Jabar Hadapi Krisis Petani Muda dan Tantangan Teknologi

Program petani miilenial menghadapi fakta tidak mudah. Sudah lama Indonesia, khususnya Jabar, menghadapi krisis regenerasi petani muda.

Pertanian modern kangkung hidroponik di Pangandaran, Jawa Barat (19/8/2021). Pertanian yang tahan terhadap dampak pandemi Covid-19 menjadi peluang bagi generasi muda. Masalahnya, jumlah petani muda masih sedikit. (Foto: Iman Herdiana/BandungBergerak.id)

Penulis Iman Herdiana12 April 2021


BandungBergerak.id - Pertanian menjadi sektor yang paling minim terdampak pandemi Covid-19. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menggulirkan Program Petani Milenial yang diharapkan mampu mengurangi pengangguran akibat pandemi, sekaligus memperkuat ketahanan.

Meski demikian, program tersebut menghadapi fakta yang tidak mudah. Bahwa sudah lama Indonesia, khususnya Jabar, menghadapi krisis petani muda. Berdasarkan hasil survei pertanian 2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang.

Dari jumlah tersebut, petani muda atau berusia 25-44 terbilang minim, yakni 945.574 orang atau 29 persen. Artinya, petani di Jabar didominasi kalangan tua atau di atas usia 44 tahun.

Selain menghadapi minimnya jumlah petani muda, kebanyak petani di Jabar umumnya berpendidikan rendah. BPS merilis, latar belakang petani Indonesia sebanyak 41,79 persen hanya tamatan SD atau sederajat.

Hal itur terkait erat dengan cara-cara petani dalam mencari informasi, cara memanfaatkan informasi, serta cara mereka untuk menerapkan hasil telaah informasi itu, seperti disampaikan Nugroho Hari Wibowo, alumni Teknik Fisika ITB yang membikin sistem irigasi pintar Encomotion.

“Petani kita mayoritasnya berada pada usia tua, di atas usia 45 tahun,” kata Nugroho Hari Wibowo, dikutip dari siaran pers ITB pada acara Badan Kejuruan Teknik Fisika dari Persatuan Insinyur Indonesia bertajuk “BKTF Goes to Campus Merdeka” sesi ke-4, dengan tema Precision Farming, Sabtu (3/4/2021).

Padahal menurutnya, pertanian abad ke-21 bukan hanya sekadar membajak sawah menggunakan alat tradisional, namun telah merambah pada era di mana sensor dan instrumentasi wajib diterapkan untuk mendapatkan hasil yang lebih presisi secara real-time.

Petani Milenial dan Segudang Harapan

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University Arif Satria menilai program Petani Milenial dapat meregenerasi petani di Indonesia, khususnya Jabar. Menurutnya, Jabar memang harus jadi pusat pertanian modern Indonesia.

Jabar memiliki lahan yang subur, SDM perguruan tinggi yang melimpah, dan potensi pasar yang besar. “Jadi kalau pertanian Jabar bangkit dan menjadi pionir untuk pertanian Indonesia dan dunia, saya kira sesuatu yang sangat mungkin," kata Arif Satria.

Arif menjanjikan IPB University akan mendukung dengan mengembangkan teknologi pertanian, termasuk menyiapkan SDM lulusannya. Namun perlu diingat, para petani milenial termasuk dalam petani skala kecil atau petani-petani baru. Mereka membutuhkan bantuan berupa teknologi yang mudah diaplikasikan.

Untuk mendukung pertanian di Indonesia, IPB University telah membuat program mulai dari tahun pertama mahasiswa kuliah hingga akhirnya mereka mampu untuk mengembangkan sektor pertanian.

Sejauh ini, minat mahasiswa IPB terhadap pertanian masih perlu ditingkatkan. Sebab tidak semua mahasiswa IPB berniat menggeluti pertanian. Padahal kampus ini fokus pada pertanian.

"Sekitar 30 persen mahasiswa di IPB University yang berminat untuk menjadi petani milenial. Oleh karena itu kita siapkan desain dari tahun pertama, tahun kedua planing dan tahun ketiga bisnis mentoring tahun ke empat bisnis inkubator," ucap Rektor.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil juga berharap program Petani Milenial mampu menjawab regenerasi petani. Program ini diluncurkan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, seperti dikabarkan dalam siaran pers Humas Pemprov Jabar, Jumat (26/3/2021).

Ridwan Kamil mengatakan, pertanian dipilih jadi program karena sektor ini tidak banyak terpengaruh pandemi Covid-19. Program yang baru diluncurkan ini diharapkan bisa menjawab banyak problem lainnya yang dihadapi provinsi berpenduduk lebih dari 45 juta itu.

Program ini diharapkan dapat menarik minat generasi milenial untuk membawa perubahan pada sektor pertanian masa depan, mengingat sektor pertanian saat ini belum menjadi magnet pekerjaan bagi generasi milenial di Jabar.

Program Petani Milenial juga diandalkan untuk menekan laju perpindahan penduduk desa ke kota (urbanisasi). Sebab realitasnya saat ini mayoritas generasi milenial memilih berkarier di perkotaan.

Program tak hanya menjadi gerakan di level provinsi, tetapi juga di kota/ kabupaten. Ia memastikan kesuksesan petani milenial di tahap satu ini akan diperluas di berbagai daerah.

"Kalau tahap satu berhasil tinggal di-copy paste saja untuk menjadi kesuksesan yang meluas. Makanya, saya ingin ini tidak hanya gerakan oleh gubernur tapi juga bupati dan wali kota," ujar Ridwan Kamil.

Program ini ditargetkan menggarap semua lini pertanian, seperti peternakan, perikanan, tanaman holtikultura, dan perhutanan.  "Ini akan jadi fokus sampai akhir masa jabatan saya bahwa program food security ini harus jadi unggulan. Mudah-mudahan dengan program ini juga kita bisa mandiri pangan, tidak usah impor," ucapnya.

Sejumlah bantuan akan diberikan Pemprov Jabar bagi peserta program Petani Milenial, mulai peminjaman lahan, permudah akses bank, sampai pemasaran atau calon pembeli.

Teknologi Pertanian Encomotion

Perkembangan teknologi pertanian sendiri sudah sangat maju. Sehingga tidak heran jika Nugroho Hari Wibowo memaparkan data latar belakang pendidikan petani di Indonesia. Sebab, pendidikan berkorelasi dengan teknologi pertanian.

Nugroho yang akrab dipanggil mas Bowo, mengenalkan teknologi pertanian dengan teknik fisika. Ia membangun tim dengan anggota beragam untuk menciptakan BIOPS Agrotekno Indonesia, yaitu startup dengan visi menghadirkan era baru pertanian Indonesia dengan pendekatan inovasi precision farming.

Menurut Mas Bowo, salah satu permasalahan sektor pertanian ialah sungai yang mengering ketika musim kemarau, juga penggunaan pestisida kimia hampir pada setiap tanaman untuk mencegah serangan hama dan penyakit.

Pada setiap pertanian, dibutuhkan data berupa suhu, kelembapan udara, intensitas cahaya dan curah hujan secara real-time dan prediksi cuaca beberapa hari ke depan. Untuk menjawab tantangan tersebut, dibuatlah Encomotion, sistem irigasi pintar yang mengatur kebutuhan air tanaman secara otomatis berdasarkan kondisi lingkungan tanaman berada.

“Perangkat dari Encomotion sendiri sudah berupa machine-to-machine sehingga tidak ada lagi petani yang harus melakukan penyiraman dan lain-lain,” jelasnya. Data-data itu akan diambil dari perangkat yang sudah terpasang pada lahan mereka.

Data-data yang diambil oleh perangkat Encomotion adalah data suhu, cahaya, kelembapan, curah hujan, serta kecepatan angin yang nantinya akan dikirimkan ke server milik Encomotion. Data-data ini nantinya dapat diawasi secara real-time.

Jika dibandingkan dengan pertanian konvensional, pertanian yang memanfaatkan Encomotion secara statistik meningkatkan produktivitasnya sebesar 40%, menghemat biaya operasional hingga 50%, dan menghemat air serta pupuk hingga 40%. Sedangkan tanpa encomotion, tanaman tumbuh tidak seragam, rata-rata buah lebih sedikit, rata-rata luas daun lebih kecil, dan diameter batang lebih kecil.

“Mindset yang ingin kami ubah dari para petani kita adalah bahwa sebenarnya teknologi ini bisa diterapkan pada lahan petanian mereka yang rata-rata memiliki luas lahan kecil dan modal yang kecil,” kata mas Bowo.

Editor: Redaksi

COMMENTS