• Berita
  • Kiprah Odesa dan Para Petani Cimenyan dalam Menjaga Lingkungan, Mengurangi Kerusakan KBU dengan Menanam Pohon Buah

Kiprah Odesa dan Para Petani Cimenyan dalam Menjaga Lingkungan, Mengurangi Kerusakan KBU dengan Menanam Pohon Buah

Di Cimenyan, pohon-pohon buah ditanam untuk menahan banjir, menyelamatkan tanah, dan menjaga masa depan Kawasan Bandung Utara.

Petani di ladang yang disokong oleh Odesa Indonesia, Cimenyan, Kabupaten Bandung, 8 November 2025. (Foto: Audrey Kayla/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi22 Januari 2026


BandungBergerak - Udara Cimenyan terasa bersih dan sejuk, basah oleh hujan. Namun di balik ketenangan itu, bukit-bukit gundul masih tampak jelas di beberapa titik. Lereng coklat membentang panjang, seperti menahan beban hujan deras yang terus mengguyur. Tanah seolah kelelahan. Lahan yang dulu mampu panen empat kali setahun kini hanya menghasilkan dua kali, itu pun tak selalu optimal.

Air bersih berkurang, unsur hara tanah terkikis, dan setiap hujan deras membawa lumpur turun ke pusat Kota Bandung. Dalam 15 tahun terakhir, perubahan iklim, bencana alam, dan kesalahan pola tanam memperparah kerusakan Kawasan Bandung Utara (KBU), termasuk wilayah Cimenyan. Dari realitas inilah Yayasan Odesa Indonesia hadir, membawa misi memperbaiki tanah, manusia, dan cara berpikir masyarakat desa.

Suatu pagi, di sebuah pekarangan kecil yang dipenuhi tanaman hanjeli dan terong, Faiz Manshur, Ketua Yayasan Odesa Indonesia, bercerita panjang. Dari tempat duduk itu terlihat jelas dua wajah bukit yang kontras: satu mulai menghijau, satunya lagi kering dan gersang.

“Dulu ini semua gersang, tapi kita tanam setengah juta pohon buah, hasilnya terasa sekarang,” ujar Faiz, ditemui BandungBergerak, November 2025.

Apa yang dilakukan Odesa tampak sederhana, namun berdampak besar. Mereka menggabungkan ekonomi dan ekologi melalui pola tanam yang mengandalkan pohon-pohon kuat sekaligus tanaman pangan bernilai ekonomi. Selama puluhan tahun, petani Cimenyan terbiasa dengan pertanian monokultur sayuran pendek seperti kol dan sawi. Tanaman ini memang cepat menghasilkan uang, tetapi gagal memperbaiki tanah. Saat hujan deras turun, tak ada akar kuat yang mampu menahan erosi. Lumpur pun meluncur ke kota, membawa jejak kerusakan dari lereng bukit.

Menurut Faiz, memperbaiki tanah tidak bisa dilakukan dengan sembarang pohon. Program pemerintah kerap membagikan bibit kayu keras atau pohon peneduh, sementara masyarakat desa membutuhkan tanaman yang mampu menahan erosi sekaligus menghasilkan pangan. Karena itu, Odesa memilih durian, nangka, kopi, sirsak, jeruk, kelor, dan pepaya—pohon-pohon yang memperbaiki ekosistem sekaligus memberi pendapatan.

Prinsip Odesa sederhana: satu pohon harus memiliki dua fungsi, ekologi dan ekonomi. Untuk mewujudkannya, komunikasi menjadi kunci. Setiap minggu, pengurus Odesa turun ke ladang, berbincang dengan petani, mendengar keluhan, dan melihat langsung kondisi tanah. Ketika petani meminta durian, mereka memberi durian. Ketika petani menolak tanaman tertentu, Odesa tidak memaksa. Namun ketika petani hanya meminta modal untuk sayuran, Odesa berani menolak, dengan alasan yang dipahami petani. Pendekatan ini membuat Odesa berbeda dari program konservasi lain yang cenderung hirarkis dan kaku.

Kesabaran menjadi modal utama. Faiz bercerita tentang satu kampung yang selama lima tahun menolak semua program Odesa. Mereka tidak percaya pada pohon, menganggapnya aneh dan tidak berguna. Namun setelah melihat kampung tetangga berhasil panen durian dan kopi, kampung yang dulu paling menolak justru kini paling agresif meminta bibit.

Tidak ada tantangan menghadapi masyarakat, kata Faiz. Yang ada kesabaran dan kemampuan mengubah cara berpikir.

Bagi Odesa, memperbaiki tanah tak mungkin berhasil tanpa memperbaiki manusia. Akar kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pola pikir yang diwariskan turun-temurun. Di banyak keluarga buruh tani, pendidikan dianggap beban. Anak-anak masuk SD, tetapi hingga kelas lima belum bisa membaca. Guru datang dari sistem pendidikan yang buruk, orang tua pun tak mampu membimbing.

Karena itu, Odesa membuka Sekolah Samin, sekolah Sabtu-Minggu yang diisi relawan mahasiswa dari Bandung. Di sekolah kecil ini, anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, merawat diri, memahami etika dasar, hingga mengenal ekologi. Anak-anak yang rajin belajar bahkan mendapat beasiswa untuk sekolah di luar kampung, termasuk pesantren atau sekolah formal lain yang lebih berkualitas.

“Kalau mereka hanya tinggal di rumah, pola pikirnya tidak akan berubah,” ujar Faiz. “Mereka harus merantau, bertemu lingkungan baru, dan keluar dari kontrol sosial atau orangtua yang menahan mereka.”

Di desa, lingkungan dengan latar pendidikan rendah membuat anak sulit berkembang. Mengajak anak keluar dari lingkaran itu menjadi bagian dari pemberdayaan.

Dalam skala lebih luas, kerusakan lahan di Bandung Utara mencakup puluhan ribu hektare. Odesa memperkirakan setidaknya 10.000 hektare di Cimenyan dan sekitarnya perlu ditanami ulang. Untuk memulihkan seluruh kawasan, dibutuhkan sekitar 10 juta pohon. Hingga kini, Odesa baru menanam sekitar satu juta bibit. Namun bagi mereka, proses kecil yang konsisten jauh lebih bermakna daripada program besar tanpa arah.

Masalah utama KBU, menurut Faiz, bukan ketiadaan aturan. Undang-undang tentang KBU sudah lama ada, tetapi pembangunan ilegal tetap dibiarkan. Sumber air dijual, bukit dipenuhi bangunan tanpa izin, dan bibit yang dibagikan sering berkualitas buruk. Kebijakan gagal berjalan karena pejabat sibuk pencitraan.

“Politisi itu banyak yang badut, suka foto-foto bagi bibit jelek,” gerutunya.

Baca Juga: Rumus Baru Wisata Berkelanjutan di Kawasan Bandung Utara, Wisatawan Jadi Penjaga Alam
Para Perempuan Merawat Kawasan Bandung Utara, Bermula dari Pertanyaan Anak pada Ibunya

Lahan kebun yang disokong oleh Odesa Indonesia, Cimenyan, Kabupaten Bandung, 8 November 2025. (Foto: Audrey Kayla/BandungBergerak)
Lahan kebun yang disokong oleh Odesa Indonesia, Cimenyan, Kabupaten Bandung, 8 November 2025. (Foto: Audrey Kayla/BandungBergerak)

KBU Seharusnya Hutan

Keprihatinan serupa datang dari kalangan akademisi. Suci Hidro, dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), menyoroti bencana banjir yang kerap melanda wilayah KBU seperti Lembang setiap musim hujan. Ia khawatir, kerusakan ini justru akan berujung pada kekeringan di masa depan.

Suci menjelaskan bahwa KBU seharusnya menjadi wilayah konservasi karena merupakan hulu Sungai Citarum.

“Karena memang cekungan Bandung itu kan sebenarnya hulu dari Citarum. Nah, hulu dari Citarum itu sudah sewajarnya adalah wilayah konservasi. Jadi memang bentuknya harusnya sudah hutan,” jelas Suci, kepada BandungBergerak, di selasar Gedung Fakultas Teknik Lingkungan ITB pada Kamis, 20 November 2025.

Alih fungsi lahan membuat tanah terbuka dan mudah terkikis. Ketika hujan turun, air tak terserap ke dalam tanah, melainkan menjadi limpasan yang memicu banjir. Betonisasi memperparah kondisi ini. Suci menyebut, wilayah KBU yang boleh dibangun seharusnya hanya 20 persen, tetapi kenyataannya jauh melampaui batas. Resort dan bangunan terus menjalar ke daerah atas, menyisakan kawasan alami hanya di Tahura dan Maribaya.

Dampaknya bukan hanya banjir, tetapi juga ancaman kekeringan Sungai Citarum. Padahal, sungai ini menopang kehidupan banyak kota dan kabupaten, bahkan menjadi sumber air minum bagi wilayah DKI Jakarta. Jika Citarum terganggu, dampaknya akan meluas hingga ke ibu kota.

Suci menegaskan bahwa solusi tidak cukup hanya mengandalkan hukum. Kesadaran kolektif harus dibangun, terutama tentang pentingnya wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai kawasan konservasi.

“Manusia itu bukan sesuatu yang ada di atas, tapi setara dan saling bergantung di bumi ini,” katanya. Ia juga mengingatkan agar mata air tidak dijadikan objek wisata karena berpotensi merusak.

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Insan Radhyan dan Yopi Muharam

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//