• Cerita
  • Dari Kopo ke Saparua, Konvoi Solidaristreet Mengantar Sahur bagi Perempuan Tunawisma Bandung

Dari Kopo ke Saparua, Konvoi Solidaristreet Mengantar Sahur bagi Perempuan Tunawisma Bandung

Aksi Solidaristreet Chapter 10 membagikan makanan dan pakaian hangat sepanjang jalan kota, sembari menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial di Kota Bandung.

Salah seorang bikers memberi makan sahur untuk seorang anak di acara Aksi Solidaristreet, Bandung, 8 Maret 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Penulis Maisan Rachman12 Maret 2026


BandungBergerak - Udara dingin Bandung malam hari terasa meresap ke dalam tubuh. Beruntunglah kita yang berlindung di balik balutan hangat baju tebal. Bagaimana dengan mereka yang hidup di piggiran jalan dan hanya berlindung di balik kain satu-satunya yang mereka miliki?

Di depan gedung Mall Borma Kopo, Bandung, 8 Maret 2026, tampak masyarakat, komunitas motor, pegiat sepeda, perempuan, dan orang muda berkumpul. Masing-masing dari mereka membawa perbekalan makanan, minuman, maupun baju hangat. Bukan untuk mereka sendiri, melainkan untuk dibagikan kepada mereka yang hidup di jalanan.

Di tengah suasana Ramadan, makanan, minuman, dan pakaian hangat dimasukkan ke dalam mobil bak terbuka. Bendera Palestina dikibarkan, sementara grafiti bertuliskan “Negara tidak peduli, masyarakat harus saling bantu” terbentang di bagian depan mobil.

Solidaristreet Chapter 10 dimulai.

“Semuanya di belakang mobil, ikuti arahan mobil dolak, jangan nyusul,” seorang perempuan berjubah bendera Palestina memberi arahan sembari mengendarai motornya. “Lihat kanan-kiri, jangan sampai ada yang lapar!”

Dari Jalan Kopo mereka berkendara menyusuri pusat Kota Bandung. Malam bergulir ke dini hari.

Sepanjang perjalanan, mereka membagikan makanan, minuman, dan pakaian hangat kepada para tunawisma, orang jalanan, pemulung, pedagang kecil, anak-anak, dan siapa saja yang membutuhkan.

Aksi Solidaristreet yang diadakan Pasar Gratis, Bandung, 8 Maret 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)
Aksi Solidaristreet yang diadakan Pasar Gratis, Bandung, 8 Maret 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Kisah Ibu Titin

Rombongan Solidaristreet Chapter 10 tiba di Jalan Pecinan Lama. Di sana mereka membagikan makanan kepada para tunawisma dan pemulung, salah satunya Titin.

Titin adalah warga asli Ciparay. Sudah setahun ia hidup sebagai pemulung di Kota Bandung. Ia datang ke kota bersama suaminya. Namun suatu hari suaminya pergi meninggalkannya begitu saja.

“Udah setahun ibu di sini. Dulu sama suami tapi udah enggak ada, ninggalin ibu aja sendiri. Nanti juga pulang meureun,” ujar Titin.

Selama hidup di jalanan Bandung, Titin mengaku belum pernah menerima bantuan apa pun. Berbeda dengan ketika ia masih tinggal di kampung halamannya, di mana bantuan dari warga atau pemerintah masih sesekali datang.

Menurutnya, bantuan biasanya hanya diberikan kepada warga yang memiliki alamat tetap.

“Enggak ada di sini. Kalau di lembur masih ada yang bantu, kalau di sini enggak ada sama sekali. Ya namanya juga tinggal di jalan. Kalau kontrak baru,” katanya.

Titin merasa senang ketika mendapati yang membangunkannya kali ini bukanlah Satpol PP yang biasa mengusir mereka dari trotoar, melainkan rombongan Solidaristreet yang membagikan makan sahur.

Ia hanya berharap suatu hari bisa mendapatkan sedikit modal untuk memulai usaha kecil.

Sementara itu, jumlah tunawisma di Kota Bandung cenderung mengalami peningkatan. Data Dinas Sosial Kota Bandung menunjukkan jumlah tunawisma, gelandangan, dan pengemis mengalami peningkatan pada 2025. Tercatat terdapat 156 gelandangan, naik dari 113 orang pada 2024. Dari jumlah tersebut, 129 orang telah dijangkau layanan sosial, sementara 27 orang belum terjangkau. 

Jumlah pengemis mencapai 223 orang, meningkat dari 188 orang pada tahun sebelumnya. Sebanyak 184 orang telah mendapatkan penanganan dari Dinsos. Sementara itu, pemulung tercatat 57 orang, naik dari 41 orang pada 2024.

Menurut Dinsos, sebagian besar tunawisma di Bandung berasal dari luar kota. Dari total gelandangan, 125 orang berasal dari luar Kota Bandung, sedangkan 31 orang merupakan warga kota. Daerah asal terbanyak antara lain Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat. Bahkan tercatat 10 tunawisma berasal dari luar Pulau Jawa.

Tunawisma tersebar di sekitar 16 hingga hampir 20 titik rawan di pusat aktivitas kota. Beberapa lokasi yang kerap menjadi tempat mereka beraktivitas antara lain Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Merdeka, kawasan Braga, Cihampelas, Taman Saparua, Taman Vanda, hingga Simpang Lima Asia Afrika.

Tunawisma makan sahur pemberian dari Aksi Solidaristreet, Bandung, 8 Maret 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)
Tunawisma makan sahur pemberian dari Aksi Solidaristreet, Bandung, 8 Maret 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Bukan Hanya Solidaritas

Melalui zine yang didistribusikan selama kegiatan, Solidaristreet menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar gerakan amal yang didorong rasa kasihan.

“Kami menyatakan bahwa yang memberi tidak lebih mulia daripada yang diberi, bahwa aksi ini tidak mengenal kelas sosial dan sekat identitas, dan bahwa sandang pangan yang layak adalah hak seluruh manusia tanpa terkecuali — yang hari ini gagal dipenuhi oleh negara,” tulis seorang anonim dalam zine yang dibagikan oleh Pasar Gratis Bandung, penyelenggara Solidaristreet Chapter 10.

Pinkan (nama samaran), seorang pegiat Pasar Gratis, menyebut aksi ini sebagai bentuk protes terhadap ketimpangan struktural yang membuat banyak orang hidup di jalanan.

“Lebih ke apa yang negara gagal berikan. Sandang, pangan, dan papan,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal seharusnya menjadi hak setiap orang.

Untuk persoalan tempat tinggal, Pasar Gratis Bandung bahkan memiliki gagasan agar bangunan-bangunan kosong yang terbengkalai dapat dimanfaatkan sebagai tempat tinggal bagi para tunawisma.

“Kalau papan kita punya ide dulu okupasi di gedung kosong. Di sisi lain banyak orang yang tidur di jalan,” katanya.

Menurut mereka, bangunan kosong yang dibiarkan terbengkalai justru menunjukkan paradoks: ruang tersedia, tetapi orang tetap dibiarkan hidup tanpa tempat tinggal.

Isu yang Jarang Dilihat

Solidaristreet sendiri telah berjalan sejak 2021 dan tidak selalu dilakukan pada bulan Ramadan. Hingga kini kegiatan tersebut telah mencapai Chapter 10.

Aksi kali ini mengusung tema *Arm the Homeless: Operasi Perut Lapar* dan bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional.

“Kita melihat isu homeless perempuan ini kurang dilirik oleh publik, khususnya dalam peringatan IWD yang sering hanya mengangkat isu permukaan,” ujar Pinkan.

Menurutnya, persoalan perempuan perlu dilihat secara lebih menyeluruh, termasuk kondisi kelompok paling rentan seperti perempuan tunawisma yang juga menjadi korban sistem patriarki.

Sekitar pukul 04.00 pagi, konvoi Solidaristreet tiba di titik akhir di Lapangan Saparua. Di lokasi tersebut, para peserta menutup rangkaian kegiatan dengan sahur bersama setelah sepanjang malam berbagi makanan dan pakaian di jalanan.

Bagi Pasar Gratis Bandung dan Solidaristreet, kegiatan ini bukan hanya tentang membagikan sandang dan pangan. Aksi tersebut juga menjadi kritik terhadap ketimpangan sosial sekaligus pengingat bahwa hak dasar manusia sering kali gagal dipenuhi oleh negara.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//