• Berita
  • Pangéling-eling 129 Tahun Mama Mei Kartawinata, Menghidupkan Warisan Leluhur di Ciparay

Pangéling-eling 129 Tahun Mama Mei Kartawinata, Menghidupkan Warisan Leluhur di Ciparay

Ritual sakral, doa khusyuk, dan refleksi lintas generasi menyatu di Pasarean Mama Mei. Meneguhkan ajaran spiritual Sunda di zaman modern.

Acara Pangelingngeling Kalahiran Mama Mei Kartawinata di Pasweakan Mama Mei Kartawinata, Ciparay, Kabupaten Bandung, Rabu malam, 30 April 2025. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang4 Mei 2026


BandungBergerak - Semburat cahaya bulan purnama menyinari ke segala penjuru Pasarean Mama Mei Kartawinata, Ciparay, Kabupaten Bandung, Jumat malam, 1 Mei 2026. Anak-anak hingga sepuh berpangsi dan berkebaya Sunda datang memenuhi pasarean dalam Pangélingng-éling Kalahiran Mama Méi Kartawinata yang ke-129 tahun.

Sebelum acara dimulai sekitar pukul 19.37 WIB, para penghayat dan tamu undangan silih berdatangan ke pelataran untuk menaruh air demi mendapatkan berkat sepanjang acara berlangsung. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan teks Pancasila. Setelahnya, berlangsung kirab sajen oleh wanoja penghayat, mengitari pelataran dengan membawa beragam sesajen dari hasil bumi. 

Di sekitar pasarean, berdiri foto hitam Mama Mei dengan beragam sesajen dan bunga. Bendera merah putih dengan Burung Garuda Pancasila terpampang tegak di belakang makam. Di sisi lain, asap dupa dan kemenyan menyeruak wewangian ke setiap penjuru.

Selepas prosesi kirab, acara dilanjutkan dengan amitsun dan hening panggalih oleh sesepuh sembari diiringi rajah bubuka. Doa-doa dilantunkan untuk Mama Mei. Dialuni kecapi dan suling, semua tertunduk khusyuk. Lambaian bulan purnama menemani kami malam itu, membuat prosesi terasa kian sakral dan khidmat.

Pangeling-eling digelar hingga tengah malam, para penghayat dan tamu undangan pun berjaga semalaman. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana Deni Kumara, Perwakilan Seuweu-Siwi Mama Mei Kartawinata Ambu Cici, dan Ketua Organisasi Budi Daya sekaligus Presidium Pusat Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia Engkus Ruswana.

Acara ini sudah menjadi agenda rutin oleh penghayat dalam memperingati hari kelahiran Mama Mei Kartawinata yang jatuh pada 1 Mei. Mei Kartawinata merupakan tokoh penghayat sekaligus pejuang di masa prakemerdekaan.

Dalam sambutannya, Engkus Ruswana menjelaskan, penyebutan Mama Mei merupakan ungkapan sayang para penghayat yang berasal dari Rama menjadi Mama. Mama Mei menyeru pada ajaran universal secara lahiriah dan batiniah yang erat kaitannya dengan alam dan kesucian diri.

“Mama Mei ngajarkeun, ngahirupkeun kesucian dina diri sorangan, ulah ngahayangkeun kahayang dunya,” ujarnya.

Ajaran leluhurnya ini banyak dituangkan melalui petutur, tuntunan tertulis dan lisan, alat seni, bahkan dalam ciptaan pupuh. Selepas itu, Pupuh Sinom dilantunkan Deni Kumara dengan indahnya.

Selain ritual, acara malam juga menghadirkan dialog refleksi oleh Kepengurusan Budi Daya, Cakra Arganata dan Akademisi, Arfi Pandu Dinata. Bertajuk "Ngaguar Lalampahan Bapak Mei Kartawinata", dialog ini membahas seputar relevansi ajarannya yang masih berlangsung hingga kini. Dialog berakhir tepat pukul 22.00 malam dan dilanjutkan istirahat.

Selepas istirahat, pasarean kembali diramaikan dengan para penghayat dan tamu undangan. Pupuh Kinanti dilantunkan dengan syahdu oleh Bu Ipah. Semua tertegun khidmat.

Penyekaran makam berlangsung yang diwakili oleh Seuweu-Siwi Mama Mei Kartawinata, Engkus Ruswana, dan tokoh Budi Daya lainnya. Alunan kecapi dan asap dupa membuat suasana malam itu kian sakral. Pupuh Asmarandana juga dilantunkan setelahnya.

Lalu, sebagai bentuk penghormatan dalam merawat makam Mama Mei, Engkus Ruswana menyerahkan cinderamata kepada pengurus makam. Tradisi merawat makam ini sudah diturunkan secara turun-temurun.

Di penghujung acara, hening panggalih berlangsung. Semua lampu di area pasarean dimatikan, suasana menjadi hening tak bersuara. Para penghayat segera memejamkan mata dan memanjatkan doa kebaikan dengan khusyuk.

Malam cerah masih menemani kami hingga penutupan acara pukul 23.30 WIB. Selepas acara, area makam yang sebelumnya dipenuhi oleh botol-botol cai, kini penghayat mulai berdatangan mengambil botol. Tak lupa, mereka turut membakar dupa dan memejamkan mata, duduk berdoa di pinggir makam.

Engkus Ruswana menuturkan, Pangeling-eling Mama Mei Kartawinata menjadi prosesi tahunan yang terus melanjutkan ajaran spiritual Mama Mei.

"Neraskeun kabiasaan Seuweu-Siwi antara ti keluarga besar Mama Mei Kartawinata," ujarnya. "Malah aya pesen saurna engke di mana Mama Mei tos teu aya, rek kudu kumpul, ngariung para kesrakan di makam mah, pasrahan mah."

Baca Juga: Perempuan Penghayat Penjaga Mata Air di Lembah Ciputri
Susah Payah Kaum Penghayat Bandung dan Cimahi dalam Meraih Kesetaraan

Relevansi dan Tantangan Ajaran Mama Mei di Masa Kini

Dalam dialog refleksi sebelumnya, Cakra Arganata melihat masih banyak miskonsepsi terhadap bentuk karakter Indonesia. Seakan karakter semuanya perlu tampil seragam, bukan keberagaman. Sehingga, tak ayal diskriminasi akan perbedaan kerap kali terjadi. Padahal, berbangsa dan berkebudayaan menjadi karakter kuat yang sudah lama diajarkan oleh Mama Mei. 

"Tah eta karakter nu disebat ku Mama teh, janten karakter bangsa nu buleud teh nu boga adat istiadat," ungkap Cakra.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, percepatan informasi memengaruhi generasi muda dan terkungkung dalam jeratan kekhawatiran. Di balik itu, menurutnya, ajaran Mama Mei sebenarnya dapat menjadi jawaban dengan membangun fondasi dasar spiritualitas.

"Umpami abdi ningal, justru (ajaran) Mama membangun fondasi dasarna," tuturnya. "Mun eta na geus pageuh, geus kuat, naon wae masukan ti luar, bisa katahan kitu."

Ia melanjutkan, hari ini penting bagi generasi muda penghayat untuk merawat dan meneruskan ajaran Mama Mei. Tugas perawatan ini, ungkapnya, dapat dilanjutkan melalui kemampuan menulis yang dapat mempersempit ruang diskriminasi dan memperluas khazanah akan agama leluhur Sunda.

"Urang kudu bisa ngigelan jaman urang nyieun sistem-sistem anu memang bisa ditarima kaluar, tapi dengan batasannya," ujar Cakra. "Ya, mau enggak mau, jadi belajar nulis."

Arfi Pandu Dinata menambahkan, meski zaman modern kian masif, penghayat perlu tetap percaya diri dan bangga menjaga agama leluhur. Ia berharap para penghayat tetap menghidupi ajaran Mama Mei melalui aktivitas sehari-hari sembari beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mandiri secara ekonomi.

"Meskipun kita punya identitas yang tajam pada identitas lokal kita, (tetap) terbuka dengan dunia luar," tutur Arfi, yang juga mengangkat pemikiran Mei Kartawinata dalam tesisnya. 

Bagi para penghayat kepercayaan, pangeling-eling yang ke-129 ini menjadi simbol kuat dalam menjaga semangat perjuangan Mama Mei. Meski diskriminasi masih kerap terjadi, mereka tetap berpegang teguh melanjutkan ajaran sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Salam Rahayu.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//