• Foto
  • Gerilya Literasi di Pinggiran Kota

Gerilya Literasi di Pinggiran Kota

Di pinggiran kota, kerja literasi menemui tantangan yang berlipat-ilpat jumlahnya. Anak-anak muda di Cicalengka memilih bertekun dalam gerilya merawat minat baca.

Fotografer Virliya Putricantika3 Juli 2022

BandungBergerak.id - Suara riang anak-anak memenuhi taman bermain di samping Taman Baca Pohaci, Desa Nagrog, Kecamatan Cicalengka. Inilah satu dari sekitar 13 taman baca aktif yang tersisa di kawasan pinggiran Kota Bandung, yang lalu menjadi simpul kegiatan-kegiatan literasi. Ada kiprah anak-anak muda di baliknya.

Nurul Maria Sisilia (32) menaruh perhatian pada literasi sejak 2009 lalu. Dia aktif dalam komunitas-komunitas literasi, lalu menjadi relawan pada 2015.  

“Karena (saya) memang suka baca juga. Ketika aktif untuk menarik minat anak-anak ke kegiatan literasi itu, jadi seneng aja. Kalau enggak (aktif) kaya gini tuh, kayak kurang aja jadinya,” ungkap Nurul di sela-sela kegiatan Festival Buku Pasar Biru di kantor Kecamatan Cicalengka, Sabtu (25/6/2022) siang.

Festival Buku Pasar Biru melibatkan banyak relawan muda selain Nurul. Para pegiat dan relawan taman baca di kawasan Cicalengka menjadi motor penggeraknya. Ada juga siswa-siswa sekolah yang ikut menyokong acara.

Literasi masih menjadi masalah mendasar yang dihadapi Indonesia. Terlebih oleh anak-anak di pinggiran kota dengan akses yang terbatas. Survei Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OCED) pada 2019 lalu menempatkan Indonesia di ranking ke-62 dari 70 negara yang diteliti.

Perkembangan pesat teknologi informasi, terutama kehadiran internet, memberikan tantangan baru pada gerakan literasi, terutama meningkatkan minat baca anak. Memalui gawai, beragam kemudahan menjauhkan anak-anak dari aktivitas membaca buku.

Ditambah lagi, keberpihakan pemerintah terhadap dunia literasi masih jauh panggang dari api. Banyak kegiatan berhenti sebagai proyek belaka. Tidak sedikit di antaranya mandek di tengah jalan. Pojok Baca yang dibangun di Alun-Alun Cicalengka, misalnya, terbengkalai hingga satu tahun lamanya akibat masalah perizinan.

Dalam sengkarut persoalan seperti inilah, sumbangan anak-anak muda menjadi penting. Sebagai relawan taman baca, mereka secara aktif mengajak masyarakat khususnya anak-anak untuk kembali menggemari aktivitas membaca buku. Bukan pekerjaan yang enteng tentu saja.

“Kegiatan membaca itu tidak sebatas membaca buku. Kita bisa baca artikel ataupun cerita yang bisa diakses di handphone, tapi ada perasaan bahagia ketika kita membuka buku baru,” tutur Laila Nursaliha, relawan muda lain.

Berkat gerilya para relawan muda, derap literasi awet terjaga di Cicalengka. Meski perlahan, meski tidak sedikit hambatan bermunculan, ada harapan tumbuh dari pinggiran kota.

*Foto dan teks: Virliya Putricantika

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS