Layar Tancap Terang Bulan: Membaca Ulang Ketionghoaan lewat Sinema, dari Luka Mei 1998 hingga Krisis Identitas
Dua belas film dalam Layar Tancap Terang Bulan menelusuri trauma sejarah, ingatan keluarga, dan pergulatan identitas Tionghoa-Indonesia lintas generasi.
Penulis Retna Gemilang20 Oktober 2026
BandungBergerak - Niu Niu menemukan kumpulan surat lama dan materi arsip yang mengungkap masa lalu kakeknya di Indonesia. Banyak pertanyaan, cerita, dan memori yang sudah lama tersimpan, membuat Niu Niu menelusuri jejaknya hingga ke Indonesia. Penelusurannya kemudian membawa mundur ke memori kelam Krisis Moneter dan Kerusuhan Mei 1998. Terungkap sejarah keluarganya ketika rumah di Indonesia dibakar oleh massa hanya karena mereka Tionghoa. Mereka melarikan diri ke Singapura sebagai seorang pengungsi dan penyintas yang mengalami trauma.
Dalam pencariannya, ia berhadapan dengan mitos seputar tokek atau gecko. Suara dan visual tokek yang terus berkelindan dengan Niu Niu seolah menjadi penanda bahwa terdapat sesuatu yang tidak pernah hilang, yakni ingatan masa lalu akan trauma antargenerasi.
Kisah Niu Niu ini muncul dalam film pendek berjudul Gecko (2026). Berdurasi 14 menit, film ini disutradarai Owen Effendi yang berusaha mengungkap arsip keluarga Tionghoa-Indonesia bertahan setelah mengalami sejarah kerusuhan yang kelam.
Owen menceritakan, filmnya ini terinspirasi dari cerita keluarganya dulu sebagai penyintas kerusuhan tahun 1998 lalu di Jakarta. Sebagai orang yang lahir pasca reformasi, Owen memahami luka antargenerasi tersebut dari cerita dan arsip yang tersisa. Tokek dipilihnya, sebagai representasi dari Asia Tenggara atas mitos-mitos yang kerap diturunkan melalui cerita keseharian di keluarga.
Cerita melarikan diri keluarganya ke Singapura, bahkan terarsipkan pula oleh koran Singapura. Ia pun menunjukkan arsip-arsip foto keluarganya. Dari pengalamannya, ia mengatakan, terdapat beberapa momen ia merasa krisis identitas sebagai Tionghoa-Indonesia.
“Saya ini orang Indonesia tapi bukan Cina, ketika di Cina juga bukan sama sekali Cina,” ujarnya.
Film dan cerita Owen mengemuka dalam “Layar Tancap Terang Bulan” bersama SineSofia di rangkaian acara CapCipCup Fest 02: TERANG BULAN di Tjap Sahabat, Jl. Cibadak No. 168A, Bandung, Sabtu malam, 17 Oktober 2026.
Selain film Gecko, ada dua film pendek lainnya yang diputar dalam minggu pertama, yakni Acung Memilih Bersuara (2023) karya Amelia Hapsari berdurasi 10 menit dan Vania On Lima Street (2022) karya Bayu Prihantoro berdurasi 24 menit.
Baca Juga: Forgotten: Melawan Sampai Akhir Hidup
ULAS FILM: 'Where is the Friend's House?', Ketika Anak- ...

Membaca Ulang Ketionghoaan di Layar Sinema
Ketiga film tersebut menunjukkan satu benang merah yang sama, yakni bagaimana luka dan trauma warga Tionghoa didefinisikan ulang melalui sinema Indonesia sebagai bentuk merawat ingat antargenerasi. Dalam Layar Tancap Terang Bulan, setidaknya ada 12 film terkurasi yang menceritakan dinamika Tionghoa di Indonesia. Penayangan film tersebut dibagi menjadi empat hari setiap hari Sabtu dari 17 Oktober-7 November 2026.
Kurator Layar Tancap Terang Bulang dan Programmer Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Gorivana Ageza mengatakan, ke-12 film tersebut memperlihatkan bagaimana isu ketionghoaan dieksplorasi oleh para sineas Indonesia, khususnya melalui film pendek. Kemudian, tentang bagaimana jejak karya asli sineas-sineas Tiongkok dalam mengolah isu yang lekat dengan identitasnya, melalui persimpangan nilai tradisi, memori sejarah, trauma, hingga kegagapan identitas.
“Sinema di titik ini menjadi semacam terang bulan atas temaramnya sejarah yang memberikan kesempatan untuk kita memandang kembali dengan lebih terang-benderang hal-hal yang selama ini disinggungkan dalam film,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gorivana yang telah menjadi juri film cerita pendek di Festival Film Indonesia (FFI) 2021-2023, melihat adanya pergeseran pola tema sinematik tentang Tionghoa. Dari film-film yang membahas dinamika keluarga Tionghoa, menuju film yang lebih banyak mengangkat trauma dan rekonsiliasi sejarah.
Ia menyebut, film-film yang dikurasi dalam program ini, mayoritas dirilis pada 2023-2026, memperlihatkan kecenderungan tersebut. Bagi Gorivana, kecenderungan ini menarik untuk dibaca lebih jauh, terutama ketika film-film tentang trauma dan kebingungan identitas muncul di tengah generasi muda yang lahir pasca Reformasi.
Meski begitu, pengalaman menjadi Tionghoa-Indonesia tidak melulu berkaitan dengan trauma. Sutradara sekaligus pendiri Kineruku, Ariani Darmawan, menemukan cara lain dalam memahami identitasnya. Hal itu tergambarkan dalam film dokumenter bertajuk Anak Naga Beranak Naga (2006), tentang sejarah musik gambar kromong sebagai akultuasi budaya Tionghoa dan Betawi di kawasan Cina Benteng, Tangerang.
Dalam film Sugiharti Halim (2008), Ariani juga mengangkat persoalan identitas melalui pengalaman seorang perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia. Baginya, pengalaman personal dan sejarah di sekitarnya dapat menjadi latar kuat untuk menceritakan luka dan identitas kepada penonton.
“Setelah bikin film itu, saya pikir, saya menjadi lebih tulus tentang kecintaan saya,” kata Ariani.
Hubungannya dengan identitas Tionghoa juga menyimpan jejak sejarah yang lebih rumit. Dalam keluarganya, sebagian unsur kebudayaan Tionghoa telah terkikis. Ia mengaku tidak memiliki nama Tionghoa dan tidak bisa berbahasa Mandarin. Meski begitu, ketika perayaan Imlek kembali diperbolehkan setelah masa pelarangan, ibu Ariani kembali merayakannya bersama keluarga.
“Walaupun kayak kecinaan kita sudah terkikis, tapi kayak dia (ibu) juga mau mengingatkan mungkin bahwa kecinaan itu adalah salah satu bagian dari hidup dia dan dia ingin tetap meneruskannya lah jadi identitas,” tuturnya.
Representasi Tionghoa dan Tanggung Jawab Sineas
Menggambarkan pengalaman suatu kelompok, seperti Tionghoa-Indonesia dalam film tidak cukup dengan menghadirkan karakter yang tampak familiar. Kurator Layar Tancap Terang Bulan sekaligus Programmer Jogja Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Yustinus Kristianto mengatakan, penggambaran budaya perlu dibangun dengan pemahaman yang lebih mendalam.
Dalam diskusi, Yustinus menuturkan, membedakan film Tionghoa-Indonesia berdasarkan latar belakang etnis sineasnya tidak selalu mudah. Namun, ketika mengamati karya, ia terkadang terkoneksi dengan kepekaan tertentu yang membuat penggambaran narasi Tionghoa terasa dekat.
“Seringkali film yang akhirnya menggunakan karakter tertentu, dari etnis tertentu, dia akhirnya menempelkan familiritas tertentu, tapi tidak betul-betul dalam, tidak betul-betul dibangun, tidak genuine rasanya,” ujarnya yang tumbuh dalam lingkungan Tionghoa di Tangerang
Bagi Yustinus, persoalannya bukan hanya siapa yang membuat film tapi bagaimana pengalaman suatu kelompok dapat dihadirkan di layar. Pandangan tersebut menjadi penting ketika film Tionghoa-Indonesia kerap bersinggungan dengan trauma sejarah, diskriminasi, dan persoalan identitas. Bila narasi cerita berhenti pada ciri-ciri mewakili etnis, pengalaman orang-orang di dalamnya berisiko menyempit jadi stereotip.
“Bukan berarti mereka yang di luar spektrum itu tidak boleh menceritakan ya, tapi akhirnya apakah yang diceritakannya mendekati dengan apa yang sedang dirasakan oleh teman-teman itu sendiri,” tambahnya.
Pada akhirnya, ke-12 film pendek dalam Layar Tancap Terang Bulan ini, berusaha memperlihatkan realitas akan cerita warga Tionghoa-Indonesia. Di mana, ada sekelumit sejarah dan trauma yang tidak akan bisa ditutupi meski masa dan rezim telah berganti.
Rangkaian pemutaran film ini bersamaan dengan pameran CapCipCup Fest 02: Terang Bulan yang mengembalikan kembali budaya-budaya Tionghoa. Masih dalam Tjap Sahabat, terdapat instalasi karya media campuran interaktif tentang 12 shio. Adapula lukisan dan kaligrafi aksara Mandarin dari hasil karya tangan. Pameran ini berlangsung dari 24 September hingga 15 November 2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


