Menyusuri Jejak Skena Musik Metal di Ujungberung: Dari Lapangan Kampung, Kamar Kos, hingga Studio
Percakapan tentang skena musik metal di Bandung bahkan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari Ujungberung. Jejak-jejaknya dikunjungi ulang.
Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 5 Mei 2026
BandungBergerak – Matahari baru saja menyapa ketika saya tiba di Alun-alun Ujungberung, Minggu, 3 Mei 2026. Seperti alun-alun pada umumnya, kawasan ini memiliki lapangan terbuka sebagai pusatnya, dikelilingi oleh ragam infrastruktur penting penopang aktivitas warga seperti jalan raya, Masjid Agung, pasar, pusat jajanan, dan kantor pemerintahan. Orang-orang datang dari berbagai arah untuk bermacam keperluan.
Pagi itu perhatian saya langsung tertuju pada sekumpulan orang yang sedang duduk dengan mengenakan kaus hitam bergambar mendiang Ivan Scumbag, Balcony, dan Seringai tepat di bawah tengara besar bertuliskan “UJUNGBERUNG”. Kecamatan di Bandung timur ini memang punya riwayat tak biasa. Ia menjadi episentrum salah satu pergerakan musik metal paling berpengaruh di Indonesia. Band-band cadas yang saat ini menghiasi belantika papan atas musik keras negeri ini, dari Burgerkill, Jasad, sampai Forgotten, lahir dan tumbuh di sini.
Segera saya menyadari, kawan-kawan dengan kaus hitam itu adalah juga para peserta “Ngaleut Ujungberung Rebels”, kegiatan jalan kaki yang menjadi alasan saya menembus jalanan Bandung menuju Ujungberung dengan bersepeda motor selama 40 menit. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghampiri dan mulai berkenalan dengan mereka. Bukan hanya dari Bandung, berapa peserta berasal dari luar kota, bahkan dari luar Jawa Barat, seolah menegaskan sudah sejauh apa nama Ujungberung bergema dalam skena musik metal hingga hari ini.
Di tengah perbincangan yang melibatkan juga beberapa orang panitia, dari kejauhan seorang laki-laki dengan celana pendek bermotif loreng, kaus hitam bergambar kesenian Ulin Barong, dan topi hitam bertuliskan Burgerkill berjalan menghampiri. Dialah Iman Rahman Anggawiria Kusumah, akrab disapa Kimung. Salah satu pendiri band Burgerkill sekaligus penulis buku dokumentatif supertebal Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur (2013) inilah yang akan pemandu dan pemateri kegiatan Ngaleut kali ini.

Tentang Ujungberung
Sebagai pembuka, Kimung membagikan cerita tentang kawasan Ujungberung yang di masa kecilnya pada tahun 1980-an masih kental dengan tradisi kesenian beladiri benjang, lengkap dengan keterampilan bermusik sebagai pengiring. Alun-alun tempat kami berkumpul pagi itu selalu ramai setiap Minggu. Warga, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, sampai anak-anak, datang dari beragam penjuru kecamatan untuk menyaksikan pertarungan ketangkasan yang biasa disebut “benjang gelut”.
Namun, karena kegiatan ini kerap berujung pada dendam dan perkelahian sungguhan di luar arena kesenian, benjang gelut perlahan ditinggalkan. Yang tersisa adalah kesenian musik pengiring benjang yang sampai saat ini masih kerap dipadukan dengan berbagai kesenian tradisional lain.
“Dulu ada sebutan manusia ‘berung’ sebagai ungkapan kegilaan atau kemarahan: ‘meni jiga jelema berung’. Nama Ujungberung diambil dari situ, ujung berarti akhir dan berung berarti kemarahan. Jadi Ujungberung itu artinya akhir kemarahan,” papar Kimung perihal asal-usul nama Ujungberung.
Ditambahkan Kimung, kisah penamaan Ujungberung tidak bisa dilepaskan dari legenda Sangkuriang dalam kisah Tangkuban Parahu. Sangkuriang yang kala itu dipenuhi kemarahan, diyakini melarikan diri bersama amarahnya ke berbagai tempat sampai akhirnya tiba di Ujungberung dan mengakhiri semuanya.
Hari ini, Ujungberung merupakan satu dari 30 kecamatan di Kota Bandung. Kecamatan ini memiliki luas 6,24 kilometer persegi, terdiri dari lima (5) kelurahan. Per tahun 2025, jumlah penduduk Ujungberung tercatat sebanyak 64,5 juta orang.

Semangat Do It Yourself (DIY)
Dari titik kumpul awal di alun-alun Ujungberung, rombongan kami yang terdiri dari 25 orang berjalan sejauh sekitar 200 meter masuk ke dalam sebuah gang selebar tiga meter menuju Lapang Kaum Kidul. Di lapangan futsal terbuka inilah, acara Bandung Berisik pertama kali digelar pada 1995. Keterbatasan tidak menghentikan semangat anak-anak Ujungberung untuk bermain musik. Bandung Berisik “menumpang” pada panggung Agustusan warga.
“Waktu itu kisaran bulan September. Kami ikut numpang ke panggung bekas Agustusan warga. Poster acara aja gak ada. Waktu itu anak-anak ngelukis kain buat backdrop panggung, nah itu terus difoto dan disebarin jadi info acara semacam poster,” ujar Kimung.
Semangat kemandirian semacam inilah yang melekat pada diri anak-anak gerakan musik metal kolektif yang ada di Ujungberung. Mantra Do It Yourself dihidupi benar.
Tidak jauh dari Lapang Kaum Kidul, Kimung menunjuk sebuah teras rumah milik keluarga besar mendiang Ivan Scumbag, vokalis awal band Burgerkill. Di teras itulah pembahasan seputar musik dan gerakan musik underground Ujungberung tahun 1990-an, dirumuskan. Salah satunya, pembuatan distro sebagai usaha mandiri untuk menjaga kelangsungan kegiatan bermusik.
Kami kemudian berjalan memasuki gang yang semakin sempit sampai hanya bisa dilalui oleh satu barisan pejalan. Di gang itulah terdapat sebuah madrasah bernama Nurul Islam yang menjadi tempat Ivan dan kawan-kawan mengaji setiap hari.
Tidak jauh dari sana, berdiri bekas rumah Ivan, tempat bersejarah yang menjadi bengkel perancangan lirik lagu-lagu dalam album pertama Burgerkill. Namun, rumah tersebut kini telah berubah menjadi bangunan kos-kosan dua lantai. Status lahannya pun bukan lagi milik keluarga Ivan.
Banyak jejak sejarah di Ujungberung telah berubah seiring berjalannya waktu. Beberapa mungkin tersimpan dalam bentuk arsip dokumentasi, baik dalam bentuk tulisan maupun visual, sementara sisanya masih mengendap di ingatan para pelaku sejarahnya.
Baca Juga: Balcony dan Homicide Membumikan Musik ke Akar Rumput
Dari Panggung ke Kampus, Cara Skena Hardcore Bandung Bertahan di Tengah Krisis Venue
Titik-titik Kumpul
Salah satu bentuk arsip sejarah pergerakan musik bawahtanah Ujungberung paling unik adalah merchandise band berupa kaus dengan beragam artwork yang dicetak dan dijual beberapa dekade silam sebagai bagian dari cara untuk tetap bertahan. Di Pieces Studio dan Pieces Print, arsip-arsip itu terpajang menutupi dinding. Dani Papap, pemilik kedua brand, menjadi sosok penting dalam kerja pengarsipan tersebut.
“Itu bajunya juga ada ratusan lebih,” jelas Papap dengan sebagian rambut yang mulai beruban. “Jadi nanti kalau Pieces mau ngadain pameran, bisa dipajang semua.”
Selain menjadi tempat produksi merchandise bagi anak-anak band metal di Ujungberung, Pieces terlebih dahulu dikenal sebagai studio latihan band. Buka sejak 1997 dan bertahan hingga saat ini, tidak terhitung berapa banyak band telah berkumpul dan berlatih di tempat ini. Longgarnya waktu sewa diakui Papap menjadi alasan utama band-band betah berkumpul dan berlatih di Pieces.
Di Ujungberung, tempat berkumpul menjadi simpul penting dalam upaya menjaga dan mengembangkan jejaring perkenalan. Dari Pieces, Kimung membawa kami ke dua titik kumpul paling penting di Ujungberung yang menjadi titik pertemuan orang-orang dari berbagai arah: Studio Palapa dan area bekas kosan mendiang Eben, musisi legendaris yang juga merupakan gitaris dan pendiri Burgerkill.
Studio Palapa, selain menawarkan kecanggihan pada masanya, menolak larangan membawakan lagu-lagu beraliran musik keras sebagai materi berlatih yang umum diterapkan pada 1990-an. Itulah kenapa studio ini berhasil menarik banyak muda-mudi dari berbagai penjuru Bandung datang ke Ujungberung dengan latihan band.
Sementara itu, kosan Eben menjadi tempat pertemuan-pertemuan dengan alasan yang lebih dalam, seperti pertukaran pengetahuan terkait musik, sikap, atau bahkan ideologi. Di kosan ini jugalah, ada pertukaran zine dan rilisan musik dari satu orang ke orang lainnya.

Sisi Lain Literasi Sejarah
“Ngaleut Ujungberung Rebels” pada hari Minggu itu berakhir di titik awal keberangkatan penyusuran, yakni Alun-alun Ujungberung. Jarak sejauh 3,5 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar tiga (3) jam.
Kegiatan Ngaleut merupakan aktivitas walking tour sejarah yang diinisiasi dan sampai sekarang masih rutin digelar oleh Komunitas Aleut, salah satu pionir komunitas pengapresiasi sejarah di Bandung. Literasi sejarah dilakukan secara menyenangkan dengan berjalan kaki mengunjungi langsung lokasi-lokasinya. Deuis Raniarti, pegiat komunitas Aleut, menjelaskan, Ujungberung dipilih karena kawasan ini telah menggoreskan dampak besar terutama dalam skena musik bawahtanah Bandung yang perlu diketahui oleh lebih banyak orang.
“Pada awalnya (Ngaleut ini) meneruskan cerita karena sebelumnya kita udah Ngaleut Skena Underground. Jadi kita lanjutin lagi ke Ujungberung Rebels,” ucap Rani.
Akbar, salah satu peserta Ngaleut, menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan Ngaleut Ujungberung Rebel di tengah kesibukannya sebagai mekanik mengulik onderdil sepeda. Ia menemukan banyak informasi rinci dengan melihat langsung lokasi sembari mendengarkan cerita yang disampaikan selama penyusuran. Salah satu yang paling membekas baginya adalah informasi mengenai Ivan Scumbag yang ternyata tekun mengaji.
“Enak banget, seru banget. Saya jadi tahu ternyata almarhum Ivan Scumbag itu tidak se-scumbag itu. Dia ngaji, dia salat. Ternyata ada sisi lainnya yang saya belum tahu,” ujar pria 32 tahun yang akrab dipanggil Bay ini.
Fefen, seorang perempuan 52 tahun, memberikan kesaksian serupa. Ia menikmati setiap aktivitas Ngaleut
“Menarik ya!” katanya. “Perjuangan Kimung dan kawan-kawan radikal banget.”
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


