AI di Ruang Redaksi, Alat Bantu atau Beban Tambahan?
Teknologi kecerdasan buatan (AI) mampu mempercepat produksi berita, tapi akurasi, etika, dan konteks sosial tetap bergantung pada jurnalis.
Penulis Yopi Muharam12 Februari 2026
BandungBergerak - Perkembangan artificial intelligence (AI) kian akrab di ruang redaksi. Teknologi akal imitasiini menjanjikan pekerjaan yang lebih cepat dan efisien—mulai dari transkrip wawancara, penerjemahan, hingga peringkasan naskah. Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan: apakah AI benar-benar meringankan kerja jurnalis, atau justru menambah persoalan baru?
Pertanyaan itu mengemuka di diskusi “Artificial Intelligence di Newsroom” yang digelar Labtek Indie, Project Multatuli, dan Bandung Bergerak di Byasa.Dianti, Bandung, Rabu, 11 Februari 2026. Dua jurnalis, Catur Ratna Wulandari dan Rio Tuasika, berbagi pengalaman mereka menggunakan AI dalam kerja jurnalistik.
Catur Ratna Wulandari, Editor in Chief Digital Mama, mengatakan AI cukup membantu redaksi kecil seperti medianya. Digital Mama, media independen yang berfokus pada isu perempuan dan ibu, hanya memiliki delapan pengelola aktif.
AI mereka gunakan untuk urusan administratif seperti surat-menyurat dan pencatatan keuangan. Di dapur redaksi, AI membantu membuat transkrip wawancara, menerjemahkan, dan merangkum naskah panjang.
“Kalau wawancara 2 jam, direkam semua, terus didengerin ulang, ditranskrip semuanya. Ini jadinya bisa 3 hari lagi,” jelasnya.
AI juga dipakai untuk curah gagasan dan penyusunan proposal program. Untuk kebutuhan visual, mereka memanfaatkan fitur AI bawaan platform desain seperti Canva atau CapCut karena tidak memiliki ilustrator tetap.
Namun Ratna menegaskan, AI bukan solusi untuk semua hal. Saat menulis isu pinjaman online, misalnya, AI bisa membantu mengidentifikasi aplikasi legal dan ilegal. Tetapi ketika diminta menjelaskan dampak jeratan utang bagi korban, AI tak bisa menggantikan pengalaman manusia.
“Itu dia enggak bisa menjelaskan. Yang bisa menjelaskan ya, yang mengalami cerita itu (masyarakat),” jelasnya.
Ia mengingatkan, akurasi tetap tanggung jawab redaksi. Tulisan Digital Mama kerap dikutip dalam penelitian. Jika data keliru, dampaknya bisa panjang.
“Jika ternyata tulisanya kurang akurat, kita bertanggung jawab. Makanya kita mesti behati-hati (dalam menggunakan AI),” tandasnya.
Bagi Ratna, semakin solid kerja tim, semakin kecil ketergantungan pada AI. Teknologi ini alat bantu, bukan pengganti kerja lapangan.
Bias dan Batasan
Rio Tuasika menyoroti sisi lain: potensi bias dan masalah akurasi. Ia mencontohkan kasus kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang menjadi korban saat demonstrasi Agustus 2025.
Ketika ditanya ke AI apakah Affan “terlindas” atau “dilindas”, jawaban yang muncul merujuk pada berbagai versi—polisi, saksi, keluarga, dan publik. Perbedaan diksi itu bukan soal sepele.
“Karena sistem AI itu hanya merangkum apa yang sudah ada dan apa yang sudah ditulis,” terang Rio.
Menurutnya, AI tidak dirancang untuk memenuhi prinsip keberimbangan jurnalistik. Ia tidak hadir di lapangan, tidak melakukan verifikasi, dan tidak memiliki keberpihakan pada kepentingan publik. AI bekerja dari data yang sudah ada—bukan menghasilkan temuan baru.
Meski begitu, Rio mengakui ada pergeseran perilaku audiens. Laporan Reuters Institute 2025 mencatat 7 persen responden menggunakan chatbot AI untuk mengakses berita, dan angkanya mencapai 15 persen pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Di Indonesia, 37 persen responden menyatakan tidak keberatan mengonsumsi berita yang diproduksi AI.
Riset lain yang dikutip AJI Indonesia menunjukkan lebih dari 75 persen organisasi berita di berbagai negara telah menggunakan AI dalam proses produksi, distribusi, atau pengumpulan berita.
Rio memaparkan lanskap AI dalam jurnalisme secara komprehensif, menyoroti potensi efisiensi sekaligus tantangan terkait etika, akurasi, dan keberimbangan informasi.
“Teknologi hanyalah alat. Namun, ia tidak menghapus tanggung jawab jurnalis terhadap aspek sosial, pemahaman fakta dan kebenaran, serta kepedulian dan empati kepada kelompok minoritas,” tegasnya.
“Teknologi itu adalah alat, tapi tidak mengikis kepentingan mereka terhadap aspek-aspek sosial, pemahaman terhadap kepentingan pentingnya fakta dan kebenaran serta kepedulian dan empati kepada kelompok minoritas,” tandasnya.
Baca Juga: Peluang dan Tantangan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai Teknologi Masa Depan
Di Balik Harapan Besar pada AI, Ada Eksploitasi Pekerja dan Masalah Etika
Liputan ke Lapangan Tetap Dibutuhkan
Jurnalis senior sekaligus dosen Universitas Padjadjaran Nursyahwal menegaskan, AI tidak bisa menggantikan kerja dasar jurnalistik: verifikasi.
“Sebab untuk memastikan suatu kejadian seperti apakah di luar hujan, itu harus diverivikasi terlebih dahulu oleh manusia,” jelas Nursyahwal.
Menurutnya, AI bergantung pada data yang sebelumnya diproduksi manusia. Tanpa kerja lapangan, tak ada bahan yang bisa diolah.
“AI itu alat bantu. Sama seperti dulu mesin tik, sekarang komputer atau ponsel,” ujarnya.
Ia menambahkan, AI tidak mampu menangkap peristiwa yang sedang berlangsung secara langsung. Teknologi ini hanya memproses data yang sudah disediakan manusia.
Di ruang redaksi, AI mungkin mempercepat pekerjaan teknis. Namun soal akurasi, empati, dan tanggung jawab publik, peran jurnalis tetap tak tergantikan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

