Vaksin Covid-19 Bisa Diberikan pada Orang yang Berpuasa
Epidemolog Unpad menyarankan kepada orang yang berpuasa agar cukup tidur dan makan sahur sebelum disuntik vaksin Covid-19.
Penulis Iman Herdiana9 April 2021
BandungBergerak.id - Kalangan agama dan medis menepis keraguan terhadap vaksinasi Covid-19 yang berlangsung di saat ibadah puasa pada bulan Ramadan. Disebutkan bahwa suntik vaksin Covid-19 tidak membatalkan puasa. Suntik vaksin juga bisa dilakukan sambil tetap menjalankan puasa.
Keterangan bahwa vaksinasi Covid-19 tidak akan membatalkan puasa telah disampaikan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI pun mendukung agar program vaksinasi yang dijalankan pemerintah terus berjalan di tengah Ramadan, demi mengurangi laju pandemi Covid-19 yang memasuki tahun kedua.
Dari sisi medis, epidemiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Budi Sudjatmiko, dr., M.Epid., menjelaskan, secara medis tidak ada perbedaan perlakuan vaksinasi saat bulan puasa maupun di luar bulan Ramadan.
“Secara medis tidak ada pengaruh dari berpuasa terhadap vaksinasi,” kata Budi, mengutip siaran pers Kantor Komunikasi Publik Unpad, Rabu (7/4).
Menurutnya, tidak ada persiapan khusus untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 di saat berpuasa Ramadan. Peserta hanya perlu istirahat yang cukup dan dipastikan makan yang cukup di waktu sahur.
Ia menjelaskan, saat sahur, peserta sebaiknya memakan makanan yang mampu mencukupi kebutuhan gizi, di antaranya mengandung protein yang cukup, makan sayur-sayuran, hingga mengandung lemak yang cukup.
Peserta juga bisa menambah kandungan protein dengan mengonsumsi susu sebagai pelengkap makan sahur.
Soal risiko munculnya gejala pasca-vaksinasi, Budi mengatakan, jika peserta mengalami gejala-gejala tertentu atau mengalami Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) di vaksinasi tahap pertama, sebaiknya bisa melakukan antisipasi dini.
“Jika peserta ada yang mengalami gejalanya agak parah pas vaksin pertama, mungkin saat vaksin kedua ini perlu dipersiapkan lagi,” kata Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unpad ini.
Peserta juga bisa mempertimbangkan untuk membatalkan puasa jika mengalami kondisi seperti lemas atau dehidrasi. Hal ini bisa dilakukan agar tidak mengalami gejala serius.
Peserta juga diingatkan agar menghubungi narahubung vaksin atau layanan kesehatan terdekat jika mengalami KIPI. Layanan KIPI tersedia pada surat vaksinasi. Dalam surat ini, terdapat nomor telepon tenaga medis yang bisa dihubungi.
Unpad pun akan melaksanakan vaksinasi tahap kedua bagi pejabat pengelola, dosen, dan tenaga kependidikan mulai pertengahan April mendatang, bertepatan dengan bulan Ramadan.
Vaksinasi Lansia
Salah satu kelompok prioritas program vaksinasi nasional ialah lansia. Mereka dinilai kalangan rentan di tengah pandemi Covid-19. Sebab banyak pasien Covid-19 yang memiliki gejala berat sampai meninggal dunia berasal dari kalangan lansia.
Akan tetapi, vaksinasi lansia harus melalui skrining ketat, mengingat sejauh ini masih minim penelitian vaksin terhadap kalangan ini. Vaksin Sinovac, China, hasil uji coba PT Bio Farma dan Fakultas Kedokeran Unpad, menggunakan responden dari kalangan sehat usia 19-59 tahun. Uji klinis tidak menyertakan kalangan lansia.
Begitu pun dengan vaksin-vaksin lain di luar Sinovac. Karena itu, dr. Lazuardhi Dwipa, SpPD-KGer, yang juga Ketua Divisi Geriatri Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengingatkan pentingnya skrining ketat terdahap lansia yang akan divaksin.
Ada beberapa poin skrining yang bisa dipakai untuk vaksinasi terhadap lansia. Intinya, lansia yang dianjurkan mendapat vaksin adalah lansia yang sehat. Kalupun punya penyakit penyerta, penyakit ini harus terkontrol atau terkendali.
Lansia yang tidak dianjurkan medapatkan vaksin Covid-19 adalah mereka yang tergolong tua renta, yang biasanya memiliki tiga dari lima gejala kerentaan, yaitu mudah lelah, lemah otot, kemampuan mobilisasi rendah, memiliki penyakit bawaan atau komorbid dalam jumlah yang banyak, serta berat badan menurun drastis.
Ciri-ciri lansia renta anata lain, geraknya sangat lambat dan tubuhnya tidak bisa tegak. Secara medis, orang tua renta seperti ini tidak akan efektif jika menerima vaksin. Sebab sistem tubuhnya tidak akan mampu lagi merespons untuk menghasilkan efek positif dari vaksin.
Gejala-gejala pada lansia renta bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan sebagai skrining. “Kalau ada 3 di antara 5 gejala itu termasuk renta. Ini mudah dikenali oleh tenaga kesehatan atau masyarakat awam (untuk skrining mandiri),” terang dr. Lazuardhi Dwipa, saat dihubungi melalui sambungan telepon, baru-baru ini.
Menurutnya, adanya skrining lansia tidak akan berpengaruh pada target herd immunity atau kekebalan kelompok dengan vaksinasi Covid-19. Jatah vaksin lansia yang tidak lolos skrining bisa dialihkan kepada lansia yang sehat dan siap menerima vaksin.
Selain itu, kata Lazuardhi, jatah vaksin tersebut juga bisa diberikan kepada orang-orang muda yang hidup di sekitar lansia renta.
“Yang perlu kita sadari melindungi lansia itu adalah melindungi orang-ornag di lingkungan beliau. Misalnya, beliau tinggal dengan anak cucu, itu yang divaksin sehingga mereka menjadi perisai bagi lansia. Walau lansia itu tak divaksin dia akan terlindungi oleh orang-orang di sekitarnya yang telah divaskin,” terangnya.