• Pemerintah
  • Data Suhu Rata-rata Kota Bandung 2014-2020, Memanas dalam Dua Tahun Terakhir

Data Suhu Rata-rata Kota Bandung 2014-2020, Memanas dalam Dua Tahun Terakhir

Pada 2019, suhu rata-rata Kota Bandung 22,87 derajat Celcius, lalu melonjak menjadi 25,69 derajat Celcius pada tahun 2020. Terdampak tren pemanasan global.

Penulis Sarah Ashilah29 Juli 2021


BandungBergerak.idWarga Kota Bandung dalam beberapa hari terakhir merasakan suhu udara, terutama pada malam dan pagi hari, yang lebih dingin dari biasanya. Merujuk situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung, suhu udara minimum di Kota Bandung pada Kamis (29/7/2021) pagi tercatat di angka 16 derajat Celcius dengan cuaca cenderung cerah.

Suhu lebih dingin yang melingkupi Kota Bandung, dan juga daerah-daerah lain di bagian selatan ekuator, sering disebut dengan bediding. Fenomena ini diakibatkan angin monsun Australia yang bergerak ke wilayah Indonesia. Karena di Negeri Kanguru sedang berlangsung musim dingin di sepanjang bulan Juli, angin yang bertiup ke Indonesia pun dingin.

Namun, jika menyimak data perkembangan suhu rata-rata dari tahun 2014 hingga 2020, kita mengetahui terjadi tren kenaikan. Artinya, udara Kota Bandung cenderung semakin panas dalam tujuh tahun terakhir.

Dokumen Tabel Rata-rata Temperatur di Kota Bandung 2014-2020 oleh BMKG menunjukkan suhu rata-rata pada tahun 2014 tercatat di angka 23,9 derajat Celcius. Dalam kurun lima tahun sesudahnya, suhu udara di Bandung terus menjadi lebih dingin. Yang terendah tercatat pada tahun 2018, yakni 22,12 derajat Celcius.

Dalam dua tahun terakhir, suhu rata-rata di Kota Bandung mengalami tren kenaikan signifikan. Pada 2019, suhu rata-rata tercatat di angka 22,87 derajat Celcius, lalu melonjak menjadi 25,69 derajat Celcius pada tahun 2020.

Muhamad Iid Mujtahiddin, peneliti cuaca dan iklim sekaligus prakirawan BMKG Kota Bandung, menyatkaan, tren kenaikan suhu terjadi akibat adanya pemanasan global dan terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Pertumbuhan kota, seperti Bandung, turut menjadi salah satu factor penyumbangnya.

“Kondisi perkotaan, seperti semakin banyaknya pemukiman, berkurangnya pohon, dan asap kendaraan serta pabrik, sangat berkontribusi dalam terjadinya efek rumah kaca yang lalu menyebabkan pemanasan global,” ujarnya saat dihubungi BandungBergerak.id.

Editor: Redaksi

COMMENTS