• Cerita
  • Rojul dan Opik Tos Uih!

Rojul dan Opik Tos Uih!

“Tegaklah seperti di awal! Tetap melawan! Jangan diam!”

Foto bersama menyambut kebebasan Rojul dan Opik, dua tahanan politik demonstrasi UU TNI di Rutan Kebonwaru Bandung, Sabtu, 3 Januari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Penulis Virliya Putricantika4 Januari 2026


BandungBergerak – Sirojjul, 24 tahun, dan Taufiq Hidayat, 24 tahun, keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) Kebonwaru, Bandung, Sabtu, 3 Januari 2026 sekitar pukul setengah sebelas pagi disambut pelukan keluarga dan senyuman kawan-kawan. Keduanya merupakan tahanan politik pascaaksi unjuk rasa menolak Undang-Undang tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) di Bandung pada 20-21 Maret 2025 lalu.

Dari mobil berwarna silver, seorang anak perempuan berbaju hitam dengan celana merah muda bergegas memeluk Rojul. Gadis dengan potongan rambut bop itu adalah sang adik perempuan. Menyusulnya, satu per satu anggota keluarga yang lain keluar dari mobil dan memeluk Rojul, si sulung. Mereka berangkat dari Cianjur pukul setengah tujuh pagi.

“Bersyukur, senang, namun juga merasa sedih (haru),” tutur Ahmad, 57 tahun, sang ayah.

Satu per satu peralatan benjang dikeluarkan dari mobil yang lain. Begitu juga dengan toa putih yang siap mengeraskan suara syukur menyambut kebebasan. Musik dimainkan. Secara simbolik, Rojul dan Opik menerima bunga mawar merah beserta satu ekor burung merpati yang mereka terbangkan bersama. Orang-orang berseru mengabarkan: Rojul dan Opik, tahanan politik UU TNI, tos uih! Rojul dan Opik sudah pulang!

Keluarga memeluk Rojul begitu keluar dari Rutan Kebonwaru. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Keluarga memeluk Rojul begitu keluar dari Rutan Kebonwaru. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Rojul dan Opik ditangkap polisi pada 8 Mei 2025. Rojul di Bandung, Opik di rumahnya di Cianjur. Tidak ada surat penahanan. Petugas polisi datang hanya berbekal perintah yang tidak dapat dibuktikan hitam di atas putihnya. Karena itulah, tidak ada satu pun berkas penahanan yang ditandatangani Rojul, Opik, atau pun keluarga mereka.

“Permintaan untuk didampingi (lembaga) bantuan hukum ditolak oleh kepolisian, sehingga selama proses BAP saksi hingga tersangka, (kami) tidak mendapatkan pendampingan hukum sama sekali,” ucap Opik di sela-sela momen penuh kebahagiaan itu.

Rojul dan Opik mengambil program Cuti Bersyarat (CB). Meskipun bebas empat bulan lebih cepat, keduanya diwajibkan secara rutin melapor ke Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Bandung.

Terus bersuara, merayakan kebebasan. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Terus bersuara, merayakan kebebasan. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Terus Besolidaritas

Di depan kawan-kawan yang menyambut di Rutan Kebon Waru, Rojul dan Opik menyampaikan ucapan terima kasih. Keduanya juga mengingat kawan-kawan yang masih ada di dalam tahanan. Solidaritas semakin dibutuhkan.

“Ketika kami bebas hari ini tuh, masih ada sekitar 20 (orang) teman kita yang mendekam di terali jeruji sana. Mereka sangat membutuhkan bantuan solidaritas dari kita,” ujarnya.

Penahanan para peserta demonstrasi UU TNI hanyalah satu dari sekian banyak gelombang penahanan yang dilakukan aparat kepolisian belakangan ini. Dalam catatan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dalam pusaran unjuk rasa Agustus-September 2025 saja, lebih dari 3 ribu orang ditahan di berbagai kota dan 10 orang meninggal dunia.

Di penghujung tahun 2025 kemarin, datang juga kabar tentang tahanan politik di Surabaya, Alfarizi, 21 tahun, yang meninggal di Rutan Medaeng. Dalam rilis KontraS Surabaya, kematian Alfarisi yang berada dalam penguasaan penuh negara menegaskan buruknya kondisi penahanan di Indonesia serta kegagalan negara dalam memenuhi hak atas hidup dan menjamin perlakuan yang manusiawi bagi setiap orang yang dirampas kebebasannya.

Bersolidaritas untuk Alfarisi dan tahanan-tahanan politik lain. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Bersolidaritas untuk Alfarisi dan tahanan-tahanan politik lain. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Di area parkir Rutan Kebonwaru, kawan-kawan solidaritas menabur bunga di atas foto Alfarisi. Diawali oleh Opik dan Rojul, diikuti oleh semua kawan yang hadir.

“Negara tidak mempedulikan suara dan diri kita. Jangan lupakan apa yang kawan kita (Alfarisi) sampaikan. Nyalakan api, jangan sampai padam! Untuk Alfarisi, rest in power, semoga tenang!”

Rojul dan Opik di hadapan kawan-kawan yang menyambut. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Rojul dan Opik di hadapan kawan-kawan yang menyambut. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Tentang para tahanan politik di Rutan Kebonwaru, Rojul dan Opik menyebut bahwa kondisi mereka baik. Ada waktu luang untuk saling bertegur sapa. Mereka juga melakukan beragam aktivasi agar tetap bisa berdiskusi, mulai dari nonton bareng hingga bedah buku. 

Bantuan dari kawan-kawan selama ini, baik secara logistik maupun moral, sangat membantu. Perjalanan masih panjang. Masih ada rentetan persidangan bagi kawan-kawan tahanan politik lain yang perlu dikawal.

“Tegaklah seperti di awal! Tetap melawan! Jangan diam!” ujar Rojul.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//