BandungBergerak - Deretan kios di Balubur Town Square dan Pasar Baru, Bandung, biasanya riuh oleh pembeli. Kini, menjelang Idulfitri, suasana itu menghilang. Gamis tergantung rapi, kerudung menunggu dipasangkan, tetapi orang-orang tampak lebih menghitung dompet daripada memilih model pakaian.

Pedagang menatap lorong panjang dengan setengah senyum dan setengah cemas, berharap arus manusia yang biasanya padat kembali meramaikan hari-hari terakhir sebelum lebaran.

“Mangga teteh mau cari apa.”

“Boleh lihat-lihat dulu aja teteh.”

Begitulah kurang lebih yang terdengar di telinga saya ketika menelusuri lorong-lorong kios pakaian di Balubur Town Square (Baltos) dan Pasar Baru.

Deretan kios dengan tulisan diskon dan obral terpajang menghiasi tiap-tiap toko pakaian yang memajang pakaian muslim, gamis, hingga pakaian anak-anak yang digantung rapi. Pengunjung tetap datang silih berganti menyusuri lorong pasar, tetapi suasananya tidak seramai menjelang hari raya di tahun-tahun lalu.

Di salah satu kios, seorang ibu tampak mengangkat sehelai gamis untuk memperhatikan bahannya, di kios lain ada mereka yang mencoba mencocokan warna kerudung dengan pakaian yang mereka beli untuk hari raya, di sebelahnya ada seorang ibu yang melakukan panggilan video dengan anaknya sembari memilih-milih pakaian yang hendak dibeli.

Aktivitas tawar-menawar masih terdengar, tetapi tidak terlalu sering. Beberapa pedagang berdiri di depan ruko mereka, sementara yang lain duduk sambil merapikan tumpukan pakaian yang baru saja dilihat pengunjung.

Meski pengunjung tetap datang silih berganti, suasana di kedua pasar ini tidak terasa padat. Tidak ada desakan-desakan yang berarti di lorong-lorong sempit itu, tidak ada pula antrean panjang di depan kios pakaian. Banyak orang berhenti sejenak untuk melihat-lihat sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah mereka.

Sejumlah pedagang dan penjaga toko yang saya temui mengatakan kondisi tahun ini terasa berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pasar dipenuhi dengan pembeli yang berburu pakaian baru dI lorong-lorong pasar yang sesak.

Tetapi kali ini rasanya begitu sepi.

Putri, 24 tahun, salah satu penjaga toko pakaian tampak cemas. Padahal lebaran tinggal beberapa hari lagi.

Putri bercerita bahwa suasana menjelang Idulfitri seharusnya menjadi waktu sibuk bagi dirinya dan penjaga toko pakaian lainnya. Di momen ini biasanya target penjualan harian bisa mencapai sekitar 10 juta rupiah.

Namun tahun ini target tersebut terasa sulit untuk digapai.

“Iya rasanya kayak hari-hari biasa aja gitu, teh, gak kayak mau lebaran,” ucap Putri, setengah mengeluh.

Ia menduga orang-orang sekarang mengurangi belanja pakaian secara langsung dan lebih memilih belanja online yang harganya bisa lebih murah.

Keluhan yang sama saya dengar dari Fitri, 32 tahun. Menurutnya, pengunjung memang masih datang ke pasar, tetapi tidak seramai lebaran tahun lalu.

Orang-orang tampak lebih berhati-hati saat berbelanja tahun ini. Lebih menimbang dan menghitung.

Fitri bekerja menjaga toko pakaian sejak 2019 dan sempat berhenti beberapa tahun kebelakang. Ia baru kembali menjalani pekerjaan ini beberapa bulan terakhir.

Menjelang lebaran dulu, kenang Fitri, pembeli berdesak-desakan. Kini ia tidak merasakan susana itu lagi.

“Kayaknya orang-orang lebih memilih belanja sembako ketimbang belanja baju,” ucap Fitri, sembari merapikan pakaian-pakaian yang baru saja dilihat oleh pengunjung pasar.

Di lorong baju-baju baru yang masih utuh terpajang, Putri dan Fitri sama-sama berharap orang-orang tetap berbelanja ke toko mereka di hari-hari terakhir menjelang hari raya.

*Foto dan Teks: Fitri Amanda

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//