Kain Kasang Tukang #3: Kesakralan Budaya Menenun dalam Mitologi Sunda
Nini Anteh menjadi salah satu cerita rakyat yang menyinggung tradisi menenun dalam budaya Sunda. Padi dan kapas diulas dalam legenda dan mitos.

Merrina Listiandari
Pendiri Komunitas Djiwadjaman, bisa dihubungi via FB: Merrina Kertowidjojo, IG: merrina_kertowidjojo, atau FB page: Djiwadjaman
30 Agustus 2025
BandungBergerak – Kasang tukang atau kain tenun telah menjadi budaya masyarakat Sunda sejak lama. Tradisi ini banyak dikisahkan dalam cerita-cerita rakyat. C. M. Pleyte dalam bukunya De inlandsche Nijverheid in West Java als Sociaal- ethnologisch Verschijnsel (1912), mengutip salah satu kisah yang terkenal dalam folklor masyarakat Sunda, Nini Anteh.
“Barang geus deukeut kana boelan, kira-kira aya satangkal kalapa anggangna aja taradje mas njolosor tina boelan kana poentjak niboeng. Ladjoe eta budak naek kana taradje emas oenggah kana boelan bari ngais meong. Eta taradje emas naek deui kana boelan. Sanggeus aya dina boelan eta budak diingoe ku widadari nja eta radja bikang, nja eta noe ngageugeus dina boelan. Eta budak dibere pagawean dititah nganteh jeung mihane. Meong poetih moeloes, indoengna eta boedak unggal poe mantoean anakna nganteh”.
“Ketika telah dekat dengan bulan, kira-kira jaraknya seukuran pohon kelapa, ada tangga emas yang menjulur dari bulan menuju pohon nibung. Lalu anak itu naik ke tangga emas dan naik ke bulan sambil menggendong kucingnya. Tangga itu pun Kembali lagi ke bulan. Setelah tiba di bulan anak itu dipelihara oleh bidadari, yaitu raja Perempuan penguasa bulan. Anak itu diberi pekerjaan, disuruh untuk memintal dan menyiapkan benang untuk menenun. Kucing putih mulus, ibu dari anak itu setiap hari membantu anaknya memintal”.

Jejak Tradisi Menenun dalam Dongeng Nini Anteh
Kisah di atas mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya bahkan sejak dia kecil. Dilahirkan dari seekor kucing yang berbulu putih mulus, ia dianggap anak oleh pemburu yang merupakan pemilik si kucing putih tersebut. Si pemburu mencintai anak gadis ini sepenuh hati, hingga si pemburu menikahi seorang perempuan yang memperlakukan anak gadis ini dengan kejam.
Si anak melarikan diri. Singkat cerita, anak ini kemudian dipelihara oleh penguasa bulan yang memberikannya tugas memintal benang dan menenun kain. Anak itu pun rajin dengan pekerjaannya dengan harapan kain yang dibuatnya bisa dipakai untuk turun kembali ke bumi. Sayangnya niatnya tidak pernah terlaksana. Sebelum kain yang ditenunnya jadi, kucing putih kembali mengoyak pekerjaannya. Akhirnya si anak tumbuh dewasa dan menua.
Dongeng rakyat tersebut sangat terkenal dalam kebudayaan Sunda. Sampai kini saat bulan purnama tiba, pemandangan siluet permukaan bulan sekilas terlihat seperti sesosok perempuan tua bersama kucing dan alat pintalnya. Dalam bayangan cahaya bulan, biasanya masyarakat Sunda akan mengatakan “eta nini anteh jeung ucingna” yang berarti “itu nenek penenun bersama kucingnya”. Dongeng rakyat Nini Anteh dikisahkan turun- temurun kepada anak cucu hingga kini.

C.M. Pleyte, seorang ahli etnologi dan penulis Hindia Belanda, bahkan mengutip cerita rakyat Nini Anteh dengan menggunakan bahasa aslinya dalam bukunya De inlandsche Nijverheid in West Java als Sociaal- ethnologisch Verschijnsel. Buku yang mengulas fenomena sosial serta etnologi Jawa Barat ini mengatakan bahwa cerita rakyat Nini Anteh adalah sebuah dongeng kuno yang dikisahkan oleh para penutur Sunda secara turun-temurun.
Secara tidak langsung C. M. Pleyte menjelaskan bahwa kain kasang serta budaya menenun telah ada sejak ratusan tahun sebelum bukunya ditulis. Bahkan dongeng Nini Anteh sebagai sebuah dongeng kuna secara jelas memberi gambaran bahwa perempuan Sunda melekat dengan budaya menenun.
Dalam lembaran awal setelah kolofon bukunya, Pleyte menyematkan sebuah pepatah kuna: “Oelah sok hajang ka goela, tatjan bisa ninggoer kaoeng. Oelah sok hajang ka koela, tatjan bisa ninoen saroeng [jangan menginginkan gula, bila belum bisa ninggur (memukul tandan bunga kawung (aren) untuk menghasilkan nira. Jangan menginginkan diri saya, sebelum bisa menenun kain sarung]”.
Betapa memintal benang dari kapas hingga menjadi kain menjadi syarat utama sebelum seorang gadis dianggap layak untuk dapat menikah.
Baca Juga: Kain Kasang Tukang #1: Budaya Menenun dalam Tradisi Sunda

Kapas dan Padi Mitologi Sunda
Hampir semua kebudayaan di dunia memiliki kepercayaan kuno yang sama terkait pertanian. Dalam mitologi Yunani dikenal Dewi Persephone, putri Zeus yang melambangkan langit dengan Demeter yang melambangkan bumi. Hal ini mirip dengan mitologi Sunda tentang Dewa Guru sebagai dewa langit dan Dewi Uma atau Parwati sebagai dewi bumi. Keduanya sama-sama meyakini bahwa langit sebagai ayah dan bumi sebagai ibu.
Dalam kepercayaan Sunda, Dewa Guru serta Dewi Parwati memiliki anak yaitu Dewi Sri yang direpresentasikan dengan padi. Karena itulah padi memiliki nilai serta makna yang sangat sakral dalam kepercayaan masyarakat adat. Keyakinan seperti ini masih dipegang erat sebagai titah para karuhun atau leluhur yang wajib dipatuhi. Nilai-nilai kearifan lokal ini misalnya dianut masyarakat adat Baduy di Lebak, Banten, serta masyarakat adat di Kasepuhan Gelaralam (Ciptagelar), Sukabumi, Jawa Barat.
Menurut C.M. Pleyte dalam kajian etnologinya, kesakralan yang dilambangkan oleh Dewi Sri atau Nyai Pohaci tidak berhenti pada padi, tapi berlaku sama pada kapas sebagai lambang kesucian. Dalam hal ini Pleyte menggambarkan nilai dan makna kapas bagi masyarakat Sunda dalam cerita rakyat Lutung Kasarung
“Het kan dis heen verwondering wekken dat de katoen, als mede uit dewi Sri voortgekomen, eene obeteenkomstig haren oorsprong passende behendeling te beurt valt en dat hrt geenszins geoorloofdbis, zich zorgeloos ten opzivhte daarvan tebgedrahen, noch gebrek aan achting daarvoor te toonen [Jadi tidak heran jika kapas, yang juga berasal dari Dewi Sri, diperlakukan sesuai dengan asal-usulnya dan tidak diperbolehkan untuk bersikap acuh tak acuh maupun menunjukkan kurangnya penghormatan padanya” (C.M. Pleyte, hal.4, 1912)].
Memperlakukan kapas dengan hormat tidak sekedar pada hasil akhirnya saja. Sama seperti memperlakukan padi, kapas pun memiliki ritual yang sakral sejak sebelum ditanam, masa bertanam, hingga saatnya panen. Masyarakat Sunda menganggap pekerjaan yang terkait langsung dengan kapas maka akan terhubung pada sang ibu bumi itu sendiri.
Seakan sebagai wahyu Ilahi, maka sejak memanen kapas, lalu nganteh atau memintal serta mihane atau persiapan menenun, hingga ninun atau menenun harus dilakukan dengan penuh penghormatan. Namun, apakah nilai serta makna kain tenun serta proses menenunnya hanya ada dalam legenda atau cerita rakyat saja? Penulis akan melanjutkannya pada tulisan berikutnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB