Pseudo-Entertainment #2 Hadirkan 17 Seniman Indonesia dan Jepang, Bandung Jadi Ruang Eksperimen Seni Pertunjukan
Festival selama 8–12 Juli 2026 menghadirkan residensi, pertunjukan, dan forum kepenontonan yang menjadikan Bandung sebagai ruang dialog, eksperimen, dan pertukaran p
Penulis Tim Bergerak Project9 Juli 2026
BandungBergerak - Festival Pertunjukan Pseudo-Entertainment #2 akan berlangsung di Bandung pada 8–12 Juli 2026, menghadirkan rangkaian pertunjukan, residensi, hingga forum kepenontonan yang melibatkan 15 seniman Indonesia dan dua seniman Jepang, yakni Minami Nakayashiki dari Yokohama dan Aokid (Naosuke Aoki) dari Tokyo.
Program yang diproduksi BPAF Foundation sebagai bagian dari jejaring Antaragam ini menjadi kelanjutan dari riset praktik seni pertunjukan yang menempatkan Bandung sebagai ruang pertemuan berbagai praktik artistik, latar belakang, dan komunitas yang saling beririsan.
Festival ini merupakan puncak dari rangkaian program yang telah berlangsung sejak pertengahan Mei 2026. Sebelumnya, para seniman mengikuti berbagai proses pengembangan karya melalui residensi, OpenLab, residensi riset internasional, hingga inkubasi praktik artistik sebelum dipresentasikan kepada publik.
Selama lima hari penyelenggaraan, Pseudo-Entertainment #2 akan menghadirkan 10 karya MTN Lab, dua karya Uji Praktik, dua presentasi hasil residensi riset seniman Jepang, serta dua karya hasil pengembangan Artistic Development Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Penanggung Jawab Publikasi Pseudo-Entertainment #2 Meylfin menegaskan bahwa Bandung dipilih bukan semata sebagai tempat penyelenggaraan festival, melainkan sebagai ruang yang memungkinkan berbagai praktik seni berkembang melalui perjumpaan lintas disiplin dan komunitas.
"Bagi kami, Bandung bukan hanya menjadi lokasi penyelenggaraan festival, tetapi merupakan medan praksis, epistemik, dan politis tempat berbagai inisiatif artistik, pendidikan, serta komunitas dari beragam kota saling bertemu, berdialog, dan membentuk kemungkinan-kemungkinan baru dalam praktik seni pertunjukan," ujar Meylfin, dalam siaran pers yang diterima BandungBergerak.
Festival tahun ini juga menjadi ruang untuk melanjutkan proses pengembangan karya yang telah dimulai melalui platform Artistic Development.
Fachri Matlawa dan Adrian, misalnya, melanjutkan proses pengembangan praktik dan karya mereka, kemudian membagikan proses tersebut kepada publik. Penonton tidak hanya menyaksikan karya yang telah selesai, tetapi juga diajak mengikuti perjalanan artistik yang masih terus bertumbuh.
Selain pertunjukan, festival juga membuka ruang dialog melalui Serial Forum Kepenontonan yang terdiri atas sesi Kopi Pagi Majelis Dramaturgi dan forum diskusi pascapertunjukan. Program ini dirancang agar publik tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat dalam pembacaan, refleksi, dan percakapan mengenai karya yang dipresentasikan.
Sejumlah karya akan dipentaskan di The Hallway Space, Institut Français Indonesia (IFI) Bandung, dan Ruang Eksperimen Tari ISBI Bandung.
Pada hari pembukaan, Rabu, 8 Juli 2026, festival menampilkan karya Dani S. Budiman dan Jacko Kaneko di The Hallway Space. Hari berikutnya, Kamis, 9 Juli 2026, publik dapat menyaksikan pertunjukan Fay Muthahhari dan Ela Mutiara di IFI Bandung.
Sementara itu, Jumat 10 Juli 2026, seniman Jepang Aokid (Naosuke Aoki) akan mempresentasikan hasil residensi risetnya, disusul pertunjukan "Medan Terliar" karya Siko Setyanto, sebuah pendekatan koreografi partisipatoris yang mengajak publik terlibat dalam pengalaman artistik.
Sabtu, 11 Juli 2026, Minami Nakayashiki mempresentasikan hasil riset artistiknya di ISBI Bandung. Pada hari yang sama, Adrian menampilkan karya "Dasar Bentjong!", disusul Fachry Matlawa dengan "In Broken Rhythms", sebagai bagian dari kelanjutan proses Artistic Development.
Festival ditutup pada Minggu 12 Juli 2026 dengan pertunjukan galeri oleh Dewi Nurlaela, dilanjutkan karya "The Voices After Cak!" oleh Wayan Sumahardika bersama Mulawali Institute yang mempertemukan tradisi kecak dengan konteks urban Bandung, serta pertunjukan "Lawe Samagaha" karya Wail Irsyad.
Selain pertunjukan utama, Ragil Cahya Maulana, Fransiska Romana Pude Jari, Aldiansyah Azura, dan Salira Ayatusyifa juga akan tampil pada sesi siang di The Hallway Space selama Rabu hingga Jumat.
Kehadiran Minami Nakayashiki dan Aokid menjadi bagian dari program residensi riset seniman internasional yang dikembangkan bersama Indeks. Melalui residensi tersebut, kedua seniman mengeksplorasi Bandung melalui observasi, percakapan, eksperimen, serta perjumpaan dengan seniman dan komunitas lokal sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan dan dialog lintas budaya.
Festival Pertunjukan Pseudo-Entertainment #2 terbuka untuk publik dan diharapkan menjadi ruang bersama bagi seniman, akademisi, komunitas, serta masyarakat untuk mengalami, mendiskusikan, dan membaca kembali praktik seni pertunjukan kontemporer melalui rangkaian pertunjukan maupun forum kepenontonan yang berlangsung sepanjang festival.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


