• Buku
  • RESENSI BUKU: Menghayati Hidup dan Karya Jung Lewat Jung Café

RESENSI BUKU: Menghayati Hidup dan Karya Jung Lewat Jung Café

Buku Jung Cafe karya Buntje Harbunangin menyajikan gagasan Carl Gustav Jung dengan menceritakan kisah manusia. Hidup Jung adalah kisah pemikirannya.

Buku Jung Café karya Buntje Harbunangin, terbit tahun 2022 oleh penerbit Rapi Berkah Makmur. (Sumber foto: Syarif Maulana)

Penulis Syarif Maulana24 November 2022


BandungBergerak.id—Nama Carl Gustav Jung (1875 – 1961) jelas tidak bisa dilepaskan dari lanskap pemikiran modern abad ke-20. Meski namanya sering berada di bawah raksasa psikoanalisis Sigmund Freud, pemikiran Jung tidak bisa dikesampingkan dan bahkan begitu relevan dengan lanskap berpikir sebagian masyarakat Indonesia. Mengapa demikian? Berbeda dengan umumnya pemikir Barat modern yang berusaha melepaskan diri dari hal mistis dan berbau supranatural, Jung justru menggaulinya. Pengalaman spiritual diterima oleh Jung sebagai kunci bagi pemikiran psikologinya, dan aspek inilah menjadi salah satu pembeda penting antara dirinya dan Freud, yang membuat keduanya berpisah jalan pada tahun 1913.

Buntje Harbunangin tidak hanya menuliskan gagasan kunci Jung dalam bukunya yang terbaru, Jung Café (2022). Dalam buku terbitan Rapi Berkah Makmur tersebut, Buntje juga menuliskan dengan cukup lengkap kisah hidup Jung, tentunya beserta cerita pertentangannya dengan Freud. Meski sama-sama psikoanalis, Jung dan Freud memang berbeda dalam banyak hal. Misalnya, jika Freud melihat aspek bawah sadar selalu dalam konteks individual dan mereduksi segala-galanya pada hal seksual (phallus, pengalaman kastrasi, kecemburuan penis), Jung mengambil jalan berbeda. Jung justru lebih banyak menelaah tentang ketidaksadaran yang bersifat kolektif (collective unconsciousness) dan tidak menjadikan aspek seksual sebagai hal paling utama dalam aspek bawah sadar.

Buntje menuliskan gagasan Jung tidak dengan cara-cara yang formal – akademis, melainkan menjadikannya sebagai cerita manusia. Buntje seolah mengamini kata-kata filsuf Prancis, Jacques Derrida, dalam sebuah wawancara, “Hidup filsuf seolah-olah diceritakan bahwa ia lahir, berpikir, dan mati.” Padahal, lanjut Derrida, filsuf juga pasti punya kisah cinta dan dinamika lainnya yang mendasari mengapa ia berpikir demikian. Itu sebabnya, bagi Buntje dalam Jung Café, kehidupan Jung adalah sama pentingnya dengan pemikirannya. Dalam bagian pengantar, Buntje menuliskan, “Buku ini akan mengantar pembaca kepada dasar-dasar teorinya. Dasar teori yang dibangun lewat pemikiran, pengalaman pribadi serta perjumpaan Jung dengan para kliennya di kamar praktek. Bukan dari riset akademis di bangku universitas atau laboratorium seperti umumnya teori-teori terkemuka lainnya.”

Baca Juga: RESENSI BUKU: Kisah Pak Tuba, Tahanan Pulau Buru yang Terus Bernyanyi
RESENSI BUKU: Menelusuri asal-usul Kekayaan di Muka Bumi
RESENSI BUKU: Pertentangan Kelas Zaman Kolonial

Terapi Jung adalah Seni

Buntje Harbunangin membuktikannya dengan sangat baik. Konsep-konsep khas seperti arketipal, the self, shadow, anima animus dan banyak lainnya, tidak diceritakan dengan gaya yang kaku, melainkan dalam bahasa yang sangat renyah. Kita bukan sedang membaca buku teori, tapi cerita tentang manusia. Tidak luput juga, buku setebal 200 halaman ini menunjukkan pengaplikasian teori psikoterapi Jung yang terkenal. Misalnya, Buntje dengan cermat menjabarkan empat tahap proses dalam terapi yang dikutipnya dari Modern Man in Search of Soul yakni pertama, pengakuan atau confession. Kedua, penjelasan atau explanation. Ketiga, pendidikan atau education. Ke empat, transformasi atau transformation.

Keempat tahap tersebut dijelaskannya sambil mengacu pada studi kasus, termasuk tiga jenis pasien yang mendatangi Jung yaitu pasien psikosis, pasien neurosis, dan pasien transformasi. Tidak sampai di sana, Buntje juga menekankan bahwa dalam menganalisis pasiennya, Jung selalu berangkat terhadap analisis terhadap diri sendiri terlebih dahulu, sebagaimana dituliskannya dalam halaman 162: “… pertama-tama Anda harus belajar mengenal lebih dulu siapa Anda. Diri Anda sendirilah instrumennya …” Buntje kemudian menutup bagian psikoterapi ini dengan poin yang kuat: singkat kata, terapi Jung adalah seni.

Pada bagian lainnya, yang tak kalah menarik, adalah bab berjudul Paranormal dan Sinkronisitas. Di bagian ini, penulis tidak hanya menjabarkan teori sinkronisitas Jung tentang “kebetulan yang bermakna”, tetapi juga menyelami kehidupan Jung yang lekat dengan peristiwa mistis (hal yang mungkin terdengar agak jarang dalam kehidupan intelektual Barat). Bahkan Buntje berani mengatakan, bahwa dari catatan-catatan pengalaman yang ditulisnya, jelas bahwa Jung juga adalah seorang paranormal!

SIngkatnya, Jung Café adalah buku yang menarik. Wajib dimiliki tidak hanya bagi mereka yang menggemari kajian psikoanalisis, tapi juga untuk mereka yang tertarik pada kisah manusia dan aneka pergulatannya. Dengan gaya penulisan Buntje yang apik, Jung Café akan dapat dibaca dalam sekali duduk dan percayalah, kita akan tenggelam di dalamnya.

 

Informasi Buku

Judul buku: Jung Café

Penulis: Buntje Harbunangin

Penerbit: Rapi Berkah Makmur

Jumlah Halaman: xi + 187 hlm

Ukuran: 14,5 x 21 cm

Tahun terbitan: 2022

Editor: Redaksi

COMMENTS