakukan sepanjang hari, selama itu pula saya tidak melepas masker.  Artinya, saya tidak makan dan minum di waktu itu.  Diakui atau tidak, liputan offline di masa pandemi memberi tekanan psikologis tersendiri.

Saya pernah datang di acara jumpa pers di Gedung Pakuan, rumah dinas Gubernur Jawa Barat, pertengahan Maret 2020.  Waktu itu, saya mewawancarai Ridwan Kamil secara tatap muka.  Lalu merebaklah kabar sejumlah pejabat daerah, antara lain Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana dan Bupati Karawang Cellica Nurrachdiana, terjangkit virus Corona usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jabar di Karawang, 9 Maret 2020. Ridwan Kamil hadir pula di acara itu.  Dari beberapa foto yang tersebar, bekas Wali Kota Bandung itu melakukan kontak erat dengan kedua kepala daerah yang divonis positif tersebut.

Mengetahui kabar itu, saya yang berkontak erat dengan Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, langsung merasa tidak enak badan.  Tiba-tiba, tenggorokan terasa gatal dan sakit, batuk, juga demam. Padahal, saat itu status Emil belum jelas lantaran hasil tes belum keluar. Saya langsung memposisikan diri sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP), istilah yang dipakai saat awal pandemi, dan menjaga jarak dengan keluarga.  Setelah Kang Emil dinyatakan negatif COVID-19, barulah saya merasa lega dan sehat kembali.  Gejala yang sempat dirasakan, langsung hilang.  Itulah psikosomatis –gangguan fisik yang disebabkan oleh tekanan emosional dan psikologis- pertama yang saya rasakan selama pandemi Covid-19.

Puncak kesedihan dan kecemasan saya terjadi di Juli 2021. Persis seperti yang tersurat dalam puisi berjudul Juli 2021 karya Joko Pinurbo, “Hari-hariku terbuat dari Innalilahi.”  Di bulan kelahiran saya itu, beruntun berita duka datang.  Dua adik saya dan keluarganya terpapar virus COVID-19. Ini menyedihkan karena tidak ada yang bisa dilakukan, selain mengirimkan makanan dan mendoakan dari kejauhan. 

Kabar keluarga, saudara, teman, dan kenalan yang tertular virus SAR CoV 2 terus berdatangan. Disusul kabar wafatnya tiga orang kerabat.  Sampai akhirnya kesedihan memuncak tatkala seorang sahabat, yang juga jurnalis teman liputan dulu, wafat karena Covid-19.  Saya menangis sesegukan, entah merasa kehilangan atau frustasi dengan keadaan. Sepengetahuan saya, ada lima jurnalis di Kota Bandung yang meninggal karena Covid-19. 

Jumlah kasus positif COVID-19 tertinggi di Indonesia terjadi pada Kamis (15/7/2021) dengan 56.757 kasus.  Sedangkan kasus kematian tertinggi terjadi pada Selasa (27/7/2021) dengan 2.069 kasus.  Lini masa akun media sosial penuh dengan berita duka, sesekali ditimpali pengumuman mencari plasma konvalesen.

Di momen terburuk itu pun, sebagai jurnalis, saya merasa berkewajiban hadir, menginformasikan apa yang terjadi.  Saya menulis soal anak-anak yang mendadak yatim piatu, menceritakan perjuangan anak yang pontang-panting mencarikan rumah sakit bagi orangtuanya yang berakhir sia-sia dan bagaimana mereka menyaksikan kepergian orangtuanya dalam perjalanan menuju rumah sakit atau ketika mengantre di depan UGD, juga kisah mereka yang berjuang mencari plasma konvalesen demi keluarga tercinta.  Ada yang berakhir suka, tapi banyak pula yang berujung duka.  Sering kali, saya menuliskannya dengan mata berkaca-kaca atau tenggorokan tercekat.

Juli 2021 itu, saya merasakan mental saya ambruk, dan kembali diserang psikosomatis.  Beruntung saya bisa bangkit. Kabar adik sekeluarga yang bisa pulih dari Covid-19 meringankan beban saya.  Namun, di masa itu, saya juga mendapat kabar beberapa teman jurnalis perempuan mengalami mental breakdown. Saya jadi berpikir, apakah pandemi ini berdampak pada kesehatan mental jurnalis perempuan? Jika iya, seberapa banyak dan separah apa?

Yuli Saputra (penulis): Sampai akhirnya kesedihan memuncak tatkala seorang sahabat, yang juga jurnalis teman liputan dulu, wafat karena Covid-19.  Saya menangis sesegukan, entah merasa kehilangan atau frustasi dengan keadaan. (Foto: dokumentasi pribadi Yuli Saputra)
Yuli Saputra (penulis): Sampai akhirnya kesedihan memuncak tatkala seorang sahabat, yang juga jurnalis teman liputan dulu, wafat karena Covid-19. Saya menangis sesegukan, entah merasa kehilangan atau frustasi dengan keadaan. (Foto: dokumentasi pribadi Yuli Saputra)

Kisah Dini Budiman, Jurnalis, Ibu Tiga Anak

“Pandemi itu sebuah kondisi yang tidak ada pilihan,” kata Dini Budiman, saat saya menemuinya di wilayah Bandung Barat, Jumat (3/9/2021).

Saya setuju dengan pernyataan perempuan 39 tahun ini, tanpa meminta penjelasan lebih lanjut.  Sebagai sesama ibu rumah tangga, saya cukup paham apa yang dimaksud Dini.

Dini, ibu dari tiga anak, menghadapi kondisi yang kurang lebih sama.  Harus mendampingi anak sekolah daring, sementara di waktu yang sama, pekerjaan sebagai jurnalis meminta perhatiannya.  Apalagi, Dini memiliki target menulis minimal 10 berita per hari.  Menanggung juga tugas mengurus rumah tangga yang cukup menguras tenaga, Dini acap kali tak mampu mengontrol emosinya.

“Aku merasa selama pandemi dua tahun ini, aku ke anak itu ngomong kasar.  Yang sebelumnya biasa-biasa, sekarang lebih frontal, lebih banyak berteriak, ke suami apalagi.   Kalau lagi pas deadline, misalnya pagi-pagi harus bikin empat berita di jam ini, ngerjainnya kayak gitu kan.  Ada jam primetime-nya, harus fokus, simultan.  Sementara, anak mulai ngerjain tugas sekolah, terus yang kecil request-nya banyak.”

“Anak-anak kan moody tuh. Satu anak mungkin masih bisa teratasi.  Kalau tiga kan kadang-kadang yang satu crangky, yang satu berantem.  Aku harus handle semuanya,” tutur Dini seraya mengembuskan napas berat.

Bagi Dini, pandemi semakin menambah berat pekerjaannya sebagai jurnalis. Terutama, di saat pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas warga, yang mempersempit ruang geraknya.  Liputan ke lapangan adalah kesempatan Dini jeda dari rutinitas di rumah dan menghilangkan stres. Sebagai orang ekstrovert, bertemu dan meliput bersama rekan jurnalis lain memberikan energi positif buat dirinya. Namun kesempatan itu pun hilang.

Tekanan mental terasa bertambah saat mendengar rekan sesama jurnalis tertular Covid-19. Dini semakin membatasi keluar rumah dan hanya sesekali ke lapangan meliput kegiatan yang dirasa aman. Namun takdir menyuratkan Dini terpapar COVID-19 saat kasus meningkat di Februari 2021.

“Jadi semenjak itu, akhirnya aku jadi lebih membatasi diri. Meskipun keinginannya kuat ingin keluar, tapi dengan kondisi serawan ini dan serentan ini, akhirnya lebih memilih di rumah, meskipun secara mental di rumah juga berat,” ujarnya.

Dini menjaga betul kondisi mentalnya setelah dirinya didiagnosis hipokondriasis, yakni gangguan kecemasan di mana penderitanya percaya dirinya memiliki penyakit serius atau mengancam jiwa.  Gangguan mental itu dialami Dini pada 2019, tak lama setelah kematian kedua orangtuanya.  Penyebabnya, tutur Dini, lantaran bertahun-tahun merawat kedua orangtuanya yang sakit-sakitan hingga keduanya meninggal dunia.  Di masa berkabung itu, ia tidak memberi kesempatan dirinya berduka.  Psikisnya dipaksa kuat guna mengurus segala hal terkait pemakaman.  Hingga pada suatu waktu, pertahanan mentalnya runtuh.  Kondisi psikisnya itu juga menyebabkan kerusakan permanen pada mata kanannya.

Dini sempat menjalani konseling ke psikiater sampai kemudian memutuskan untuk berhenti, setelah menemukan cara menyembuhkan diri sendiri.  Namun, sebagai penyintas gangguan kejiwaan, Dini menyadari dirinya rentan mengalami gangguan mental.  Dia tidak bisa terus-menerus berada di bawah tekanan.  Sementara, pandemi dirasa memberikan banyak tekanan.

“Aku mengalami waswas, cemas atau anxiety disorder, jantung berdebar, kaki lemas, dingin. Selama pandemi, pernah beberapa kali dirasakan,” katanya.

Dini mengaku telah menemukan cara untuk melepaskan stres yang dialaminya, tanpa melepaskan profesi jurnalis yang menjadi passion-nya.  Seperti, lebih memilih menulis konten-konten yang disukainya, dibanding berita-berita terkait Covid-19.  Dini juga akan memilih jeda dari pekerjaan dan jalan-jalan ke pegunungan bersama suami dan anak-anak, ketika stres mulai menyerang.  Cara lainnya adalah membuat konten-konten receh.

“Makanya waktu pandemi banyak tekanan, ya udah akhirnya aku sering ngevlog, masukin ke Tiktok, masukin ke Instagram.   Makanya, aku sering bikin konten.  Itu termasuk rilis stres juga, membuat orang bahagia.  Aku kan sering bikin konten-konten bodor, lipsync parody.  Itu disukai banyak orang, suka ditagihin, ‘mana aku senang lihatnya, bikin aku bahagia’.  Ketika aku bisa bikin mereka bahagia, ya udah aku juga bahagia,” bebernya.

Dini mengakui, dia sempat malu ketika didiagnosis mengalami gangguan mental yang dianggapnya sebagai aib.  Namun anggapan itu terkikis setelah menyadari bahwa setiap orang punya kecenderungan mengalami gangguan mental.  Yang penting, lanjut dia, mencari keseimbangan agar mentalnya tidak terganggu.  Keseimbangan itu bisa didapat dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Satu lagi, pesan Dini, adalah the power of receh.

The power of receh yang bisa bikin kita survive.  Sekarang itu harus berpikirnya ringan, receh.  Jangan overthinking karena itu jadi gerbang untuk mengalami gangguan tidur dan mental,” pungkasnya. 

Dini Budiman: Aku kan sering bikin konten-konten bodor, lipsync parody.  Itu disukai banyak orang, suka ditagihin, ‘mana aku senang lihatnya, bikin aku bahagia’.  Ketika aku bisa bikin mereka bahagia, ya udah aku juga bahagia. (Foto: dokumentasi pribadi Dini Budiman)
Dini Budiman: Aku kan sering bikin konten-konten bodor, lipsync parody. Itu disukai banyak orang, suka ditagihin, ‘mana aku senang lihatnya, bikin aku bahagia’. Ketika aku bisa bikin mereka bahagia, ya udah aku juga bahagia. (Foto: dokumentasi pribadi Dini Budiman)

Syarifah Vidaa Fatimah, Jurnalis, Lajang

Jika jurnalis lain bisa memilih untuk work from home, tidak demikian dengan Syarifah Vidaa Fatimah atau biasa dipanggil Vidaa.  Profesinya sebagai jurnalis sebuah stasiun televisi mendorongnya berada di lapangan atau tempat kejadian. 

Di awal pandemi, situasi itu dirasa berat bagi Vidaa lantaran belum banyak penelitan tentang COVID-19, dan virus ini dianggap begitu menakutkan.  Jadi, saat orang-orang kebanyakan memilih tinggal di rumah karena takut tertular, Vidaa justru harus menepis ketakutannya dan melangkahkan kakinya ke luar rumah demi tugas. Situasi yang sedikit banyak menekan mental perempuan 24 tahun ini.

“Mentalku kena.  Ya ampun, sedih, juga khawatir sama orang rumah. Aku mobilitasnya tinggi dan khawatir jadi carrier virus.  Ada masa di mana aku yang dari luar sampai disinfeksi diriku pas pulang. Bilang, jangan dekat sama teteh dulu ke adik-adik,” tutur Vidaa.

Psikosomatis dirasakan Vidaa ketika mendengar ada jurnalis yang terpapar Covid-19. Muncul kekhawatiran dirinya ikut tertular mengingat profesi jurnalis mobilitas pekerjaannya tinggi dan berinteraksi dengan banyak orang.  Di Jawa Barat, sempat terjadi beberapa klaster penularan yang membuat sejumlah jurnalis positif, seperti klaster Musda Hipmi dan Gedung Sate. 

Secara profesional, pandemi dirasakan Vidaa mempersempit peluang jurnalis menggali informasi lebih dalam.  Terlebih lagi, sebagian besar jumpa pers dilakukan secara daring dengan kesempatan bertanya yang terbatas.

“Secara profesional, jurnalis itu, semakin kita bisa menggali lebih dalam informasi, semakin enak untuk menginformasikan ke masyarakatnya.  Di pandemi Covid-19 ini, kita gak bisa doorstop langsung, sedangkan ada banyak informasi yang sebenarnya kita ingin gali,” ungkap Vidaa.

Dari sekian kendala yang dialami, situasi terberat yang dirasakan Vidaa adalah ketika dia merasa dicurigai membawa virus Corona selepas pulang dari menjenguk nenek di luar kota.  Saat itu, Vidaa memang bergejala, tapi dia yakin tidak tertular Covid-19 lantaran dua kali tes antigen menunjukkan hasil negatif.  Respons orang sekitar yang mencurigai dirinya membawa virus corona memicu stres pada diri Vidaa. 

“Kemarin ke-trigger banget saat aku habis dari luar kota dan kebetulan aku sakit.  Aku antigen dua kali dan negatif dua-duanya, tapi perlakuan orang-orang kayak gimana gitu.”

“Saat itu, aku sudah di tahap stres, sampai aku di rumah beda banget.  Ngamuk-ngamuk, marah-marah, sampai adik diomelin. Sampai yang akhirnya, yang tadinya sakit kayak gini doang, jadi kayak lebih berat di fisikku dan secara emosi aku jadi gampang marah-marah, aku jadi gampang ke-trigger sama orang karena aku merasa lingkunganku belum bisa memperlakukan atau ngasih treatment ke orang-orang yang kayak gini secara psikologis,” papar Vidaa saat ditemui di tempat kerjanya, Senin (30/9/2021). 

Pada saat terpuruk seperti itu, Vidaa terpikir untuk mencari pertolongan ke spesialis kejiwaan, tapi kondisinya terlalu lemah untuk menjangkau bantuan ahli.  Walau begitu, Vidaa merasa perlu berobat ke ahli jiwa, agar mendapat diagnosis yang tepat untuk kondisi mentalnya.  Setidaknya, ia akan lebih memahami kondisi kejiwaannya. 

“Karena dengan kita tidak tahu, bikin kondisi kita dua kali, bahkan 10 kali lebih stres,” cetusnya.

Tetap saja, terselip kekhawatiran mendapat stigma ketika orang sekitarnya tahu Vidaa berobat ke psikiater.  Karena itu, Vidaa memilih merahasiakan bila suatu saat menjalani terapi kejiwaan. 

“Aku rahasiakan ke keluarga sih pastinya.  Ya kita gak bisa memungkiri, kalau masih banyak yang berpendapat ‘apa sih ke psikolog’ aku merasa gak semua orang bisa ngerti itu.  Hanya orang tertentu saja yang aku nilai bisa mengerti diriku yang berhak tahu itu.  Tapi enaknya, kalau kita sudah konsul, sudah didiagnosa, saat ada orang yang nanya segala macam, aku bisa kasih tahu supaya mereka sabar sama aku.  Tapi tetap, aku akan merahasiakan itu, gak semua orang boleh tahu,” tuturnya.

Syarifah Vidaa Fatimah: Saat itu, aku sudah di tahap stres, sampai aku di rumah beda banget.  Ngamuk-ngamuk, marah-marah, sampai adik diomelin. (Foto: dokumentasi pribadi Syarifah Vidaa Fatimah)
Syarifah Vidaa Fatimah: Saat itu, aku sudah di tahap stres, sampai aku di rumah beda banget. Ngamuk-ngamuk, marah-marah, sampai adik diomelin. (Foto: dokumentasi pribadi Syarifah Vidaa Fatimah)

Andin (nama samaran), Jurnalis, Ibu Satu Anak

Sebuah pesan Whatsapp masuk ke telepon genggam saya.  Rupanya Andin, teman seprofesi yang sudah lama tidak bertatap muka. Terakhir kami bertemu di Jakarta dua tahun lalu. Pesannya membuat saya tertegun, atau tepatnya terkejut, karena Andin mengaku mengalami gangguan mental dan meminta tolong dicarikan psikolog atau psikiater.

“Saya pernah menyakiti diri, berlangsung berminggu-minggu, tahun lalu.  Berhentinya, berhenti aja.  Tapi lama kelamaan sadar, saat itu saya gak baik-baik saja.  Tadi malam ada trigger, kejadian lagi.  Saya sadar harus periksa,” tulis Andin.

Andin, salah satu teman yang saya sukai karena pembawaanya yang riang dan humoris.  Beberapa kali, candaannya membuat saya terbahak.  “Lucu anak ini,” pikir saya.

Dengan karakter Andin yang seperti itu, saya tidak menduga sama sekali jika dia mengalami gangguan mental. Namun, saya seperti diingatkan kembali bahwa kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan seseorang.

Sore harinya, Andin kembali mengirim pesan Whatsapp dan bilang sudah konseling dengan seorang psikiater.  Saya lega mendengarnya.

Saya ingin mendengar lebih jauh apa yang dialami Andin.  Saya meminta izin mewawancarainya.  Kasusnya relevan dengan isu kesehatan mental yang sedang saya garap.  Andin menyetujuinya dengan syarat identitasnya disamarkan.

Andin membuka sesi wawancara dengan menceritakan tindakan menyakiti diri sendiri atau selfharm yang dilakukan sebelum konseling ke ahli. Tindakan Andin ini dipicu pertengkaran dengan suaminya mengenai masalah yang terus terjadi berulang-ulang, yakni hubungannya dengan mertua. 

Malam itu, ia mengurung diri di kamar yang terpisah dengan suami dan anaknya.  Andin melihat tongsis, meraihnya, dan mulai memukulkan ke tubuhnya, berkali-kali.

“Aku kepikiran ambil cutter, tapi gak ada. Lalu aku sadar, ah ini gak akan benar,” ucap Andin mengawali pembicaraan.

Ini bukan selfharm pertama Andin.  Sepanjang hidupnya, Andin telah melakukan sebanyak 5 kali dengan beragam pemicu.   Dua di antaranya dilakukan di masa pandemi.  Selain pertengkaran, pemicu Andin melakukannya karena kewalahan menghadapi anak yang hiperaktif.

“Dia itu celaka terus, karena gak bisa diam.  Dikit-dikit jahit, dikit-dikit jatuh.  Aku suka pukul sekali, aku lakuin berkali-kali ke aku.  Aku cubit dia, aku cubit balik diri aku berkali-kali.  Aku niatin begitu, biar aku kapok juga, biar aku tahu itu sakit, anak kecil digituin sakit, dan aku harus ngerasain sakit.” bebernya.

Situasi pandemi Covid-19 ikut berperan memicu gangguan mental.  Di awal pandemi, perempuan 31 tahun ini sempat mengalami kecemasan.  Ditambah lagi, kondisi keuangannya yang terganggu akibat masalah di perusahaan medianya. Kebijakan work from home juga menyulitkan dirinya mengerjakan tugas jurnalis.

“Awal-awal pandemi ke-trigger terus. Gampang nangis, sesegukan cuma gara-gara berita pandemi.  Aku benci banget WfH (work form home) karena orang-orang itu gak mengerti aku lagi kerja.  Apalagi anak, suami gak ngerti, kadang-kadang manggilin terus, minta tolong terus, tetangga malah bertamu, mama aku malah ke rumah, malah ngerecokin, bantuin ini itu,” ungkap Andin.

Pada satu titik, Andin mengalami burnout atau kondisi stres berat yang dipicu pekerjaan.  Tugas sebagai jurnalis yang mau tidak mau terpapar berita Covid-19 membuat mentalnya terganggu.  Menulis berita Covid-19 bisa membuat Andin merasa sesak atau bahkan menangis tersedu-sedu.  Ia juga kecewa karena pemerintah dianggap tidak menangani pandemi dengan baik sehingga kasusnya terus bertambah. 

“Waktu belum ada vaksin, aku nangis ke suami gara-gara pemerintah kayak nyuruh kita mati perlahan-lahan. Kita kayak nunggu giliran mati saja, nunggu giliran positif Covid. Dan bener kan kita yang di rumah terus aja, kena,” kata Andin yang terpapar Covid-19 saat puncak kasus pertengahan tahun ini.

Pekerjaan sebagai jurnalis diakui Andin semakin berat di masa pandemi, bukan secara fisik, tapi psikis. 

“Selain mikirin buat artikel, juga mikirin situasinya.  Suka hanyut kayak saya yang lagi ngalamin.  Sesimpel melihat berita TPU di Jakarta penuh, langsung kepikiran kalau aku mati di mana,” ujarnya.

Untung, kondisi itu tidak berlangsung lama.  Kehidupan Andin perlahan membaik ketika pindah bekerja ke perusahaan media lain dan kondisi keuangannya pulih.  Andin telah menemukan ritme bekerja dan mengurus rumah tangga selama WFH.  Ia bisa beradaptasi dengan kebijakan bekerja di rumah dan mulai menyukainya karena bisa mendampingi anaknya yang masih berusia balita sekolah daring.

“Berharap kondisinya membaik, tapi kalau segini juga gak apa-apa.  Asal jangan memburuk seperti awal pandemi,” harap Andin.

Namun ketika dirinya bisa beradaptasi dengan situasi pandemi, Andin masih memendam permasalahan dengan mertua yang pelan-pelan mengikis nilai dirinya.  Sikap mertua yang diduga mengidap narcissistic personality, menambah tekanan mental bagi Andin.  Secara tidak sadar, dia mengalami kekerasan psikis oleh mertuanya.  Melihat telepon berdering dengan nama mertua tertera di layar telepon genggamnya, sudah cukup memicu serangan panik.

“Telepon berdering dan nama dia keluar, aku langsung deg-degan parah, tangan berkeringat, tremor, mual seharian sampai malam.  Besoknya nelpon, gitu lagi,” tutur jurnalis yang tinggal  dan meliput di wilayah Jawa Barat ini. 

Beberapa kali muncul pula keinginan bunuh diri.  Andin lupa berapa kali pemikiran itu muncul di benaknya, tapi yang pasti, ia ingat pernah benar-benar mencoba bunuh diri dengan cara mencekik lehernya ketika usia sekolah dasar. Perasaan tidak berharga, tidak diinginkan, dan tidak dicintai, mendorong Andin melakukan tindakan itu.

Untuk meredam pemikiran bunuh diri, Andin biasanya mengalihkan pikirannya ke hal lain, mengingat orang yang dicintai dan mencintai, serta yakin masalah yang dihadapi akan berlalu.

Andin mengalami riwayat trauma psikologis yang panjang.  Perasaan diabaikan dan tidak dicintai, dialami sejak kecil. Ia mengalami perundungan, dijauhi teman-teman, tinggal di keluarga yang broken home, dan selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya.  Pengalaman-pengalaman traumatis itu menurunkan kepercayaan diri, membuatnya merasa tidak berharga dan sulit mempercayai orang lain.

Sebetulnya sejak sekolah menengah pertama, Andin sadar ada yang salah dengan dirinya.  Namun, ia tidak tahu apa dan bagaimana cara menyembuhkannya.  Menginjak usia 21 tahun, Andin semakin sadar mengalami gangguan mental.  tapi di satu sisi, ibu satu anak ini mengingkari kondisi mentalnya dan mengganggap dirinya “cemen.”  Sampai akhirnya, suami meminta Andin konsultasi ke dokter spesialis kejiwaan.  Rupanya, suami sudah lama menyadari Andin sakit secara mental.

Psikiater mendiagnosis Andin mengalami derealisasi –fenomena di mana seseorang merasa terpisah dari pikiran, perasaan, dan tubuhnya sendiri, atau terputus dari lingkungan sekitar- akibat terus-terusan mengalami kekerasan psikis.  Diagnosis itu membantu Andin menelaah dirinya dan mencari cara menyembuhkan diri.

“Dokter pesan ke aku di akhir konseling, sudah atuh kuatnya.  Mungkin kita selama ini pura-pura kuat, sekarang mah lemah, percayakan saja ke suami.  Mungkin aku selama ini merasa superior, saya bisa, saya bisa.  Aku merasa terbantu setelah konseling,” sebut Andin.

Mega Dwi Anggraeni, Jurnalis, Lajang

Tidur lelap tanpa mimpi, bagi kebanyakan orang, adalah hal biasa, tapi bagi Mega Dwi Anggraeni itu sesuatu yang mewah. 

“Tidur termewah aku selama ini tuh, setelah pagi-pagi aku olahraga, malamnya aku minum obat, itu tuh mewah banget tidurnya.  Bangun pagi-pagi teh wow aku mewah banget tidurnya.  Bahagia aku sesederhana itu, cuman bisa tidur nyenyak, gak pakai mimpi, gak pakai kebangun, gak pakai remeh-temeh apa,” ujarnya sambil tersenyum lebar. 

Sebelumnya, Mega mengalami gangguan tidur selama dua minggu akibat gangguan mental yang dialaminya.  Dia terjaga sepanjang malam karena otaknya terus berpikir, tidak bisa dihentikan.  Dalam sehari, Mega hanya tidur selama dua jam.

Mega mengalami kelelahan fisik dan mental akibat kurang tidur.  Hal ini membuat emosinya tidak stabil, gampang marah, bahkan oleh suara sepeda motor berisik pun.  Atau, tiba-tia dia menangis selama satu jam tanpa tahu apa sebabnya. 

Bunyi notifikasi pesan atau dering telepon bahkan bisa memicu sesak napas, marah, hingga ingin membanting telepon.  Mega merasa sikapnya itu lantaran overthinking. Saat awal pandemi, banyak informasi yang dibagikan di grup Whatsapp, entah itu kenaikan kasus positif atau jumlah kasus kematian Covid-19.

“Setiap notifikasi bunyi di telepon, aku pusing, sakit gitu. Sampai bikin aku sesak, gak bisa napas, kayak oksigen aku tiba-tiba menghilang. Ih gila kayak mau pingsan, pusing banget sampai pengin banting telepon. Aku matiin kan (notifikasinya), tapi kalau nelepon, layarnya berubah itu sampai aku jauhin, gak mau lihat.”

“Sempat nyoba (dinonaktifin teleponnya), tapi aku kerjaan di sini kalau gak ada (komunikasi) ini aku gimana.  Jadi ya dinyalain lagi,” ujarnya.

Sebagai jurnalis yang ditugaskan memantau isu di Jawa Barat, Mega sulit menghindar dari pemberitaan soal Covid-19 yang memang menjadi isu utama saat pandemi.

“Informasi segala macam soal Covid masuk, segala rupa yang buruk-buruk lagi, itu juga memicu.  Tiap hari ada orang mati.  Muncul pertanyaan, ini kenapa, dunia ini kenapa, semuanya numpuk.  Tapi waktu awal-awal pandemi, masih bisa ditangani sama aku.  Aku matiin HP, terus aku nyalain komputer.  Jadi kerja tuh di komputer, tanpa ada pesan Whatsapp segala rupa, cuma ada youtube.  Terus pagi-pagi aku olahraga, kayak gitu.  Ah lewat ini mah, biasa, berita Covid itu biasa, bodo amat,” tutur Mega.

Namun, Mega tidak menyadari dirinya memiliki bawaan obsessive compulsive disorder (OCD), yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan berulang-ulang dan bila tidak dilakukan akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan.  Orang dengan kondisi ini berpotensi mengalami gangguan mental yang semakin parah di masa pandemi Covid-19.

Mega menceritakan, dirinya mengalami ketakutan berlebih terhadap virus Covid-19.

“Orang datang ke rumah aja aku parno.  Aku tahu si virus ini ada, terus penularannya kayak gimana, pencegahannya seperti apa, tapi takut, benar-benar parno.  Orang itu sudah cuci tangan belum kalau datang ke rumah aku.  Kok gak cuci tangan sih.  Jadi mandang buruk orang terus karena aku takut kena,” ungkap perempuan 37 tahun ini.

Hal itu jadi masalah ketika pekerjaannya sebagai jurnalis menuntut Mega meliput atau minimal menuliskan berita soal Covid-19.  Sebagai jurnalis lepas, penghasilannya tergantung seberapa banyak pemberitaan yang ditayangkan. Untuk mendapatkan berita, Mega harus sering-sering keluar rumah. Sementara, keluar rumah saat pandemi menjadi hal yang menakutkan baginya. 

Gangguan mental yang dialami Mega semakin parah ketika semua rencana terkait pekerjaan dan organisasi berantakan. 

“Aku pikir kenapa aku sampai kayak gitu.  Ternyata aku urusan kerja semua berantakan, gak sesuai yang sudah di-planning sama aku.  Urusan organisasi juga, aku punya planning a-z itu berantakan semua.  Kakak aku, dia tidak melakukan prokes sesuai dengan step-step yang aku mau.  Akhirnya kalau dijumlahin, dari yang tadinya satu nambah satu, akhirnya jadi benang kusut,” ungkap Mega.

Tiga bulan mengalami kondisi itu mendorong Mega berobat ke psikiater.  Ia merasa sudah saatnya meminta pertolongan ahli.  Mega kemudian didiagnosis menderita anxiety disorder yang dipicu pandemi Covid-19.  Oleh psikiater, Mega diresepkan sejumlah obat, seperti obat tidur dan penenang.  Setelah empat bulan menjalani terapi kejiwaan, kondisi Mega beranjak membaik dan bisa lepas dari obat-obatan. 

Mengingat pengalamannya, menurut Mega, penting bagi setiap orang memahami kondisi mentalnya sehingga ketika dirasa berat, bisa mencari pertolongan ahli.  Karena itu, dari sejak awal menjalani konseling, Mega selalu membagikan pengalamannya di akun media sosialnya.  Dari unggahannya, banyak juga yang merespons dengan positif, meski ada saja yang berkomentar negatif.  Seperti keluarga dan temannya yang menuding dirinya kurang berzikir dan beriman.

“Penyakit ini ada bukan karena kamu kurang wudhu, kurang zikir, atau kurang apa.  Aku tiba-tiba nangis sejam, yang disebut Astaghfirullah.  Apa aku kurang zikir? Penyakit ini ada, cuma orang-orang masih mandang sebelah mata.  Tabu lah gituh.  Ini bukan hal yang tabu buat aku.   Semenjak aku didiagnosis kena anxiety, gara-gara OCD, aku speak up di Instagram dan Whatsapp,” ujar dia. 

Kini, Mega bisa menjalani tugasnya sebagai jurnalis dengan emosi yang lebih stabil.  Meski untuk menulis berita Covid-19, Mega masih memasang benteng tinggi.  Pilihan itu menimbulkan dilema, tapi Mega memprioritaskan kesehatan mentalnya.

“Waktu kerja masih harus upload berita Covid segala rupa, akhirnya gak aku baca.  Beneran cuma ngedit dikit-dikit upload, kirim, dan lupakan.  Gak bener sih buat jurnalis, cuma aku tuh gak mau sakit terus.  Gimana caranya biar aku gak makin parah.  Karena kalau aku baca, terus nyerap, nempel.  Aku tipikal orang kayak gitu, nempel nyerap, gak ilang-ilang jadinya sakitnya,” kata dia. 

Mega menyadari, pekerjaan sebagai jurnalis memiliki tingkat stres yang tinggi, bahkan jauh sebelum pandemi.  Karena itu, ia menyarankan, teman-teman seprofesi tidak ragu mengakses layanan konsultasi kesehatan mental.

“Kalau sudah muncul gejala gak bisa tidur, ada sesuatu yang memicu ketakutan, serangan panik, gak bisa napas sampai mempengaruhi fisik, mendingan langsung konsultasi. Kalau curhat ke orang kan, sebaik-baiknya teman, dia gak punya solusi karena dia bukan ahlinya.”

“Jangan malu karena psikiater itu bukan buat menangani orang dengan gangguan jiwa saja.  Gangguan mental itu banyak macamnya.  Cuma orang-orang profesional saja yang tahu.  Jadi segeralah mengunjungi profesional.  Jangan malu sama anggapan orang karena yang tahu dan menjalani hidup, ya kita sendiri,” papar Mega menutup pembicaraan.

Mega Dwi Anggraeni: Kalau sudah muncul gejala gak bisa tidur, ada sesuatu yang memicu ketakutan, serangan panik, gak bisa napas sampai mempengaruhi fisik, mendingan langsung konsultasi. (Foto: dokumentasi pribadi Mega Dwi Anggraeni)
Mega Dwi Anggraeni: Kalau sudah muncul gejala gak bisa tidur, ada sesuatu yang memicu ketakutan, serangan panik, gak bisa napas sampai mempengaruhi fisik, mendingan langsung konsultasi. (Foto: dokumentasi pribadi Mega Dwi Anggraeni)

Jurnalis Perempuan Lebih Rentan Gangguan Mental

Cerita dari teman-teman jurnalis perempuan, ternyata menguatkan dugaan awal saya, bahwa kami sangat rentan mengalami gangguan mental di masa pandemi Covid-19 ini.  Tentunya, dugaan itu harus dibuktikan secara ilmiah.

Kesempatan itu datang saat saya lolos sebagai salah satu penerima Fellowship Citradaya Nita 2021 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).  Saya meminta bantuan dr. Elvine Gunawan, SpKJ untuk membuat riset tentang Deteksi Dini dan Need Assesment pada jurnalis perempuan.

Selama bulan September 2021, saya menyebarkan kuesioner ke jurnalis perempuan yang bertugas di Kota Bandung. Risetnya melibatkan 48 orang jurnalis perempuan. Hasilnya, mengutip kata-kata dr. Evine, “mengejutkan dan menyedihkan”. Kuesioner itu kemudian disebarkan juga ke jurnalis laki-laki sebagai perbandingan dan berhasil mengumpulkan responden sebanyak 75 orang. 

Dari riset tersebut diketahui, stres tingkat sedang dialami 17 persen perempuan dan 11 persen laki-laki, stres berat 8% perempuan dan 3% laki-laki, stres sangat berat 2% perempuan dan 0% laki-laiki.  Sedangkan depresi sedang dialami 21% perempuan dan 8% laki-laki, depresi berat 6% perempuan dan 1% laki-laki, depresi sangat berat 4% perempuan dan 1% laki-laki.

Untuk gangguan kecemasan, tingkat sedang dialami 27% perempuan dan 28% laki-laki, tingkat berat 4% perempuan dan 5% laki-laki, tingkat sangat berat 27% perempuan dan 5% laki-laki.

Berdasarkan data di atas, terdapat jurnalis yang menunjukkan lebih dari satu domain yang memerlukan bantuan psikologis dari psikolog klinis maupun psikiater.  Untuk kondisi stres, perempuan 13 orang, laki-laki 10 orang, kondisi depresi perempuan 15 orang dan laki-laki 8 orang, londisi cemas perempuan 28 orang dan laki-laki 29 orang.   

Di antara koresponden, yang berada dalam kondisi cukup parah, berupa keberadaan dua domain atau 3 domain yang dalam kondisi sedang sampai berat sehingga memerlukan intervensi segera, sebanyak 17 orang perempuan dan 13 orang laki-laki.

Hal yang juga penting jadi perhatian adalah data tentang 8 perempuan dan 5 laki-laki berharap tidur dan tidak terbangun, 7 perempuan dan 2 laki-laki memiliki ide mengakhiri hidup, 2 perempuan dan 1 laki-laki pernah melakukan tindakan mengakhiri hidup, juga 2 prempuan dan 1 laki-laki pernah melakukan tindakan menyakiti diri.  Juga, 8 perempuan dan 2 laki-laki mengalami putus asa dan tidak ada harapan, lalu 16 perempuan dan 7 laki-laki merasa tidak berharga dan hampa.

Riset ini juga mencatat 3 jurnalis perempuan dan 2 laki-laki mengalami pelecehan fisik (physical abuse) saat bekerja, 11 perempuan dan 7 laki-laki mengalami pelecehan emosional (emotional abuse) saat bekerja, serta 3 perempuan dan 3 laki-laki mengalami pelecehan seksual (sexual abuse) saat bekerja.

“Hasil riset ini menarik di mana respons emosi perempuan lebih besar. Bisa dibilang, perempuan lebih banyak mengalami gangguan mental,” kata Elvine mengomentari hasil riset tersebut.

Menurut Elvine, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan jurnalis perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental.  Selain masalah hormon, budaya patriarki juga masih menempatkan perempuan di kelas kedua. 

Sementara itu, profesi jurnalis baik bagi perempuan maupun laki-laki memiliki tingkat stres yang tinggi. 

“Stressor pekerjaan merupakan salah satu isu yang menjadi faktor risiko terbesar pada kelompok pekerja. Jurnalis merupakan profesi yang rentan karena memiliki pola, target, medan kerja yang memiliki intensitas dan frekuensi tinggi terhadap stressor. Hingga hari ini kesehatan jiwa pada jurnalis masih menjadi isu yang belum banyak diperhatikan karena stigma dan rasionalisasi keadaan,” demikian dikutip dari laporan riset tersebut.  

Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Iqbal Tawakal Lazuardi mengaku kaget dengan hasil riset tersebut.  Menurutnya, perusahaan media harus bertanggung jawab terhadap kesehatan mental jurnalisnya.

“Harus ada dorongan (terhadap perusahaan media).  AJI di skala nasional sudah sering mendorong, cuma belum kelihatan ada satu pun perusahaan media yang concern terhadap isu kesehatan mental jurnalisnya,” kata Iqbal saat ditemui di pusat Kota Bandung, Kamis (7/10/2021).

Iqbal mengusulkan setiap perusahaan media memiliki unit konseling bagi jurnalisnya.  Dari sejumlah riset diketahui, profesi jurnalis memiliki kerentanan terhadap kesehatan mental. terutama di saat pandemi Covid-19.  

“Ini yang harus diperhatikan oleh perusahan media, terutama bagi jurnalis perempuan yang memiliki peran ganda di rumahnya,” ujar Iqbal.

Untuk meminimalkan gangguan mental terhadap jurnalis, lanjut Iqbal, perusahaan media bisa memulai dengan mengurangi target berita harian dari target sebelum pandemi.  Selain itu, melengkapi jurnalisnya dengan alat pelindung diri (APD) yang memadai agar jurnalisnya merasa aman saat meliput ke lapangan. 

“Di kondisi pandemi gini, ketika kita terbatas dalam aktivitas di luar, tapi target berita masih sama dengan keadaan normal, saya pribadi pun masih kesulitan.  Apalagi sampai 10 berita per hari.  Semakin banyak berita yang harus di-cover, pasti semakin menambah tingkat stres.  Perusahaan media harus membuat kebijakan atau sebuah standar yang bisa meminimalkan dampak terhadap kesehatan mental jurnalis, apalagi dengan kondisi pandemi yang tidak pasti ini,” saran Iqbal.

Kapan Harus Mulai Konseling?

Semakin dini gangguan mental diobati, semakin cepat pulih. Ini berarti, kita, jurnalis perempuan, harus mulai memahami kondisi mental masing-masing.  Ada beberapa gejala sebagai tanda kita harus mulai mengakses layanan konsultasi kejiwaan.

“Satu, bangun tidur sudah tidak semangat, kasarnya mager.  Kedua, perawatan diri tidak terjaga.  Ketiga, menarik diri dari dunia sosial.  Keempat, kerjaan rumah standarnya jadi turun banget atau tidak dikerjakan sama sekali.  Yang terakhir paling mudah lagi, kalau mudah marah-marah, kalau sering gogorowokan.  Korban yang paling utama, anak, menjadi pelampiasannya.  Teriak, marah, mukul, yang akhirnya setelah melakukan itu, bikin rasa bersalah lagi, sehingga akhirnya jebol lagi.  Muncul rasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, gak bisa menjadi ibu yang baik, akhirnya depresi lagi,” beber dr. Elvine.

“Sebenarnya di titik burnout, perempuan harus sudah sadar dan mencari pertolongan ahli.”

Saya jadi bertanya pada diri sendiri, apakah saya pernah mengalami burnout? Dan, apakah sudah seharusnya mengunjungi pakar penyakit jiwa? Jika iya, apa yang masih menghalangi?

Bagi sebagian orang, stigma atau dilabel “gila”, mungkin menjadi kendala.  Tapi bagi saya pribadi, tidak.  Saya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungi psikolog atau psikiater.

Apalagi jika mengingat Mega yang sudah bisa bahagia karena tidur tanpa mimpi, Andin yang menemukan jawaban atas kondisi mentalnya, dan Dini yang telah menemukan cara untuk menyembuhkan diri, saya rasa tidak perlu lagi ada keraguan, bagi siapa pun yang merasakan gejala gangguan mental untuk mulai menjalani konseling.

Jika menderita sakit fisik, kita tidak ragu ke dokter, kenapa masih ragu saat sakit psikis?  Padahal, kita sering mendengar kalimat dalam bahasa Latin, mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Maka, tidak hanya tubuh, jiwa pun harus sehat. 

Di momen hari Kesehatan Mental Dunia tanggal 10 Oktober ini, saatnya menyayangi jiwa kita, karena saya, kamu, kita semua berharga.  Selamat Hari Kesehatan Mental Dunia! 

Editor: Redaksi

COMMENTS