• Liputan Khusus
  • Hamparan Panel Surya dan Peminggiran Perempuan di Cirata

Hamparan Panel Surya dan Peminggiran Perempuan di Cirata

Kehadiran PLTS Terapung Cirata membuat banyak nelayan ikan dan petani keramba kehilangan pekerjaan. Para perempuan memikul beban ganda.

Maidah, 80 tahun, dan tumpukan kain perca di rumahnya di Desa Ciroyom Hilir, Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Penulis Fitri Amanda 30 Mei 2026


BandungBergerak – Matahari belum benar-benar naik ketika Maidah, 85 tahun, mulai menyalakan tungku di dapur rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari tepian Waduk Cirata. Dulu, rutinitas menanak nasi pagi adalah juga waktu cemas menunggu kepulangan sang suami bersama ikan hasil tangkapan. Di masa jaya sebagai nelayan waduk, yang sudah dilakoni selama 20-an tahun, ia biasa menenteng ember berisi 10-30 kilogram pepetek. Nilai jualnya Rp150.000 hingga Rp200.000, cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.

Cerita berubah sejak hamparan panel surya dipasang menutupi sebagian permukaan waduk. Dari tangkapan melimpah menjadi temuan dalam hitungan jari. Tidak jarang bahkan sang suami pulang bersama ember yang nyaris kosong. Memperoleh uang makan Rp5.000 per hari terasa begitu sulit.

Di Waduk Cirata, nelayan menggunakan sorot cahaya yang sangat terang untuk memikat perhatian ikan pepetek agar mudah ditangkap. Biaya sewa listrik untuk alat ini dipatok Rp2.000 per malam. Kalau harga satu kilogram pepetek di kisaran Rp5.000 dan setiap pagi hanya ada satu kilogram tangkapan ikan di ember, pendapatan yang dibawa pulang setelah semalam suntuk bekerja tidak lebih dari Rp3.000. Jelas sudah: pepetek, ikan khas waduk berukuran kecil pipih dengan kulit keperakan, tak bisa lagi diandalkan sebagai gantungan hidup keluarga Maidah.

Keputusan berat lalu diambil. Suami Maidah, yang kondisi kesehatannya semakin memburuk, memutuskan untuk berhenti menjadi nelayan waduk. Ia menghabiskan hari-harinya di rumah, sementara Maidah mulai bekerja secara serabutan agar tungku dapur tetap menyala.

Sejak empat bulan lalu Maidah menerima pekerjaan borongan menyusun kain perca. Setiap hari dia duduk di lantai dapur yang dingin, khusyuk menghadapi tumpukan kain perca. Dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk, Maidah secara telaten memilah-milah potongan kain lalu menyusunnya. Upah dipatok Rp600 per kilogram.

Kain perca yang harus dipilah dan disusun Maidah datang dalam karung yang jumlahnya tidak menentu. Kadang empat karung, tapi sering juga hanya satu karung, tergantung pemasok.

“Kemarin juga cuman digaji 27 ribu (rupiah). (Tapi) Kalau nggak kerja, dari mana (dapat uang) buat jajan (cucu), buat makan?” ucap Maidah sambil sesekali tertawa getir di sepanjang obrolan, Rabu, 22 April 2026.

Maidah tinggal di rumah yang dibagi untuk dua penghuni di RT 25 RW 09 Desa Ciroyom Hilir, Kecamatan Cipendeuy, Kabupaten Bandung Barat. Bagian depan bangunan rumah ditinggali keluarga anaknya, sementara dia dan suami tinggal di bagian belakang. Dibangun dengan semen dan batako sebagaimana kebanyakan rumah di kampung, rumah keluarga Maidah dicat hijau. Di kanan kirinya, berdiri rumah tetangga dengan beberapa tanaman tumbuh di tanah lapang di antaranya.

Maidah memiliki lima orang anak. Empat di antaranya belum memiliki pekerjaan tetap, dan bertahan hidup dengan bekerja serabutan. Beberapa tahun lalu salah satu anak perempuan Maidah memutuskan untuk bekerja di luar negeri dan menitipkan dua anaknya yang masih menempuh pendidikan Sekolah Dasar kepadanya.

“Ya udah weh, Mak, aku cari uang,” kata Maidah menirukan ucapan anak perempuannya itu ketika pamit merantau ke negeri orang. “Mak jagain anak-anak.”

Dalam kondisi yang serba sulit saat ini, keluarga Maidah harus pintar-pintar berhemat. Mereka semakin sering memanfaatkan apa saja yang tersedia di sekitar rumah, termasuk daun singkong dan berbagai tanaman lain yang bisa dikonsumsi.

Kisah Maidah mewakili perubahan nasib banyak perempuan yang tinggal di sekitar Waduk Cirata, khususnya di Desa Ciroyom Hilir, sejak kehadiran deretan panel surya. Lia, 30 tahun, harus memikul beban ganda sebagai ibu rumah tangga yang bekerja sambilan karena suami kehilangan pekerjaan sebagai pencari ikan. Untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga, dia pernah mencoba peruntungan dengan berjualan bakso ikan di depan rumah sebelum kehabisan modal dan tutup.

Sementara itu, Siti, 40 tahun, bertahan hidup dengan bekerja serabutan di sawah milik orang lain, Jika ada yang mengajak menanam padi atau membantu panen, dia akan bekerja dan menerima upah berupa padi dari si pemilik sawah. Dulu, sebelum ada proyek pemasangan panel surya, suami Siti memiliki keramba di waduk untuk mengelola ikan nila.

“Sekarang mah nggak bisa,” ucapnya. “(Keramba) Digusur, (di)suruh pindah jauh-jauh.”

Hamparan panel surya di Waduk Cirata. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)
Hamparan panel surya di Waduk Cirata. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Demi Mimpi Transisi Energi

Hamparan panel surya yang menutupi sebagian permukaan waduk, dan lalu mengubah kehidupan keluarga Maidah, Lia, Siti, dan banyak perempuan lain, merupakan bagian dari infrastruktur raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. Persisnya ada 343 ribu modul panel surya seluas 200 hektare. Dengan kapasitas 192 Megawatt-peak (MWp), pembangkit ini menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara.

Proses pembangunan PLTS, yang melibatkan kerja sama Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA), cukup panjang. Pada periode tahun 2012 hingga 2017, PT Pembangkitan Jawa-Bali, yang kini Bernama PLN Nusantara Power, mulai menjajaki potensi energi surya di Waduk Cirata yang memiliki luas total 6.500 hektare. Tahap uji coba dilangsungkan pada Oktober 2023 sebelum sebulan kemudian, tepatnya pada 9 November 2023, Presiden Joko Widodo meresmikannya. Selang empat hari, PLTS Terapung Cirata resmi beroperasi secara komersial dan mulai menyuplai energi listrik ke sistem Jawa-Madura-Bali.

Proyek PLTS Terapung Cirata, yang disebut mampu mengurangi emisi sebesar 214 ribu ton per tahun, menjadi salah satu mercusuar bagi ambisi besar pemerintah Indonesia menggulirkan transisi energi untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060, sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Demi penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034, pengembangan tenaga surya dipatok menyumbang hingga 17,1 GW. Saat ini dari total potensi energi surya di Indonesia 3.295 GW, baru sekitar 270 MW yang termanfaatkan.

Dalam siaran pers yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di hari peresmian, disebutkan semua yang baik tentang proyek. Termasuk klaim pelibatan “pekerja dari warga sekitar sebanyak kurang lebih 1.400 pekerja dari komunitas lokal sekitar proyek dan UMKM sekitar”. Tidak tersisa satu kalimat pun untuk menceritakan dampak sebagaimana dialami Midah dan para tetangganya.

Kesaksian berbeda datang dari warga. Arip, ketua RT di kampung tempat tinggal Maidah, menyebut nilai kompensasi tidak sebanding dengan dampak yang dirasakan. Setiap nelayan waduk dan pemilik keramba yang terdampak menerima uang di kisaran Rp175.000 hingga Rp200.000, jauh dari modal membangun keramba yang mencapai Rp3.000.000.

Warga mengakui, sosialisasi pembangunan PLTS di Waduk Cirata pernah dilakukan. Namun, materi yang disampaikan terbatas pada pengenalan proyek. Tidak ada pembahasan khusus mengenai manfaat langsung, peluang kerja, serta dukungan ekonomi bagi mereka yang terdampak. Juga tidak ada pelatihan keterampilan khusus bagi warga, terutama perempuan, sebagai bekal mengupayakan keberlanjutan sumber penghidupan mereka.

Tentang keluhan warga ini, belum diperoleh tanggapan dari PLN Nusantara Renewables. Permintaan wawancara ke direktur Dimas Kaharudin, mula-mula melalui pesan WhatsApp lalu lewat surat elektronik (email) kepada petugas humas, tidak berbalas.

Selain PLTS Terapung Cirata, Jawa Barat juga memiliki PLTS Ground-Mounted berkapastias 100 MWp di kawasan Industri Kota Bukit Indah (KBI), Kabupaten Purwakarta, yang diresmikan pada 28 Agustus 2024. Menggunakan 160 ribu panel photovoltaic (PV) dengan kemampuan menghasilkan energi sebesar 150 GWh per tahun, inilah PLTS daratan terbesar di Indonesia.

Daya jelajah perahu warga untuk mencari ikan, kian terbatas. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)
Daya jelajah perahu warga untuk mencari ikan, kian terbatas. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Baca Juga: Tersingkir Panel Surya
Peran PLTA Cirata Amat Tergantung pada Upaya Menjaga Kelestarian Lingkungan

Mendorong Pelibatan Perempuan

Balqis Inayah dkk., dalam riset “Penilaian Nexus di Sektor Energi Indonesia”, mengungkap bagaimana warga sekitar waduk menaruh harapan besar pada proyek PLTS, lalu memanen kecewa. Tingkat penyerapan tenaga kerja dan subkontraktor lokal ada di kisaran 10 persen saja, jauh dari angka yang diharapkan mencapai 30 persen. Di level subkontraktor, perusahaan-perusahaan lokal selalu kalah bersaing dalam tender terbuka.

Tentang pelibatan warga selama proses pembangunan, antropolog sosial Hamidah Busyrah menyebut sebagian besar dari mereka diberi peran sebagai tenaga kasar atau pekerja lepas. Setelah proses konstruksi selesai, mayoritas warga tak lagi dilibatkan. “Renewable energy (energi terbarukan) itu bukan proyek padat karya,” ujar salah satu anggota tim penulis riset tersebut dalam wawancara via Zoom, Selasa, 7 April 2026.

Corak serupa, menurut Hamidah, ditemukan dalam program-program tanggung jawab sosial korporasi (CSR) yang menyasar perempuan. Penyalurannya sering tidak tepat sasaran karena tidak berkaitan langsung dengan komunitas yang paling terdampak. Salah satu pangkal masalah adalah minimnya pelibatan perempuan dalam forum-forum konsultasi dan pengambilan keputusan. Akibatnya, keputusan soal kompensasi, pelatihan, dan pembagian manfaat lebih banyak lahir dari sudut pandang laki-laki.

Pemerhati isu perempuan Lita Soerjadinata mengingatkan kontribusi penting kajian antropologi dan sosiologi, termasuk penerapan perspektif keadilan gender, dalam perencanaan proyek pembangunan berskala besar seperti PLTS Terapung Cirata. Pasalnya ketika pembangunan menghilangkan mata pencaharian utama laki-laki sebagai kepala rumah tangga, perempuan sering terdorong untuk mencari penghasilan tambahan. Akibatnya, mereka harus menanggung dua peran sekaligus: mengelola urusan rumah tangga dan membantu menopang ekonomi keluarga.

“Jadi nggak sekadar AMDAL (Analisis mengenai Dampak Lingkungan) ya, nggak sekadar lingkungan ini rusak apa nggak,” ujarnya. “Tapi (dampak ke) masyarakatnya gimana.”

Di Cirata, waduk menyediakan sumber penghidupan bagi warga di kampung-kampung sekitarnya. Tidak sedikit perempuan turut mencari ikan untuk menopang ekonomi keluarga. Jika laki-laki mengarahkan perahu ke tengah waduk, para perempuan secara tekun menyisir pinggirannya. Hasil tangkapan berupa ikan-ikan kecil dan keong lalu dijual ke pasar.

Pemasangan instalasi ratusan panel mengubah banyak hal. Ruang gerak warga di wilayah perairan kian sempit. Jarak antara batas terluar instalasi dengan daratan sekitar 300 meter saja. Karena ada pembatasan aktivitas di sana, tak ayal kerja-kerja perempuan turut hilang.

Demikianlah berkat hamparan panel surya di Waduk Cirata, aliran listrik yang dicap energi hijau mengalir ke rumah-rumah tangga di sekujur pulau nun jauh di sana. Namun di rumah yang sepelemparan batu jaraknya dari instalasi, Maidah dan keluarganya justru merasa kian terpinggirkan.

 

 

 

 

 ***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//