• Berita
  • Pameran Pohon untuk Kehidupan Soroti Kerusakan Lingkungan Jawa Barat

Pameran Pohon untuk Kehidupan Soroti Kerusakan Lingkungan Jawa Barat

Sebanyak 48 seniman ASPEN memamerkan karya bertema pohon dan kerusakan lingkungan di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat.

Saepul Bahri, seniman asal Bandung Selatan, bersama karyanya di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung. Pameran berlangsung 10–31 Januari 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Penulis Alysha Ramaniya Wardhana23 Januari 2026


BandungBergerak - Anyaman bambu berwarna cokelat membentuk dasar sebuah figur manusia berwarna biru. Dari bagian bawahnya, ranting-ranting pohon menjulur dengan gumpalan tanah kering yang menempel, menggambarkan tubuh manusia yang terjerat kerusakan alam. Tangan figur tersebut menggenggam sebuah timbangan kecil berwarna biru sebagai simbol keadilan. Tepat di bawahnya, sebuah miniatur rusa berwarna biru bertotol putih berdiri di atas bongkahan kayu tanpa daun.

Di samping karya tersebut, sebuah lukisan pada kanvas menampilkan rumah-rumah yang rusak, sebagian atapnya hilang dan terendam banjir keruh. Pepohonan di sekitarnya digambarkan gersang, menyisakan ranting-ranting kering, dengan sebuah tas merah menggantung pada salah satu dahan. Tas tersebut merepresentasikan masa depan anak-anak yang terancam oleh krisis lingkungan dan sosial.

Karya berjudul Pesan Suci tersebut merupakan bagian dari pameran Pohon untuk Kehidupan yang digelar di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, pada 10–31 Januari 2026. Sebanyak 48 seniman dari Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) berpartisipasi dalam pameran ini, menghadirkan beragam tafsir tentang pohon sebagai sumber kehidupan sekaligus simbol kerusakan lingkungan.

Saepul Bahri, seniman asal Bandung Selatan, menjelaskan karyanya, Pesan Suci, berangkat dari pengalaman pribadinya hidup di Dayeuhkolot. Di sana ia kerap merasakan banjir setiap tahunnya. Air yang datang berulang kali meninggalkan permasalahan kesehatan bagi warga.

“Saya selalu sedih, ini bukan masyarakat yang bodoh, tapi harus dari pemerintahnya. Dari hutan udah habis, sawah-sawah di Bandung Selatan udah habis dengan perumahan. Itu kegelisahan saya, tapi saya tidak mampu untuk frontal. Makannya, sebagai seniman kegelisahan hati dari rupanya,” ujar Saepul.

Kegelisahan yang hadir dalam diri Saepul bukan tanpa dasar. Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 105 Tahun 2018, hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, salah satunya untuk mencegah terjadinya banjir.

Namun, di Jawa Barat, luas hutan lindung tercatat terus menyusut. Data dari Databoks menunjukkan bahwa dalam rentang 2016-2024, hutan lindung di Jawa Barat berkurang sekitar 41 ribu hektare.

Penyusutan tersebut membuat risiko banjir semakin dekat dengan warga, termasuk Saepul yang tinggal di kawasan rawan terdampak. Ia menyaksikan langsung banjir yang datang berulang, membantu warga sebisanya, sekaligus memendam kegelisahan atas kondisi lingkungan yang kian memburuk.

Material Sehari-hari

Saepul membuat karya instalasinya dari material sehari-hari, seperti bilik bambu, ranting-ranting kering, dan tanah liat. Bahan-bahan tersebut disusun tidak rapi menyerupai kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja.

“Kenapa saya menampilkan bebas dan tidak rapi, memang kondisi alam Indonesia ini sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Saepul.

Di antara susunan material tersebut, hadir sebuah tubuh manusia berwarna biru yang dibuat dibuat dengan bahan dasar resin. Saepul sengaja menghadirkan resin sebagai pesan bahwa zat kimia memang berdampak kepada lingkungan. Kemudian, pada salah satu tangan sosok manusia tersebut tergenggam sebuah timbangan kecil. Bagi Saepul, timbangan ini menjadi gambaran sederhana tentang harapan masyarakat kecil.

“Ini adalah keadilan, jadi ini keadilan manusia. Masyarakat kecil itu minta keadilan kecil aja gak besar. Tapi begitulah pemerintah kepada masyarakat kecil,” ujar Saepul.

Jika timbangan kecil merepresentasikan keadilan yang timpang, maka rusa yang masih menjadi bagian dari Pesan Suci hadir sebagai simbol penghuni istana. Saepul memaknai rusa tersebut sebagai gambaran rusa-rusa yang hidup di kawasan Istana Bogor, ruang yang dikaitkan dengan kekuasaan.

Melalui susunan material Pesan Suci, Saepul menuangkan kritiknya mengenai alam yang rusak, tubuh manusia yang membiru, hingga zat kimia menjadi simbol dari krisis lingkungan yang terjadi. 

Kurator Thee Huis Gallery Diyanto menjelaskan, karya yang ditampilkan dalam pameran ASPEN merupakan tawaran cara pandang atas makna Pohon Kehidupan melalui pengalaman personal masing-masing seniman. Diyanto menyinggung kondisi Bandung Raya saat musim hujan, genangan air meluas, jalan-jalan berubah menjadi aliran sungai, permukiman terendam, dan aktivitas sosial-ekonomi terganggu.

Menurut Diyanto, bencana itu kerap disederhanakan dengan menyalahkan curah hujan tinggi, tanpa menyinggung akar persoalan akibat kerusakan lingkungan yang lahir dari aktivitas manusia.

Baca Juga: Susur/Langkah Beni Hidayat: Menelusuri Jejak Ayah di Atas Truk
Wayang Potehi di Tjap Sahabat, Menghidupkan Kembali Tradisi Tionghoa di Era Kontemporer

Galeri sebagai Ruang Berkaca

Salah satu pengunjung, Naurah, mengaku kagum atas karya-karya yang dihadirkan dalam pameran. Salah satu karya yang membekas dalam dirinya adalah The Lonely Tree karya Deden Hamdani karena dinilai dapat menyampaikan rasa sepi dan emosi yang kuat.

“Karya The Lonely Tree kerasa banget feel sendirinya. Selain itu, juga emosi rasa kesepiannya nyampe ke pengunjung,” ujar Naurah.

Menurutnya, meski beragam, seluruh seni yang dipamerkan dalam Pohon untuk Kehidupan tetap terhubung dalam satu makna dengan merepresentasikan isu alam dan bencana melalui seni.

“Maknanya banyak banget, tapi yang bisa disimpulin itu tentang alam, terutama bencana alam yang dikemas dengan seni,” ungkap Naurah.

Sebagai warga Jawa Barat, Naurah juga merasakan adanya perubahan cuaca menjadi lebih panas dan terasa gersang. Selain itu, ia menilai bahwa lahan persawahan dan pohon-pohon di daerah Bandung sudah semakin berkurang sebab dialih fungsi menjadi area perumahan. Hal tersebut menyebabkan banjir seringkali melanda Kota Bandung.

Dari pameran ini, galeri tidak hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga menjadi ruang untuk memberikan makna atas peran pohon untuk kehidupan.

 

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//