Surat untuk Rifa Rahnabila yang Ditangkap Gara-gara Demonstrasi Agustus Lalu
Di demonstrasi Agustus lalu, kamu memilih untuk hadir, dan hari ini kami memilih untuk tidak meninggalkanmu.

Sastra Wijaya
Penulis Lepas. Mencintai kucing dan demokrasi.
7 Januari 2026
BandungBergerak – Rifa, mari memulai surat ini dengan penegasan: mereka menangkapmu bukan karena kamu melakukan kesalahan. Mereka menangkapmu karena kebenaran yang kamu bawa berbahaya bagi kenyamanan mereka.
Kekacauan hari itu, gas air mata yang memerihkan, dan segala huru-hara yang terjadi, bukanlah dosa para demonstran. Itu adalah dosa negara. Negara yang bebal, yang menutup telinga rapat-rapat ketika rakyatnya menjerit, lalu panik dan memukul membabi-buta ketika rakyatnya marah. Mereka yang di atas sanalah yang gagal menjaga amanat, bukan kamu, juga bukan kawan-kawan kita, yang turun ke jalan.
Kamu mungkin tidak mengenaliku, tapi aku mengikuti perjalananmu lewat setiap informasi yang muncul dari portal berita, media sosial, juga cerita kawan-kawan solidaritas. Mungkin kita belum pernah bertatap muka atau bertukar sapa. Kendati begitu, sejak kabar penangkapanmu pecah, aku merasa begitu dekat denganmu. Aku merasa perlu menuliskan sebuah surat untuk sekadar menyapa dan memastikan kamu baik-baik saja.
Sudah sebulan sejak surat yang kamu tulis dari balik jeruji Sukamiskin itu beredar, mulanya dibacakan oleh satu band di panggung solidaritas Dago Elos, kemudian diabadikan lewat esai seorang kawan. Aku membacanya berulang kali. Lekat-lekat. Mencoba menyentuh dan memahami setiap huruf yang kamu goreskan. Saban hari. Setiap kali membacanya, dadaku terhantam, lalu kembali koyak porak.
"Halo kawan-kawan aku Rifa, salam semuanya, buat kalian yang ada di luar sana jangan pernah mau disalahin apalagi atas dasar bukan kesalahan kita, jangan pernah takut menyuarakan atas ketidakadilan yang mereka lakukan kepada kita, selama kegiatan yang kalian lakuin atas dasar keadilan, lakuin sesuka kalian, jangan biarin negara ini jadi negara yang menghilangkan salah satu sila yang ada, jangan sampai rakyat merasakan ketidakadilan. kata katanya akan hancur, mohon maaf ya teman-teman see u di luar sana, di balik jeruji rutan Sukamiskin, Bandung, 12 Desember 2025."
Membayangkanmu menulis surat itu, aku tersadar betapa beratnya beban yang sedang kamu pikul. Ada satu kenyataan yang terus mengusik pikiranku: dari ribuan derap langkah yang memenuhi jalanan Bandung pada Agustus lalu, dari sekian banyak suara yang membumbung ke langit, hanya kamu dan sedikit orang lain yang kini harus berdiri menghadap meja hijau. Rasanya tidak adil. Mengapa bisa suara perempuan muda sepertimu dianggap lebih mengancam dari kesusahan yang terus dialami oleh orang-orang kecil?
Kamu bilang "...jangan pernah mau disalahin apalagi atas dasar bukan kesalahan kita... ". Ya, kamu benar. Negara ini sedang bercanda dengan lelucon yang tidak lucu. Mereka yang menciptakan undang-undang sembarangan, mereka yang memicu amarah rakyat, tapi ketika demonstrasi terjadi, mereka menunjuk hidungmu. Mereka mencuci tangan dengan merampas kebebasanmu. Itu bukan salahmu, Rifa. Itu kegagalan mereka mengurus negara, yang kemudian ditimpakan ke pundakmu.
***
Pesan yang kamu tulis juga menguatkan kami yang ada di luar, Rifa. Di dunia ini, sering kali kami terlalu mudah tunduk pada rasa takut atau merasa bersalah hanya karena berani menyuarakan apa yang salah. Tapi kamu, yang raga dan langkahnya sedang dibatasi, justru mengingatkan kami untuk tetap tegak. Kamu meminta kami untuk tidak takut menyuarakan ketidakadilan. Sungguh, setiap kata yang kamu tulis itu menularkan keberanian kepada kami untuk terus mengkritik semua ketidakberesan yang melanda bumi manusia ini.
Tapi, kabar tentang kondisi kesehatanmu pun sampai juga ke telinga kami. Katanya, kamu kesulitan mendapatkan akses kesehatan, dan dinding-dinding sel Sukamiskin itu mulai menekan ruang batinmu. Betapa beratnya membayangkan harus menjaga kebugaran di ruang yang sempit, lembap, dan dingin. Rifa, tolong jangan pernah memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat. Jika kamu merasa lelah, merasa sepi, atau dunia terasa sedang menjepitmu dengan tekanan mental yang hebat, ketahuilah bahwa itu sangat manusiawi. Menjadi berani bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Menjadi berani adalah tetap berjalan terus meski lututmu gemetar.
Tekanan itu nyata. Kami memahami bahwa kesehatan, baik fisik atau pikiran, adalah hal yang sangat berharga dan sulit dijaga di dalam sana. Kami sangat mengkhawatirkanmu. Jangan ragu untuk memberi tahu apa yang kamu butuhkan jika ada kesempatan berkomunikasi, meskipun itu hal sederhana seperti judul buku tertentu atau pil vitamin.
Mereka salah besar jika mengira dengan mengurung tubuhmu, mereka bisa menghentikan gagasanmu. Mereka mengira dengan menjauhkanmu dari jalanan Bandung, mereka bisa membuat kami lupa. Justru sebaliknya. Seperti yang kamu buktikan melalui suratmu: sekalipun kamu mendekam di sana, mereka tidak pernah bisa memenjarakan gagasanmu. Suaramu lebih nyaring dari sebelumnya, bahkan menyebar sampai ke sudut-sudut kota yang tidak terbayang akan sampai sebelumnya.
Di luar sini, hidup terus berjalan, namun namamu tidak pernah hilang dari pembicaraan. Nama Rifa Rahnabila bukan lagi sekadar berkas perkara, ia kini adalah sebuah simbol keberanian yang merayap di sela-sela harapan banyak orang yang merindukan keadilan. Kami adalah saksi-saksi yang tidak akan pernah lupa. Kami mengabarkan ceritamu kepada mereka yang belum tahu. Kami mendiskusikan ketidakadilan yang menimpamu di kedai-kedai kopi. Kami mengawal setiap jengkal prosesmu agar kamu tidak berjalan sendirian.
Rifa, terima kasih karena sudah berani bersuara ketika banyak orang memilih untuk bungkam. Terima kasih telah mengingatkan bahwa Bandung bukan hanya tentang estetika jalan dan lampu kota. Terima kasih sudah merawat nurani di tengah kota yang seringkali sibuk dengan diri sendiri. Di demonstrasi Agustus lalu, kamu memilih untuk hadir, dan hari ini, kami memilih untuk tidak meninggalkanmu.
***
Rifa, aku sering membayangkan rumahmu saat ini. Pasti ada satu kursi yang biasanya kamu tempati di meja makan yang kini begitu sunyi. Aku membayangkan mamahmu yang mungkin setiap hari menatap pintu, merapikan kamarmu, dan membisikkan doa yang tak putus. Agar dirimu bisa tetap berdiri tegak. Agar suara langkah kakimu bisa kembali terdengar. Dan, kerinduan ibumu itu adalah kerinduan kami juga. Kami tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian.
Kami terus mencoba dengan segala cara yang kami bisa. Ada kawan-kawan solidaritas yang terus mengawal proses hukummu. Ada jurnalis dan penulis yang terus menajamkan pena agar ceritamu tidak terkubur. Ada ribuan dukungan dari orang-orang yang mungkin tidak kamu kenal menderas tanpa henti. Kami akan terus berusaha mengetuk setiap pintu kemungkinan agar keadilan segera menemukan jalan pulangnya kepadamu, juga teman-temanmu.
Oh ya, jangan lupa untuk selalu menyimpan mimpi-mimpimu dengan baik di balik saku bajumu. Sekecil apapun mimpi tersebut. Apakah itu tentang hobi yang sempat berhenti sejenak, rencana kuliahmu yang kemarin tertunda, atau keinginan sederhana untuk sekadar berjalan kaki menyusuri trotoar Bandung sambil menghirup udara bebas. Jangan biarkan tembok rutan mengikis imajinasimu tentang masa depan. Masa depanmu tetap ada, ia tetap utuh, dan ia sedang menantimu dengan sangat sabar di ujung jalan yang kamu lalui.
Suatu hari nanti, kita: aku, kamu, kawan-kawan yang mengawal prosesmu, kawan-kawan yang menjadi korban sepertimu, akan benar-benar duduk bersama di sebuah kedai kopi kecil yang paling nyaman. Kita akan memesan minuman favoritmu, membicarakan kembali impian-impian kecilmu, dan membayangkan betapa indahnya warna langit Bandung saat dinikmati dalam kemerdekaan yang utuh.
Sampai hari itu tiba, tetaplah kuat, Rifa. Jaga kesehatanmu baik-baik untuk kami, untuk keluargamu, dan untuk dirimu sendiri. Kamu sangat berharga. Kami di sini, tetap terjaga, tetap peduli, dan tetap menunggumu. Seperti katamu, see u di luar sana. Kami akan segera menjemputmu pulang.
Oh ya, kamu tidak perlu merasa terbebani untuk membalas surat ini jika memang situasinya tidak memungkinkan. Mengetahui bahwa surat ini sampai kepadamu saja sudah cukup bagi kami.
Salam hangat dengan dukungan, doa, dan rasa cinta yang tak putus.
Bandung, 5 Januari 2026

