Hikmah dari Hasan dalam Film Klasik Atheis
Ada banyak alasan yang memperkuat novel Atheis yang diadaptasi menjadi film oleh sutradara Sjuman Djaya, selaras dengan tujuan pembelajaran sejarah.

Yogi Esa Sukma Nugraha
Sehari-hari mengajar di SMA, sesekali menulis kolom
13 Januari 2026
BandungBergerak.id – Perkembangan teknologi membuat publik bisa mengakses kembali berbagai film klasik. Salah satunya, film berjudul Atheis. Ia merupakan hasil dari praktik ekranisasi: berdasar cerita novel dengan judul yang sama, yang ditulis Achdiat Karta Mihardja, sastrawan asal Garut, diterbitkan Balai Pustaka pada 1949.
Film Atheis disutradarai Sjuman Djaya. Pada tahun 1974, film itu dirilis. Ia dibintangi aktor lintas zaman, Deddy Sutomo, yang berperan sebagai Hasan. Lalu ada Christine Hakim sebagai Rukmini, Kusno Sudjarwadi sebagai Rusli, Emmy Salim sebagai Kartini, dan Farouk Afero, yang dengan cermat memerankan Anwar, selaku tokoh antagonis.
Cerita di film Atheis nyaris serupa dengan apa yang ada di novel. Meski beberapa adegan cenderung dilebih-lebihkan. Pertama, ketika Rusli melakukan suatu hal yang nyaris khilaf pada Kartini. Hipotesis saya, ini "sebagai bagian dari pementasan cerita fiktif"–jika meminjam istilah John Roosa dalam Riwayat Terkubur (hlm. 162). Mengingat film ini dibuat tak lama setelah pemberangusan elemen kiri. Karakter Hasan versi film ini pun tidak penuh keraguan sebagaimana dirinya dalam novel.
Kedua, identitas seorang pria yang mengganggu Kartini. Dalam film, ia disebut Rusli sebagai Yahudi kecil (lihat menit 45.10 - 46.25, dengan dialog tambahan: "Belum kapok juga. Ini baru kafir yang asli! Minggat, cucunguk!"). Sependek pembacaan saya, tidak ada adegan mengenai pria ini dalam novel. Ada pun sosok yang kelak menikahinya adalah pria tua keturunan Arab (hlm. 34-35).
Barangkali itu bukan soal yang memberatkan. Sebab, jika direnungkan kembali, setiap karya, novel atau film, memiliki konvensinya sendiri, karenanya, perbedaan menjadi sangat sulit terhindarkan. Yang jelas selentingan kabar mengatakan kalau film ini sempat dicekal. Alasannya berkaitan dengan keagamaan.
Film Atheis memang menceritakan kegoyahan iman lelaki bernama Hasan, seorang penganut tarekat. Ia anak pensiunan Kepala Sekolah Dasar, Raden Wiradikarta. Namun keyakinannya pudar setelah beririsan dengan kawan-kawannya, yang disebut Ahmad Tohari, sebagai "frijdenker" yang berpendidikan Barat.
Rusli, Kartini, dan Anwar. Nama pertama adalah kawan masa kecil Hasan, yang berperan sebagai tokoh sentral. Sisanya ditemui Hasan setelah ia bekerja pada Jawatan Air di Kotapraja Bandung. Dalam taraf tertentu, tersirat bahwa tokoh Hasan memiliki banyak kesamaan biografi dengan pengarangnya. Utamanya latar belakang keluarga yang juga taat menjalankan perintah agama.
Ia juga punya perangai romantik dibanding Rusli, yang punya kecenderungan analitik. Saya kira tepat sekali penggambaran narator mengenai figur Hasan yang, "lebih mudah dibawa mengalun oleh gelombang perasaan daripada dibawa mengorek-ngorek sesuatu soal oleh pikiran sampai habis kepada dasarnya yang sedalam-dalamnya."

[baca_juga]
Hasan dan Kisah Asmaranya
Banyak ulasan memikat soal novel Atheis ini. Bahkan dari berbagai segi. Kang Hawe Setiawan pernah menulis kolom berjudul “Kota Atheis” di dalam surat kabar Pikiran Rakyat, pada 15 November 2018. Penulis Yopi Setia Umbara, melakukan tur Atheis ke Kampung Panyeredan, Garut.
Selain itu, Komunitas Aleut, tercatat pernah merancang kegiatan ngaleut ke tempat-tempat yang tersaji dalam novel Atheis. Yang jelas dan cermat adalah tilikan Rully Cahyono, dalam blog pribadi, yang punya tesis utama kalau Achdiat Kartamihardja sebetulnya "memotret kondisi sosial masyarakat Indonesia yang serba goyah."
Yang mungkin jarang dipercakapkan adalah kisah masa lalu Hasan. Kala itu Bandung menjelang tengah malam. Hasan mengayunkan langkah dengan pikiran kalut setelah bertemu Kartini–perempuan yang memikat hati sejak pandangan pertama. Ia berjalan memasuki sebuah perkampungan, Sasak gantung. Semakin kencang ia menyusuri jalan, hampir-hampir tertabrak mobil yang datang tiba-tiba dari arah Jalan Pungkur.
Hasan terus memikirkan perempuan itu. Setelah kepergian Rukmini, Hasan tidak lagi pernah dekat dengan lawan jenis. Kali ini keadaannya lain. Ia merasa hidup kembali sesaat bertemu Kartini, yang dinilai persis menyerupai Rukmini.
Hasan lalu mencari tahu soal hidup Kartini. Ternyata tragis kisah hidup perempuan itu. Ia dipaksa kawin dengan seorang rentenir keturunan Arab yang kaya. Sudah tua. Tujuh puluhan lebih umurnya. Sementara Kartini kala itu menginjak usia tujuh belas tahun. Masih sekolah di Mulo.
Himpitan ekonomi membuatnya terpaksa harus menuruti perintah ibunya untuk menikah. Dan akhirnya ia mendapat semacam harta gono-gini berupa rumah yang terletak di Jalan Lengkong Besar. Begitulah penggalan kisah lanjutan asmara Hasan yang tercatat di dalam novel Atheis. Berkenalan dengan gadis remaja yang kelak "insyaf dan sadar untuk menentang stelsel kapitalisme" jika mengikuti penjelasan Rusli.
"Ya, Bung, pengalamannya yang pahit itulah yang telah membikin dia menjadi seorang Srikandi yang berideologi tegas dan radikal," tegas Rusli (hlm. 35).
Kartini dinilai Hasan sebagai orang yang bisa menggantikan Rukmini–perempuan yang pernah singgah di masa lalu, dan sulit dilupakan Hasan. Sebabnya karena perbedaan latar belakang sosial dan sudut pandangan yang dianut kedua keluarga. Rukmini sebagai keluarga borjuis. Sementara Hasan tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang feodal. Kegagalan menikahi Rukmini membuat Hasan kelimpungan. Enyah dari kehidupan riil.

Relevansinya dengan Pendidikan
Ada beberapa hal yang bisa dipetik dalam novel ini. Terpenting adalah nilai-nilai yang beririsan dengan pendidikan, dan tentunya, bisa dipakai untuk menempuh tujuan belajar. Yang paling menonjol adalah religiositas. Ini melekat dalam penggambaran tokoh Hasan dan Ayah Hasan yang rajin salat lima waktu, juga diceritakan rutin melakukan tahajud. Beberapa tindak-tanduk orang terdekat Hasan juga bisa menjadi penanda kalau nilai religius dalam novel Atheis sangat kental. Ironisnya, menjelang cerita berakhir Hasan malah melakukan kekerasan fisik pada Kartini, yang kala itu telah sah menjadi istrinya.
Tidak hanya nilai religius, tapi juga persatuan. Itu digambarkan melalui hubungan kerja sama yang dipancangkan antara Kyai Mustafa dan Rusli yang kala itu bahu-membahu menentang fasisme Jepang. Meski kurang mantap secara etik, perangai ilmiah Anwar juga penting. Itu terjadi ketika ia ingin tahu keberadaan Embah Jambrong. Kala itu Anwar meminta Hasan mengajaknya ketika ia hendak pada Kartini untuk pulang ke Kampung Panyeredan.
Singkatnya, ada banyak alasan yang memperkuat kalau novel yang diadaptasi menjadi film ini selaras dengan tujuan pembelajaran sejarah. Bahasanya sedap. Mudah dipahami, dan tentu saja, sebagaimana penggambaran Irfan Teguh dalam satu artikelnya: "mencangkul batin manusia."

**
Selaku pengajar yang setiap hari berjibaku dengan dinamika remaja, saya merasa cerita dalam Atheis ini begitu relevan. Berbagai persoalan Hasan yang penuh liku-liku masih mudah ditemui dalam kehidupan kiwari. Tidak sedikit saya kira yang memiliki persoalan sama seperti Hasan: gagal dalam menjalani hubungan asmara lalu seketika ambruk. Bahkan hingga berlarut-larut.
Putus cinta seolah kiamat kecil. Padahal justru ada pelajaran yang bisa diambil. Bukan bermaksud reduktif. Tapi dari Hasan yang ambyar pasca kepergian Rukmini, kita mengingat Erik Erikson, psikolog yang bilang bahwa remaja ada di tahap "identitas kebingungan peran".
Banyak remaja yang mencari jati diri mereka sesungguhnya. Bukan kebetulan jika asmara kerap menjadi jalan alternatif dari pencarian itu. Sebab, lewat hubungan, mereka belajar penantian, nilai-nilai hidup, dan juga harapan. Dan menurut Erikson, andainya tahap ini tidak teratasi, maka remaja bisa terhambat proses belajarnya, atau depresi.
Masih banyak contoh kasus yang bisa kita gali hikmahnya dari cerita Hasan. Misalnya, apa faktor penentu yang memicu keguncangan. Ia menjadi mudah terbawa arus dan ingin diakui lingkungannya. Yang penting bagi pengajar adalah kita juga bisa mengambil ibrah dari pendapat Rusli agar skeptis meninjau suatu perkara, termasuk tidak gampangan menyeret anak yang dianggap nakal ke barak tentara:
"Selidikilah dan pelajarilah saja dulu."
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

